Keyra Naura

Keyra Naura
Ivan


__ADS_3

favorit, tandai typo


💙💙💙


Brak


Meja yang tak punya salah apapun itu tergeletak akibat dari tendangan keras Rafka. Ivan yang sedang terduduk santai di sofa nya pun langsung melotot horor.


"Ngapain ogeb!"


"Gue cemburu, Pang."


Ivan menaikan alisnya. "Sama sapa? Shahila? Jangan bilang lo udah suka sama titisan dakjal?!"


"Yakali," sanggah Rafka cepat. "Gue udah bilang kan kalo Kekey masih hidup? Gue cemburu tau dia deket sama laki lain."


Otak Ivan nge-lag. Ia memiringkan kepalanya bak anak kecil yang bingung sembari memasang wajah menggemaskan. Rafka yang melihat ekspresi Ivan pun langsung menggeser duduknya menjauh. "Jijik aing."


"Gak bisa moveon gapapa. Tapi saran gue nih ya, jan jadi Kang halu ma sarap dong, Raf. Kekey udah tenang disana, entah disurga apa dineraka. Eh, di alam kubur yak? Dan elo masih aja ngungkit kecemburuan lo?"


"Siapa sih yang ngungkit ngungkit? Sono lo kerumah Akhir, liat aja sendiri mantan gue masih idup sejahtera. Lo kan deket banget sama Akhirat, kok sampe gak tau ini?"


"Gue sibuk ngurusin si kembar, jadi gak punya waktu buat main-main kerumah Akhirat." Ujar Ivan jujur. "Curut, dengerin gue! Mustahil Kekey masih hidup! Lo sendiri kan yang ngecek denyut nadinya? Gue yakin yang lo liat dirumah Akhirat itu bukan Kekey. Kan manusia punya kek kembaran tak sedarah didunia ini."


Rafka menggeleng. "Itu emang Kekey, Pang. Gue bahkan kecanduan nidurin dia. Dan rasanya sama kek waktu malam pertama gue sama Kekey."


BRAK!


"Kalo itu bukan Kekey gimana monyett!" Ucap Ivan terlanjur gregetan. "Artinya lo ngelakuin kesalahan yang sama kek waktu masih jadi suami Kekey! Begoo pake banget lu curut! Inget, gue sama yang lain masih mau temenan sama lo karena prihatin liat keadaan lo."


"Gue, elo sama Kekey kenal dari kapan sih? Dari kecil kan?" Ivan melirik Rafka sinis sebelum kemudian menambahkan kalimatnya. "Gue sebagai temen lo dari bocah, perlu ikut campur kali ini. Lo milih si titisan dajjal atau cewek yang kata lo mirip Kekey?"


Rafka yang sedari diam menyimak ucapan Ivan pun sontak mendongak. "Lo gak percayaan banget sama gue sih, njing!" Melihat Ivan yang melotot sangar, Rafka mendengkus kesal. "Tentu Kekey. Bantu gue bujuk dia, Pang. Gue tau lo paling deket sama Kekey."


"Berani bayar berapa lo?"


Rafka tersenyum manis. "Gak bujuk dia. Istri lo gue embat."


"WAH BAKU HANTAM DIMANA KITA?!"

__ADS_1


"Canda gblok! Gue gak mungkin nikung temen sendiri."


Ivan mencibir keras. "Lo kagak inget atau pura-pura anemia? Dulu lo nikung Akhirat, kawan. Perlu gue jelasin rinci nya dulu? Kenak obat perngsang aja hampir bobol anak prawan."


"Lah kalo lo jadi gue, gak pake tu obat setan juga bakal terobos. Ngaca dulu, kawan!" Ujar Rafka mengikuti gaya bicara temannya. "Akhirat aja yang rese ngembat cewek yang gue suka dari bocil. Gue sebenarnya mo nikung pas lulus SMK, Pang. Tapi ya karena Kekey ternyata jodoh gue, gak perlu lah nunggu ampe lulus."


"KAGA ADA AKHLAK!" Teriak Ivan menggema di ruangan itu. "Lo suka lo cinta, tapi malah nyelingkuhin. Situ waras?" Pria itu tersenyum masam. "Lagian, sepuluh tahun kemudian setelah kalian nikah kan cerai, cok. Artinya lo cuman jagain jodoh orang."


"Bacot lo! Gue banned juga lo dari kehidupan."


Rafka dengan tak sopannya mengambil sebuah kertas berlogo rumahsakit dengan kening berkerut. "Bunga keguguran?"


Ivan mengangguk pelan. "Iya. Entah apa yang gue perbuat dulu sampe punya temen jahanam kayak lo sama si Epin. Gue kasian banget sama Bunga."


"Itu anak lo kan?"


Bugh


"Sembarangan lo monyet!" Gerutu Ivan setelah melayangkan tabokan mautnya pada bahu Rafka. "Itu anak Erpin lah. Mana mau gue jadi pebinor di hubungan Kakak ipar gue sendiri. Bulan bisa nangis histeris ditinggal gue."


