
Sementara itu Max dan Lily mereka masih berada di klub malam, Max ingin bertanya beberapa hal pada Lily tentang Adisty.
"Lu sering ke sini ama Adisty? " tanya Max.
"Gak terlalu si kak, aku ke sini jarang, kalau Adisty ngajak baru aku ke sini, tapi kalau Adisty kayaknya sering deh, " ucap Lily dengan suara agak keras karena suara musik di ruangan itu sangat keras.
"Adisty punya masalah yah? sorry nih kalau gue agak lancang nanyain itu ama luh, tapi kalau lu gak mau jawab gak papa kok, " ucap Max.
"Kak, bicaranya jangan di sini yah, ini tempatnya berisik banget, aku capek kalau bicaranya teriak-teriak mulu, " balas Lily.
Max pun menyetujui usul Lily mereka memutuskan untuk tidak berbicara di sana, mereka saat ini tengah mencari tempat yang cocok untuk mengobrol.
"Duduk di sana yuk, " Max menunjuk sebuah bangku panjang yang berada tidak jauh dari klub malam itu.
Mereka berdua duduk di sana, Lily mulai menatap Max dan mulai berbicara.
"Adisty itu dulu pernah beberapa kali mau bunuh diri, mungkin kalau ia gak ketemu anak-anak jalanan yang nyelamatin dia, dia gak bakalan hidup saat ini.
Ia dari dulu selalu di tinggalkan sama orang tuanya, mereka selalu kerja, bahkan ke luar negeri untuk mengurus perusahaannya yang ada di sana, terus orang tua adisty juga kadang suka ribut, suka main fisik, dari kecil orang tua adisty selalu seperti itu.
Adisty juga pernah lihat ayahnya tengah dengan wanita lain beberapa kali, namun ia tidak pernah bilang pada ibunya karena takut.
Makannya Adisty sekarang jadi seperti ini, dan sekarang ia ke klub juga mau nenangin pikirannya karena keluarganya baru aja pergi " jelas Lily pada Max.
"Kisah ini sama aja sama kisah dulu Raihan, ia juga dulu kayak gitu, tapi ada seorang gadis yang membuat ia berubah dan mulai berdamai dengan masa lalunya, " balas Max sambil tersenyum.
"Siapa? " tanya Lily.
"Nanti juga kamu akan tau dia siapa, " balas Max.
"Ya udah pulang yu kak, ouh iya kakak bisa bantu Adisty untuk berubah gak? " tanya Lily. Lily memang ingin Adisty berdamai dengan kedua orang tuanya, ia tak tega harus melihat sahabatnya terus-menerus menderita.
__ADS_1
"Yang bisa buat dia berubah adalah Raihan, gue juga yakin kalau Adisty bakal berubah dan bakal jadian sama Raihan, " ucap Max penuh keyakinan.
Max kini mengantarkan Lily pulang ke rumah Adisty.
Sementara itu saat Raihan mengantarkan Adisty ke rumahnya ia masih khawatir karena tidak ada yang menjaga rumah Adisty selain pembantunya, ia tidak mau kalau Adisty kabur saat ia mabuk.
Jadi ia terpaksa menunggu Lily pulang di luar pintu kamar Adisty, namun saat Raihan menunggu Lily terdengar suara barang berjatuhan dari kamar Adisty.
Raihan sontak langsung masuk ke kamar Adistya dan saat Raihan menatap ke adaan Adisty saat ini, ia benar-benar menyesal barusan meninggalkan dia ke luar kamar.
Pembantu di rumah itu yang juga mendengar suara nya ia pergi ikut melihat ke kamar Adisty, ia tau apa yang Adisty lakukan saat ini.
Saat Raihan masuk Adisty tengah terduduk lemas di lantai dengan banyak darah berceceran di sekeliling Adisty, pecahan kaca dan juga barang-barang yang ia lempar berserakan di mana-mana.
Ia terluka karena sepertinya ia memukul cermin besar yang berada di kamarnya.
