
Queensha Keyra Naura POV
Pagi hari ini aku bersiap untuk membantu Bunda Reva di dapur, namun saat kaki ku sudah menginjak lantai dapur, nampak Bunda Reva yang sudah hampir selesai memasak.
“Bunda~”
Bunda Reva menolehkan pandangan nya ke arah ku, senyumnya terbit.
“Iya sayang? Kamu kok udah turun? Baru jam segini loh, mending istirahat aja.” Aku suka saat keluarga baru ku memperhatikan ku, Bunda Reva kemudian melanjutkan kegiatan memasaknya.
“Nggak akh Bunda, Queen udah capek istirahat mulu, pengen cepet-cepet kek dulu lagi.” Ujar ku seraya membantu Bunda Reva yang nampak sangat kewalahan.
“Bunda masaknya banyak banget. Emang ada tamu ya Bunda?”
Bunda Reva mengangguk, “Bukan tamu sih Queen, mereka yang dateng anak-anak Bunda semua.” Bunda Reva mencuci tangan nya di wastafel lalu menghidangkan masakan nya dengan di bantu oleh ku.
“Hah?” Aku melongo, tak paham siapa yang di maksud oleh Bunda.
“Hah heh hoh!” Aku terkesiap saat sebuah jari masuk kedalam mulut ku. Tangan ku menarik paksa jari itu yang tak mau keluar dari mulut ku.
“Masih pagi jangan bengong, kemasukam jin nya Ervin, mampus lo!” Seorang cowok yang sangat familiar bagi ku sudah berdiri di depan ku dengan menampilkan tampang menyebalkan nya.
Dari mana datangnya kutu kupret ini? Mengapa di jam enam pagi seorang Afka sudah berdiri di lantai dapur yang bukan rumah nya?
Aku membantu meletakan makanan di atas meja lalu memandang Afka malas. “Lo kenapa sih di rumah Mama Indira ada, disini pun ada. Mau nuyul lo?”
Bunda Reva dan Afka tertawa, entah apa yang mereka tertawakan.
“Bunda ke atas dulu ya manggil Papa, kalian ngobrol dulu aja.” Pamit Bunda Reva yang di angguki oleh ku.
Setelah Bunda Reva berlalu, aku kembali memandang Afka yang nampak acak-acakan tapi malah membuat nya semakin mempesona.
Afka menarik kursi kemudian duduk, di ikuti oleh ku.
“Om Davin nyuruh gue nganterin lo nyari barang yang lo butuhin buat sekolah.”
Aku memandang Afka penuh selidik, mana mungkin Papa percayain semuanya ke Afka. “Yakin? Bukan mau pamer Naya ke gue? Secara kan dulu yang mau pamer temen sama pacar ke elo itu gue,” ungkap ku mencibir.
Afka tertawa ngakak, entah mengapa cowok itu gampang sekali untuk tertawa. “Lo kalah? Coba lo cari cowok biar bisa pamer ke gue.”
Aku menghela nafasku kesal, “Af?”
Panggil ku.
“Hm?”
“Pertunangan itu putusin aja ya? Kan lo ada cewek, kita juga masih kecil buat gituan. Nanti gue deh yang bilang ke Bunda sama Ayah Cakra.”
“Pertunangan itu hanya bisa di putusin saat kita udah mau lulus SMK, Ra.”
__ADS_1
“Gitu ya? Yaudah gue tunggu aja... Nanti siang anterin gue ke mall ya? Ada yang perlu gue beli sumpah butuh bat!!!”
Tangan Afka terulur mengacak rambutku, “bayar bensin nya ya? Gak gratis awokawok.”
“Siap! Tapi ngutang dulu ya? Gue nggak ada duit hiks,” ujarku jujur. Memang benar bukan jika aku tak mempunyi uang?
“Kagak usah pake ngutang segala, tinggal bayar pake bibir lo aja, gampang!” Tangan ku hendak menabok bibirnya namun urung saat banyak langkah kaki yang terdengar mendekat ke arah kami.
“Wih Rafka pagi-pagi seger ya, pake modusin cewek segala,” suaranya asing tapi mampu membuat ku kesal.
“Kekey, gue kangen!” hupp, kursi yang aku duduki hampir saja aku banting saat Bang Friski dan Ripan memeluk tubuhku.
“Geser lo! Gue kangen Keyra!”
“Astaga Bang! Perasaan kemaren ketemu di rumah sakit, sok sok-an kangen,” cibir ku pada kedua cowok manja itu.
Bibir Bang Friski dan Ripan mengerucut, wajahnya sangat lucu menurutku. “Sehari tanpamu itu membosankan Key.”
“Situ waras Bang? Perasaan gue dari dulu jutek, masa lo kangenin.”
“Lo tuh ngangenin bin---”
“Heh! Kok lo berdua asik sendiri, yang lain jangan di kulitin lah.” Aku menolehkan pandangan ku kearah para cowok itu.
Ada Afka, Bang Friski, Ripan, Ipang, Bian, Rey dan satu cowok yang tak pernah aku lihat. “Lo mau kenalan sama gue? Gue Keyra, jangan panggil Kekey atau lo-- gue cekek!” Kataku to the point.
Ku lihat cowok asing itu memandang ku dari atas sampai bawah, pandangan nya berhenti tepat di depan dadaku. “Gue tau gue kerempeng, inget, gue nggak suka dikatain kerempeng, walaupun itu memang kenyataan nya.”
Tangan cowok asing itu menjabat tangan ku. “Gue suka gaya lo yang nggak berbelit-belit, nama gue Akhir, biasa di panggil Akhirat, tapi kalo buat lo bedain lah, panggil sayang atau nggak darling juga boleh.” Oow, nama nya Akhirat, cowok itu menyugar rambut hitam sedikit kemerahan nya kebelakang.
