Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Duh Iri


__ADS_3

“RHEA!"


“Ada apa ini ribut-ribut?” Davin muncul dari balik pintu dengan raut kusut nya. Sepertinya pria itu tengah kelelahan.


Ia mendudukkan bokongnya di sebelah istrinya setelah Rhea dan Rini beranjak dan duduk di sofa lain. Reva sigap memanggil pembantu untuk membuatkannya segelas kopi.


“Tumben mukanya kusut gitu? Kamu kok pulangnya cepet?" Reva menarik pelan dasi yang terasa mencekik leher Davin. Ia mencium pipi suaminya hingga membuat Rini dan Rhea berdecak.


“Duh bucin,“ ujar Rini


“Duh iri,“ balas Davin setengah meledek.


Ia memeluk pinggang Reva dari samping dan menyelipkan kepalanya di leher sang istri.


“Anjing mau adegan plus-plus di depan kita?”


“Astaghfirullah Ibu, udah tua gak boleh kasar,” celetuk Rhea.


“Kek jomblo tau lo berdua, sono balik. Gue mau bercocok tanam dulu.”


Bukan hanya Reva yang bersemu, Rini dan Rhea pun nampak merona melihat Davin yang sibuk mengecup leher Reva.


Reva mendorong bahu suami nya agar menjauh darinya, ia malu, sungguh!


Davin berdecak, gara-gara kedua istri temannya. Ia ditolak oleh istrinya sendiri. Davin kembali duduk di samping Reva dengan lemas. “Gak suka ditolak!”


“Reva juga gak suka ditolak, Vin. Sukanya dimadu.”


“Astaghfirullah Rini, GUE GAMPAR YA LO!" Rini dan Rhea terbahak di tempat.


“Jahara!"


“Btw Vin, lo dapet salam dari Rian sama Cemara. Valeri juga katanya kangen sama lo, nungguin di jenguk Kakeknya.”


Seketika tubuh lemas itu berubah tegap, ia menatap Rhea kemudian bersua. “Lo jangan bilang gue Kakeknya lah, nanti ada duo human yang cemburu dengernya.”


Wajah Reva memberenggut, tangannya bersedekap, ia yakin ucapan suaminya itu untuk menyindirnya. Padahal ‘kan ia tak cemburu.


“Gara, elo, Cakra sama Adnan itu Kakeknya Valeri sama Tasha.” Terang Rhea begitu matanya menatap Reva yang nampak memusuhi Davin. “Dahlah gue mau balik dulu, kita berdua gak jadi ganggu kebucinan kalian berdua kok. Besok anak gue juga balik dari Aussie, semoga tu anak balik-balik bawa gandengan.”


Kedua wanita itu berlalu dari mansion Gandawari. Tangan Davin pun sudah mencengkram pinggang istrinya.


“Sayang mereka ‘kan udah pergi, gimana kalo kita ekhemm ekhemm?”


“Giliran ada maunya aja manggil sayang huh!" Wanita dewasa itu merajuk.


“Lo tau sendiri gimana gue, Rev,” seringainya nakal.


Davin ini makin tua makin menjadi.


Tingg


Bunyi notifikasi dari ponsel Davin mengalihkan atensi keduanya, itu pesan dari supir istrinya yang tadi ia suruh untuk membeli kue kesukaan putra bungsunya.


[Pak, saya melihat putri anda sedang berlari kecil kearah halte di dekat SMK Andromeda sendirian, padahal sedang hujan]


[Saya pastikan itu benar Nona Keyra walaupun penampilan nya beda saat dirumah.]


Davin membaca tanpa berniat membalas. “Queen belum pulang? Terus kemana anak nakal itu?" Ia mengedarkan pandangnya keseluruh ruang tamu. Sepi, hanya ada dirinya dan istrinya.


“Anak nakal?“ Dahi Reva berkerut.


“Iya, Ervin.”

__ADS_1


“Queen sama Ervin belum pulang, mungkin mereka masih dijalan.“


Davin menghela. “Lo masuk kamar, mandi yang wangi terus pake itu pemberian dari gue. Don't forget my wife!“ Sebelum meninggalkan mansion nya, Davin terlebih dahulu mengecup kening dan bibir istrinya.


“Davin!"


17:25


[Keyra ijin pulang telat ya mau beli novel di gramed.. Maaf, Keyra nolak kalo Bunda sama Papa nyuruh supir buat jemput Keyra. Salam manis dari keyra yang manis💙]


Keyra mengirimkan pesan itu ke Bunda dan Papanya. Ia saat ini sedang duduk sendiri di halte dengan tatapan lurus. Hujan yang turun seakan menemani nya dikala sunyi.


