Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Dedemit


__ADS_3

Naya tersenyum menatap Rafka yang nampak sangat tampan dengan wajah setengah flat nya. Tumben sekali pemuda itu berwajah datar. Topi berwarna pink yang bertengger indah di kepala Rafka pun membuat wajah pemuda itu terkesan imut dan lebih memesona.


"Pelan-pelan kau tuliskan, tulisan yang kau berikan, agar ku katakan." Suara yang mengalun dari bibir Naya membuat orang-orang disekitarnya speechless. Tak sesuai nada dan gadis itu nyanyi bak dikejar-kejar anjing.


Naya yang tak melihat ekspresi semuanya pun dengan percaya dirinya kembali melantunkan bait demi bait lirik. "Kata-kata jatuh cinta, membuat aku bertanya, apa sebenarnya...."


"Balik, kuping gue gak kuat." Keyra melirik tangannya yang digenggam oleh Riza.


"Gak usah pegang-pegang juga kali, Mas nya," sindir Keyra.


"Dih siapa suruh lo duduk disamping gue," Riza melepaskan cekalannya pada tangan Keyra kemudian berlalu bersama Ervin meninggalkan tempat tersebut. Kini Akhir menempati tempat yang sebelumnya Riza duduki.


"Lo panas kan disini? Kuy langsung ke kafe aja."


Keyra ingin menjawab, namun suara Rafka yang begitu lembut mengalihkan atensinya.


"Kau tanyaku benar cinta,


atau hanya main mata..


Lihat saja isi--"


"Jantung--" Rafka muak dengan Naya, menurutnya suara Naya terlalu cempreng dan membuatnya hilang fokus. Pemuda itu diam hingga membuat sekitarnya mengerutkan kening. Terutama Naya yang sudah was-was saat Rafka berdiri dari duduknya sambil menatap kepala sekolah, staf guru serta siswa-siswi Andromeda dengan senyum ramah menyesatkan.


“Maaf saya lupa lirik,” kekehnya.


Krik krik krik


“Sebagai gantinya, saya akan mempersembahkan sebuah lagu yang sangat cocok untuk suasana hati Bapak Kepala Sekolah kita.”


Rafka memandang Alvin yang tersipu sambil mengeratkan genggamannya pada tangan Laras yang juga hadir di ulang tahun Andromeda kali ini.


“All i wanna do is wake up to your face


"Layin' low, complicated days---”


“Males lah sok Enggres,” potong Rivan keras.


“Melokal lah Raf,” ujar Friski ikut memanasi.


“Friski!”


“Rivan!”


Tegur Si Ketua dan bendahara OSIS kompak. Sementara sang Wakil Ketua sedang memandang seseorang yang duduk disamping Keyra dengan perasaan terluka.


Mencintai dalam sepi~


Belva dan Agni menghampiri kedua pemuda itu, dan dengan cepat menjewer telinga Rivan dan Friski keras.


“Ashh ah ah sakit goblog,” decak Rivan tak terima.


Mata Agni berkaca-kaca. “Kamu jangan ngerusuh disini.”


“Eh eh kenapa lo nangis? Njirr cengeng banget,” ucap Rivan sambil menepuk-nepuk puncak kepala Agni untuk menenangkan. Ia meraih tangan gadis itu dan membawanya kebelakang panggung.


Belva, memandang pacarnya dengan tatapan kesal. Acara ulang tahun sekolah yang tadinya berjalan lancar, kini hancur sejak kedatangan Keyra, Akhir dan Rivan.


Rafka juga menurutnya sangat kejam pada Naya yang sudah sangat antusias bernyanyi diatas panggung.

__ADS_1


“Kamu udah janji ya hari ini gak akan ngerusuh!”


Friski tak menggubris, ia malah menatap Rafka yang sudah turun dari panggung dengan ekspresi senang, meninggalkan Naya sendiri. “Kenapa sih? Tadi sore acaranya lancar kan? Kamu tenang aja kali, gurunya gak baperan.”


Belva melotot sambil bertolak pinggang. “Kamu lihat temen kamu itu, dia ninggalin Naya sendiri diatas panggung, pasti Naya malu!” Tekan Belva lirih.


"Duduk dulu dih, itu dilanjutin sama Ipang. Sans aja kali."


