
"T-tante... Milan takut," Milan menangis dengan memegang lututnya yang terluka. "Tio jahat sama aku."
Keyra mendekat, duduk di tepi ranjang sembari meraih air minum diatas nakas kemudian membantu Milan minum. "Takut kenapa?"
"T-tio bilang--"
Cukup lama Keyra menunggu putranya berbicara. Namun tak ada lagi kalimat yang diucapkan Milan, bocah itu sesegukan saat mengingat perkataan Tio di sekolah.
"Tio siapa, sayang?"
"O-orang jahat!"
Dahi Keyra mengkerut. 'Apa bocil kampret tadi?' Keyra mendekap Milan dan menepuk pelan punggungnya. "Tio yang mukanya ngeselin itu?"
Dalam dekapan Keyra, Milan mengangguk antusias. "Iya dia ngeselin, sama kayak Papa."
Tepukan pada punggung Milan berhenti. Mendengar kata 'Papa' keluar dari mulut Milan, membuat wanita berusia 34 tahun itu menegang kaku. Ia bahkan tak mendengarkan suara Milan yang mulai mengoceh tentang Papa nya.
Lima belas menit Keyra memandang jendela yang terbuka dengan kosong. Milan masih di dekapannya namun isakan serta ocehan bocah itu mulai terhenti. Lamunan Keyra langsung buyar kala pintu kamarnya dibuka, ada Awal disana tengah menenteng paper bag sembari tersenyum tipis.
"Al, Tio anaknya Afka?"
Awal diam, lalu mengangguk kaku. "Kamu udah ketemu anak jal@ng itu?"
Keyra pelan-pelan meletakkan kepala Milan di atas bantal. Ternyata setelah ia mengoceh tentang Papanya, Milan langsung terlelap dipelukan Keyra.
"Iya, dia yang mukul anak aku." Keyra beranjak kemudian duduk disofa kamar itu. "Aku mau pindahin sekolah Milan ke sekolah ku dulu, dia gak akan nyaman jika sekolah bareng sama anak Shahila."
"Kamu Ibu kandungnya, berhak sepenuhnya atas Milan." Ucap Awal pelan. "Key, kamu gak mau jujur aja ke Milan? Dia pasti seneng banget kalo tau kamu tuh Ibu yang melahirkan Milan."
Keyra menggeleng pelan sembari tersenyum paksa. "Milan masih kecil, dia udah benci sama yang namanya Mama. Kata kamu, Milan juga ansos kan? Dia juga gak bisa deket sama kakak-kakak tiri aku, kalo aku paksain bilang aku itu Mama nya, apa dia gak bakal benci sama aku?" Tanyanya pelan.
"Kayaknya Milan juga bakal benci aku, Al. Aku Ibu kandungnya, tapi gak pernah ada dimasa pertumbuhan nya. Aku gak mau jauh dari Milan, lagi. Cukup jadi Mama yang berkedok pengasuh aja udah seneng banget njer," kekehnya pelan.
"Key--"
"Al, kenapa nasib ku gini? Dulu, lima belas tahun aku gak pernah dapet yang namanya kasih sayang seorang Ayah, sampai aku tahu dan ngerti kalo aku tuh bukan anak kandung Om Andri. Tapi kenapa Milan juga harus bernasib sama kayak aku? Dia anak kandung Afka, darah dagingnya. Aku gak menuntut sedikitpun harta Afka buat Milan, aku cuman mau perhatian dia buat anakku, Al."
Awal mendekat dan mengelus bahu Keyra. "Rafka emang vangke! Kamu harus cepet-cepet lupain cowok sarap kek dia! Entar malem ikut aku ke resto yak ketemu sepupu aku." Ucap Awal sembari menyodorkan paper bag yang tadi di pegangnya kepada Keyra.
Keyra tersenyum kecil menerima paper bag itu. "Udah dilupain kali," dustanya. "Ngapain ketemu sepupu kamu make gaun gini?" Keyra membentangkan gaun berwarna hitam itu.
Melihat Awal yang gelagapan, Keyra hanya mengangguk sambil terkekeh. "Oke aku ikut."
Awal tersenyum lega lalu memandang Milan yang terlelap di atas kasur.
"Rey sekarang tinggal dimana?"
Awal yang sedang menatap Milan prihatin pun mendongak. "Rumah Papa kamu deh, Key. Oh ya, pas Akhir bawa kamu ke Thailand, Ervin bilang kalo kamu udah mewariskan seluruh harta kamu ke Milan?"
Keyra mengangguk. "Aku gak butuh itu. Yang aku butuhin cuman Milan bahagia dan gak kekurangan sedikitpun."
Awal menggeleng pelan. "Kamu tahu, seorang anak bakal merasa kekurangan kalo gaada figur orangtua disekitarnya. Secara aku tau sendiri kalo Rafka sering ngacuhin anak kalian."
"Bahas Afka lagi, aku gak segan bawa Mark kesini loh, Al." Ancam Keyra.
"Si ganteng? Jan ah, ntar gue oleng ke dia, bisa diamuk si Akhirat," ucap Awal tertawa.
