
Selesai sudah kegiatan upacara bendera yang cukup menguras waktu, Keyra langsung masuk kedalam barisan Rafka dan menarik tasnya. Gadis itu tak membalas cemoohan yang ia dengar dari anak kelas sepuluh otomotif, yang mungkin teman Rafka juga.
“Key?” Suara Abian terdengar ragu, Keyra tetap berjalan santai tanpa menoleh kearah Abian, baru tiga langkah Keyra berjalan, seseorang mencekal lengan nya hingga membuat ia berbalik badan, menghadap puluhan pemuda yang empat di antaranya sangat lah ia kenal.
Rivan mengernyit heran kala Abian memanggil gadis cupu di depan nya dengan nama seseorang yang begitu familiar, beda dengan Rafka dan Ervin yang sudah paham dengan penampilan baru Keyra.
“Kekey hahaha,”
Keyra menatap tajam Rafka dan Abian yang sepertinya akan bersua,
“Hahaha, ada yang lucu?” Awalnya Keyra ikutan tertawa, namun detik kemudian wajah gadis itu berubah datar dan terlihat jengah.
Bian ngapain pake manggil segalaa sih! Terus kenapa dia bisa paham gue, coba?
“Berani juga ya lo!” Cowok itu mengangkat tangan nya hendak menjambak Keyra, namun suara tegas seseorang mengurungkan niatnya.
“Untuk seluruh siswa dan siswi SMK
Andromeda, dalam lima menit kalian masih berkeliaran di lapangan dan tidak masuk ke dalam kelas kalian, tau bukan hadiah apa yang akan saya berikan?!” Ujar Alvin tegas dengan dibantu pengeras suara, mata Alvin menyorot tajam ke arah gerombolan orang yang menertawakan Keyra.
Alvin masih berdiri di podium, mengawasi Keyra yang sudah di titipkan Davin kepadanya selama di sekolah.
Seluruh murid langsung berlari meninggalkan lapangan untuk menuju kelas masing-masing, Keyra pun sama, gadis itu berlari mengikuti beberapa kelompok perempuan sebaya nya yang memakai baju OSIS disertai logo jurusan akuntansi. Keyra bersyukur dalam hati, karena secara tidak langsung, Alvin telah menolongnya dari cowok sangar tadi.
Sebelum masuk kedalam kelasnya, Keyra cepat-cepat mengetik sesuatu di room chatnya dengan Rafka.
Berandalan gubluk💙👻
Gue dibawah
6:30
^^^*Af, kalo di depan temen SMK lo, gue minta lo sama Bian jangan ngebelain gue kek tadi, contoh si Rey, gue bisa jaga^^^
^^^diri kok*.^^^
^^^8:01^^^
Keyra hendak mematikan layar ponselnya, namun Rafka sudah membaca bahkan membalas chat nya.
“Dih, cepet banget langsung di read, dah lah.”
Keyra menyimpan smartphone nya di saku rok nya, ia memasuki kelas X-AKUNTANSI-3 dengan langkah biasa, gadis itu memilih untuk duduk di kursi paling pojok di sebelah seorang pemuda yang tengah tertidur.
__ADS_1
“Pssst, itu yang di bonceng Rafka 'kan? Culun banget astaga!”
“Iuhh jauh kali dari Naya!”
“Pake humbala-humbala kali hahaha,”
Keyra tertawa dalam hati, apa itu humbala-humbala?
Beberapa menit kemudian, seorang wanita yang nampak sangat cantik memasuki kelas dengan menenteng sebuah tas dan juga laptop di tangan nya.
“Selamat pagi!” Sapa nya penuh semangat.
“Pagi Bu!”
“Baik, masih semangat untuk mengulang materi minggu lalu? Sebelum itu, Ibu dapet informasi kalo kelas kita kedatangan murid baru, ayo yang merasa murid baru, maju!” Mata Ibu Giva tepat menatap Keyra yang paling mencolok di kelas itu.
Keyra tanpa malu-malu pun maju, ia berdiri di depan papan tulis dengan menghadap seluruh murid yang memandangi dirinya dengan pandangan berbeda-beda.
“Nama saya Queensha Keyra Naura, salam kenal semuanya.”
Krik krik krik
Keyra memilin jemarinya, ia paling tidak suka saat-saat seperti ini, dimana ia memperkenalkan diri sendiri di depan banyak orang dan tak ada yang menyahutnya.