Dia sudah mengusir teman-teman nya yang menawarkan untuk pulang bersama. Awalnya mereka menolak diusir, namun Keyra malah membuat alasan jika ia akan dijemput oleh supir Papanya.


Tega kah Keyra? Ia mengusir mereka kala teman-temannya yang rela menunggu dirinya berjam-jam hanya untuk mengantarkan nya pulang.


Keyra hanya ingin sendiri. Ia ingin merenungkan banyak hal janggal disekitarnya. Ia rindu Mamanya, orang yang telah melahirkan dan membesarkannya.


Ia juga rindu Garen, pria berwajah manis dengan sikap manisnya yang sangat perhatian padanya. Di SMK, ia tak pernah berpapasan dengan Garen. Entah pria itu yang sedang sibuk atau dirinya saja yang terlalu malas melirik sekitarnya.


Keyra melepas kacamata bulat yang ia kenakan dan menaruhnya di dalam ranselnya. Kepalanya menengadah keatas, menatap langit yang tadinya biru kini sudah berubah menjadi abu-abu karena tertutup awan. Rintikan air hujan turun membasahi bumi tempatnya berpijak.


Akhir-akhir ini memang setiap sore hujan akan turun dengan deras, angin kencang berhembus menusuk tulang Keyra sampai gadis itu menggigil dibuatnya.


“Permisi nak,”


Keyra menunduk sopan kala seorang pria tua berpakaian lusuh duduk disampingnya. Pria tua itu memandang kedepan, tepatnya sebuah warung makan yang letaknya berada di seberang halte.


I spend my weekends


Tryna get you off


My mind again


Keyra menyanyikan lagu itu dengan lirih, Lagu yang belakangan ini menjadi favoritnya. Ia Bersenandung dengan kaki yang tak bisa diam. Pria disampingnya pun menoleh.


“Kamu bule ya yang tinggal di Indo?” Pria tua itu bertanya karena melihat bola mata Keyra yang berwarna amber.


“Mata kamu kuning,” katanya lagi.


Keyra tersenyum maklum, “saya asli Indo kok Pak.”


Ia hanya ber-oh-ria, “kamu gak pulang nak? Sudah hampir malam ini,"


kata pria tua bernama Ramli itu dengan artikulasi sedikit tak jelas. “Hujan sepertinya awet.”


“Masih nunggu jemputan, Pak." Ujarnya berbohong, Keyra melirik sebuah wadah berisi gorengan yang berada dipangkuan pria tua itu. “Bapak jualan gorengan ya? Saya beli semuanya ya Pak.. Laper soalnya.”


Dahi Keyra mengkerut begitu Pak Ramli tanpa sadar tersenyum haru.


“Alhamdulillah ya Allah,” ucapnya penuh syukur. Lalu ia mengangguk semangat sembari memasukan semua gorengan nya ke dalam plastik. “Ini nak, maaf kalo gorengan Bapak sedikit basah karena tadi kena air hujan. Kamu kalo mau ambil aja, gak usah bayar juga gapapa.” Pak Ramli menjelaskan dengan nada yang lemah. Namun, senyumnya tak pernah luntur.


Keyra melamun melihat betapa bersyukur nya pria tua disampingnya yang tak henti-hentinya tersenyum setelah ia menawarkan membeli dagangan nya. Pria tua itu rela berjualan dibawah derasnya air hujan yang membasahi tubuh ringkih nya.


Ya Allah, mengapa hamba merasa tertampar? Bapak ini yang sudah sepantasnya beristirahat dirumah untuk menikmati masa tua bersama keluarganya, kini malah rela berjualan dengan berbekal jas hujan transparan yang jelas tak mampu menghangatkan tubuh keringnya.


Sedangkan hamba yang kebutuhannya selalu tercukupi, tak pernah bersyukur kepadamu ya Allah... Astaghfirullahalazdim..


Mata Keyra terasa panas, ia mengerjap beberapa kali. Keyra merogoh uang pecahan seratus ribu dan langsung menyerahkan uang itu ke Pak Ramli yang menerima dengan raut bingung.


“Nak tapi maaf, bapak gak punya uang kembaliannya. Apa kamu punya uang kecil?”


Keyra menggeleng, “Keyra gak punya Pak.”

__ADS_1


“Oh nama kamu Keyra, ini Bapak kembalikan lagi uangnya.”


“Keyra makan dulu ya Pak, Gak tahan hehe.”


