Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Badak Berdaki


__ADS_3

Like, komen, n favoritnya...


...Lo kalo ketemu CEO kek Om Davin yang udah Sultan dari lahir tapi medit gimana? Tonjok massal yok!...


...-Garen Gula Aren-...


“Duduk.”


“Terimakasih Om,” Garen duduk di sofa sambil menegakkan tubuhnya. Menatap Davin yang duduk dikursi kebesarannya dengan sarat akan tanya.


Pria paruh baya dihadapannya sedang membolak-balikkan pena-nya, sambil fokus menatap layar laptopnya.


Garen jadi merasa tak dianggap keberadaannya oleh Davin. Ia tersenyum kikuk, lantas memilih membuka obrolan lebih dulu.


“Apa saya tidak menganggu waktu libur Om Davin?” Tanyanya basa-basi. “Dan sepertinya, Om sekarang sedang sibuk di kantor.”


“Tidak, tujuan saya hari ini datang ke kantor juga hanya ingin berbicara dengan kamu.” Ujar Davin santai, tanpa beban sama sekali.


Sekejap mulut Garen menganga. "Ngomong gini di kantor? Pas weekend lagi. Kenapa gak ke resto atau kafe aja sih? Kere amat,” batin Garen sedikit kesal.


“Gak usah ngebatin.”


“Hah?”


“lupain,” sahut Davin datar. “Bulan depan adik kamu prakerin bukan?”


Garen mengangguk. Walau batinnya berkecamuk, ia memilih diam tanpa bertanya langsung. “Kenapa Om Davin tau masalah prakerin Alisa?” Batinnya bermonolog.


“Hm... saya mau dia prakerin di cabang perusahaan saya.”


“Ta-tapi maaf Om sebelumnya....”


“Sebentar,” tangan Davin terangkat menyuruh Garen untuk diam. “Itu pernyataan, bukan pertanyaan, Tuan Shane Herlambang.”


“Dan satu lagi...” Davin sengaja menjeda kalimatnya, dapat ia lihat jika Garen kini tengah meneguk salivanya kasar. “Kalau bisa, cepat nikahkan adik kamu itu dengan adik saya.” Katanya lagi.


Garen diam, kembali mencerna ucapan Davin.


Adik? Bukannya ni orang anak tunggal.


Melihat ekspresi bingung Garen, sudut bibir Davin terangkat remeh. “Adik sepupu saya, langsung tanyakan saja secara langsung, jangan ngebatin!”


Hah? Ni orang cenayang? Gila gak mungkin!


Garen menundukkan sedikit pandangannya. “Alisa bahkan belum lulus SMK, Om... Apa Om Davin lagi bercanda?”


Davin menggeleng kecil. “Tidak ada kata ‘bercanda’ dalam kamus saya.”


Alisa nikah sama sepupunya Om Davin? Bisa di santet Andra gue xianjirr. Batin Garen terus menggerutu.


Pria berusia 26 tahun itu memutar otak, mencari kalimat yang tepat agar tak


menyinggung perasaan pria paruh baya di depannya. “Maaf Om, kalo boleh tau, mengapa Om Davin meminta adik saya untuk menikah dengan adik Om? Alisa itu anak manja, tempramental dan susah diatur.”


“Kamu menjelekkan adik kamu sendiri?” Tanya Davin dengan alis terangkat heran.


“Bisa dibilang iya dan enggak. Disini saya masih bingung dengan keinginan Om Davin. Apalagi urusan pernikahan, Alisa tentu masih Sekolah. Dan, apa sepupu Om Davin mau menerima Alisa apa adanya?” Garen mengeluarkan semua unek-unek nya.


“Tanyakan saja pada orangnya.”


Sabar Ren, sabar!


Garen mensugesti diri sendiri agar tak terpancing emosi ketika berhadapan dengan Davin. Ternyata pria dihadapanya begitu menyebalkan, sama seperti kepala sekolah di SMK tempatnya mengajar. Siapa lagi jika bukan Alvin?


“Assisten saya yang akan menjelaskan semuanya pada kamu, tapi gak sekarang. Jadi tidak usah tegang begitu.”


Garen hanya bisa memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam.


14:10


Sejak pagi hingga menjelang sore, dua orang gadis tengah terlelap diatas ranjang yang muat untuk dua orang bertubuh kecil. Mereka Keyra dan Nana. Tidur keduanya tak terusik, bahkan saat Rini --Ibunda Rafka berteriak dan menggoyangkan bahu Keyra dan Nana secara bergantian.