Dia-- cowok yang tadi duduk di samping Keyra, cowok bername tag Riza Ardifala itu tengah menguap tanpa menyadari banyak orang yang menatapnya horor.
“Elah napa pada diem? Kalian terpana sama gue? Si pangeran yang baru bangun dari tidur indahnya.”
Anjer lebih pede dari Afka!
Giva hanya bisa menggelengkan kepalanya heran, “kerjaan kamu itu tidur terus, Riza? Mana coba tugas yang senin lalu Ibu beri, maju kamu!”
Cengiran lebar tersungging di bibir Riza, ia menggaruk tengkuknya. “Eh anu Ibu sabun Giva, kemarin kan saya udah ngasih tugas saya ke kembaran Ibu, masa di tagih again?” Sahut Riza sedikit sewot.
Ibu Giva menghembuskan nafasnya kasar, perlu kesabaran tingkat tinggi memang bila berhadapan dengan anak didik yang mendapat julukan ‘sapi ganteng.’
“Saya tidak punya kembaran, Riza! Kamu mengumpulkan tugas ke siapa? Kemarin hari minggu jika kamu lupa.”
“Bu itu Neng geulis nya di suruh duduk dulu atuh, kasian berdiri terus,” Riza mengalihkan pembicaraan tanpa menatap mata guru nya itu.
Dan berhasil, Ibu Giva langsung melirik Keyra seraya menepuk Jidat nya pelan.
“Oh iya Ibu sampai lupa. Keyra, nama saya Giva, saya selaku wali kelas sepuluh akuntansi tiga mau ngucapin-- selamat datang di kelas damai tanpa Riza, silahkan kamu duduk kembali dan semoga betah ya disini!” Ujar Ibu Giva
__ADS_1
Keyra mengangguk pelan, memegang kepala bagian kanan nya sebentar. “Baik Bu, terimakasih.” Keyra lalu kembali duduk di sebelah Riza yang sudah menyambutnya dengan senyuman.
Keyra melirik tangan nya yang di tarik paksa oleh Riza, pemuda itu kemudian menjabatnya dengan masih terus tersenyum.
“Hai cantik, boleh kenalan?”
Gila kali ya? Disaat banyak orang yang ngecemooh gue, di malah muji sendiri.
“Hai rabun, enggak boleh!”
Enggak salah kan gue?
“Anjaaaaaaaaayani rabun, jangan galak-galak atuh neng, makin cantik di--”
Tok tok tok
Papan tulis terdengar di ketuk, pelaku nya Ibu Giva, wanita itu menatap tajam kearah Riza yang bersuara keras tadi.
“Selama jam belajar berlangsung, perhatikan apa yang saya jelaskan, jika saya mendapati ada yang berbincang asik, silahkan maju dan menggantikan saya mengajar!” Suaranya tegas, bahkan Keyra dan Riza sampai menelan kasar saliva mereka.
Selepas nya, tak ada yang berbicara terkecuali jika di suruh menjawab oleh Ibu Giva, wanita yang sebentar lagi menginjak kepala tiga itu merupakan orang yang susah di tebak, kadang supel dan kadang galak. Yang menjadi misteri adalah, status wanita itu yang tak seorang pun tahu apakah sudah menikah atau belum.
Empat jam sudah berlalu, mata Keyra terasa berat untuk melanjutkan kegiatan belajarnya. Ibu Giva menjadi pengampu mata pelajaran akuntasi keuangan
memang sangatlah jelas dalam menerangkan semua materi dan mudah di tangkap oleh otaknya. Namun, waktu belajarnya terlalu lama menurut Keyra.
Akh enakan di rumah maen ma Raga ma Bunda!
Kring kring kringgggg!!
Baru saja kelopak mata Keyra tertutup, bunyi bel istirahat pertama berbunyi, seluruh murid bersorak dalam hati sementara Ibu Giva nampak tak rela untuk meninggalkan kelas itu.
“Berhubung jam Ibu sudah habis, buat jurnal yang tadi Ibu contohkan, kalian kerjakan! Dan untuk Keyra, bisa tanyakan ke teman kamu jika kurang jelas penjelasan dari Ibu.”
“Ibu akhiri, selamat siang dan sampai bertemu kamis besok!”
“Siang Bu!”
.
.
.
__ADS_1
Typo, hampura y:v