
Hari sudah kembali berganti, kini Adisty sedang sarapan bersama dengan kedua orang tuanya. Adisty sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara menjemput Kelvin.
"Gimana? " tanya Ayahnya sambil menatap Adisty.
"Gimana apanya? " tanya balik Adisty yang tidak mengerti dengan pertanyaan ayahnya.
"Iya gimana Indonesia? setelah sekian lama kamu gak ke sini, " Ayahnya memperjelas ucapannya.
"Oh, masih sama aja kok, cuman yah memang ada sedikit yang berubah, " balas Adisty.
"Sayang hari ini Kelvin katanya mau ke Indonesia? " tanya ibunya.
"Iya, sekarang aku mau jemput dia di bandara, soalnya kan dia gak tau Indonesia walaupun dia bisa berbahasa Indonesia, aku udah ajari dia bahasa Indonesia, " balas Adisty.
"Bagus kalau begitu, papah gak mau dia nyasar, " ucap ayahnya.
"Iya pa, berabe kalau sampai dia nyasar, " balas Adisty sambil tertawa.
"Ah udah ah kalau lagi makan jangan banyak bicara nanti tersendat, " ucap ibunya yang meminta mereka untuk berhenti mengobrol dan meneruskan sarapannya.
Setelah sarapan Adisty langsung pergi ke bandara menggunakan mobilnya, karena Kelvin akan melarang dirinya kalau ia sampai liat Adisty naik motor besar. Kelvin itu sangat perhatian dan tidak mau Adisty terluka sedikit pun.
Saat sedang menunggu di tempat tunggu tiba-tiba dirinya berpapasan dengan Raihan yang sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita, Raihan yang sedang berjalan pun menghentikan langkahnya di depan Adisty.
"Kamu, " ucap keduanya berbarengan sambil saling tunjuk.
"Dia siapa sayang? " tanya Rossy pada Raihan sambil menunjuk Adisty menggunakan matanya.
"Sayang, " gumam Adisty sambil tersenyum.
Tak ada ucapan yang mereka keluarkan dari mulut mereka masing-masing, mereka malah saling tatap dan itu berhasil membuat Rossy kebingungan.
"Apa kabar? " tanya Raihan memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Baik kok, mungkin lebih baik, " balas Adisty sambil tersenyum.
"Bagus kalau begitu, " ujar Raihan sambil tersenyum tipis.
"Sayang, " teriak seorang pria dari samping mereka.
Mereka yang berada di sana langsung menatap seorang pria yang sedang berlari ke arah mereka, pria berdarah Amerika belanda ini langsung memegang tangannya Adisty.
"Sayang aku nungguin kamu loh, " ucap Kelvin dengan nafas yang tidak beraturan.
"Mereka siapa? " tanya Kelvin sambil menatap Raihan dan Rossy.
"Temen aku, " balas Adisty pelan, rasanya berat harus berteman dengan Raihan dan bersikap seolah-olah tak ada apa-apa.
"Oh kenalin aku Kelvin, pacarnya Adisty. Sebentar lagi sih niatnya kita mau tunangan, " Kelvin mengulurkan tangannya untuk bersalam dengan Raihan.
Raihan menatap tangannya Kelvin lalu mereka pun bersalam, " Gue Raihan dan ini pacar gue Rossy, " tangannya memang bersalam dengan Kelvin tapi matanya Raihan saat ini sedang menatap Adisty.
"Gitu kan yang bahasa Indonesia nya, aku masih suka kaku soalnya, " ucap Kelvin sambil menatap Adisty.
Adisty membalas tatapan Kelvin lalu tersenyum ke arahnya, " Iya kayak gitu, bahasa Indonesia mu sudah semakin lancar, " balas Adisty.
"Ya udah kita ke sana dulu yah, " ucap Rossy sambil menarik Raihan pergi dari sana.
Entah ada apa Rossy pun tak mengerti tapi tatapan Raihan menunjukkan kesedihan dan kekecewaan saat menatap gadis itu, Rossy memang mencari tau siapa mantannya Raihan. Tapi ia tidak tau bagaimana wajah dan nama mantannya Raihan, jadi ia tidak tau kalau barusan yang mereka temui adalah orang yang selama ini membuat Raihan seperti ini.
