
Motor Ervin menapak sempurna di pasir putih hingga membuat Keyra meremang. Pasalnya, gadis itu hanya memakai sebuah gaun selutut tanpa lengan berwarna biru laut. Walaupun jaket kulit membungkus tubuh nya, tetap saja udara dingin itu terasa jelas menusuk sampai tulangnya.
Keyra turun dari motor Ervin lalu langsung berjongkok untuk men-sejajarkan tingginya dengan tinggi Raga. Gadis itu memeluk adiknya sangat erat, menyalurkan rasa hangat lewat pelukannya.
Sementara Raga, bocah itu malah antusias memandang lautan lepas di malam hari tanpa sedikitpun merasakan takut, tak seperti yang Keyra rasakan.
“Kak Queen liat itu ombaknya mau kesini!” jerit nya keras tanpa menyadari Keyra yang sedang meringis lirih dan semakin memeluk Raga erat.
Keyra benci ombak, ingatannya memutar kembali saat kejadian dimana ia terbawa arus ombak karena Alisa yang mendorongnya.
“Umur kamu berapa sih? Kok mukanya tua banget” Cibir Alisa saat ia dan Keyra berjalan menyusuri tepi pantai. Disaat itu, usia Alisa 13 tahun dan Keyra 10 tahun.
Garen yang berjalan di belakang mereka untuk mengawasi kedua adiknya itu hanya geleng kepala.
“Dasar bocil syirik.”
Keyra mengerjapkan matanya, “aku tua? Yang mukanya tua kan Bang Garen, Kak. Lihat, ” gadis itu berbalik badan dan telunjuknya mengarah ke Garen yang berdiri gagah dengan kacamata yang bertengger di hidung mancung nya.
“Loh kok jadi Abang? Muka Abang itu baby face tau!” Garen pura-pura merajuk yang dibalas kekehan kedua adiknya. “Kalian mau minum kelapa enggak?”
“Mau!”
“Nggak!” Seru Alisa mengibaskan tangannya pertanda menolak. “Alisa gak suka kelapa, kalo Bang Garen mau beliin jus, ya monggo-monggo aja.”
“Gaada jus disini dasar anak manja,” cibir nya pelan. “Kalian berdua kalo jalan jangan terlalu jauh, ok? Kalo perlu tunggu Bang Garen aja!”
Setelahnya, Garen berlari meninggalkan keduanya yang kini tengah menatap satu sama lain. “Kamu lihat di tengah laut, Key. Apa ada mermaid disana?”
Mata Keyra mengikuti arah pandang Alisa, gadis itu memandang laut seraya mengkerut kan dahi. “Di dunia ini gaada mermaid, Kak.”
“Ada!” keukeuh nya lantang. “Cara satu-satunya buat kamu percaya kalo mermaid itu ada, dengan kamu berenang sampai sana!”
Gadis itu terdiam sejenak, tatapannya lurus kedepan, ia melirik Alisa lewat ekor matanya. “Keyra gak bisa berenang, apalagi kata Bang Garen ada hiu sama paus yang siap makan Keyra kalo Keyra berenang ke laut!” Jawabnya polos.
“Hiu sama paus gak makan kamu!”
“Iya, tapi mereka gigit Keyra!”
__ADS_1
Alisa yang terlanjur emosi pun mendorong keras tubuh mungil Keyra saat ombak yang lumayan besar menghampiri keduanya, gadis itu langsung berlari mundur meninggalkan Keyra yang terseret ombak.
“T..tolong K-kak!” Keyra kesulitan bernapas, gadis itu berusaha berenang menuju tepi pantai, namun usahanya sia-sia. Kakaknya juga tak menoleh lagi kearahnya yang tengah berjuang melawan ombak.
Senyum miring milik Alisa tercetak jelas, namun wajahnya di buat sesedih mungkin. Saat sudah berdiri di belakang tubuh Garen, Alisa menarik ujung kaos yang dipakai Garen dari belakang, cowok itu masih asyik menatap si penjual kelapa yang usianya kira-kira 5 tahun di atas Garen.
Dasar cowok!
“Keyra Bang, Keyra!”
“Iya ada apa Lisa? Keyra kenapa? Kok kamu disini? Adik kamu mana?” pertanyaan bertubi-tubi itu terlontar dari mulut Garen.
“Keyra Bang!” Sepertinya Alisa memang sengaja mengulur waktu, buktinya gadis itu tak langsung memberitahukan keadaan Keyra pada Garen.
Mata Garen mengedar, namun cowok itu tetap tak menemukan dimana adik kecilnya berada. “Keyra kemana Lisa? Jawab!” bentaknya tanpa sadar.
Mata Alisa berkaca-kaca, namun Garen tak memperdulikan itu, cowok itu berlari menuju tempat dimana kedua adiknya tadi berdiri. Mata Garen membulat sempurna saat matanya menangkap siluet Keyra yang sudah jauh dari tempat nya berdiri. Tanpa takut, ia langsung berlari dan berenang untuk menangkap tubuh kecil Keyra yang sudah sangat kacau dengan mata yang tertutup.
