
Hari kembali berganti rasanya hari-hari ini terasa begitu cepat berlalu, hari ini Adisty akan pergi mengantarkan Kelvin ke Bandara nasional yang berada di jakarta.
Di tempat lain Mira dan Max saat ini sedang memilih tema pernikahan mereka, mereka sudah bersama dengan seorang yang akan mendekorasi pernikahan mereka, namanya Arga.
"Bagaimana? kalian suka dengan gambar yang mana? " tanya Arga yang sudah memperlihatkan contoh dekorasi nya di laptop milik nya.
"Yang aku bingung nih, soalnya ada beberapa gambar yang aku suka banget, " Mira merasa tak tau harus memilih yang mana, karena ada beberapa gambar yang sangat bagus menurutnya.
"Bagaimana kalau kita pikirkan ini terlebih dahulu, besok kita putuskan mau yang mana," usul Max pada Arga, menurutnya ini memang bukanlah hal yang mudah.
"Baiklah kalau itu memang keinginan kalian, saya akan mengirimkan semua file nya ke email anda, " balas Arga yang setuju dengan usul Max.
"Ya sudah kalau begitu terimakasih untuk hari ini, saya akan melihat bagaimana kerja anda dan kelompok anda, " Max berniat pamit dari kantornya Arga.
Karena masih banyak hal yang harus ia lakukan hari ini, ia juga masih harus memilih undangan yang akan ia pilih untuk pernikahan mereka.
Mereka berdua sekarang sudah berada di dalam mobilnya, pergi ke tempat pencetakan undang yang tempatnya lumayan terkenal di Jakarta.
"Sayang kita mau tema putih-putih kan? " tanya Max meyakinkan tema apa yang akan mereka pilih.
"Iya, aku sih maunya semua itu serba putih, bahkan tamu undangan juga kalau bisa aku mau pakaiannya warna putih semua, " balas Mira yang mau pernikahan nya itu serba putih.
"Bisa sih, soalnya yang kita undang juga kan cuman beberapa orang. Gak sampai semuanya teman kamu dan teman ku, apalagi teman orang tua kita, " ucap Max yang merasa itu bisa di wujud kan.
"Iya sih, palingan temenku yang datang cuman mereka yang suka ngumpul aja, " balas Mira yang merasa ucapan Max memang benar.
"Ya sudah nanti kita bicarakan semua ini dengan keluarga mu, " ujar Max.
Max memang sudah tak punya ayah maupun ibu, ayah dan ibunya meninggal saat dirinya masih kecil. Max di rawat dan di besarkan oleh tantenya, saat ini yang memegang semua kantor ayahnya juga masih om dan tantenya.
Tapi setelah Max menikah semua kantor dan peninggalan ayahnya dan ibunya akan di berikan pada Max semuanya, awalnya di bagi dua bersama dengan Bulan, tapi karena bulan sudah meninggal jadi warisannya Bulan pun jatuh pada Max semuanya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit akhirnya mereka berdua sampai di tempat percetakan undangan, mereka berdua juga sudah membuat janji dari kemarin-kemarin.
"Halo, permisi, " sapa Max.
"Masuk saja, " balas seseorang dari dalam.
Max dan Mira pun langsung duduk di sofa yang sudah tersedia di tempat itu, lalu seorang perempuan muda pun datang menghampiri mereka.
"Kalian pasti Mira sama Max kan? " tanya wanita itu sambil duduk di samping Mira.
"Iya, itu kita berdua, " balas Mira sambil menunjuk dirinya dan Max.
"Saya sudah menunggu kalian sedari tadi, " ucap wanita itu sambil tersenyum ramah pada mereka berdua.
"Maaf yah kalau bikin menunggu lama, soalnya tadi kita pergi ke tempat dekorasi dulu, " balas Mira.
"Tidak papa itu bukan masalah yang besar, " ucap wanita itu.
