Kisah Cinta Yang Konyol

Kisah Cinta Yang Konyol
24,Kematian


__ADS_3

Adisty saat ini benar-benar panik, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan ia tidak mau Raihan kenapa-napa, apalagi kini Raihan sudah sangat terdesak.


"Rey, " teriak Andra yang khawatir akan keselamatan Raihan, karena Geri sudah menyodorkan pistol tepat ke depan wajah Raihan.


Setelah pertempuran Geri dan Raihan di menangkan oleh Raihan, namun Geri tidak bisa terima ke kalahannya, makannya ia menyodorkan pinstol Colt 1911, yang ia dapatkan dari temannya di Amerika, temannya adalah mafia besar di sana.


"Bagaimana? ada kata-kata terakhir? " tanya Geri sambil menyeringai, sementara itu Raihan hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya.


Saat Andra dan Max akan berjalan mendekati Raihan, " Kalian maju satu langkah lagi, teman kalian akan mati, " ucap Geri sambil mengangkat alis kanannya.


Adisty yang melihat itu dari ke jauhan semakin ketakutan ia memegang saku jaketnya, lalu memberanikan diri melangkah mendekat ke arah Raihan. Suasana di sana semakin dingin dan mencekam rasanya kegelapan baru saja masuk ke sana.


"Rey, Rey, kenapa kau ini masih bodoh sih, kau harusnya berjaga-jaga, bukannya kau tau aku itu licik, " ucap Geri sambil tetap menyodorkan pistol itu ke arah Raihan yang tengah menahan rasa sakitnya karena pukulan yang Geri berikan padanya.


"Gue kasih lu satu kesempatan untuk bicara perpisahan pada kedua teman lu, " ucap Geri sambil tersenyum tipis.


"Dasar gila, " umpat Raihan.


Geri tertawa, " Aku memang sudah gila, memangnya kenapa? " balas Geri sambil tertawa lepas dan menggelengkan kepalanya ke arah Raihan.


"Cepatlah kalau kau mau bicara, jangan buang waktu ku, " ucap Geri risih.


"Geri, lu kenapa coba? " Tiba-tiba Adisty berbicara dengan kedua tangan yang ia masukan ke dalam saku jaketnya.


"Ngapain lu ke sini sih? " kesal Andra ia tidak mau Geri tau kalau Adisty ada di sini karena nyawanya akan terancam.


"Oh, bagus ini sangat tepat, aku jadi bingung harus menghabisi siapa dulu? "ucap Geri sambil bersikap seolah-olah ia sedang berpikir.


"Jangan bodoh, " bentak Max.

__ADS_1


"Ah bagaimana kalau kita habisi dia dulu, baru nanti kita habisi mereka, " ucap Geri sambil menatap tajam Raihan dan juga ketiga orang yang berada di sampingnya.


"Lu bunuh aja gue, mereka gak punya salah sama lu, apalagi Adisty dia gak tau apa-apa jangan sakitin dia, " mohon Raihan.


"Lu tembak aja gue, kalau lu tembak Raihan percuma aja gue hidup, Raihan masih punya orang yang sayang sama dia, dia juga ada Bulan, sedangkan gue gak punya siapa-siapa," balas Adisty sambil menunduk


"Ah banyak drama kalian ini, " kesal Geri, yang sudah lelah mendengar ucapan dramatis yang mereka keluarkan.


Baru saja ia akan menarik pelatuk pistolnya Bulan datang ke sana dan berdiri di depan Raihan, sambil merentangkan tangannya.


Semua orang kaget atas kedatangan Bulan, mereka tidak habis pikir bagaimana anak itu bisa ke sana.


"Bulan, " teriak semua orang.


"Dasar penghianat, " umpat Geri, seperti nya Geri sudah sangat murka saat ini siapapun yang menghalaginya ia akan tetap menghabisi orang yang menghalangi dirinya untuk membunuh Raihan, walau itu adalah Bulan orang yang sebenarnya mereka ribut kan.


Ia tetap saja melepaskan tembakan itu ke arah Bulan, Raihan yang akan menghalangi Bulan pun tidak keburu, peluru itu berhasil mengenai perut Bulan sebelah kiri. Saat peluru itu mengenai Bulan, peluru juga mengenai dada Geri, rupanya Adisty lah yang menembak Geri, ia berniat menggagalkan tembakan Geri namun ia telat Geri lebih cepat dari Adisty.


Max dan yang lainnya menatap ke arah Adisty yang sedang memegang pistol itu sambil gemetar, " Lu gak papa kan? " tanya Andra saat melihat wajah Adisty sudah pucat.


