
Lain halnya dengan Zea yang kalut dengan perasaan nya sendiri, ditinggal nikah dengan lelaki yang selama ini begitu sangat ia dambakan, ditambah masalah Renjun yang cukup menyesakkan dada, Zea memilih mencari tempat menepi sejenak dari hiruk pikuknya kota Jakarta, berkendara seorang diri membawa mobil mewahnya menuju kota yang berudara cukup sejuk puncak Bogor, Baru saja tiba dan menepi sejenak ponselnya berdering terlihat Abang tengahnya melakukan panggilan video
"Assalamu'alaikum Bang" Ucapnya tersenyum
"Wa'alaikumsalam, eodiiss-eo dek?" Tanya Zayyan yang menyadari adik bungsu nya, bukan berada dalam mobil yang biasa mereka pakai sehari-hari
"sanchaeghada" Jawab Zea singkat
"eodiisseo?" Tanya Zayyan tidak ramah
"Bogor!" Jawab Zea singkat
"mwoga munje ya?" Tanya Zayyan khawatir
"wajarlah bang, aku patah hati dan butuh sedikit pelarian" Jawab Zea sekenanya
"baiklah, abang percaya, gimana Adyatama? kamu udah kesana?" Tanya Zayyan
"Astaghfirullah, adek lupa bang! Adek kerumah sakit dulu ya abis ini?" Jawabnya lagi
"Ya udah, adek hati-hati ya nggak usah sok mau jadi pembalap ya dek, pelan-pelan ajah bawa mobilnya!" Perintah si tengah
"siap abang, adek tutup terus langsung jalan ke rumah sakit ya? Assalamu'alaikum Bang" tutupnya dan dijawab langsung oleh Zayyan dengan senyum tampannya
*
Setelah berkendara beberapa jam Zea riba dirumah sakit dan segera menuju ruang khusus utuk Adyatama terlihat Adyatama masih terlelap karena beberapa obat yang dikonsumsi nya mengakibatkan efek mengantuk
Zea duduk tak jauh dari tempat dimana Adyatama berbaring, tidak berani membuka ponselnya karena akan ada banyak sekali foto-foto pernikahan lelaki yang selama ini ia idam-idamkan, namun lagi-lagi ponselnya berdering, terlihat nama yang selama beberapa hari terakhir ini terus ia hindari
"kenapa malah video call sih?" Tanyanya geram, malas menanggapi Zea memutuskan untuk menolak panggilan video dari Jahdami, namun sialnya justru tombol wrna hijau yang tertekan, yang langsung menampilkan wajah tampan pria dewasa yang sangat ia kagumi itu, panik Zea segera berlari kearah Adyatama yang masih tertidur lelap itu
"Yeon Aida" Sapa Jahdami tersenyum sumringah
"ye samchon" Jawab Zea tanpa ekspresi
"kamu dimana?" Tanya Jahdami lagi
__ADS_1
"dirumah sakit Appa, Samchon" Jawab Zea seperlunya
"Siapa yang sakit?" Tanya Jahdami lagi
"Teman sekolah Samchon, habis di hajar oppa sama Abang" Jelas Zea singkat
"Zayyan dan Zulfan?" Tanya nya Lagi
"emang kakaku siapa lagi si Samchon kalau bukan mereka? garing banget sih" jawab Zea malas
"Kalian cuma berdua ajah di kamar inap?" Tanya Dami penasaran
"iya, sama beberapa pasukan aku diluar sana" Jawab Zea lagi
"kamu pulang gih, biar pasukan ajah yang jagain temen kami gitu, nggak baik loh kalian berdua begitu!" Ujar Dami posesif
"sekedar mengingatkan paman, dia patah tulang, nggak bisa bebas bergerak, kalaupun bisa bergerak paman tidak lupa bukan siapa aku? nggak usah sok perhatian paman, sekarang aku benar-benar menjadi orang lain untuk paman, lebih baik paman perhatian pada istri paman, aku tutup ya paman! annyeong" Langsung dimatikan oleh Zea
"dih nyebelin banget, ngapain masih perhatian begitu, inget woi suami orang!" Ujar Zea kesal sendiri
"eh, sorry Tam, berisik ya gw?" Tanya Zea menoleh kearah Adyatama
"nggak ko, gw udah bangun dari lu baru masuk, cuma mata gw berat banget rasanya buat melek!" Jawab Tama lagi