Belva menatap Ivan yang berdiri diatas panggung. Lantas, Friski dan Belva memilih duduk di salah satu kursi yang kosong.


"Temen kamu gak punya hati!"


Friski mendengus, "Ya salah sendiri suara dibawah rata-rata malah nekat nyanyi bareng Rafka, kamu tau kan suara Rafka kalo dibandingin sama Naya itu jauh.”


Belva tertegun, iya juga ya. Kenapa dirinya begitu bodoh memasangkan Rafka dan Naya untuk berduet saat puncak acara. Tapi dia memilih tak mengakuinya dan malah menyudutkan Keyra. “Tapi Rafka nya jangan seenak gitu dong ganti lagu, dia gak kasihan sama pacarnya? Apa semua ini karena Keyra? Dia yang buat Rafka gini? Kamu jangan deket-deket Keyra lagi, aku takut kamu digoda sama Keyra. Pelakor sama anak haram kaya Keyra emang suka jadi parasit.”


Rahang Friski mengeras. Ia berusaha mengontrol diri agar tak emosi didepan kekasihnya. “Acara belum selesai, sana gih lanjutin, aku langsung ke kafe aja.” Friski beranjak, memanggil teman-temannya yang nampak sudah bosan untuk ikut meninggalkan area Andromeda.


Sementara Belva naik keatas panggung setelah Naya turun dengan mata berkaca-kaca. Belva memandang punggung Naya yang digiring Alrik menuju meja yang kosong.


"Ngerusak banget kedatangan lo,


Keyra." Gumam Belva dalam hati.


(❀*・(❀」*・(❀」╹*・(❀」*・(❀」*・


Keyra mengusap bahunya kala rasa dingin menerpanya. Ini sudah larut malam dan para guru kebanyakan sudah meninggalkan sekolah. Hanya tersisa anggota Traavo dan beberapa anggota OSIS kelas 11 yang masih menetap di Andromeda.


Gadis itu ingin pulang, namun Rafka malah menyuruhnya untuk mengirimkan pesan ke Reva yang berisi bahwa ia akan telat pulang.


Kata Rafka ‘mumpung Om Davin lagi di Korea, jadi lo bebas.'


Keyra memandang ke atas panggung saat dirasa ada yang memperhatikan diri-nya.


Akhir tersenyum manis, matanya tertuju pada Keyra. Ia memetik senar gitarnya lagi.


"Aku jatuh cinta padamu.” Lanjut Akhir lagi.


“Cuit cuittt.”


“Ehem ehemmm,”


“Asoy mlehoy.”


Akhir tak peduli dengan sorakan yang dominan dari teman-temannya. Cowok itu memandang Keyra geli, ia kembali melanjutkan nyanyiannya.


"Rambut yang panjang dan pirang."


Gue ralat, coklat


"Cantik dirimu bagai bidadari."


“Yakin nih Awal Akhir jadian," tebak Ivan.


“Akhirat udah gede ya,” ucap Keyra menarik turunkan alisnya menggoda. Tentu saja banyak yang ikut menggoda Akhir yang masih berada di atas panggung.


"Gaslah tembak Awal," timpal Ivan.


Pemuda itu yang tadinya bersemangat, sekarang menampilkan raut malasnya begitu indra pendengarannya menangkap nama Awal yang merupakan tetangga sekaligus musuh bebuyutannya.

__ADS_1


“Congrats bro, pajaknya ditunggu!” Ucap Rafka. Rafka menyampirkan jas hitam-nya pada bahu Keyra yang nampak terekspos. Ia lantas merangkul bahu Keyra tanpa permisi. “Sengaja pamer bahu biar pada ngelirik lo gitu?”


Keyra diam, ia merasa nyaman.


"Lempar Awal ke atas panggung keknya seru,” Ivan menyeringai. “Kak Awal cantik mau 'kan dilempar keatas panggung dan jadian sama akhirat?”


“Ngadi-ngadi!” Ketus seseorang.


Awal, si gadis yang biasa dikenal sebagai musuh bebuyutan Akhir pun pura-pura tak mendengar godaan para setan. Ia memilih menaiki atas panggung dan lantas menyuruh Akhir untuk turun dari panggung. Karena menurut gadis itu, Akhir bisa membuat tempat ini menjadi rusuh tak terkendali.