Keyra ikut tertawa lalu bangkit dan sekilas memandang anaknya sendu. "Aku nitip Milan ya, Al. Janji deh abis dari rumah Rey, aku langsung pulang dan nemenin kamu ketemu sepupu kamu itu."
...🐤🐣🐥...
Keyra memasuki rumah mewah nan megah milik orangtuanya yang ditempati Kakak tirinya. Ia membeku begitu rumah itu nampak ramai dengan puluhan orang yang sangat ia kenal. Sekarang bulan September dan orang yang ia kenal tengah merayakan ulang tahun seorang Ervin Reynard yang ke 35.
Wanita itu menarik napas panjang kemudian melangkah dengn mantap hingga stiletto heels miliknya menggema di lantai itu. Atensi seisi ruangan itu tertuju padanya. Keyra melepas kacamatanya lalu memandang semuanya dengan wajah setengah flat nya.
__ADS_1
"Sore," sapa Keyra sembari menunduk dua kali.
Langkah kaki yang mendekat membuat ia. mendongak.
Plak!
Kepalanya tertoleh kesamping, tamparan yang Alisa layangkan padanya sedikit membuat Keyra kecewa.
"LO SIAPA?!" Teriak Alisa sembari menunjuk Keyra. "Kenapa wajah lo mirip adik gue?!" Andra yang melihat istrinya seperti orang kesurupan pun mendekap tubuh Alisa sembari membisikkan kalimat penenang nya.
Keyra tak menggubris Alisa, pandangannya lurus tertuju pada Ervin yang menatapnya datar.
"Aku cuman mau surat warisan itu, Rey. Buat anak aku."
PLAK!
Tamparan nya lebih keras dari sebelumnya, Keyra terdiam kaku mendapati orang asing menampar dirinya.
"Siapa kamu hah! Berani-beraninya kamu minta warisan ke suami aku! Dasar j@lang!"
Keyra mencekal lengan wanita asing yang mengaku-ngaku sebagai istri Ervin saat wanita itu akan menampar nya kembali. Gendis, dia memberontak namun tangan Keyra begitu kuat mencengkram pergelangan tangannya.
"PAK ANTON!" Teriak Gendis memekakkan telinga.
Tak ada pelukan hangat yang menyambutnya. Keyra tersenyum getir, di liriknya dua remaja yang sedang memandangnya kosong. Keyra menggigit bibirnya ketiga saudaranya juga memandang diri-nya asing.
Anton, supir pribadi yang sudah mengabdi selama 20 tahun di keluarga Gandawari pun menundukkan kepala berkali-kali. "Usir dia dari sini!" Titah Gendis direspon dengan tatapan remeh dari Keyra.
Anton langsung mendongak dan ia menegang kaku memandang Keyra. "N-non Keyra?"
Alisa mundur beberapa langkah "Gak, gak mungkin! Keyra udah mati! Mana mungkin dia Keyra! Oplas ya lu anjing!"
"Alisa!" Suara Andra naik satu oktaf. "Ada Lintang sama Netha disini, jaga bicara kamu!"
"A-aunty--" Netha berlari kencang mendekati Keyra dan memeluknya erat. "Ini Aunty Kera? Netha gak hasulinasi kan?"
"Ya inget lah! Muka Aunty aja gak berubah kayak dulu," gumamnya pelan. "Aunty jangan pergi lagi! Sejak Aunty pergi, Mommy sama adek bayi juga pergi, dan gak balik lagi hiks."
Keyra langsung memandang Garen yang ekspresi wajahnya sama seperti kakak tirinya yang lain. Namun ada kesedihan dimata pria itu ketika mendengar ucapan Netha, anaknya. "Aunty gak bakal pergi lagi kalau Netha sama Lintang akur dan saling jaga. Kalian gak kek dulu kan?"
Netha tak menjawab karena ia semakin sesegukan. Keyra melambaikan tangan pada Lintang yang sejak tadi tak mengalihkan tatapan-nya dari Keyra. "Sini kalo kangen Aunty, kalo kagak ya gapapa, emang cuman Netha doang yang kangen aku."
Brugh!
Keyra terkejut ketika Pemuda bertubuh tinggi itu langsung memeluknya erat. Ia pun tersenyum dan mengusap rambut Lintang yang agak gondrong. "Siapa yang ngajarin rambut kamu kayak preman? Kamu anak sekolahan ya, Lintang! Besok kalo--"
"Iya besok potong,"
Keyra tertawa terbahak-bahak hingga Netha dan lintang melepaskan pelukannya. "Nurut banget ama aing dah. Sini peluk lagi," Keyra merentangkan tangannya namun tak ada yang memeluknya. Lintang dan Netha sudah terlanjur kesal dengan Keyra yang santai sampai tak memedulikan tatapan penuh kerinduan dari para saudara tirinya.
"Dahlah gak dianggep. Rey, ambilin surat peninggalan Papa, yak, butuh banget!" Keyra lalu memandang Gendis yang membeku menatapnya. "Apa lo? Sok kenal banget make nampar gue lagi, gelut yok kita." Gendis terlihat melongo mendengar kosakata Keyra.