"Oh, hehehe lu denger semua dong ya berarti?" Tanya Zea
"siapa suami orang Ze?" Tanya Adyatama penasaran
"hahaha siapa ya, udah lah jangan dibahas!" Jawab Zea mengelak
"baiklah, Zayyan sama Zulfan kemana Ze?" Tanya Adyatama lagi
"Orang rumah sekeluarga lagi mudik sebentar, mungkin minggu depan baru pada balik, barusan abang Za telpon suruh jenguk lu, takut disini lu kesepian" Jelas Zea lagi
"Tenang ajah Ze, Tama nggak akan kesepian, ada gw sama Renjun yang bakalan nemenin disini, Maysun juga nanti nyusul" jelas Arhan tang tiba-tiba masuk kedalam ruang rawat inap Tama
"oh, kalau kalian mau nginep disini nggak apa, nanti biar aku suruh pegawai rumah sakit siapin tempat tidur tambahan buat kalian" Jawab Zea lagi
__ADS_1
"nggak usah Ze, sofanya nyaman gini ko!" Jawab Renjun tersenyum manis
"kalian udah cek up ke dokter jaga disini? " tanya Zea lgi
"udah Ze! tenang ajah! " jawab keduanya kompak
"Ze, ini udah mau maghrib loh, kamu nggak laper?" Tanya Arhan mulai melancarkan aksinya
"belum, nanti ajah, sekalian nanti jalan pulang!" Jawab Zea singkat
"aku cariin ajah Ze, emang kamu mau makan apa?" Tanya Renjun gantian
"nggak ada, aku nggak bisa makan kalau bukan masakan eomma, dan semua sudah tersedia di lemari pendingin rumah, kalian nggak salah minum obat kan ya? kenapa aneh sih?" Tanya Zea bingung
"nggak ko, dari dokter jaga kita cuma di kasih vitamin ajah!" Jawab Renjun tersenyum
"gw nggak ada pukul di kepala kalian loh kenapa jadi geser gitu kayanya otak kalian!" Tanya Zea lagi
"Tau, lu berdua kenapa kaya caper bener deh sama Zea!" Ujar Adyatama ikut nimbrung
"diem" Ujar Arhan dan Renjun kompak meneriaki Adyatama yang langsung terdiam
"Ya udah, gw pulang ya Tam, Arhan, Renjun titip Adyatama ya, kalo ada apa-apa tolong kabari lewat pasukan yang berjaga dideket sini!" Pinta Zea
Segera Zea meninggalkan ruang rawat inap Adyatama tanpa menunggu ketiganya menjawab ucapan Zea,
"Maaf, aku tidak akan memilih diantara kalian, aku bukan tidak tau kalian bahkan bertaruh karena aku!" Ujar Zea setelah keluar dari dalam ruangan Adyatama
"Aku tidak ingin kalian patah lebih sakit karena aku, bohong jika aku tidak tau kalian seolah perhatian padaku! tapi maaf, aku tengah patah, entah kapan kembali sembuh dan kembali tumbuh" Ujar Zea pada dirinya sendiri, berjalan menelusuri lorong-lorong gelap rumah sakit yang mulai redup karena hari segera berganti dari petang menuju malam
"Jahdami Myungki Zulfaqar"
Pada akhirnya, takdir menuntaskan waktu dengan sebenarnya. Aku dengan jalanku, kau dengan jalanmu. Memang Tak bisa dipungkiri ada banyak rasa terbenam dalam dinginnya keretakan, ada seribu sesak dan luka tertanam dalam mengiringi langkah sebelum jalan saling merelakan. Sepi, sedih, sendu menjadi satu yang tertuang dalam beningnya air mata yang tumpah dalam keheningan diri. Mungkin benar, Tak bisa dibantah ada banyak kenangan nostalgia yang berbau bahagia yang tercipta dalam perjalanan. Ada banyak cerita yang tertuang dalam ingatan yang membumbung dalam luasnya pengharapan. Namun takdir tetaplah takdir, iya akan tetap menemukan tempatnya. Selama ini aku sudah berusaha
untuk patuh dan sabar. Selanjutnya terserah Tuhan, Mengikuti kemana semesta bermuara dengan takdir-takdir baiknya, Cukuplah percaya, Apa yang memang menjadi takdirmu selalu memiliki jalannya sendiri untuk menemukanmu.. lirih Zea meratapi sedihnya seorang diri..
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1