Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Dinda


__ADS_3

Keyra spontan berdiri ketika Naya menarik tangan nya, “Keyra!” Panggilan sok antusias dari Naya, membuat Keyra mau tak mau menyambut pelukan gadis itu dengan senyum paksa.


“Apa kabar, Key? Denger-denger kamu kecelakaan, ya? Maaf ya nggak bisa jenguk. Dan lagi, waktu itu aku enggak ikut study tour, Rafka sama Omah ngelarang aku,” bibir Naya mengerucut sebal setelah melepaskan pelukannya dengan Keyra.


“Gue baik, cuman pala aja nih yang rada puyeng, ohoho, lo sekolah di SMK Andromeda juga 'kan? Nanti traktir gue ya! Pj lo ama Afka curut.”


Naya mengangguk seraya tersenyum kecil, “Di SMK banyak loh jajanan yang enak, cowoknya juga cogan-cogan, Rafka aja kalah.”


Rafka hanya memutar bola matanya,


“Gak percaya gue, di SMK paling gans 'kan gue,” batinnya mencibir, bibirnya berkedut menahan senyum saat retinanya menangkap di ujung bibir Keyra terdapat es krim yang menempel.


Tangannya tanpa sadar terulur mengusap bibir Keyra dengan jempolnya, terhalang meja mengharuskan Rafka mencondongkan tubuhnya. Manik coklatnya bertemu dengan manik amber Keyra yang indah.


Rafka tak sadar, kelakuannya membuat Dinda dan Naya menahan nafas mereka.


Naya menangkap lengan Rafka hingga pemuda itu tersadar dan langsung menepis pelan tangan Naya, pemuda itu menegakkan tubuhnya kembali.


Naya Alfarhizi, gadis manis penuh kelembutan yang dikenal oleh banyak orang. Selain mengikuti banyak estrakulikuler, Naya mempunyai sikap yang di sukai banyak orang, apalagi? Tentu saja humble dan juga ceria. Ia juga merupakan kekasih dari Rafka-- tunangan Keyra sendiri.


Tidak seperti Keyra yang sedikit introvert dan juga malas berinteraksi dengan orang baru, gadis itu juga sangat tidak menyukai kegiatan sekolah, terlalu ribet katanya.


Miris bukan? Di sini yang pelakor, Keyra atau Naya? Akh sampai lupa, status ketiganya bukan lah sebagai suami yang menyelingkuhi istrinya. Tapi hanya sekedar pacaran dan tunangan.


Tiba-tiba, tubuh tinggi Naya tergeser sedikit, gadis itu menatap sebal kearah Raga yang mendorongnya kuat-kuat.


“Kakak bacot, jangan deket-deket Kak Queen!”


“Emangnya enggak boleh, Ga? Kakak kan temen nya Kak Queen,” ujar Naya sabar.


“Enggak boleh!”


“Raga nggak boleh gitu sama Kakak kamu! Duduk yang bener,”


Raga menggeleng keras merespon perkataan Dinda, “Kakak nya Raga itu cuman Bang Er sama Kak Queen,” ujarnya lantang. Bahkan Rafka sampai membekap pelan mulut Raga, karena sadar, banyak orang yang memperhatikan mereka.


“Ehemm, Omah enggak disuruh buat duduk?”


“Hehe sampe lupa, duduk dulu, Omah,” setelah melepaskan tangan nya dari mulut Raga, Rafka menuntun Dinda untuk duduk tepat di depan Keyra.


Setelah semuanya duduk, Rafka menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Emangnya lo tau, Ga? Kalo cewek di samping lo itu Kakak lo? Emangnya lo masih inget dia?” Telunjuk Rafka tepat berada di depan kening Keyra, “bukannya kalian kenalnya cuma sekali? Itu pun 6 bulan 3 minggu yang lalu anjirr!”

__ADS_1


Raga mengangguk, lalu ia menggeleng polos, “Kak Queen kan mukannya enggak dua, jadi Raga inget.”


“Status Kak Queen sekarang Kakak boongan Raga, nanti kalo Raga dah gede, Raga yang jadi suaminya Kak Queen,” ujar Raga. Bocah berumur 7 tahun itu melirik Keyra dengan mata berbinar.


“Kak Queen mau kan jadi istrinya Raga? Nanti Raga beliin lolipop deh, biar Kak Queen mau kita bikin anak, buat nerusin Raga junior.”


Keyra menahan tawanya, “iya, Kak Queen mau kok jadi istri nya Raga, tapi Raganya harus belajar yang rajin, oke? Biar nanti Raga bisa tarik omongan Raga yang sekarang.”


Belum sempat Raga menjawab, Rafka sudah menginterupsi nya cepat. “Masih bocah mau buat bocah, mau jadi apa lo?”


“Jadi polisi!”


“Polisi gadungan, lo?”


“Polisi bene--”


“Omah dari tadi mau ngomong, enggak bisa kan. Diem dulu!”