“Turun lo, jangan ngerusuh!”


Akhir melirik Awal, “ngapa sih lo? Guru udah pada bubar kali, gak ngerusuh gak idup gan.” Dirangkul nya bahu Awal yang malam ini nampak sangat anggun dengan long dress hitam-nya. Akhir memicingkan matanya sinis, kemudian berbisik. “Ngikut jejak Mama lo, heh jalang?”


Awal tak tersinggung, ia malah tertawa pelan sambil balas merangkul pinggang Akhir. Lumayan bisa modus, batinnya. “Gue ngikut jejak bokap lo, gigolo jiahaha.”


Dibawah panggung, anggota Traavo heboh sendiri sambil memotret kedua objek yang ada diatas panggung yang terlihat sangat mesra.


“Berhubung ini lapak gue, kita pindah tempat aja.” Rafka membawa keyra yang kebingungan ke lorong yang gelap.


Keyra melirik sekitarnya begitu langkahnya dan langkah Rafka terhenti di dekat tangga.


“Af lo tau gue parnoan, kan? Napa kesini sih? Maljum nih, kalo ada kunti sama pocong ngesot gimana,” Keyra beringsut takut. Reflek memeluk pinggang rafka kala mata tajamnya tak sengaja menangkap siluet yang berdiri di undakan tangga jurusan TKR. Bahunya meremang, sialan.


Mampus Keyra mampus, tubuh kerdil bermata merah menyala itu seakan ingin memakan Keyra hidup-hidup.


“Gue juga parnoan anjink! Kalo lo gak bawa-bawa si ghoib dan kawan-kawannya, gue gak bakal takut.”


Ingat? Keyra dan Rafka itu sama-sama manusia yang penakut jika menyangkut hal-hal yang berbau mistis.


Pasangan yang serasi bukan?


Keyra tak menggubris, kakinya terasa lemas untuk berjalan apalagi berlari. Ia menarik ujung kemeja putih yang dikenakan Rafka.


“Af lo percaya demit itu ada kan? Ayok tarik gue mundur, kita ke parkiran aja.” Rafka tanpa basa basi pun memutar tumitnya dan langsung berlari kencang meninggalkan lorong sepi tersebut dengan tangan keyra di gengaman-nya.


Rafka seperti ini, bukan berarti dia tak gentleman. Tapi, ada sebuah momentum yang membuat ia dan Keyra sangat parnoan dengan yang namanya ‘makhluk halus.'


Ia lebih memilih bertemu puluhan preman dibandingkan bertemu pandang dengan kunti dan kawan-kawannya.


Nafas keduanya terengah-engah saat sudah sampai di parkiran motor. Mereka menghiraukan tatapan ingin tahu dari orang lain yang berada diparkiran.


Rafka menaiki motornya dan mengulurkan helm pada Keyra.


“Haft hah hah, gila lo kenapa narik gue ke sana sih? Udah tau kita parnoan, mata gue lihat sendiri ada Kakek-Kakek tua melotot ke kita njirt!”


Rafka membungkam mulut keyra dengan tangannya. “Jangan bahas demit lagi, Ra! Niatnya gue mau ke rooftop anjayani, tapi lupa jalan ke rooftop kan harus lewatin lorong itu.” Ucap rafka. “Naik nyet, lama banget lo.”


Keyra memakai helm milik rafka, lantas memegang punggung pemuda itu untuk naik keatas motor. “Cari jalan gede, jangan sepi. Gue gak mau nemu yang aneh-aneh kek Pocong, kita pulang.” Ucapnya kala Rafka menyalahkan mesin motornya.


“Yailah Naura, kalo lo ngebahas demit terus, gue jadi gak fokus ngendarain nya!” Decak rafka sebal.


“Yaudah sini gue aja yang bawa motor, dan lo ngebonceng.” Ucap Keyra hendak turun dari motor Rafka, namun tangannya dicegah oleh tangan kiri rafka.


“Didorong? Atau digotong?”


Keyra berdecak, memilih diam saat Rafka mulai menjalankan motornya meninggalkan parkiran Andromeda.


TBC

__ADS_1


Tandai typo


l


__ADS_2