
Berkatalah yang baik.
Jika tidak, maka diamlah.
★★★
Keluarga tersebut kemudian masuk kedalam bandara dan langsung menghampiri orang yang dikenalnya. Mereka menyapa Akhir serta Mark yang tengah berbincang dengan serius.
Kedua pria yang menyadari keberadaan Rafka sekeluarga, langsung berdiri dan menjabat tangan Rafka.
"Gila sih bro, bini lo makin cantik aja," puji Akhir kemudian tertawa geli seraya memandang kagum wanita berhijab nude tersebut. "Gimana kabarnya, Key?" Tanya Akhir.
"Iya bagaimana kabar kamu, Keyra?" Timpal Mark. Ia takjub dengan perubahan seorang Keyra Naura. Namun kekaguman itu tak bertahan lama, karena ia sadar tatapan Rafka yang terasa mengancamnya. Mark tersenyum canggung.
"Aku baik. Em,.. istri kamu kesini, Mark?"
Mark menggeleng. "Aku belum berhasil dapatkan dia. Haha susah melawan orang-tua ku."
"Kasian banget lo," celetuk Rafka prihatin.
"Banyak yang mau sama lo, Mark. Gak mau nih nyari yang baru?" Timpal Akhir.
Mark hendak menjawab, namun Rafka lebih cepat menyahuti ucapan Akhir. "Kalo lo ada di posisi Mark, apa lo bakalan nyari yang baru juga?"
"Yaiya--apa?? Ya kagak lah! Gue orangnya setia kali," decak Akhir.
Rafka hanya bergumam tanpa membalas. Ia sekarang sibuk membenarkan jilbab istrinya yang sedikit berantakan. Sementara Mark dibuat tersenyum lalu memanggil anak kembarnya untuk mendekat.
"Siap pulang?"
"Siap, Phao." Sahut Kannika pendek.
Mark mengerutkan kening melihat perubahan ekspresi putrinya. Sepertinya ia harus lebih ekstra memperhatikan kedua anaknya yang sudah 3 tahun berjauhan dengannya.
"Salam dulu sama Mae."
Kannika serta Daniel lantas mendekati Keyra dan memeluk Keyra erat. "Nika pasti akan rindu sama Mae."
"Mae juga. Kita masih bisa vidcall, Nika." balas Keyra.
Kannika mengangguk. "Saat Natal nanti, Nika berjanji akan ke Indonesia, bertemu Mae dan Adik Mila." Ucap Kannika tersenyum lembut sembari mengusap kepala Karmila yang asik bercanda ria bersama Papanya.
Daniel meraih tangan Keyra kemudian menciumnya. "Thanks. Niel sayang Mae." Ujar Daniel kemudian memandang Milan. "Jaga adikmu, Milan. Kita saudara?"
Milan mengangguk mantap. "Iya, kita sodara."
Urusan mereka dibandara selesai kala Mark serta anak kembarnya masuk kedalam pesawat. Rafka kembali mengemudikan mobil kearah TPU untuk ziarah ke makam orangtua serta mertuanya. Rutinitasnya setiap hari jumat dan ketika semua tugasnya sebagai dokter sudah selesai.
Cukup lama mereka di TPU yang lumayan ramai. Karmila mengeluh ingin pulang. Gadis cilik tersebut terus merengek hingga ketiduran di pangkuan Keyra. Rafka memutar stir kearah Kalandra Hospitals untuk memeriksakan keadaan Keyra.
Sudah menjadi kebiasaan Rafka mengantar sang istri cek ke dokter spesialis ginjal kenalannya sebulan sekali. Rafka menyuruh Milan untuk menjaga Karmila yang tertidur diruangan kerjanya. Setelah Milan menyanggupi, pria itu mengajak sang istri untuk keluar menemui dokter Sela.
__ADS_1
"Gimana dok kesehatan istri saya?" Tanya Rafka setelah Keyra selesai diperiksa oleh dokter Sela.