__ADS_1


“Key, Na, wake up! Bunda udah bangunin kalian dari dua jam yang lalu ya,” Rini bertolak pinggang sembari mendengus sabar.


“Astaghfirullah kalian belom solat Dzuhur.” Sekali lagi, Rini menggoyangkan bahu Keyra dan Nana secara bergantian. Namun tak ada respon dari kedua gadis itu.


Keduanya tertidur seperti orang mati saja.


Dibelakang wanita paruh baya itu terdapat Rafka, Ervin, Ivan, Bian, Friski serta Akhir yang menggeleng heran melihat posisi tidur Keyra dan Nana yang bar-bar.


"Udah biar Friski aja yang bangunin mereka, Tan," Rini mengangguk menyetujui usulan Friski. Ia keluar dari kamar Nana, menuju ke lantai dasar menemui Rhea yang sudah menunggunya sedari tadi.


“Bunda gue yang bawelnya Masha'Allah aja gak bisa bangunin ni duo kebo. Apalagi elo?! Cowok yang gak tegaan sama cewek.”


Friski yang baru maju dua langkah mendekati ranjang pun kini berhenti, lantas menoleh kearah Rafka. “Heh nyet?”


“Hooh jangan elo lah.. Yang cocok bangunin mereka ya Rafka sama Ripan.” Ujar Ivan menimpali ucapan Rafka.


“Ripan kemana?” Tanya Bian ketika tak menyadari keberadaan Rivan.


“Biasa nemuin Alisong dulu, dari tadi malah ampe sekarang belum balik-balik.”


Kompak, kelima pemuda itu memutar mata malas mendengar jawaban dari Ivan.


“Ripan burik sih jadi ngejar si Terong mulu. Lah gue yang gantengnya maksimal, terbukti ‘kan yang dikejar Mak Lampir itu.” Rafka tersenyum simpul sembari menyugar rambutnya kebelakang. Respon temannya malah bergaya ingin muntah melihat kenarsisan pemuda itu.


"Jangan sok kegantengan lu.. Naklukin atinya Kekey aja kagak bisa.”


Boleh gak sih ngelempar badak ke wajah songong Ivan? Rafka gedek kawand.


“Dalam kamus gue, naklukin ati yang bukan cewek gue itu makruh!” Lirikan mata Rafka tertuju pada Ervin yang hanya diam menyimak perbincangan teman-temannya. “Gue gak mau ngikut jalur sesat si Epin sama lo Pang...”


Ervin diam, tak menghiraukan Rafka.


"Hilih alesan doang," cibir Akhir.


“Cepetan elah bangunin Kekey! Gue gak mau gengnya Aldi cabut gara-gara kita lelet kek Rafka curut.” Ivan bergerak mendekati ranjang, dan saat itu juga tangan Rafka menahannya.


“Jangan cok, lu mah nyari kesempatan kalo udah gini.”


Cekcok antara Rafka, Ivan dan Akhir mengundang kejenuhan Friski, Bian dan Ervin.


“Yaudah gak usah ngegas dong njing,” balas Ivan tak kalah ngegas. “Ember mana bambang?!”


Bian mengangkat bahu acuh, “tanyain si empu rumah lah ege.” Tatapan Bian yang tanpa ekspresi, menatap intens mulut Keyra yang terbuka kecil. Terlihat imut dimatanya. Tanpa sadar, ia terkekeh samar.


"Mana?”


“Bekas pel-an, ambil aja dikamar mandi yang ada di dapur.”


Tanpa berkata lagi, Ivan turun meninggalkan kamar.


Semenit kemudian, Rafka maju, menepuk pipi adiknya pelan. Lalu tangannya beralih menjepit bibir Keyra yang terbuka.


“Ini kenapa jadi kek orang mati sih lu berdua?”


Kelopak mata Keyra terbuka pelan, ia menyipitkan matanya sambil menepis tangan Rafka yang masih mencubit bibirnya. Keyra lalu lanjut tidur sambil menarik guling kedalam pelukannya.


“Bangun woee!"


“AWAS,” Rafka ditarik kebelakang saat tiba-tiba Ivan datang sambil membawa ember berisi air bekas pel-an. Tanpa banyak kata lagi,


Ivan mengguyur tubuh Keyra dan Nana dengan air itu.


BYURR!


“BANJIRRR!” Pekik Keyra dan Nana kala mendapati tubuhnya basah sekaligus kotor. “Aaa Bang Ivan, Bang Rafka, Bang --bangsatt!”


