
"Capek gue, Pang."
"Mati aja gih, biar beban didunia ini berkurang."
"Kenapa gak lo aja yang koit? Dosa lo kan lebih banyak dari gue bege," decak Rafka kesal.
Ivan terkekeh jumawa. "Justru pendosa itu matinya susah cok."
"Ngaku lo pendosa."
"Etss--- Mas Rafka curut gak boleh gitu!" Kelakar Ivan dengan nada yang sengaja di menye-menyekan. "Pendosa gini kan kesayangan situ," tambahnya lagi membuat Rafka sontak menampar kepala Ivan dengan sebuah map ditangannya.
"Najis lo anjirr."
Ivan hanya tertawa mendapati gerutuan dari Rafka yang sifatnya tak beda jauh dengan dirinya. Pria itu kembali mengamati Rafka yang nampak cermat mengerjakan pekerjaannya. Ada gunanya juga dirinya mempunyai teman secerdas Rafka yang kadang gampang dibegoin.
Ivan terkekeh nista.
Rafka sedikit mengerti tentang berkas-berkas yang berserakan dimeja Ivan. Karena sewaktu kecil, dirinya seringkali belajar tentang ilmu bisnis dan kedokteran sekaligus. Ayahnya yang seorang CEO dan Paman nya yang menyandang gelar dokter, memudahkan dirinya untuk belajar.
Rafka mengidolakan sang Ayah dan Paman nya yang selalu mendidik dirinya tanpa paksaan. Walau di umurnya yang beranjak 16 tahun, Rafka mulai membenci sang Ayah akibat kelakuan Cakra yang menghianati Bundanya.
"Lo gak balik ke RS, Raf? Gue becanda doang minta bantuan lo. Walau sebenernya gue emang beneran butuh bantuan lo bor."
"Free gue."
Schedule Rafka dirumah sakit memang sudah selesai dari 1 jam yang lalu. Ia yang kesepian pun memutuskan untuk mendatangi kantor Ivan yang berjarak tak jauh dari tempatnya bekerja. Niat hati ingin menenangkan diri dan curhat dengan sohibnya itu, Rafka malah tertekan dengan Ivan yang sengaja menimpakan sebagian pekerjaan pria itu pada dirinya.
"Nih gue tambahin," ucap Ivan mendapat gelengan protes dari Rafka.
"Pala gue berasa mau pecah woi! Lo bisa ngerjain ndiri kan?!"
Ivan mengangkat bahu kemudian menggeleng mantap. "Gunanya lo disini kan bantu gue, cok. Lo juga ngerti masalah ginian kan? Jangan pelit sama temen," cetus Ivan innocent sambil tersenyum lebar.
Pletak
Satu map merah melayang tepat di kepala Ivan yang mulai beranjak untuk menuju kursi kebanggaan-nya. Pria itu mengaduh kesakitan namun tak ayal dirinya langsung duduk dikursi dan menjulurkan lidah, mengejek Rafka.
"Mulai sekarang lo bukan temen gue," sahut Rafka sembari menatap sinis temannya itu. "Gue mau ketempat calon bini gue, baik-baik lo disini. Jangan genit!"
"Anying lo! Gak solid amat jadi temen! Masaa ninggalin gue pas lagi susah-susah nya. Baku hantam dimana kita?"
Rafka melirik Ivan sekilas. "Baku tembak aja kuy! Jari gue udah siap buat nembak pala lo sampe bolong."
"Jinjja pedas!"
***
Rafka berdiri di depan gerbang sekolah Milan yang nampak terbuka lebar. Puluhan anak yang menggendong tas dipunggung, nampak berlari meninggalkan pelataran sekolah. Rafka bergerak mendekati pos satpam. "Udah berapa lama kerja disini Pak?"
"Masnya nanya gini, ada rokok gak nih?"
"Eh buset," Rafka langsung termundur dan tersenyum kikuk kemudian berbalik badan mendekati mobilnya berada. "Cuma nanya gitu, minta rokok. Anehnya jaman sekarang," ucap Rafka pelan lalu tangannya melambai dua kali begitu sadar ada Milan yang baru keluar gerbang bersama dua orang lainnya.
"Milan," panggil Rafka membuat Milan, Daniel dan Kannika langsung menoleh kearah-nya. "Mereka berdua ngikutin kamu terus? Kek anak ayam ya."
Kannika bersedekap lucu mengamati wajah Rafka yang rupawan. "Naai sangat tampan!" Kagumnya lalu memandang Milan. "Seperti calon suamiku, Milan," ucapnya malu-malu sembari menutupi wajahnya dengan punggung sang Kakak. "Aku malu, Niel."
Daniel melirik Milan yang juga tengah menatapnya, keduanya sontak langsung berjalan masuk kedalam mobil Rafka tanpa dipersilahkan terlebih dahulu.
"Naai ayo masuk! Milan sama Niel nanti marah kalau kelamaan," ucap Kannika lalu mengekori Daniel dengan duduk dikursi belakang, meninggalkan Rafka ditempat.