"Kesehatan ginjal Ibu Keyra sangat baik, dok. Dokter Rafka sebagai suami, idaman banget ya merawat istrinya."
Rafka tak ambil pusing dengan pujian dokter Sela. Lain lagi dengan Keyra yang dibuat panas dingin oleh tatapan dokter tersebut. Namun Keyra tau etika dan hanya diam sembari meremas paha Rafka hingga sang suami memandangnya heran.
"Mas,.. kok burem ya?"
Keyra mengernyit dan mengerjapkan mata berkali-kali sembari berpegangan pada bahu sang suami. Kesadaran wanita itu hilang kala Rafka menggapai pipinya.
"Ra?" Rafka mengendong Keyra seraya menaruh tubuh wanita itu kembali ke atas bankar.
Rafka inisiatif mengecek denyut nadi sang istri kemudian mengernyit. "Panggil dokter Airin. Suruh dia kesini dan periksa keadaan istri saya."
Tanpa Rafka sadari, dokter Sela menekuk wajahnya, tanpa niat dia menghubungi dokter Airin sesuai perintah atasannya yang diam-diam ia sukai.
Dokter Sela 3 tahun lebih muda dari Rafka. Wanita itu janda 1 anak dan suka menghalu jika Rafka merupakan calon masa depannya.
5 menit kemudian dokter Airin masuk ke ruangan dengan tergesa.
"Cek dok," ucapnya. Rafka berdiri disisi bankar sembari mengusap kening Keyra yang bercucuran keringat. Diraihnya jemari sang istri kemudian mengecupnya lembut. "Kayaknya, kita bakal kehadiran anggota baru." kekeh Rafka mengundang tatapan horor dari dokter Sela.
"Kapan terakhir Ibu Keyra menstruasi, dokter?" Tanya dokter Airin. Tak lama wanita itu tertawa canggung. "Eh anu, saya tanya Bu Keyra nya saja dok."
"Hari jum'at. Tepatnya 5 minggu yang lalu." Jawab Rafka mantap. Dia tak perlu basa-basi karena mengerti gestur dokter Airin. "Thanks dok. Tolong siapkan vitamin ibu hamil yang khasiatnya sama seperti dulu pernah istri saya konsumsi."
***
Keesokannya di rumah Rafka.
"Mau aku cariin madu buat kamu?"
Keyra menggeleng. "Madu manis bukan? Lah kalo madu bentuk human yang kamu cari mah pait!"
Rafka terkekeh. Mengacak rambut sepunggung istrinya dengan sayang. "Cukup kamu doang, Ra."
"Maksudnya?"
"InsyaAllah aku gak akan nambah apalagi berpaling."
"Temen kerja kamu kan cantik-cantik. Nanti juga berpaling."
Rafka tak marah. "Semua aset aku, udah atas nama kamu sama anak anak kan? Logikanya gini, emang ada cewek yang mau hidup susah cuman modal tampang doang?"
"Ada tuh! Bahkan rela itu cewek nyantet cowoknya biar mau sama dia."
"Kamu jadi cerewet. Mas makin sayang sama kamu," kekeh Rafka. "Utamakan berpikir positif ya, Ra. Gak boleh mulai sekarang kamu nuduh yang enggak engak. Apalagi sampai buat kamu tertekan. Kasian bayi kita di dalem sini," ucap Rafka sambil mengecup perut Keyra.
Keyra shok. "Bayi?"
Rafka mengernyit heran namun tak ayal pria itu mengangguk membenarkan. "Kamu udah telat PMS 1 minggu. Dokter Airin yang bilang kamu hamil."
__ADS_1
"Tapi aku rajin minum pil KB.."Bantah Keyra.
Keyra mendorong bahu Rafka saat sang suami beralih mendekap nya. "Dokter Airin halu kali. Kemarin periksa kan ke dokter Sela si spesialis ginjal, Mas."
