
Adisty membawa Raihan pulang ke rumahnya, Andra menyuruh Adistya agar membawa Raihan pulang ia juga memberikan alamat rumah Raihan.
Adistya membawa reihan pulang menggunakan motor Raihan, setelah sampai di depan pagar rumah, Adistya langsung membopong Raihan untuk masuk ke rumahnya.
Adistya menyalakan bel rumah Raihan, setelah menunggu beberapa menit di depan pintu masuk akhirnya ada seorang wanita paruh baya yang membuka kan pintu itu.
"Raihan kenapa? " panik wanita itu.
"Yuk, bawa dia ke sofa, " titah wanita yang ternyata adalah ibunya Raihan, Adistya membawa Raihan ke sofa yang berada di ruang tamu.
"Bu, Bulan, meninggal bu, " ucap Raihan, hanya kata itu yang ia ucapkan saat sadar kalau ternyata ia sudah berada di depan ibunya sendiri.
"Udah yah sayang, ini sudah takdir, " ibunya memeluk Raihan, sementara Adistya hanya diam saja.
"Tapi dia meninggal gara-gara aku lagi bu, " ucap Raihan di pelukan ibunya.
Ibunya melepaskan pelukannya dan menghadapkan wajah anaknya itu ke depan wajah dirinya, " Jangan bilang kayak gitu, kamu itu harus beruntung Bulan mau memberikan hidupnya pada mu, kamu juga harus inget ia ingin kamu bahagia, bukannya sedih, " pinta ibunya.
"Tapi bu. "
"Rey, udah yah, Jagan kayak gini, kamu kuat, liat di belakang kamu aja masih ada orang yang sayang sama kamu, " ucap ibunya Raihan sambil menunjuk Adistya.
Adistya hanya terseyum saat Raihan melihat ke arahnya, "Kamu istirahat yah, " titah ibunya Raihan pada Raihan.
"Aku mau sama Adisty, " ucap Raihan sambil memegang tangan Adisty.
"Ya sudah sana pergi ke kamar, ibu izinin kok, tapi jangan berbuat yang gak enggak, " ucap ibunya Raihan.
Kini Adisty dan Raihan pergi ke kamar Raihan, setelah sampai di kamar Raihan, Raihan langsung menidurkan tubuhnya di kasur, sementara Adistya ia duduk di samping Raihan.
__ADS_1
"Hah, segitu cintanya yah, lu sama Bulan, sampai gue gak bisa nebak sebesar apa cinta lu sama dia, " gumam Adisty pelan.
Namun rupanya pendengaran Raihan masih berfungsi dengan baik, ia masih bisa mendengar ucapan Adisty.
"Gue juga gak tau, kenapa bisa ke gini, gue lemah kalau udah berurusan dengan Bulan, gue udah ngangap dia sebagai adik gue, " balas Raihan sambil tidur dan menatap ke arah langit-langit kamarnya.
"Harusnya gue sadar, gue gak akan pernah bisa ada di hati lu sepenuhnya, " ujar Adisty, sambil menatap kosong ke depan, ruangan itu sangat minim cahaya.
"Tapi Dis jangan tinggalin gue, saat ini gue butuh lu di samping gue, gue butuh orang yang mampu buat gue lupa sama kejadian malam ini, " pinta Raihan sambil duduk menghadap ke arah Adisty.
"Gue bakal bantu lu, tapi kalau suatu saat nanti gue mundur berarti gue udah gak bisa, " ucap Adisty sambil membalas tatapan Raihan.
"Gue minta maaf kalau udah buat lu jadi kayak gini, gue minta maaf kalau udah libatin lu di masalah gue, " mohon Raihan sambil menunduk.
"Rey, lu udah jadi hidup gue sekarang, yah walaupun gue belum jadi hidup lu tapi, lu gak usah khawatir gue sayang sama lu, gue akan terus buat lu bahagia, " ucap Adisty, sambil mengangkat wajah Raihan agar menatapnya.