Keyra betulan lapar, setelah membaca do'a, ia memakan gorengannya dengan lahap. Perutnya sedari tadi terus berbunyi dan ingin di isi. Tadi di sekolah, Keyra hanya duduk di kelas tanpa melakukan apapun. Bahkan bekal yang di siapkan oleh Bundanya sama sekali tak Keyra sentuh.


Keyra juga pulang telat karena harus membersihkan ruangan perpustakaan yang ditemani oleh Rafka, Ivan dan Rivan. Ketiganya hanya menemani tanpa berniat membantunya.


“Makasih Pak,”


“Makasih buat apa, Nak?” Tanya Pak Ramli heran.


“Makasih buat gorengannya, enak walau emang rada basah. Dan makasih juga udah buat keyra sadar kalo hidup itu harus banyak bersyukur."


Belum sempat Pak Ramli menjawab, sebuah Lexus LS berhenti tepat di depan halte. Keyra bisa melihat siapa yang turun dari mobil itu dengan raut terkejut.


“Gee whizz keyra!”


Tangan Keyra di tarik secara paksa oleh orang itu untuk masuk kedalam mobil. Setelahnya, Lexus LS itu melaju cepat meninggalkan Pak Ramli sendirian.


Di mobil, Keyra memejamkan matanya seraya memegang handle pintu yang terkunci. Hujan masih mengguyur Ibu Kota, namun pria disampingnya malah begitu berani melajukan mobil dengan kecepatan tinggi melewati jalanan yang licin.


“Kita bukan lagi balapan mobil ‘kan Pah? Keyra takut kecelakaan dan masuk rumah sakit lagi.”


Davin memelankan laju mobilnya sembari melayangkan tatapan tajam ke putrinya itu. “Jaga ucapan kamu!”


“I-iya maaf,” cicitnya takut.


Davin tiba-tiba ingat dengan pesan yang Keyra kirimkan saat ia akan membuka mobil untuk menjemput gadis itu. “Kata kamu mau beli novel di gramedia, kenapa kita bisa ketemu di halte dekat sekolah kamu, Queen?” Tanya Davin penuh dengan tatapan mengancam.


“Eh anu--”


“Hujan bikin Keyra kejebak Pah, jadi belum ke gramedia deh hh,” tawanya hambar.


“Kalo supir Bunda gak liat kamu disini, apa kamu akan terus terjebak sama Pak tua itu?” Davin mencengkram stirnya kuat. “Jarak dari rumah ke sekolah kamu itu jauh, Queen!”


Iya jauh, bahkan Davin tadi melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


“Kamu ingatkan apa penyebab penyakit cluster yang kamu derita itu?!” Ujarnya sedikit membentak. Davin menepikan mobilnya di depan minimarket. Ia meraih jaket istrinya yang tertinggal dan langsung memakaikan jaket itu ke Keyra. “Kamu disini dulu.”


Davin keluar mobil dengan payung kecil yang melindunginya dari air hujan. Ia masuk kedalam minimarket tersebut untuk membeli sesuatu.


“Hoammp,” Keyra menutup mulutnya yang terus menguap, matanya terasa berat disusul rasa pening yang menghantam kepalanya.


Tak lama kemudian, Davin masuk kedalam mobil dengan menenteng sebuah plastik putih berlogo dan menaruhnya di kursi belakang. Ia memandang Keyra yang juga tengah memandang nya dengan tatapan sayu.


“Papa minta tolong sama kamu jangan di ulangin lagi.. Nunggu di halte pas hujan itu sama aja buat ngundang penyakit.” Ia menarik pelan rambut palsu yang Keyra kenakan dan melemparnya ke kursi belakangnya.


“Besok-besok gak usah pake gituan lagi, ” Keyra mengangguk saja, ia tak akan membantah ucapan pria yang berstatus Ayah kandungnya itu.


“Telfon supir, Ervin atau siapapun itu. Papa gak mau kamu sakit hanya karena kedinginan di halte, Queen.” Ujarnya lagi.


“Iya aku tau kok kalo kedinginan bikin cluster aku kumat, tapi duduk dihalte sambil natap langit yang lagi mendung itu bikin pikiran aku tenang Pah...” ujarnya lirih dilanjut dengan kelopak matanya yang tertutup.


Suara dengkuran halus menandakan bahwa anaknya kini tengah tertidur. Davin menghela nafas panjang disusul tangannya yang terulur mengelus rambut coklat Keyra.


“Kamu anak Papa, tapi kenapa malah mirip sama Mommy Crystal? Keseluruhan sifat dan paras kamu mirip Mommy, Queen.”


🙅🙅🙅🙅🙅


Tandai typo


Favorit, like n komen ni novel yak...

__ADS_1


__ADS_2