"Yang punya mobil, gue atau mereka?"
Pria itu kemudian masuk kedalam mobil dan mengemudikan kendaraannya menuju rumah Akhir. Tadi sebelum kesini, Rafka terlebih dahulu izin pada Keyra agar wanita itu diam saja dirumah dan dirinya yang menjemput Milan disekolah. Suasana dimobil itu sedikit ramai akibat Kannika yang tak bisa diam. Rafka yang berjiwa humble pun menyahuti ucapan gadis manis tersebut.
****
__ADS_1
"Rafka!"
Rafka yang baru turun dari mobilnya lantas mengernyit ketika Awal menghampirinya dengan raut khawatir. "Napa?"
"Keyra diculik!"
"Canda lo?"
Brugh!
"Lo gak liat muka gue pucet gini?! Keyra beneran diculik njirr!"
"Gue gak percaya. Calon gue pasti lo umpetin didalem kan? Dih, cara lo murahan banget pake bilang dia diculik. Gak akan ada yang mau nyulik cewek galak kek calon gue."
"Rafka anjing banget lo ya!"
"Sat! Ucapan lo dijaga. Ada anak gue disini," ucap Rafka lirih melirik Milan yang ternyata menyimak pembicaraan antara dirinya dengan Awal. Sementara Daniel sudah masuk kedalam rumah dengan diekori oleh adiknya. "Sejam yang lalu, dia masih bisa ngomelin gue, Al. Masa sih diculik?" Tanya Rafka tak percaya.
Baginya, Keyra itu seorang wanita galak yang tak mungkin ada yang berani menculik wanita itu. "Tapi dia kan cantik banget, yang nyulik om-om mesum?!" Suaranya mulai naik satu oktaf.
"40 menit yang lalu Keyra izin ke minimarket buat beli cemilan. Tapi gak lama, ada yang ngirim pesan ke gue dan si penculik nyuruh gue ngasih tau lo, kalo Keyra ada ditangannya."
Rafka bukannya khawatir malah berdecak kagum. "Monster kah? GG banget badan segede Naura bisa dia genggam."
Awal menutup matanya dengan tangan, lalu wanita itu menangis kencang karena tak tahu lagi harus bagaimana. "Lo tololl!"
Rafka kontan gelagapan. "Eh lo jangan nangis, nyet! Nanti Akhirat ngamuk ke gue. Coba sini nomer penculiknya, biar gue telpon sama minta si penculik buat balikin Naura nya."
Pukulan di lengannya yang bertubi-tubi membuat Rafka meringis kesakitan. "Otak lo digadaikan kemana ogeb? Napa jadi bodoh banget sih, Raf?! Lo kira dengan nelfon mereka dan suruh balikin Keyra, mereka mau? YA KAGAK LAH VANGKE!"
"Sapa tau penculiknya lagi insyap dan mau balikin calon gue. Dicoba dulu napa!"
"Mommy, Tante Keyra diculik?"
Rafka dan Awal menunduk menatap Milan yang bertanya. "Papa cepetan selamatin Tante!"
"Jadi kita bersaing secara sehat?" Tanya Robby pada wanita disebelahnya.
"Yoi."
"Tapi rencana kita terlalu pengecut gak sih?"
"Yaiyalah! nyulik orang itu namanya pengecut, kek kita ini."
"Kok lo akuin sih anjirr?!"
Ane, pandangannya masih lurus ke Keyra. "Jadi penculik jangan pengecut! Akuin apa yang telah diperbuat. Kita tuh penculik berkelas bukan kaleng-kaleng."
Robby merasa kepala Ane habis terbentur dan sekarang jalan pikiran wanita itu semakin ngawur. Terbukti saat tangan Ane bermain nakal diarea pahanya. "Kalo Rafka gak nerima gue bahkan setelah kita culik Keyra, lo mau kan sama gue?"
Robby bergidik ngeri. "Gue gay kalo lo lupa."
"Moso sih? Coba kita buktikan, ganteng."
"Gblok," maki Robby. Namun tak ayal ia tertawa mendengar penuturan Ane, partner-nya dalam menculik Keyra. "Lo tau sendiri jalan yang selama ini gue tempuh, sesat."
"Yuk aku lurusin, kamu mau kan?"
Robby tertawa lagi. Merasa geli dengan tangan Ane yang semakin berani membuat pola abstrak didadanya. "Terus dia mau kita apain?" Tanya Robby menunjuk Keyra dengan dagunya. "Sia-sia nyulik cewek secantik Keyra kalo gak diapa-apain kan?"
"Kita jadiin dia model aja gimana? Lumayan kan balas dendam aku terbalas dengan menjadikan dia sebagai babu aku haha."
"Gak jijik aku-kamu, hm?"
"Gak dong haha."
Mata Keyra lantas terbuka mendengar gelak tawa dari dalam ruangan itu. Wanita itu menggerakan bagian kakinya yang terasa diikat kuat.
__ADS_1
Tubuhnya yang bergerak, mengundang perhatian dari Robby dan Ane yang kontan berdiri dihadapannya. Keyra mendelik sebal.