Kini wajah mereka sudah semakin dekat, bahkan nafas mereka bisa mereka rasakan, namun tiba-tiba Raihan mendekatkan wajahnya ke arah Adistya dan mengecup singkat bibirnya.
Raihan kembali tidur, sedangkan Adisty pun sudah tidak bisa menahan kantuk nya, ia tidur di samping Raihan.
Di rumah sakit Geri masih di tangani oleh dokter, para anak buahnya juga masih menunggu Geri di luar ruang UGD. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya dokter yang memeriksa Geri keluar.
"Bagaimana dok kondisi Geri? " tanya salah satu anak buah Geri.
"Pasien baik-baik saja sekarang, dia sudah melewati masa keritisnya, " ucap dokter itu lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Akhirnya mereka yang berada di sana bisa bernafas lega. Di tempat lain, Max, Andra dan yang lainnya tengah mengurus mayat Bulan, mereka berencana menguburkannya besok jadi Bulan masih berada di rumah nya.
Max, benar-banar sedih, kini Max tengah berada di teras rumahnya bersama Andra padahal ini sudah pukul 3 pagi.
__ADS_1
"Lu gak tidur Max? " tanya Andra.
"Gue gak bisa tidur, " balas Max datar, sambil menatap kosong ke depan.
"Gue tau ini berat, tapi lu harus tetap ikhlasin dia, " unjar Andra.
"Gue tau," balas Max datar.
"Oh iya kondisi Raihan gimana?" sambung Max, ia tiba-tiba mengingat kondisi Raihan.
"Raihan udah gak papah kok, dia di anterin pulang sama Adisty, tapi yang gue khawatirin itu malah kondisi Adisty, " balas Andra.
"Gue juga sama, gue yakin Adistya pasti lebih sedih di banding kita, " setuju Max.
"Yah, dia harus hibur Raihan dan juga hatinya sendiri, bagaimana pun kita akan sedih atau sakit hati kalau orang yang kita cintai lebih peduli sama orang lain, apalagi mereka baru jadian, " ujar Andra, mereka merasa kasihan dengan Adisty, namun mereka tentunya tidak bisa melakukan apapun selain mendoakan yang terbaik bagi Adisty dan Raihan.
"Tapi gue yakin, Raihan gak akan sekalut dulu, ia akan lebih mudah melupakan Bulan, karena saat ini ia udah punya Adisty, " balas Max yakin dengan apa yang ada di pikiran nya.
"Semoga aja, gue kasian soalnya sama Adisty, katanya dia baru aja di usir sama ayahnya sendiri, dan dia sekarang tinggal sendirian di apartemen nya, bahkan sekarang ia harus kerja buat biayain kehidupan sehari-hari nya, " ujar Andra, ia tau itu saat ia tidak sengaja mengikuti Adisty.
Andra tau tentang Adisty yang bahkan sahabat nya saja tidak tau hal itu.
"Yang bener lu? gak tega gue sama dia, " kaget Max, pasalnya ia melihat Adisty Akhir-akhir ini terlihat biasa saja.
"Orang dia sendiri yang bilang sama gue, " balas Andra.
"Tapi jangan bilangin Raihan yah, soalnya Adisty bilangnya jangan kasih tau Raihan, " sambung Andra.
"Iya gue gak akan bilang sama Raihan, " ucap Max.
__ADS_1
"Gue masuk dulu yah, " pamit Andra, pasalnya ia sudah ngantuk, Anak-anak yang lainnya juga ikut menginap di sana, mereka tidur di ruang tamu.
Saat Andra masuk masuk pun ikut masuk, ia sadar kalau dirinya memerlukan istirahat karena besok ia harus kembali beraktivitas. Di rumah Raihan ibunya mengintip ke kamar Raihan ia tersenyum saat melihat Raihan dan Adisty sudah tidur, lalu ibunya kembali menutup pintunya dan pergi meninggalkan mereka.