“Heh!” Nana yang merasa terintimidasi oleh tatapan garang semua manusia yang ada didalam kamarnya, hanya bisa menyengir lebar. “Ya maap akutuh reflek.” Nana menatap Abangnya dengan tatapan memelas.


“Apa?” Alis Rafka terangkat heran.


Gadis itu memajukan bibirnya. “Nana lagi mimpi nikah sama Akang Terang, ngapa di bangunin sih?!”

__ADS_1


“Bodoh amat, masih siang ngehalu mulu lu,” celetuknya rendah. “Mentang-mentang hari libur, kalian berdua mau libur solat juga gitu? Heh gak ada, berdosa!”


“Hoammmp,” Keyra menutup mulutnya saat terus menguap. Walaupun bajunya basah dan minta diganti, ia tetap merasa kantuk. Matanya juga tak bisa diajak kompromi. Keyra melirik Rafka dengan kuyu. “Masih jam sembilan Af... Jangan ganggu deh.”


“Jam dua nyet.”


“Hah?”


“Udah siang kovok!” Timpal Ivan.


Brugh


Ke-enam pemuda itu tersentak begitu Keyra dan Nana melompat cepat dari kasur. “Woee akh gue belom mandi njer.” Keyra bergegas mengambil handuk, lantas menuju kamar mandi. Nana mengikutinya hingga membuat para pemuda didalam kamar itu mengernyit.


“Lo berdua mau ngelesbi?”


Keyra membalikan badannya, melempar handuk Nana tepat di kepala Rafka, “Lesbi palalu! Sini balikin lagi!"


“Terus apa namanya kalo mandi berdua terus sesama jenis anjayy?” Walaupun ngegas, tak ayal Rafka melempar kembali handuk yang langsung ditangkap oleh Keyra.


“Susah emang ngomong sama badak berdaki, nggak bakal ngerti!”


Rafka melotot tak terima.


“Nana juga belom mandi, diem deh kalian! kita tuh cuman mandi gak ngapa-ngapain,” seru Nana.


“Oh cuman mandi, kenapa gak ajak kita?”


Keyra dan Nana bergidik ngeri. Mengabaikan Ivan, keduanya memilih masuk kedalam kamar mandi.


Ivan mengelus dagunya sambil mengamati punggung Keyra dan Nana yang mulai hilang dari pandangannya. “Liat ada yang aneh jalannya sama Kekey gak? Dia abis nganu?"


Rafka, Bian, serta Friski sontak menatap Ivan seolah bertanya.


“Maksud lo?” Tanya Friski bingung.


Ivan bersedekap sambil menatap Friski aneh. “Lo paling tua disini, masa kalah sama kita-kita. Terlalu polos, hm?”


Friski yang baru menyadari pun, memutar mata malas. “Lo-nya aja yang over mesum seton!” Dengkus Friski.


Ivan tak peduli, ia malah berteriak yang mana membuat Keyra tersentak didalam kamar mandi.


“KEKEY LO TEMBUS TULUL!”


Didalam kamar mandi, raut Keyra sudah muram mendengar teriakan Ivan. Ia melirik Nana yang sedang mandi dengan masih mengenakan pakaian lengkap. “Na, ada pembalut nggak?”


“Ada Kak, cuman disimpen Bunda di lemari kecil deket dapur.” Ujar Nana sambil mengguyur tubuhnya dengan shower. Ia tak mau berendam, karena takut ketiduran didalam bathup.


“Gue numpang mandi dibawah yak,” Nana mengangguk. “Pintunya kunci, jangan sampe ada temen Abang lo yang masuk, mereka mesum semua.”


Setelah menepuk pundak Nana, Keyra membuka pintu dan langsung menutupnya. Ia memegang dahinya sekilas sambil berjalan santai, seakan tak menyadari keberadaan teman cowoknya yang kini tengah menatapnya lama.


“Bulannya datang yak? Pantesan dari kemaren lo sensi mulu sama gue,” ujar Ivan. “Gimana-gimana, itu lo sakit?"


Keyra menggigit bibirnya menahan geram. Bagaiamana mungkin Ivan yang notabene adalah seorang cowok, dengan segampang itu bertanya


tentang hal yang seharusnya para cowok tak tahu.


“Berisik!” Rona merah menjalar hingga ke daun telinga Keyra, gadis itu cepat-cepat keluar dari kamar Nana menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.


“Makin imut kek babi,” gumam Rafka pelan.


TBC


Tandai typo


Gak dapet feel-nya🤦‍♀️


terimakasih kawand


Terong>Alisong>Mak Lampir : Alisa

__ADS_1


favorit dong:v


see you!


__ADS_2