
Hari sudah malam, dan Raihan masih bersama Bulan di rumah sakit karena Max tadi bilang ada urusan dulu.
"Rey, gue mohon jangan tinggalin gue yah! temenin gue malem ini aja, " pinta Bulan, sambil memegang erat tangan Raihan ia hanya tidak mau Raihan celaka.
Max datang dengan membawa makanan untuk Max dari tadi Raihan belum makan soalnya.
"Nih, makan dulu! lu belum makan dari tadi, " ucap Max sambil memberikan nasi kotak yang ia beli pada Raihan.
Raihan bahkan tak mau menatap nasi kotak itu apalagi memakannya, pikirannya sedang kacau saat ini, ia kalut benar-benar tidak tau harus bagaimana. Rasanya otak ia saat ini berhenti berpikir, sangking kacaunya.
"Rey, makan! lu gak usah pikirin Adisty, tadi gue udah bantu jelasin sama dia, " ucap Max, sambil duduk di sofa.
"Adisty? siapa dia? " tanya Bulan heran sambil menatap Raihan dan Max berganti, seakan-akan meminta penjelasan atas nama yang kakaknya sebutkan tadi.
"Nanti juga lu tau, " balas Max santai.
"Ayolah makan," rayu Max agar Raihan mau makan.
Akhirnya Raihan mengambil makanan itu dan duduk di samping Max, ia mau memakan itu bukan karena lapar, tapi tidak mau mendengar suara Max yang akan terus memaksanya makan.
"Oh iya tadi Andra bilang, beskem kita di serang, " ucap Max, pelan ia tidak mau Bulan tau.
"Kapan? " kaget Raihan sambil menatap Max.
"Tadi, awalnya Andra sama yang lainnya marah sama lu, tapi gue udah jelasin sama dia kalau lu di sini, dan akhirnya mereka tenang dan mau maklumin lu, yah walau pun gue agak tambah-tambahin dikit lah, " balas Max santai sambil memainkan ponselnya.
"Dasar, " umpat Raihan.
"Yeh, daripada lu di keroyok mereka, " ucap Max, ia merasa tidak papa lah berbohong sedikit pada temannya itupun demi keberlangsungan hidup Raihan sendiri.
Raihan hanya tersenyum melihat sahabat nya yang satu ini ia tidak tau akan seperti apa hidupnya jika tanpa Max, Max selalu membantu dia, dan selalu ada jika ia membutuhkan seseorang.
__ADS_1
Raihan melihat jam yang berada di tangannya, kini waktu sudah menunjukkan pukul 9 lewat 35 menit.
"Gue pergi dulu " ucap Raihan datar, sambil mengambil jaketnya.
Namun tangannya di tahan oleh Bulan, " Plis jangan pergi! geri itu licik, " ucap Bulan, sambil memasang mimik memohon pada Raihan.
"Gak, aku gak bisa nurutin permintaan kamu kali ini, aku minta maaf, " Raihan melepas tangan Bulan yang memegangnya.
"Aku mohon, untuk apa aku hidup kalau kamu mau pergi, " ucap Bulan sambil menangis, ia tau Geri akan melakukan apapun agar Raihan mati.
"Aku janji aku akan pulang dengan selamat, " janji Raihan sambil mengecup kening Bulan, lalu pergi dari sana.
"Bulan, jangan pergi dari sini, kakak akan pergi sama Raihan, kakak janji Raihan akan baik-baik aja, " ucap Max, ia juga berjalan mengejar Raihan.
Geri dan juga yang lainnya sudah berada di tempat itu, mereka sudah menunggu kedatangan Raihan. Hingga kini waktu telah menunjukkan pukul 9:55, barulah Raihan dan Max datang ke sana, di perjalaan tadi juga memberitahu Andra agar segera datang ke sanah membawa anak-anak yang lainnya, takut jika Geri mainnya keroyokan.
Andra sudah berada di perjalanan, namun tiba-tiba Adisty menghentikan motor Andra.
