
Memang aku yang terlalu bodoh. Aku bodoh karena terlalu banyak bermimpi dan berharap untuk bisa memilikimu seutuhnya. Keyra, ragamu ada, tapi jiwamu entah dimana.
...🐤🐣🐥...
Di ruangan-nya, Rafka kembali melamun setelah melaksanakan pekerjaan nya. Ia memijit pangkal hidungnya sembari meringis.
"Melepas kamu rasanya sulit, Ra. Kenapa kamu hamil disaat sama Akhir? Aku iri, jelas. Disaat kita nunggu bertahun-tahun kehadiran bayi dari perut kamu, dan gaada hasil sampai aku ngelakuin kesalahan itu. Kamu cepet banget hamil anak Akhir." Ujar Rafka selalu menyalahkan diri sendiri. "Apa ini karma? Dulu, Ayah sering nyakitin Bunda dan karmanya ke aku?"
"Astaghfirullah," Rafka beristighfar berkali-kali sambil meraup wajahnya. Rafka memandang layar ponselnya yang menyala, ada panggilan dari Shahila yang selalu ia abaikan.
"Maaf, aku mengecewakan kamu karena keegoisan aku, Ra. Aku sadar, mempunyai anak dari wanita lain gak bisa buat aku bahagia. Rasanya kosong, semuanya kosong apalagi semenjak kamu pergi dari rumah. Aku kira setelah anak itu lahir, kita berdua yang akan merawatnya dengan bahagia seperti pasangan pada umumnya, Ra. Dan sekarang aku tau, aku salah besar."
Itu lah Rafka, rasa egois dan ketol*lan nya. Kombinasi yang sempurna bukan?
...🏹🏹🏹)ᕗ...
Waktu berjalan sangat cepat, tak terasa kandungan Keyra sudah memasuki bulan kesembilan yang membuat orang di sekitarnya merasa was-was. Apalagi melihat wajah Keyra yang sangat pucat dan seperti tak mempunyai gairah hidup.
Selama masa kehamilan, Keyra tak pernah meminta ini itu ke Akhir, padahal pria itu selalu menawari apa saja pada Keyra.
Sore ini Akhir mengamati wajah pucat Keyra, ia duduk disamping Keyra yang sedang menonton TV sambil mengelus perutnya yang buncit. “Kamu mau apa?”
“Mau mati,” jawab Keyra spontan tanpa menoleh. Tatapan wanita itu memang tertuju pada layar televisi, namun pikirannya melayang jauh pada Rafka sang mantan suami.
Iya mantan, keduanya memang sudah berakhir beberapa bulan yang lalu.
“HAH?”
Keyra tersentak, menatap Akhir yang berteriak. “Kenapa?”
“Kenapa tadi kamu bilang mau mati?” Tanya Akhir ketus. Tiba-tiba perasaan khawatir melanda-nya, ia menangkup kedua pipi Keyra, menatap tajam tepat manik amber itu.
“Astaga aku ngelamun tadi,” kekeh Keyra sembari menepis pelan tangan Akhir. “Akhir... Boleh aku minta tolong?”
Akhir tentu saja mengangguk antusias, ia merasa dibutuhkan oleh Keyra saat ini. “Minta tolong apa sayang?” Tanya Akhir lembut.
“Sebentar,” Keyra beranjak dari duduknya dan berjalan pelan menuju kamarnya yang berada di dekat ruang tamu.
Dikamar, Keyra duduk di meja riasnya, meraih sebuah kertas berwarna biru yang dilipat serapi mungkin oleh dirinya. Ia terisak pelan begitu menyadari sudah enam bulan semenjak reuni akbar tempo lalu, ia dan Rafka tak pernah saling bertemu. Bahkan saat persidangan dipengadilan pun Rafka tak muncul. Hanya pengacara nya saja yang hadir.
Padahal Keyra sangat ingin melihat wajah pria yang dicintainya sekaligus Ayah dari anak yang ia kandung.
__ADS_1
“Kangen perhatian kamu, Af. Walaupun pura-pura,” lirihnya disusul air mata yang meluruh deras membanjiri pipinya.
Diambang pintu, hati Akhir terasa diiris melihat wanita yang dicintai-nya kembali menangis dalam diam.
“Key---” Keyra menoleh cepat, bibirnya melengkung keatas membentuk sebuah senyuman. Ia mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangannya.
Akhir duduk di tepi ranjang milik Keyra, ia menepuk sisi sampingnya yang kosong. “Sini,” pintanya yang langsung dituruti oleh Keyra.
Keyra duduk disamping Akhir sembari menyodorkan amplop berisi kertas tadi pada Akhir yang menerima bingung.
“Nitip buat Afka ya..”
Sekarang Akhir mengangguk paham. Lagi dan lagi ia melihat Keyra menangis hanya karena Rafka si bjingan satu itu. “Kenapa gak kamu aja yang ngasih langsung?”
Keyra merespon dengan gelengan.
“By the way, Key. Selama ini, kamu beneran gaada rasa sedikitpun buat aku?”