Keyra pun lebih suka memakai 'gue elo' dibanding 'aku-kamu' apalagi pada orang yang menebar kebencian pada dirinya. "Lo bini Epin Rey? Bunga kemana anjer?!"
"Bunga gak penting. Lo beneran Keyra?"
Keyra melotot. "Heh apa lo bilang? Bunga nggak penting? Mau gue banned lo dari kehidupan?!" Keyra beristighfar dalam hati kemudian mencoba melembutkan suaranya. "Aku Keyra, adik Bang Garen, Alisa dan kamu Rey. Besok lagi yak reoninya, aku butuh surat itu, Rey."
Ervin si tembok berjalan kemudian melangkah menaiki anak tangga meninggalkan Keyra yang tersenyum puas.
"A-aku minta maaf Keyra udah kasar sama kamu." Ucap Gendis lembut. "Kamu bukannya udah meninggal?"
Keyra memandang jijik. Ia rasa Gendis bukan bertanya melainkan ingin memastikan bahwa dirinya memang sudah meninggal. Ia pun duduk disofa rumah itu dengan santai, disisi kiri ada Netha sementara di sisi kirinya ada Lintang yang setia memandang Aunty nya rindu.
"Terus yang dikubur dimakam sampingnya Om Davin, siapa Key?" Tanya Garen penasaran.
__ADS_1
Keyra menggedik bahu tak tahu. "Akhir yang urus semua, aku gak tau Bang."
"Akhir? Napa dia sembunyiin keponakan gue sih, Key?!" Timpal Andra berusaha menekan emosinya.
"Tanya orangnya langsung. Tapi jangan baku hantam, dia dan istrinya orang yang udah berjasa banget buat aku."
Garen dan Andra mengangguk. Tak lama Ervin datang membawa dua map yang dibutuhkan oleh Keyra. "Gue gak berhak atas rumah ini, lo mulai sekarang bisa tinggal di sini sama anak lo itu."
"GAK BISA GITU DONG!"
Semuanya sontak menutup telinga masing-masing mendengar jeritan histeris Gendis. "Alay," cibir Alisa.
Keyra memandang rumah yang menjadi kenangan antara dirinya, Davin, Reva dan Raga. "Ini milik Papa, berarti milik semua anaknya. Aku gak mau di sini, kamu aja."
Gendis mendengus lega dan memperhatikan map yang ada ditangan Keyra. "Berarti map itu juga gak perlu ya?" Tanya nya tanpa malu.
"Bunga sama Kenzo kamu kemanain, Rey? Masa iya pengganti Bunga itu raflesia arnoldi." Pedasnya yang membuat orang sekitarnya terbahak terkecuali Ervin dan istrinya.
Keyra sepertinya salah berucap, ketika menyadari tatapan Ervin berubah tajam. "J@lang itu hianati gue! Dia pergi sama cowok brngsek itu! Anj--"
"Cukup!" Bentak Keyra. "Sampah tau gak ngatain orang j@lang! Aku tau Bunga gimana, Rey."
Gendis memutar mata malas. "Bunga itu cewek gak bener! Tampang nya yang polos itu cuman topeng--"
"Diem! Gue gak ngomong sama lo!"
Gendis rasanya ingin mencabik cabik mulut Keyra yang menyentil harga dirinya. Namun sang suami yang menatapnya dingin, membuat ia bungkam.
Ervin menghela kemudian memandang Garen dan Andra meminta pertolongan. Sejak dulu, Ervin memang susah melawan perkataan Keyra yang kadang nyelekit. Namun bukan berarti ia masih mencintai Keyra, ya! Aura yang Keyra keluarkan sungguh menyeramkan untuk orang sekitarnya.
"Key, kamu udah makan?" Tanya Garen lembut. Ia begitu merindukan sosok adiknya yang kini sedang adu tatap dengan Gendis.
"Belom, kalaupun si tuan rumah nawarin aku makan, aku gak mau. Makan dirumah aja bareng Milan."
"Who is milan?"
Keyra memukul bahu Ervin dengan map yang ia pegang. "Kampret! Ponakan ndiri kagak dikenal."
"Aku pulang," Keyra bangkit kemudian memandang dua keponakannya yang nampak berat akan kepergian dirinya. "Tau rumahnya Om Akhir?"
Keduanya mengangguk. "Tau, Aunty."
"Kalo kalian kangen sama Aunty dan pengen main sama Milan, kalian kesana."
"Lo madu nya Awal?"
Keyra berdecak. "Amit-amit!"
TBC
Kalo lupa cuman mo bilang.
Keyra itu ponakannya Andra, krna Andra adek sepupunya dapin- ayahnya keyra.
Alisa, Garen sama Ervin Reynard itu akak tirinya keyra.
Lintang anaknya Alisa ma Andra.
Netha anaknya si garen ma naya. Naya nya koit dan bapak garen sekarang duda
Ervin punya anak, tapi anaknya 0ergi sama mantan bininya.
rumitnya kek tulisan/ketikan aing yang bkin pusing
kalo ada yang salah kata kek nama juga, tolong komen yak bor', belom direpisi, ngantuk aing
__ADS_1
Babayyyy