"Lu mau mati? " bentak Andra, ia kesal kenapa Adisty berhenti di depan motornya yang masih menyala kalau ia sampai menabrak Adisty bagaimana?
"lu turun gak! " perintah Andra, ia menyuruh Adisty untuk turun.
"Gak mau, " kekeh Adisty.
"Kenapa sih? di sana berbahaya Adisty, kalau lu kenapa-napa gimana? " ucap Andra tidak mau mengambil resiko.
"Gue gak bisa tidur kalau Raihan sedang dalam bahaya, " ucap Adisty.
"Ya udah gue gak akan pergi ke sana, " Andra malah menyuruh yang lainnya untuk duluan, ia tidak mau mengambil resiko, karena kalau Adisty kenapa-napa ia akan di amuk oleh Raihan.
"Ya udah, gue bakal pulang, gak akan ikut ke sana, tapi jangan harap lu nemuin gue dalam ke adaan hidup lagi, " ancam Adisty sambil turun dari motornya, lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Andra menarik tangannya, " Ya udah naik, " pasrah Andra, gila saja ini orang sampai mau bunuh diri hanya karena gak di ajak olehnya.
"Gue cuman gak mau kejadian itu terulang lagi " ucap Andra saat menjalankan motor nya menuju lapangan.
"Gue sadar apa yang dilakukan Bulan pada waktu itu akan gue lakukan juga kalau gue ada di posisinya, " balas Adisty.
"Kenapa? " heran Andra, ia tidak pernah mengerti dengan jalan pikir wanita, ia rela memberikan nyawanya hanya untuk seorang pria yang bahkan itu hanya dalam status pacaran doang.
"Lu tau gak, wanita itu lemah, jadi kalau belahan jiwanya mati maka ia juga akan ikut mati, jadi untuk apa ia hidup kalau semisalnya cintanya mati, " balas Adisty.
"Tapi wanita gak pernah mikir panjang, orang yang di tinggalnya juga ikutan sedih, gue liat Raihan waktu Bulan koma udah kayak mayat idup tau gak, " ujar Andra.
Adisty mendadak berkaca-kaca, " Segitu cintanya yah dia sama bulan? " tanya Adisty.
"Mungkin itu dulu, tapi gue ngerasa cintanya sekarang udah ada di elu deh, gue ngerasa banget kalau ia sayang banget sama, " ucap Andra.
"Buktinya apa? "
"Guni yah, kalau misalkan lu punya pacar terus lu selingkuh, gue mau tanya lu cintanya sama yang mana?"
"Sama yang kedua lah, " balas Adisty.
"Nah tuh itu luh tau, sama aja dong sama Raihan, lu gak bakal selingkuh kalau lu masih cinta sama pacar yang pertama, emang kebayakan orang itu bilangnya selingkuhan itu hanya tempat ketika bosannya doang, padahal itu salah, kenyataan cinta kedua lu lah yang benar-benar lu cintai, " jelas Andra. Tumben saja ni anak agak cerdas.
"Sama kayak Raihan, ia juga udah cinta sama lu, dan mulai lupa dengan Bulan, " sambungnya.
Adisty benar-benar tidak tau mana yang benar, saat ini yang ada dalam pikirannya hanya satu yaitu Raihan harus selamat, karena ada banyak hal yang harus ia tanyakan pada Raihan.
Ia ingin ikut karena ia ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri kalau Raihan selamat, namun saat ia sampai di sana, di sana sudah ada perkelahian yang sangat hebat.
Andra meminta Adisty untuk bersembunyi di pohon, sementara Andra pergi untuk membantu yang lainnya.
__ADS_1
Adisty menuruti permintaan Andra, ia juga mencari keberadaan reihtan, karena di sana minim cahaya ia jadi sulit mencari Raihan.
Sampai setelah beberapa menit akhirnya ia melihat Raihan tengah berkelahi dengan Geri, di pinggiran jurang, bahkan posisi Raihan saat ini sudah sangat terdesak.