Raihan duduk di depan Adisty, kali ini Adisty sudah mulai sadar, pengaruh alkohol nya sudah mulai hilang tadi sebelum masuk ke kamar Raihan meminta pembantunya untuk membuatkan susu untuk Adisty, untuk melarutkan alkohol nya.
"Kamu kenapa? " tanya Raihan peduli.
"Lu gak bisa lukai diri lu sendiri, " ucap Raihan tak kalah tegas.
"Urusannya sama lu apa?" bentak Adisty sambil menatap tajam dan tersenyum kecut pada Raihan.
"Urusan lu ama gue, itu ada banyak, lu harus selesain urusan lu ama gue dulu sebelum mati, kalau udah selesai baru boleh, " balas Raihan sambil menghapus air mata Adisty.
"Gak usah sentuh gue, " bantah Adisty sambil berdiri dan pergi menuju kamar mandi, ia akan merendam tubuhnya di bak mandi.
Ia kalau sudah merendam diri ia tidak akan keluar sebelum tubuhnya merasa sudah tidak stabil, ia bahkan bisa sampai sakit melakukan itu.
Raihan menatap pembantunya, ia perlu beberapa penjelasan tentang kondisi Adisty saat ini, Raihan berjalan menuju tempat pembantunya berdiri.
__ADS_1
"Dia kenapa? " datar Raihan.
"Den, kemarin malam non Adisty ngeliat papahnya lagi selingkuh lagi, " jelas pembantunya sambil menunduk.
"Makasih ya, kalau mau tidur, tidur aja, Adisty biar aku yang jagain. Lagian Lily juga sahabatnya bentar lagi datang, " ucap Raihan.
"Tapi, " pembantunya ragu meninggalkan Adisty saat seperti itu.
"Gak papa, aku tau kok apa yang harus aku lakuin, dulu juga aku sama kaya dia, jadi aku tau gimana cara agar dia keluar dari sana, " ucap Raihan sambil menyuruh pembantunya pergi dari sana.
"Baik lah, tolong jagain non Adisty, " ucap pembantunya itu, sambil pergi dari sana.
Setelah melihat pembantu itu pergi dari kamar Adisty Raihan langsung melangkah ke arah pintu kamar mandi.
"Dis, keluar kalau ada masalah lu bisa omongin ama gue kok, " ucap Raihan dari sebrang pintu kamar mandi.
Sementara Adisty sama sekali tidak bergeming ia masih merendam tubuhnya di kamar mandi.
"Dis, lu gak bisa lukai diri loh sendiri, lu harus tau gue juga sama pernah mengalami apa yang saat ini lu alami, gue tau rasanya kayak gimana, tapi lu harus tau berdamai dengan semua masalah itu perlu, " ucap Raihan, ia masih setia di depan kamar mandi.
"Dis, keluar dong gue pegel nih nungguin lu di depan kamar mandi, lu gak tau yah gue ini ketua OSIS loh, lu malah nyuruh gue nungguin depan pintu, pintu kamar mandi lagi, " kesal Raihan, sambil menyenderkan tubuhnya di pintu kamar mandi.
Tanpa sadar Adisty tersenyum mendengar permohonan Raihan, seorang ketua OSIS yang amat cuek bisa mengeluarkan kata-kata yang sangat memalukan untuk dirinya sendiri.
Adisty memakai handuk dan membuka pintu kamar mandi, saat ia membuka kamar mandi Raihan yang sedang menyenderkan tubuhnya di pintu kamar mandi terjatuh di depan Adisty.
Adisty tak bisa menahan tawanya, ia tertawa puas melihat Raihan jatuh, bahkan kini Raihan langsung berdiri dan bergaya cool seakan-akan tidak terjadi sesuatu.
"Lu masuk dulu ke kamar mandi dong, gue mau ganti baju, " pinta Adisty.
Tanpa menjawab ucapan Adisty Raihan langsung masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Setelah selesai memakai baju Adisty langsung menyuruh Raihan untuk keluar dan Raihan pun keluar lalu berjalan menghampiri Adisty yang tengah duduk di kasurnya.
"Keluar yuk, jangan di kamar nanti ada yang fitnah, ke ruang tamu aja, " ajak Raihan pada Adisty.