
Satu tahun setelah kepergian Adisty, Raihan menjadi semakin dekat dengan Dilla walaupun sejujurnya Raihan tak memiliki rasa apapun pada Dilla. Hanya saja selama ini yang selalu menemani Raihan adalah Dilla.
Lily dan Andra sudah menikah, di hari pernikahan mereka Adisty tidak datang ia hanya menitipkan sebuah surat dan juga kado pernikahan pada Max. Max bilang Adisty berikan surat dan kadonya sebelum hari keberangkatan nya.
Reihan masuk kuliah bersama Max. Selama setahun ini Raihan kembali dingin dan juga pendiam, ia hanya akan bicara ketika ia butuh saja. Raihan saat ini sedang dengan Dilla di sebuah rumah makan, ada pertemuan keluarga, antara keluarga Raihan dan juga Dilla.
"Kamu temani Dilla keluar sana, " ucap ibunya Raihan sambil tersenyum ke arah Raihan.
Raihan hanya menatap ibunya dengan tatapan datar, sebelum akhirnya ia berdiri dan mengajak Dilla untuk keluar. Mereka saat ini tengah berjalan menelusuri jalan, Raihan sedari tadi hanya diam, ia hanya memasukan tangannya ke dalam celana.
"Kamu kok diem aja sih? " tanya Dilla yang sudah mulai kesal.
"Memang nya aku harus ngapain, guling-guling? " balas Reihan datar, tanpa melirik ke arah Dilla.
"Kamu gak pegel apa diem mulu, kali-kali kamu cari topik pembicaraan kek, atau yang mulai duluan ngomong, jangan aku terus, " ucap Dilla.
Reihan mendadak menghentikan langkah nya, "Kalau lu gak mau ada di deket gue, lu silahkan pergi, gak usah ngatur-ngatur hidupku, " balas Raihan datar tanpa menatap sedikitpun ke arah Dilla.
Dilla terdiam sejenak, sebelum kembali mengikuti langkah Reihan. Namun Raihan sangat terkejut ketika melihat Adisty ada di depannya, tengah berjalan bersama dengan Max.
Sementara itu Max dan Adisty seperti nya tidak melihat kalau ada Raihan di depan mereka. Reihan menghentikan langkah nya di ikuti oleh Dilla, ia juga ikut berhenti karena ia ikut melihat kehadiran Adisty.
Saat jarak mereka sudah dua meter barulah Adisty bisa melihat mereka, Adisty dan Max menghentikan langkahnya tepat di depan Raihan dan juga Dilla. Dilla memegang tangan Raihan, berniat untuk membuat Adisty panas, Adisty hanya menatap ke arah tangan Reihan lalu tersenyum.
"Hay, " sapa Adisty sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
Saat itu Raihan ingin sekali memeluk Adisty, ia rindu akan tubuhnya Adisty, ia rindu akan wanginya Adisty.
"Juga, " balas Dilla sambil membalas senyuman Adisty.
"Kalian makin deket aja? " ucap Max.
Sementara itu Raihan masih mematung menatap Adisty, ada banyak hal yang ingin ia katakan pada Adisty, satu tahun ini bukanlah waktu yang sebentar bagi Raihan.
"Rey, kalian bahagia yah, aku seneng liat kalian bahagia, " Ucap Adisty sambil berjalan pergi dari sana, ia sudah tidak kuat melihat Raihan.
Reihan tertawa, "Aku bahagia, sangat bahagia, untung saat itu kamu pergi, kalau tidak, aku tidak akan sebahagia sekarang, Terimakasih telah mengajariku banyak hal, termasuk aku harus berhati-hati dalam memilih teman dan juga pacar, karena di dalam banyak nya manusia masih ada yang berlaku seperti hewan, " Balas Reihan sambil berbalik ke arah Adisty.
Adisty dan Max terdiam namun Adisty enggan untuk berbalik ke arah Raihan, ia tidak mampu menahan air matanya, ia tau apa yang ia lakukan saat ini salah, namun ini sudah terjadi dan tidak mungkin jika ia akan bicarakan semuanya setelah semua ini terjadi.
"Aku ikut bahagia, " balas Adisty tanpa berbalik, ia kembali melanjutkan langkahnya.
Mereka sudah duduk di ruang tamu,"Ah aku capek banget, " Ujar Adisty sambil menyenderkan tubuhnya ke senderan sofa.
"Kalian cepet banget keluarnya, bukannya tadi bilang mau belanja? " ucap Mira heran. Pasalnya mereka tadi izin untuk pergi ke mall, tapi rupanya mereka hanya sebentar, bukannya kalau ke mall itu lama mereka suka menghabiskan waktu yang lama.
"Tu anak ngajak pulang cepet-cepet, " balas Max sambil menatap ke arah Adisty.
"Abisnya capek, mau istirahat, " balas Adisty, sambil memikirkan pertemuan pertamanya dengan Raihan tadi, ingin sekali Adisty memeluknya namun itu adalah hal yang tak mungkin ia lakukan kembali.
"Besok lu mau ikut gak? gue besok ada acara rapat buat reuni, " ucap Max.
__ADS_1
"Ikut aja, besok kan Raihan juga pasti ada di sana, kapan lagi bisa liat Raihan, " setuju Mira sambil bermanja di lengan Max.
"Gimana besok aja, " balas Adisty malas, ia sangat malas bertemu Raihan karena ia percaya kalau Raihan pasti hadir di acara itu bersama Dilla.
Max selalu bercerita tentang kedekatan Raihan dan Dilla pada Adisty, semuanya yang mereka lakukan pasti Max ceritakan pada Adisty.
"Ikut ajalah, gak usah banyak mikir, " kekeh Max.
"Lu udah minum obat belum? " tanya Max.
"Males ah, liat obatnya aja gue udah enek apalagi makannya, udah bosen gue minum obat mulu, " balas Adisty sambil membelakangi Max, karena Max akan selalu memaksanya meminum obat.
"Gak ada malas-malasan, cepetan minum obat, " Max melepas gengaman tangan Mira laku pergi ke depan Adisty sambil membawa air putih.
"Adisty, kamu harus minum obat, kamu kan mau cepet sembuh, biar kamu bisa ceritain semuanya pada Raihan, " rupanya Mira juga setuju dengan ucapan Max.
"Ah lu mah sama aja sama pacar lu, " kesal Adisty sambil bernafas kasar.
"Gue gak mau tau lu harus minum obat atau, gue bakal bilang semuanya sekarang juga sama Raihan, " ancam Max, sambil mengambil kotak obat dari tasnya Adisty.
"Ok, ok, gue minum obatnya, ngancem nya yang bener aja, " akhirnya Adisty mau meminum obatnya.
Sementara itu di tempat lain Raihan sedang berada di balkon kamarnya, sambil di temani sebotol wine di samping kursinya.
"Kenapa lu setega itu sama gue Dis? " ucap Reihan yang sudah mulai tidak sadarkan diri karena terlalu banyak minum Alkohol.
__ADS_1
Ia tersenyum miris pada dirinya sendiri, bagaimana bisa ia tetap mencintai Adisty, yang sudah berbuat setega itu padanya, entah rasanya ia masih merasakan cinta saat matanya saling bertatapan. Ia merasa kalau Adisty tengah menyembunyikan sesuatu, ia merasa kalau Adisty masih mencintai nya, ia hanya perlu tau alasan apa yang membuat Adisty berlaku seperti ini padanya.
"Adisty, aku yakin kalau kau masih mencintai ku, aku akan buat kamu mengakuinya lagi, " ucapnya sekali lagi, sambil terus meminum wine.