"Akhir---”
“Sutttt, nangis aja,” Akhir mengusap pelan rambut serta bahu Keyra yang bergetar. Ia bergerak untuk mendekap tubuh mungil Keyra. “Nangis gak bikin kamu keliatan lemah dan cengeng, anggep aja melupakan perasan ok?” Bisiknya pelan.
Tentu bukan hal yang mudah bagi Keyra untuk melupakan sosok Rafka yang sudah membuat wanita itu jatuh terlalu dalam.
Keyra sudah memafkan kesalahan Rafka. Tapi, untuk melupakan kejadian menyakitkan itu, rasanya sangat sulit.
Akhir hanya diam sambil mengusap punggung Keyra. Tak apa cintanya bertepuk sebelah tangan, asal wanita di dekapannya ini masih mau menerima kehadirannya dan menganggap dirinya walaupun hanya sebagai Abang.
Katakan Akhir bodoh, Akhir terima itu, dia memang bodoh bin tulul, menolak puluhan perempuan cerdas dan single demi Keyra sang janda yang sedang berbadan dua.
Setelah ini, Akhir berjanji akan berusaha membahagiakan Keyra tanpa meminta balasan akan perasaannya. Akhir sadar, perasaan tak bisa dipaksakan.
Akhir mengurai pelukannya setelah dirasa tangis Keyra mulai mereda, ia mendekatkan telinganya pada perut besar Keyra.
Dughh
“Wihhh dia nendang Key,” Keyra terkekeh sambil mengusap kepala Akhir yang masih betah berada diatas perutnya.
“Nih dengerin, kata baby boy ‘Mommy jangan nangis, ya.. Milan disini ikutan sedih kalo Mommy nangis, tau! Atau Milan keluar aja dari perut Mommy biar bisa hibur Mommy, hm?" Ucap Akhir dengan nada yang dibuat seimut mungkin membuat Keyra tertawa geli mendengarnya.
“Iya aku janji gak sedih lagi.” Ucap Keyra serak. Keyra juga berjanji dalam hati tak‘kan pernah menangis lagi didepan siapapun. Ia benar-benar takut merepotkan orang sekitarnya.
__ADS_1
“Kamu juga harus janji.”
Akhir mengerutkan keningnya heran. “Janji apa?” Tanya-nya bingung.
Keyra tersenyum memamerkan gigi rapihnya, senyuman yang selalu membuat Akhir Dika Vihor terpesona. “Jika kamu diberi pilihan buat selamatin aku atau Milan, kamu harus mantap ya pilih Milan?!”
“Dih? Ya nggak bisa gitu! Anaknya selamat Mommy nya juga harus selamat dong masa enggak?!” Sewot Akhir, bahkan dia sampai tak sadar mengepalkan tangannya kuat saking kesalnya.
“Nih aku mau janji, jika suatu hari nanti terjadi sesuatu sama kalian berdua, aku --Akhir Dika Vihor bakal menyelamatkan Queensha Keyra Naura dan Milan Dikava Vihor sekaligus!”
Keyra tertegun, namun ia langsung tersenyum lembut ketika Akhir mencium pipinya gemas. Ia menyayangi Akhir seperti ia menyayangi Ivan dan temannya yang lain, ya sebatas adik ke Kakaknya.
“Aku berharap, jika Milan dewasa nanti, dia punya sifat lembut dan perhatian seperti kamu.”
“Oh ya jelas, diakan anak aku!” Balas Akhir sombong.
Keyra menutup kelopak matanya sebentar, kemudian membuka mata sambil menatap Akhir. “Boleh minta tolong lagi? Kalo nanti aku gaada, kamu bimbing Milan kalo dia ada dijalan yang salah. Bilang kalo Mama nya sayang bahkan cinta banget sama Milan. Semoga Milan gak punya sifat dendam kayak Mama-nya, aku berharap banget dia bisa bahagia nantinya dan--”
Ucapan Keyra terpotong saat telunjuk Akhir menyentuh bibirnya. "Kamu ngomong apa sih? Kamu bakalan selalu ada dideket Milan, ngurus dia dari kecil sampai nanti kita punya cucu dari dia. Aku dan kamu, akan selalu membimbing Milan kejalan yang bener dan keluarga kecil kita akan bahagia terus sampai ajal memisahkan.”
“Keluarga kecil? Ngaco kamu! Kita bahkan enggak nikah Akhir, emangnya kamu mau sama aku yang bekas--?”
“Kamu bukan barang Keyra!" Akhir meradang, ia tak suka saat Keyra berkata seperti itu. Secepat kilat ia menekan emosinya agar tak kelepasan menyakiti hati wanita didepannya. “Kita akan menikah setelah Milan lahir!” Finalnya.
Menikah lagi? Bahkan untuk sekedar melupakan Afka aja, aku sulit. Apalagi menikah lagi? Aku gak pantes buat kamu, Akhir. Banyak wanita diluaran sana yang jauh lebih baik dari aku, siap lahir batin nikah sama kamu.
TBC
GAJE
mama
papa
mommy
daddy
geli w🌶
tandai typo dong
__ADS_1