
Adisty berdiri di hadapan Dilla sambil menatap sekilas ke arah Reihan yang sedang terdiam, " Maksud lu apa ngomong kayak gitu? " balas Adisty tak Terima.
"Eh lu tuh cuman penggoda, mainnya ke klub malam, lu tuh gak jauh beda sama *******, dasar murah, " balas Dilla sambil mendorong Adisty sedikit.
"Eh, emang masalah buat lu, lagian gue ke sana gak minta uang sama lu kan? gak nyusahin lu juga, ngapain lu yang sewot? " ucap Adisty tak Terima.
Tiba-tiba Reihan datang menghampiri mereka, " Gue gak habis pikir sama diri gue sendiri, kenapa gue bisa suka sama lu, ******* murahan, " sinis Reihan.
"Woy lu gak bisa ngomong kayak gitu, " kesal Max tak terima temannya di hina seperti itu.
Adisty menatap Reihan dengan nanar, ia tidak sangka Reihan akan berkata sejahat itu padanya, rasanya itu sangat menusuk ke hatinya.
"Kenapa? lu gak Terima pacar lu di gituin makan aja tuh seorang wanita murahan kayak dia, " balas Raihan sambil tersenyum kecut dan menatap ke arah Adisty tajam.
"Gue emang murahan, gue penggoda, gue emang munafik, tapi inget gue gak pernah bohong sama ucapan maupun perasaan gue," ujar Adisty penuh penekanan sambil menatap kecewa ke arah Reihan.
"Bagus, lu emang murahan, gak punya harga diri, " Timpa Della sambil tersenyum kemenangan.
Entah rasanya sakit sekali, padahal ini adalah hal yang Adisty inginkan, ia ingin Raihan menjauh darinya, saat ini ia sudah mulai tidak kuat menahan air matanya.
"Rey, gue cuman mau bilang, suatu saat nanti lu akan menyesal pernah ngelakuin ini, mempermalukan Adisty di depan umum, gue jamin lu pasti akan menyesal, " ucap Max sangat tegas sambil menunjuk ke arah Raihan.
"Nyesel gak ada dalam kamus gue, " balas Raihan angkuh.
"Oh, jangan pernah deket-deket lagi sama gue, gue orang yang hina dan kotor, nanti kalian ketularan kotor, " ujar Adisty sinis, ia berjalan meninggalkan mereka, Max berjalan mengikuti Adisty.
__ADS_1
Setelah Adisty berbalik, dan Raihan tak dapat lagi melihat Adisty dari depan barulah ia kembali menangis.
Max merangkulnya hanya untuk mencoba menenangkan Adisty, sementara itu Raihan hanya tersenyum miris melihat Max merangkul Adisty.
Namun tidak bisa di pungkiri ada rasa menyesal dalam hati reihan saat ini, ia rasa ia sudah sangat keterlaluan pada Adisty dan ia berniat untuk meminta maaf padanya nanti.
Setelah Adisty merasa tenang ia pergi ke kelasnya namun rupanya di depan pintu kelas sudah ada Raihan yang tengah berdiam disana. Adisty berjalan ke arah sana, namun Raihan menggenggam tangan Adisty, Adisty langsung menatapnya datar.
"Gue cuman mau minta maaf, " ucap Raihan sambil melepas tangan Adisty.
"Gak perlu minta maaf, apa yang lu bicarain bener kok, " balas Adisty sinis, ia berusaha menghindari tatapan Raihan.
"Ya udah kalau gitu, " balas Raihan, ia pikir Adisty akan bersikap manis padanya, ia pikir masih ada cinta di hati Adisty untuk nya, namun rupanya ia salah, Adisty memang sudah tidak mencintai nya.
Awalnya Reihan berpikir bahwa ia tidak akan peduli, namun semakin ia tidak peduli ia semakin cemas, "Ah bikin gue khawatir aja, " Raihan berlari mengikuti Adisty.
