Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Kebusukan Garen


__ADS_3

16 bulan kemudian, Keyra tengah duduk dibalkon kamarnya sambil membolak-balikan sebuah undangan yang tertera nama sang Kakak tirinya dengan alis tertaut.


"Alisa nikah sama Bang Andra? Emang Lisa mau sama tu orang?" Ujar Keyra.


Gadis itu menoleh ke samping saat mendengar suara langkah kaki. "Nanti malem acaranya, Queen. Kamu mau lihat Om kamu nikah?"


"Hah?" Keyra sontak berdiri dan memandang Papa nya. "Om? Emang aku punya Om?"


"Punya, Andra Om kamu."


Mata Keyra melotot, ia duduk lagi dikursi sambil memandang Papa nya bingung. "Kok aku baru tau, Pah?"


Davin duduk didepan Keyra sambil terkekeh pelan. "Kamunya gak nanya."


"Kenapa mereka nikah mendadak banget?" Tanya Keyra bingung. "Itu artinya Mama pulang dari Medan dong?" Keyra jadi antusias mengingat Mama nya akan pulang. Gadis itu begitu merindukan sosok sang Mama yang sudah 2 tahun lebih menetap di kota Medan.


Davin diam sambil menatap mata putrinya. Ia menggeleng tegas. "Mama kamu gak bisa ke Jakarta."


"Yaah," decak nya lirih. Keyra lalu menatap Papanya sambil mengerucutkan bibirnya. "Aku boleh gak ikut Pah?"


Davin mengangguk. "Never mind, kamu dirumah aja sama Bunda. Biar Papa yang ke sana sama Raga."


"Rey ikut atau dirumah?" Ujar Keyra penasaran. Ia sedikit merindukan Kakak menyebalkan nya itu. Semenjak Keyra duduk dibangku kelas 12 SMK, Ervin lebih sering menghindari dirinya dan semakin jarang berada di rumah.


Katanya sih Ervin sedang PDKT dengan gadis gendut anak SMK sebelah. Keyra hanya berharap, gadis bernama Olivia itu bisa membuat Kakak tirinya pelan-pelan menghilangkan sifat playboy pemuda itu.


"Anak itu nginep dirumah Ayah kamu," balas Davin.


Keyra ber-oh-ria sambil memandang Davin yang beranjak. "Masuk Queen, Bunda nunggu dibawah."


Keyra mengangguk sambil membereskan cemilan yang tadi ia bawa ke balkon lalu mengikuti langkah Papa nya.


Sementara disisi lain.


“Bang? Gue gak mau nikah muda, woi! Apalagi nikah sama Om tua itu! Lo kok tega sih sama gue?”

__ADS_1


Garen meletakan ponselnya diatas meja dan menekan tombol loudspeaker. Ia fokus mengoreksi nilai ulangan anak didiknya. "Acaranya nanti malem, kamu gak bisa nolak, Lisa."


Diseberang sana Alisa menatap tajam Andra yang duduk disofa kamarnya dengan kaki menyilang. Senyum innocent pria itu berhasil membuat Alisa naik pitam.


"Gak mau, gue gak mau nikah sama Om Tua!"


Garen menghela nafas pendek. "Kamu lagi hamil anak Andra, inget itu, Lisa! Gaada yang tahu kandungan kamu selain Abang, kamu dan Garen. Kamu gak mau kan Mama Papa sampai tau itu?" Ujar nya sedikit mengancam. "Opsi terbaik ya nikah sama Andra."


"Opsi terbaik ya gugurin janin sialan ini!"


"BERANI KAMU LISA?!"


Garen terkesiap mendengar bentakan Andra yang menggelegar.


"Halo- woi lo apain adek gue?" Tanya Garen saat tak mendengar suara Alisa lagi. Ia kemudian melirik layar ponselnya yang menyala, ada pesan dari Andra yang segera ia buka.


Jngan ikut campur kali ini


gw cumn mau ngsih sdikit pljrn sm adek lknt lo.


Garen seketika menarik tangan gadis itu untuk duduk disofa. "Kamu ngapain disini?"


Gadis itu mengangkat wajahnya agar bisa menatap langsung kemata Garen. Matanya sembab, perasaan Garen jadi tak enak. Kemudian gadis itu meletakan sebuah testpack diatas meja yang mana langsung diambil oleh Garen.


Garis dua


Mata Garen membeliak melihatnya, jantungnya berpacu cepat. Ia menoleh ke gadis itu lagi dengan perasaan antara takut dan kesal.


"Gimana bisa?"


"A-apanya?"


"Gimana bisa kamu hamil?"


"Bisalah orang kita ML terus tiap hari," ucap gadis itu memutar mata.

__ADS_1


Rahang Garen mengeras. Ia berdiri dari duduknya sambil menatap gadis dihadapanya datar. "Gimana bisa kamu hamil, sementara aku selalu main aman sama kamu! Anak siapa?"


Jantung gadis itu mencelos, ia memandang Garen dengan sendu. "Anak kamu."


Kamu gak inget waktu kamu mabuk Kak? Batinnya sedih.


Gadis itu menunduk, tak berani memandang Garen yang aura nya sangat dingin.


"Gugurin,"


"WHAT?" Pekik gadis itu keras sambil berdiri menyamakan tingginya dengan tinggi Garen.


“Kecilin suara kamu," ujar Garen memegang bahu gadis itu penuh penekanan.


"Tapi aku yakin kalo aku tuh gak hamil Kak, mungkin testpack nya rusak ya?" Tanya gadis itu sedih. "Kalopun aku hamil, aku gak setega itu buat bunuh anak aku sendiri." Cicitnya lagi.


Garen meraih benda kecil diatas meja lalu menunjukkan nya pada gadis tadi yang merunduk dalam. "Terus ini apa? Gak mungkin testpack ini rusak! Sweetheart, kamu mau gara-gara anak ini, kamu kehilangan Rafka, hm?"


"A-aku gak mau."


Tapi bukan berarti aku rela jadi pembunuh anak aku sendiri. Cukup kebodohan aku waktu itu ngerelain keperawanan aku buat kamu, Kak.


Garen menyeringai tipis. "Nah kalo gitu, gugurin kandungan kamu. Setelah ini aku akan misahin Rafka dari Keyra, perjanjian kita berakhir saat itu juga, sweetheart." Ucap Garen sebelum berlalu meninggalkan ruangannya sendiri.


Garen bjingan!


"Aku gak mau kehilangan Rafka," gumamnya. Ia mengelus perutnya yang masih datar dengan perasaan campur aduk. "Aku juga gak bisa ngebunuh kamu."


**TBC


Like, comen n favorit nya**


terimakasih,


see you

__ADS_1


__ADS_2