"Ya sudah sekarang kalian bisa sebutkan bagaimana undangan yang kalian inginkan? " Sambung wanita itu sambil memberikan Max dan Mira buku, untuk menggambar apa yang mereka inginkan.
Kelvin mengangkat dagunya Adisty, " Sayang aku cuman sebentar kok, hari senin aku kembali lagi ke Indonesia. Lagian kan kamu akan reunian sama temen-temen kamu, jadi gak usah ngerasa kesepian, " balas Kelvin.
"Tapikan aku maunya kamu, " kekeh Adisty yang tak mau di tinggalkan Kelvin.
Masalahnya adalah di saat reuni Raihan pasti bawa pacarnya lalu ia di sana harus sendirian dan melihat semua orang bermesraan di depan wajahnya itu sangat menyakitkan.
"Ya udah deh iya, tapi hati-hati yah, " ucap Adisty yang akhirnya memperbolehkan Kelvin pulang ke Amerika.
"Jangan cemberut dong, kamu senyum napa! " titah Kelvin sambil melengkungkan bibir Adisty agar wanita itu mau tersenyum.
"Iya aku senyum nih, " balas Adisty sambil melepas tangannya Kelvin lalu dirinya tersenyum terpaksa.
__ADS_1
"Jangan terpaksa gitu dong, " ucap Kelvin yang tau kalau Adisty sedang tersenyum tapi senyum itu adalah senyuman terpaksa.
"Iya, iya, " Adisty kembali tersenyum, namun kali ini senyuman itu tidak terlalu terpaksa.
"Nah gitu dong, " balas Kelvin sambil memeluk Adisty.
"Ya udah ah sana kalau mau pergi, lagian pesawat kamu udah mau berangkat tuh, " Adisty melepaskan pelukan Kelvin lalu menyuruhnya untuk segera pergi.
"Ya sudah aku pergi dulu yah, " pamit Kelvin sambil melambaikan tangannya pada Adisty.
Adisty membalas lambaian tangan Kelvin, setelah Adisty tak dapat melihat Kelvin lagi barulah dirinya pergi dari Bandara tersebut. Ia berniat pulang ke rumahnya, karena ia masih ingin melanjutkan tidurnya.
Di tempat lain saat ini Lily dan Liana anaknya sedang bermain di taman, mereka tengah mencari angin segar.
"Sayang nanti kalau kamu udah besar kamu harus jadi anak yang baik dan pintar yah, jangan kayak ibu dan ayahmu ini, " ucap Lily sambil menatap anaknya yang saat ini sedang berada di pangkuannya.
"Mau beli eskrim gak? " tanya Lily pada Liana sambil menunjuk pedagang es krim.
Liana menjawab nya dengan mengangguk dan tersenyum lalu bertepuk tangan.
"Oh kamu mau es krim, " ucap Lily sambil berjalan menuju penjual es krim tersebut.
"Pa mau eskrim nya satu, yang rasa vanilla yah, " Lily kini sedang membeli Eskrim untuk Liana.
"Nih mba, " penjual itu memberikan Eskrim nya pada Lily.
"Nih uangnya, makasih yah pak, " balas Lily sambil memberikan uang untuk membayar Eskrim nya.
"Nih Eskrim buat kamu, " Ucap Lily sambil duduk di bangku taman.
Lily langsung menyuapi Liana Eskrim yang ia beli sedikit-sedikit, terlihat dari raut wajahnya Liana ia sangat senang di belikan Es krim oleh ibunya.
__ADS_1
Sedari tadi Liana tak henti-hentinya tertawa ke arah Lily, gadis kecil itu sangat terlihat masih jika sedang tersenyum bahagia, jika saja Liana boneka mungkin Liana sudah di remas sangking gemasnya oleh Lily.
Liana masih belum bisa bicara apapun saat ini, ia hanya menangis jika menginginkan sesuatu. Padahal umurnya sudah satu tahun setengah saat ini, Andra bilang sih itu masih wajar, tapi tidak dengan Lily yang sangat khawatir dengan hal itu.