Sampailah ia di depan pintu kamar mandi perempuan, ia bingung antara masuk atau tidak kalau masuk, itukan kamar mandi wanita kalau ada wanita lain di sana bagaimana. Namun ia sudah benar-benar panik akhirnya dengan ragu ia masuk ke sana, dan untungnya tak ada wanita lain di sana selain Adisty. Reihan langsung menggedor pintu kamar mandinya, " Adisty lu kenapa? " teriak Raihan cemas.
"Rey, ngapain kamu ada di sana, keluar!" titah Adisty, namun terdengar Adisty begitu lemah.
"Di lu kenapa? buka pintunya cepet! " Reihan semakin khawatir pada Adisty.
Tiba-tiba Max datang ke sana, rupanya Max tadi juga melihat Adisty pergi ke kamar mandi, tanpa pikir panjang Max langsung mendobrak pintu kamar mandi. Reihan dan Max sangat terkejut Adisty sudah terduduk lemas di kamar mandi, namun Adisty tetap masih sadar. Max dan Raihan membatu Adisty untuk bangun, namun saat Adisty sudah berdiri ia melepas tangan Raihan di pundaknya.
"Jangan sentuh aku, aku kotor, " ucap Adisty sambil berusaha keras menahan rasa sakit nya.
__ADS_1
"Di lu kenapa sih? gue cuman mau bantuin lu," ucap Raihan tak habis pikir, dalam kondisi seperti ini Adisty tetap membicarakan hal yang tadi.
"Gue mohon Rey jangan sentuh gue, udah cukup Rey gue gak mau lagi liat lu, gue benci sama lu, " balas Adisty, tanpa menatap ke arah Raihan, "gue mau pergi dari sini, " sambung Adisty pada Max.
Max pun membawa Adisty pergi dari sana namun Raihan menghadang mereka, " Lu harus jelasin dulu sama gue, lu kenapa? " ucap Raihan.
"Udah Rey, gak usah berharap lagi sama Adisty, lagian Dilla juga cinta sama lu, lu sama dia aja, " ucap Max, kini Raihan pun memberikan jalan untuk mereka.
Max membawa Adisty pergi ke rumah sakit, seperti nya kondisi Adisty sudah semakin parah. Sementara itu Raihan masih mematung di tempat, memikirkan ucapan Max apakah benar Dilla suka padanya. Di tempat lain Andra tengah berada di rumah Lily rupanya ia pulang duluan dri sekolah, ia kesal melihat Adisty dan Raihan yang selalu ribut, sekalian ia juga mau tanya pada Lily mungkin saja Lily tau alasan kenapa Adisty bersama Max. Mereka tengah duduk di ruang tamu, "Lu aku mau tanya sama kamu?" ucap Andra.
"Tanya aja, " balas Lily.
"Kamu tau gak alasan kenapa Adisty jauhin Raihan? " Tanya Andra.
Lily membulatkan matanya, ia baru tau kalau Adisty menjauhi Raihan, "Aku gak tau, malahan aku baru tau kalau mereka jauhan dari kamu, " balas Lily tidak tau.
"Aku ngerasa ada yang aneh sama Adisty dan juga Max, " ujar Andra masih merasa hubungan Max dan Adisty janggal.
"Kamu coba tanya sama Mira pacarnya Max, ia tau gak hubungan mereka, " usul Lily, ia rasa Mira juga tau sesuatu.
"Soalnya kemarin kalau gak salah, aku lihat mereka bertiga ada di rumah Mira, mereka terlihat akrab kok, aku gak lihat rasa kecewa atau curiga dari Mira, " sambung Lily.
"Tapi mungkin aja kalau Mira gak tau mereka sebenarnya selingkuh, " balas Andra.
"Tapi bisa jadi sih, ya gini aja, kalau lu mau tau yang sebenarnya tanyain sama mereka berdua nya mungkin aja mereka mau jujur. "
__ADS_1