Dipandangnya Ivan dengan jijik. "Yang ada elo yang histeris kali. Noh Bulan kan naksir gue, nyaho lo kalo nggak bujuk Kekey." Ujar Rafka mengingatkan kembali ucapannya tadi.


"Masa bodo lah. Lagian bokap gue udah mati, gak akan itu orang hancurin keluarga gue lagi."


"Masalahnya, rumor yang bilang Robby itu gay, mulai meresahkan."


Rafka memutar mata malas. "Jan percaya sama rumor, gan. Itu Babi jelas-jelas naksir istri gue, mana mungkin belok."


"Istri? Maksud lo Kekey?" Rafka mengangguk mengiyakan. "Gak sadar diri, dia mantan lo!" Seru Ivan keras.


Rafka diam karena setuju dengan perkataan Ivan. Namun kalimat selanjutnya yang diucapkan oleh Ivan membuatnya menatap Ivan datar. "Dan lagi, nyokap Akhirat katanya kabur dari RSJ."


"Nyerocos mulu lo! Gue gak peduli sama Robby, nyokapnya, apalagi nyokap Akhirat! Semuanya udah selesai setelah bokap gue koit. Gue gak mau berhubungan sama mereka, kek eek kuda!"


Ivan tertawa. "Yang lo peduliin cuman Kekey ya? Ampe anak kalian juga gak lo peduliin. Kalo gue nanti ketemu sama orang yang mirip Kekey itu---"


"Ngapain nanti-nanti? Sekarang kan bisa."


"Wah ngelunjak lo ya!" Dengus Ivan kesal. "Kerjaan gue numpuk, ngertiin dikit napa."

__ADS_1


"Kerjaan lo cuman duduk doang, Pang. Gue gak buta woi."


"Niatnya mo istirahat bentar. Eh ada parasit yang nambah beban hidup gue. "Cibir Ivan pada pria yang duduk disebelahnya. "Sono lo pulang, kalo gue udah free, gue bakal kerumah Akhirat."


Bukannya pergi, Rafka malah menyenderkan punggung nya di sandaran sofa. "Sejam lagi gue baru kerumah sakit. Jadi gak perlu lo ngusir gue lagi," gumamnya pelan.


...🐤🐣🐥...


Siang ini Keyra tengah berkeliling mall bersama Awal untuk mencari kebutuhannya selama di Jakarta dan mencari bahan makanan untuk menyambut kedatangan Mark dan putra-putrinya.


"Jewelry store? Ngapain, Al?"


Keyra menahan tangan Awal yang akan masuk kedalam toko perhiasan itu. Semua barang yang dibeli dirinya dan Awal sudah Pak supir yang membawakan-nya. Keyra sendiri tak enak hati dengan Pak Santoso karena hampir 2 jam ia dan Awal berkeliling tanpa berniat untuk pulang.


"Bang Degra bilang, Erosi nitip cincin sama kalung buat kamu. Yok masuk!"


Keyra menggeleng. "Jangan Al! Cincin yang kemarin aja ilang, tolong dong jangan buang buang duit buat aku."


Awal menekan bibir dengan telunjuknya. "Gapapalah, kita porotin duit Bang Degra sama Erosi. Mayan." Keyra terpaksa mengikuti langkah Awal yang masuk kedalam toko itu.


Keduanya disambut dengan ramah oleh pegawai toko. Mata amber Keyra langsung terpaku pada cincin yang berada didalam etalase. Cincin yang terlihat simple namun elegan dengan berlian kecil ditengahnya membuat wanita itu tertarik.


"Saya mau yang ini."


Pegawai toko itu mengambil cincin yang ditunjuk Keyra. Awal sudah tersenyum senang saat Keyra mengatakan itu. Artinya wanita itu mau menerima pemberian dari adik sepupunya.


Cincin itu terasa pas dijemari manisnya. Keyra tersenyum mengusap cincin itu. Ia melepaskan cincin tersebut kemudian meminta pegawai untuk membungkusnya.


Keyra memandang Awal yang juga sedang memilih cincin dan kalung dengan antusias. Keyra hanya menggeleng pelan lalu melirik jam tangannya. Sudah pukul 1 siang dan ia risau jika Milan dan Tiffany belum makan siang.


"Al, udah jam segini. Anak-anak belum makan kali."


"Elah santuy kali, Key. Kebetulan Bibi udah balik dari kampung, Tifa sama Milan gak akan kelaparan."


Keyra diam, menarik napasnya lega. Senggolan di bahunya membuat ia melirik sekilas sang pelaku. Perempuan yang menyenggol nya hanya memandangnya dengan raut terkejut dan berjalan tergesa meninggalkan toko itu.


Keyra mengernyit heran. 'Ada yang salah?'


__ADS_1


Kekey your head! Nama aing Keyra!


__ADS_2