“Gak usah sok kegantengan lo, Akhirat! Keyra itu lesbi.”
What! Aku memandang Afka tak percaya. “Ngomong sekali lagi Af?!” Tekan ku meninju bahunya keras.
“Noh, pawang gue itu galak, jadi jan coba-coba deketin dia awokawok.” Afka tertawa, aku mencibir pelan.
Ku lihat Bang Friski mengerutkan keningnya memandang ponselnya. Aku tak mau bertanya meskipun penasaran, itu privasinya.
“Jadi lo itu Queen? Good! Gue bener-bener bakalan betah di Traavo kalo ada cewek semenarik elo.” Ujarnya entah memuji atau apa.
“Key, katanya lo mau ngehajar gue di ranjang, mana? Kok semalem kagak ada lo.”
Bang Friski mengangguk tanpa menoleh. “Kenapa di ranjang gue juga gak ada lo Key?'
Aku mendelik, “Ipang, Bang Friski~
Keyra kalo lagi marah imut loh, mau liat?” Tanya ku, tatapan ku menusuk kedalam kedua mata mereka.
Akhir tertawa, “pada takut sama Keyra? Jadi beneran kalo kalian itu beneran ada pawang? Wahaha gue kira kalian tuh manusia liar yang nggak bisa di jinakin.”
__ADS_1
“Gue bukan pawang mereka ya! Enak aja, apalagi pawang yang jenisnya beda-beda kek mereka,” cetus ku sewot.
Aku memandang Bian dan Ervin bergantian. “Astaga, gue bosen liat lo berdua diem mulu kek orang sariawan. Suara itu nggak bayar ya, medit bat sih!”
“Oh iya kok gue baru sadar, kok lo bisa disini? Lo sepupunya Ervin?” Aku menggeleng sebagai jawaban.
“Gue adik tirinya Rey.”
Ku lihat mata Akhirat membola, hanya dia yang terkejut. Wajar, yang lain nya sudah mengetahui fakta itu sejak aku masih koma.
“Ervin? Ervin si beku yang kagak cair-cair? Anzaaaaaaaaay,” menurut ku Akhir itu sama seperti Afka dan juga Ripan, hiperbola!
“Selamat pagi anak Bunda semuanya~” panggil Bunda Reva dengan bernada. Wanita itu duduk setelah Papa Davin menarik kursi untuknya. Duh, sweet bat!
“Pagi Bunda.”
Aku menggeleng takjub saat semua cowok itu mendadak kalem. Apakah karena mereka menghormati Bunda atau takut dengan aura menyeramkan yang menguar dari Papa Davin?
Untuk opsi pertama sepertinya tidak mungkin, Bunda Reva itu supel dan mudah untuk di ajak bercanda.
Kami memakan makanan kami dengan hening, setelah kulihat Papa Davin menyeka bibirnya dengan tissue, aku bersua. “Pah, nanti Keyra beli keperluan buat sekolah sama Afka ya? Bunda kan ikut Papa, jadi bolehkan?”
Papa Davin bergeming lama, lalu mengangguk. “Ambil kartu di kamar kamu, kalo cowok di samping kamu itu macam-macam, jangan salahkan Papa kalo dia tinggal nama nantinya.”
“Ervin, Bunda sama Papa berangkat dulu ya? Sekalian mau jemput Raga,” ku lihat Rey bergeming. Wajahnya datar dan tak memandang Bunda yang sedang berbicara dengan nya.
“Kita berdua berangkat dulu ya.”
Papa Davin dan Bunda Reva mendekati ku dan mendaratkan bibir mereka di keningku, lalu keduanya keluar dari rumah ini meninggalkan ku bersama para cowok yang terbengong, sudah ku bilang, terkecuali Ervin dan Bian. Mereka hanya menampilkan raut santai mereka.
“Gue hampir gak nafas anjayy!” Ripan dan Akhir berseru heboh yang membuatku geleng-geleng kepala.
“Nafas tinggal nafas, mumpung gratis. Kalo berbayar, lo udah kere dari lama!” Celetuk Afka.
“Wah sadis ni anak, gue kenyang! Enak banget sumpah! Ervin! Napa lo kagak makan njer?” Aku memandang Rey kala Akhir berteriak, cowok itu ternyata sedari tadi hanya memakan roti tanpa menyentuh masakan Bunda Reva sedikitpun.
“Gue nggak tau masalah lo apa, tapi inget kata-kata gue. Penyesalan datangnya akhir, di mata gue, lo tuh kebanyakan drama tau nggak Rey! Bunda Reva itu baik tau! Kenapa wajah songong lo itu nggak suka bat sama Bunda? Baku hantam sini!” Tantang ku tak suka, Ervin menurut ku terlalu bodoh untuk tak menyadari kasih sayang dari Bunda Reva.
“Lo ga ngerti apa-apa, diem!”
“Okey gaees. Mumpung hari ini kita masuknya siang, gimana kalo kita futsal?” Bang Friski sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan saat aku ingin menjawab.
“Hah masuk siang gimana Bang? Emang situ anak kuliahan?” Tanya ku.
“Keyra sayang, kan setiap kelas beda-beda. Lo mau ikut nggak Key?”
Aku menggeleng keras, “nggak mau! Gue kan nggak jago kek kalian, mending nyari keperluan dulu.“
“Gue juga nggak ikut, mau nganterin tu bocah. Bisa liar kalo nggak ada pawangnya.”
__ADS_1
Dih, Afka pikir dia pawang aku apa?