Di tempat Alisa berdiri, tangan mungil itu terkepal erat.
“Kak Queen, hey! Kenapa dari tadi dipanggil gak nyahut?” Lamunan panjang Keyra buyar saat itu juga. Gadis itu menepuk pipinya pelan yang terasa dingin.
“Gapapa kok,” jawabnya seraya mengacak rambut legam milik Raga. Lalu pandangannya teralihkan pada Ervin yang hanya berdiri, menatapnya dalam. “Rey? Udah malem loh, dingin juga di sini, lo gak kasian sama gue dan Raga?”
“Gak.”
Keyra memang harus se-sabar itu menghadapi sikap Kakaknya. Ia memasang senyum manis yang jarang sekali di perlihatkan, karena gadis itu memang jarang tersenyum.
“Oke gue maklum aja. Tapi, Rey seriusan dingin banget, gue gak tahan.” Keyra mempererat pelukannya dengan Raga, bocah itu pun memeluk leher Keyra nyaman. Tatapan Raga sekarang memandang keatas langit, dimana banyak sekali bintang yang bertaburan disana. “Wow mejing!”
Ervin memutar matanya sok tak peduli, “lo mati di sini juga gak akan ada yang peduli!”
Rasa sakit di kepala nya tiba-tiba menyerang Keyra, ia menguraikan pelukannya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan suara ringisanya terdengar. Keyra benci saat dirinya menjadi lemah seperti ini. “Sini kunci motor lo, biar gue pulang berdua doang sama Raga.” Keyra mengulurkan tanganya, meminta Ervin untuk memberikan kunci motor padanya.
“Emangnya lo bisa bawa motor gue?”
“Dan-- lo aja gak tau jalan pulang, mau mati heh?”
__ADS_1
Keyra mengacak-acak rambutnya kesal, ia tak peduli jika penampilannya sekarang seperti orang tak waras. Gadis itu kesal, sungguh kesal dengan pemuda di depannya ini. Mengapa Kakak tirinya itu begitu menyebalkan jika bersamanya? Perasaan jika bersama orang lain, Ervin akan menjelma menjadi tembok berjalan dan acuh tak acuh dengan orang lain.
Gadis itu menyerah tanpa mau beradu argumen dengan Ervin, lagi. Ia memilih duduk di atas pasir dengan Raga di sampingnya. Matanya terpejam dengan tangan yang aktif memijat pelipisnya yang berdenyut.
Beberapa menit kemudian, Keyra melirik Ervin yang tengah bertukar suara dengan seseorang. Entah siapa itu, Keyra tak peduli dan tak mau tahu.
“Afka sialan! Gegara nurutin ucapan lo, gue harus kejebak di sini bareng tembok shia!” Batinnya menggerutu.
Ngomong-ngomong, mengapa Keyra menjadi menyalahkan seorang Rafka? Harusnya salahkan dirinya sendiri yang terlalu penurut.
“Haissh,” Keyra heran dengan Raga yang hanya diam menatap langit tanpa protes kepada Ervin yang membawa keduanya sampai pantai.
“Ga, cari Abang baru yuk, Kakak bosen sama Bang El.” Keyra menghasut adik nya dengan berbisik. “Ada banyak loh Abang baik diluaran sana yang mau jadi Abang kita.”
Raga mengerjapkan matanya, tangannya terulur menggapai wajah mulus Kakaknya. Lalu tanpa aba-aba, bocah itu mencium pipi kiri Keyra lama.
“Bang El mukanya kayak tembok, Raga bukannya bosan tapi takut, Kak.” Ia menyengir lagi yang membuat Keyra gemas. Gadis itu balas mencium pipi Raga.
Sekali lagi Keyra melirik Ervin yang saat ini hanya diam sembari matanya memandang lurus, entahlah apa maksud pemuda itu yang secara tak langsung menculik Keyra dan Raga.
Hening, mata Keyra terpejam, hawa dingin mampu membuat rasa kantuk menghampiri nya. Ia menguap dua kali lantas melirik ponselnya yang menyala.
Berandalan gubluk 👻💙
[Ciee jomblo, malsel nya kek babu.]
Isi pesan itu membuat Keyra bingung. Apa maksudnya?
^^^Malsel apaan? Babu? Heh lu ngomongin apaan sihಠ( ͡°_ʖ ͡°)^^^
[Lo madep belakang deh, tepatnya samping resort yang ada di tempat lo berpijak sekarang..]
“Dih rumit banget.”
TBC
FYI: keyra n Alisa mulai saling gak peduli saat umur Alisa 15 tahun, tapi ya gitu, bencinya udah mendarah daging dari kecil'v
__ADS_1