"Sayang yuk pulang, " ajak Kelvin sambil menggandeng Adisty untuk pergi dari sana.
Saat mereka sudah naik ke dalam mobil Kelvin terlebih dahulu menatap Adisty, ia tau siapa pria itu yang sebenarnya.
"Dia kan yang buat kamu dulu nangis terus? " tanya Kelvin sambil menatap Adisty.
Adisty menatap Kelvin, " Sudahlah sayang, itu sekarang ini tidak penting lagi untuk ku, " balas Adisty yang merasa semuanya telah berlalu saat ini.
__ADS_1
"Kamu janji yah jangan berpaling lagi dengan pria brengsek itu, " ucap Kelvin yang ketakutan akan kehilangan Adisty.
"Sayang, sekarang ini aku sudah menjadi milikmu. Hatiku sudah menjadi milikmu, jadi kamu tenang aja yah, aku gak bakal kembali sama Raihan. Kamu liat sendiri kan kalau Raihan sudah punya pacar sekarang, " balas Adisty meyakinkan Kelvin kalau dirinya saat ini hanya milik Kelvin.
"Baiklah aku akan percaya padamu, " Kelvin akhirnya percaya kalau Adisty sudah tak punya rasa apapun pada Raihan, lagian kalaupun ada mereka tak mungkin kembali bersatu.
Di tempat lain Raihan dan Rossy sedang berpamitan, " Sayang aku pergi dulu yah, aku gak bakalan lama kok, " ucap Rossy sambil memeluk Raihan.
"Aku tau itu, " balas Raihan datar.
"Ya sudah aku pergi dulu yah, " pamit Rossy sambil melepas pelukannya dan pergi dari sana, karena pesawatnya akan segera berangkat.
Setelah Raihan tak dapat lagi menatap Rossy Raihan pun mulai pergi dari sana, ia akan pulang ke rumahnya karena hari ini tak ada kerjaan di kantor. Lagian tadi Rossy sudah meminta izin untuk hari ini Raihan biar tak udah bekerja karena mau mengantar dirinya ke bandara.
Raihan sudah naik dalam mobilnya, kali ini wajahnya Adisty yang selalu muncul di kepalanya, jadi usahanya selama dua tahun ini kembali hancur karena Adisty datang di depan wajahnya. Rasanya semua pengorbanan dan usahanya telah gagal, ia memang tak bisa membohongi hatinya lagi saat ini.
Tapi ia tetap akan berusaha memulai hidupnya dengan Rossy, ia percaya cepat atau lambat Rossy akan menggantikan Adisty dalam hatinya. Rossy akan membuat dirinya melupakan semua kenangan manis bersama dengan Adisty, Rossy adalah harapannya saat ini.
Raihan pun sampai di depan rumahnya, Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada seseorang yang menelpon dirinya, Raihan langsung mengangkat telpon tersebut.
"Rey lu besok harus datang yah ke acara kumpulan buat Reuni itu, " tiba-tiba orang yang menelpon Raihan langsung mengatakan itu tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Iya gue juga tau, " balas Raihan malas.
"Awas lu yah kalau lu gak datang, soalnya ini acara reuni bukan cuman kelas kita, tapi sama dua kelas adik kita, " ucap orang yang menelpon itu.
"Iya bawel banget sih lu jadi orang, " balas Raihan ketus.
"Yeh gue cuman mau ngingetin lu doang, " ucap pria itu.
"Iya tapi gue udah inget, " balas Raihan sambil mematikan telponnya secara sepihak dan pergi masuk ke rumahnya.
Kebiasaan Raihan adalah ketika ia tidak mau bicara maka itu akan membuatnya sering kesal dan marah tidak jelas, padahal niat temannya kan baik cuman mau mengingatkan. Siapa tau ajakan Raihan lupa jadi mereka mengingatkan nya kembali, soalnya ini bukan reuni yang di adakan kecil-kecilan tapi mereka udah punya rencana untuk menyewa Villa.
__ADS_1