Sementara itu Bulan jatuh ke pangkuan Raihan, "Rey, gue mau bilang satu hal sama lu, dulu yang adu domba persahabatan kalian itu gue, gue Rey, gue minta maaf, " ucap Bulan dengan keadaan setengah sadar.


"Bulan, jangan tinggalin gue lagi, Bulan plis gue mohon, " pinta Raihan, sambil memeluk tubuh Bulan yang sudah mulai melemah.


"Rey, saat ini gue bakal pergi dengan tenang karena lu udah punya Adisty gue yakin dia bisa jagain lu kayak gue " ujar Bulan sambil tersenyum, dan menahan rasa sakit di perutnya akibat tembakan itu.


"Gak, Bulan lu harus hidup Bulan plis, gue mohon Bulan, apalah artinya langit mapam tanpa ada bulan, begitu pula hidup gue Bulan, apa artinya gue tanpa lu? " ucap raihan, tanpa sadar ia meneteskan air matanya.


Baru saja ia melihat gadisnya itu membuka matanya, kini ia harus kembali kehilangan gadisnya itu bahkan untuk selama-lamanya.

__ADS_1


"Rey, gue cinta sama lu, makannya dulu gue menghalalkan segala cara agar lu jatuh cinta sama gue, " ucap Bulan lemah.


"Rey, gue udah capek gue mau pergi, Adistya akan gantiin gue, " ucapan terakhir yang di ucapkan Bulan sebelum akhirnya ia menutup matanya untuk selamanya.


raihan menagis ia terus menggoyangkan tubuh Bulan, " Bulan, bangun Bulan, Bulan," teriak Raihan.


Max menghampiri raihan, " Udah yah, jangan sedih ini udah takdir, " Max berusaha tetap tenang karena kalau ia ikutan histeris di sini lalu siapa yang akan menenangkan raihan, karena melihat kondisi Adistya yang sedang syok itu tidak memungkinkan untuk menenangkan Reihan.


"Tapi Bulan? " ucap raihan sambil terus menangis dan memeluk Bulan, rasanya ia tidak ingin melepaskannya.


"Udah yah, Bulan akan sedih kalau kamu kayak gini, " Max melepaskan pelukannya raihan, lalu menyuruh yang lainnya untuk membawa mayat Bulan ke rumahnya ia juga tadi sudah mengecek urat nadi dan nafasnya namun memang Bulan sudah meninggal.


raihan melepaskan pelukannya Bulan, setelah itu baru lah Bulan di bawa pulang oleh anak-anak yang lainnya. Sedangkan Raihan ia tidak mau bergeming, ia masih terduduk di tanah, sedangkan Geri dan yang lainnya sudah pulang, mereka membawa Geri ke rumah sakit.


"Raihan dimana? " tanya Adistya yang berada di dekat motor Andra, Adistya di tenang kan oleh Andra, namun ia baru sadar dengan Raihan.


"Raihan masih di sana, ini hal yang berat untuknya, " ucap Andra.


"Gue ke sana yah, oh iya ni pistol , " ucap Adisty sambil memberikan pistol yang baru saja ia gunakan untuk menembak Geri.


Ia berjalan menuju ke arah Raihan, yang tengah di paksa pulang oleh Max, ia duduk di depan Raihan dan meminta Max untuk meninggalkannya.


"Raihan, gue tau ini berat, tapi ini udah takdir, " ucap Adistya pelan, sambil memegang pipi Raihan dengan kedua tangannya.


Raihan menatap kosong ke arah Adistya, "Raihan gue tau Bulan emang gak akan pernah tergantikan di hidup lu, tapi lu harus tau lu masih punya gue, " lanjut Adisty, saat ini ia memang merasakan sakit, bagaimana tidak ia melihat orang yang ia sayang menangisi orang lain, bahkan ia lebih mencintai orang itu. Namun ini buka waktu yang tepat untuk mempermasalahkan ini semua.


Raihan memeluk Adistya lalu menangis di pelukan nya Adistya, " Gue minta maaf, gue minta maaf, " hanya kata itu yang keluar dari mulut Raihan.


"Ini hidup, bagaimana pun hidup harus berjalan kamu masih punya aku, sahabat kamu, orang tua kamu, jangan pernah berpikir kamu hidup hanya sendiri bukannya itu yang dulu pernah kamu bilang sama aku, " ucap Adisty sambil mengelus punggung Raihan, dan mencium pucuk rambut Raihan.

__ADS_1


Kini Adistya melepaskan pelukannya, "Pulang yuk, " ajak Adistya, Raihan hanya membalasnya dengan anggukan kecil.


__ADS_2