"Jadi lo berdua yang udah mukul kepala gue?"
Keyra ingat saat sedang berjalan kaki bertujuan ke minimarket yang tak jauh dari rumah Akhir berada, kepalanya dipukul dengan sebuah kayu. Saat itu ia masih sadar bahkan berusaha memukul balik si pelaku. Namun dua buah kaus kaki yang baunya naudzubillah, menyapa hidungnya hingga ia langsung pingsan mendadak.
"Gak etis banget bekep gue pake kaos kaki busuk. Kere ya lo?" Sembur Keyra sembari menutup mulutnya dengan tangan yang tak terikat. Memang hanya kakinya saja yang terikat, sementara bagian tubuhnya yang lain bebas. "Gue laper, bagi makan," ucapnya datar.
Robby dan Ane saling lirik. Lalu tawa merekalangsung lepas begitu saja melihat kekesalan Keyra. "Rafka gak ngasih lo makan? Sampe ngemis makanan ke penculik."
"Penculik? Saha penculik."
"Dua orang yang berdiri didepan lo. Masa gak paham sih?"
Keyra mengerutkan kening mengamati Ane dari atas hingga bawah. "Apa lo liat-liat?!" Bentak Ane keras.
"Mata gue berfungsi buat ngeliat. Salah emangnya?" Sahut Keyra sewot. "Lo berdua penculik? Gue tawanannya? Gak salah nih?"
Robby jongkok didepan Keyra dan menjentikkan jarinya cepat. "Gak salah. Tujuan kita nyulik lo, jelas biar Rafka bisa kesini dan milih antara lo, Ane atau gue."
"Gue?" Yang menjadi perhatian Keyra adalah kalimat Robby yang terakhir. "Lo gey?" Tebak wanita itu mendapat anggukan mantap dari Robby. "Wah gila! Ya jelas Afka gak akan pernah milih salah satu dari kita. Diakan suaminya Shahila, harusnya kalian nyulik Shahila bukan gue!"
"Mereka udah cerai."
Keyra menghela napas saat perutnya berbunyi keras minta diisi. Ia kelaparan dan suasana disekitarnya semakin membuat dirinya tak betah berada diruangan yang sama dengan Robby dan Ane.
"Telfon pujaan hati lo cepet," titah Keyra.
"Telfon mah gak usah. Gue udah sherlock dan harusnya dia udah sampe. Apa Jangan-jangan, lo gak sepenting itu buat Rafka?" Tebak Robby.
Keyra mengangguk mantap. "Yaps! Gue tuh cuman masa lalu dia yang gak pantes dipentingin. Jadi, sekarang lepasin gue."
"Yaudahlah kita culik anaknya aja gimana? Milan kan darah dagingnya Rafka, gak mungkin dong diabaikan." Ucap Ane begitu tangan Robby bergerak membuka ikatan tali dikaki Keyra.
Keyra melotot garang. "Nyentuh Milan, gue bantai ya lo babu!"
"Ehh! Gue bukan babu lo lagi ya semenjak lo cerai sama Rafka! Kita tuh rivalan tau!"
"Berisik! Dua wanita pengangguran bakalan kalah sama gue yang berprofesi GM di perusahaannya Ivan," timpal Robby jumawa.
Keyra melongo hebat.
"Btw Keyra, jangan korbanin kebahagiaan yang lo punya demi Rafka yang pernah nge-hianati lo. Dan jangan jadi bodoh dengan memberikan kesempatan kedua pada orang kek Rafka yang bisa aja ngulangin perselingkuhannya kayak dulu."
Keyra terkekeh sumbang lalu berucap mengejek. "Oke juga kata-kata lo. Tapi kenapa gue ngerasa lo lebih ogeb dari gue ya? Secara, lo itu GM di perusahaan Ipang. Ganteng gue akui. Ngasih nasehat gini tapi lo sendiri yang pengen bersatu sama Rafka? Batang ketemu batang?"
"Dahlah gue ngambek," rajuk Robby dengan muka cemberut. Sungguh tak cocok dengan fisiknya yang kekar.
"Gue pergi, awas aja lo berdua ketauan nyulik anak gue!" Ancam Keyra lalu dirinya berlari cepat meninggalkan ruangan itu sambil tertawa puas. "Buang-buang waktu aja mereka. Gak tau apa gue lagi pengen yang pedes-pedes?!"
Brukk
Saking cepatnya ia berlari, Keyra sampai tak sengaja menabrak seseorang dipintu utama rumah minimalis tersebut. Tubuhnya terhuyung kebelakang dan hampir terjerembab jika saja orang yang ditabrak Keyra tak menahan pinggang wanita itu.
"Gob--"
"Apa? Mau ngumpat?" Rafka menyela cepat sembari mendekap tubuh Keyra erat. "Bisa lolos tanpa bantuan, hm?"
"M-mama..."
____
Finally
gue gak suka konflik, jadi jan berharap ada konflik...
like, favorit. tandai typo n gaje
__ADS_1