“Iya Omah,” jawab Rafka dan Raga kompak.


Keyra hanya menggigit bibir bawahnya tanpa minat, Naya di sampingnya, terus menerus mengajaknya berbicara, entah apa yang menjadi topik perbincangan keduanya, Keyra selalu merasa bahwa Naya mencoba mengalihkan perhatian nya dari Raga dan juga Rafka. Sekarang gadis itu hanya ingin keluar dari restoran itu dan merebahkan diri di atas kasurnya yang empuk.


“Keyra nama kamu?”


“Iya, Nek,” sahut Keyra sopan.


“Heh! Panggil saya, Tante!”


Mata Keyra memincing, “bukannya Raga, Afka sama Naya manggil situ, Omah? Kenapa saya harus manggil Tante?”


“Liat tuh Rafka, Raga. Keyra itu enggak baik, dia bisa pengaruhin kalian! Bahasa nya saja tidak sopan!”


Keyra memutar matanya malas, perkataan Dinda mengingatkan dirinya akan seseorang.


Keyra masih ingat, masa kecil dirinya bersama Rafka, Naya dan juga Arsha. Waktu itu, Naya sangat lah nakal dan juga pengaduan, bahkan Keyra beberapa kali di salahkan oleh Mina-- Ibu dari Naya,


“Kamu jadi anak jangan suka pengaruhin Rafka sama Arsha, dong! Kasian anak Bibi, dia sering nangis karna kamu!” Ujar Mina sangar, matanya melotot yang dibalas pelototan balik oleh Keyra.


“Tapi Bibi, Keyra enggak--”


“Huhu, Ibu... Mainan Naya tadi di rusak sama Keyra,”

__ADS_1


Keyra kecil makin melebarkan matanya, ia mendengkus lalu berbalik badan meninggalkan kedua manusia yang sangat menyebalkan bagi dirinya yang masih sangat kecil.


Tiba di depan rumah nya, matanya melotot galak pada Rafka dan Arsha yang bersembunyi dibalik pagar rumah Rafka, keduanya tersenyum meringis, “Hehe maafin kita, Naura, Bibi Mina galak kayak Naura.”


“KEYRA! SEKALI LAGI KAMU PENGARUHIN RAFKA DAN ARSHA, BIBI ENGGAK BAKALAN SEGAN NGADU KE PAPA KAMU!” Keyra, Rafka dan Arsha kompak menutup telinga mereka, suara teriakan seseorang dari depan rumah yang berjarak hanya dua rumah dengan rumah Rafka terdengar sangat lah keras.


“Anak sama Emaknya, sama-sama pengaduan!” Ujar Rafka yang di angguki oleh Arsha.


Keyra menggelengkan kepalanya, ia benci Mina yang selalu menyalahkan nya. Akh, Keyra jadi merindukan Arsha, mungkin saat ini, cowok itu masih berada di jawa-- menjadi santri di salah satu pondok pesantren di sana.


Keyra tak terlalu menyimak perbincangan Rafka dan Dinda, sesekali Raga menyeletuk. Gadis itu memilih mengedarkan pandangannya, Keyra melirik sekilas Naya yang ternyata hanya diam seraya menatap Rafka dengan bertopang dagu.


Dih, bucin bat!


“Omah, Raga mau pulang sama Kak Queen aja! Omah sama Kakak bacot mending pulang sekarang,” kata Raga sarkas. Bocah itu tanpa dosa menyuapkan es krim milik Keyra kedalam mulutnya, ia tersenyum memamerkan gigi kecilnya yang tak rata kearah Keyra yang mengacak rambutnya gemas.


“Kak Queen, mau?” Tawar Raga, menyodorkan sendok es krim tersebut di depan mulut Keyra, gadis itu pun membuka mulutnya.


“Ga, Ga, lo jadi bocah jangan kebanyakan modus! Dia Kakak lo, oi!” Rafka menyeletuk, suaranya terdengar ketus.


“Raf--”


“Kamu jangan terlalu bebasin jodoh kamu sama orang lain, Nay. Hati-hati loh, bibit pelakor semakin merajalela,” ujar Dinda tiba-tiba mencibir.


Manik amber Keyra menajam, menatap Dinda tegas tanpa ada rasa takut sedikitpun, buat apa takut? Toh sama-sama makan nasi, lagi pula Dinda sudah bau tanah. Keyra di sini hanya bisa menjaga sikapnya agar tak keterlaluan, biar bagaimana pun juga, orang tua wajib di hormati.


“Ohoho beneran cucu kandungnya Crystal ternyata, dia kalo masih hidup, pasti seneng punya cucu perempuan yang di idam-idamkan.”


Keyra tak mendengar nada senang dari Dinda,


sepertinya wanita tua di depannya tidak menyukainya.


Apa salah gue sih?


.


.


.


Dahlah_-

__ADS_1


__ADS_2