"Memang. Tapi pil yang selama ini kamu anggep pil KB, itu vitamin penyubur sayang."
"Mas,.." mata Keyra berkaca-kaca. Pukulan kuat ia layangkan pada bahu Rafka. "Jahat lo anjer!" Ujar Keyra membuat Rafka kaget. Tiba-tiba dahi wanita itu berkerut dalam lalu memandang Rafka dengan jengah. "Jadi kangen nge toxic bareng kamu, Mas.
" Astaghfirullah dedek bayinya kasian banget punya emak sebar-bar kamu, Ra."
Keyra mendelik. "Dih nggak ngaca. Yang dari dulu bar-bar kan kamu!"
Rafka terbahak. Suka sekali ia membuat marah istrinya. "Jangan 'lo-gue' lagi kayak dulu, Ra, apalagi nge toxic. Kita udah punya anak, hampir 3 malahan. Cara bicara kita, kebiasaan sama kelakuan kita yang gampang banget mereka tiru."
"Kalo berdua doang dih."
Rafka menyentil pelan kening Keyra. Ia menggendong Keyra ala bridal dan menurunkan tubuh sang istri di bathup. "Nanti jadi kebiasaan. Terima kenyataan kalo kita udah tua, sayang."
Keyra mengalunkan tangan ke leher Rafka hingga pria itu menunduk dan Keyra dengan leluasa mencium bibir Rafka lama. " Aku beruntung punya kamu. Orang baik yang punya masa lalu. Terimakasih Mas untuk 3 tahun ini. Kurang-kurangin sok beg* nya, ya?
Rafka menahan tangan Keyra yang mulai merambat ke dadanya. "Kamu mandi sama siap-siap. Menjawab keraguan kamu, siangan ini kita kerumah sakit lagi." Ucapnya kemudian beranjak. "Aku anter Milan kesekolah dulu."
Keyra terkekeh memandang kepergian Rafka. Dia tahu bagaimana Rafka tengah bergair@h. Ternyata suami mesomnya itu bisa menahan untuk tak berhubungan badan karena janin didalam perutnya.
Wanita itu tak menyangka ia akan mengandung lagi. Dulu Rafka sendiri yang memintanya untuk meminum pil KB karena tahu kondisinya setelah melahirkan Karmila, sangat menurun dan sering berwajah pucat.
"Tapi.. kalo gue gak hamil, gimana?" batinnya.
★★★★★
Keyra betulan hamil kala dokter Airin kembali memeriksanya. Dokter itu tertawa lucu melihat ekspresi dokter Sela yang mengintip dibalik jendela transparan ruangannya.
Pasti rekan kerjanya itu hatinya tengah potek. Tawa dokter Airin lepas begitu saja kala mendengar suara hentakan dokter Sela yang nampak disengaja.
Keyra dan Rafka saling pandang. Tak tahu sebab dokter cantik itu tertawa lepas.
"Dijaga ya Bu kandungannya. Saya sebagai dokter pribadi Bu Keyra, siap sedia dipanggil kerumah kalo Bu Keyra butuh sesuatu."
Keyra mengangguk. "Besok malam bisa dateng ke rumah kami?"
"Untuk apa ya dok?" tanya dokter Airin.
"Putra sulung kami berulang tahun, dokter Airin bisa datang?"
"Acaranya kecil-kecilan, Airin. Yang datang cuman saudara sama temen-temen kami. Keinginan Milan sendiri," ujar Keyra. "Boleh saya panggil tanpa embel-embel 'dokter'?"
Dokter Airin tertawa. "Tentu boleh, Keyra. Kalo bisa, jangan formal formal sama aku, ngerasa asing banget."
"Haha oke. Kalo begitu kita pamit dulu, Airin."
TBC
__ADS_1
ada yang ngeluh tulisan w berbelit dan banyak yang salah? sorry ya.
like favorit n comen