Kisah Cinta Yang Konyol

Kisah Cinta Yang Konyol
38,Tanggung Jawab


__ADS_3

Hari sudah sore, setelah pulang dari mall Adisty langsung pergi ke dokter untuk mengecek ke adaan tubuhnya karena akhir-akhir ini ia merasa tubuhnya sangat mudah capek dan pusing. Ia ke rumah sakit sendirian ia tidak mau kalau memang ia memiliki penyakit yang serius orang yang mengantar nya tau, apalagi kalau itu sampai Raihan atau keluarga nya.


Ia sudah melakukan tes kini hanya tinggal menunggu hasilnya, setelah waktu tunggu yang amat sangat mendebarkan akhirnya dokter memanggil Adisty ke ruangannya, Adisty pun masuk dengan segala kecemasan nya.


Kkni Adisty sudah duduk berhadapan dengan dokter nya, " Adisty, ada kabar buruk untuk mu, " ucap dokter itu sambil bernafas kasar.


"Apa dok? bicaralah aku akan menerima apapun itu, " pasrah Adisty.


"Mba terkena kanker darah, namun masih stadium awal jadi masih banyak kesempatan untuk sembuh, " balas dokter itu sambil memberikan kertas hasil tes nya.


Adisty mengambil kertas itu lalu pamit ke luar, ia duduk di kursi tunggu sambil membuka lembaran kertas itu, walaupun masih stadium awal, kanker tetaplah kanker itulah yang sekarang ada di pikiran Adisty.


Ia membuka kertas itu sambil menangis, setelah ia sudah melihat isi surat itu ia langsung membuangnya ke tong sampah yang berada di dekatnya. Ia menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi sambil terus menjatuhkan air matanya, sesekali ia juga menghapus air matanya ia tau ia harus tetap hidup lagipula ini baru awal, ia yakin ia akan sembuh.


Ia mulai berdiri dari duduknya lalu kembali masuk ke ruangan dokter dan membicarakan tentang cara pengobatan nya. Sementara itu di tempat lain Lily tengah menuju rumah Adisty, namun ibunya Adisty bilang Adisty pergi entah kemana jadi Lily memutuskan untuk menunggu Adisty di ruang tamu.


Lily juga menghubungi Adisty, "Halo, Adisty lu dimana? gue di rumah lu, ada hal yang mau gue omongin sama lu, " ucap Lily pada saat Adisty mengangkat telpon nya.


"Bentar lagi gue pulang, " Balas Adisty dari sebrang telpon.


Lily langsung mematikan ponsel nya, beberapa menit berlalu akhirnya Adisty pulang ke rumahnya, wajahnya tampak pucat.


"Dis, lu kenapa? sakit? " tanya Lily yang khawatir pada Adisty.


"Gak papa, gue cuman kecapean aja, " bohong Adisty, "Ya udah ke kamar yuk, di kamar aja ngobrol nya, " ajak Adisty, ia langsung saja pergi ke kamarnya.


Lily berjalan mengikuti Adisty ke kamarnya, setelah berada di kamar, Adisty langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur miliknya, di susul oleh Lily yang duduk di samping Adisty.


"Lu mau ngomong apa sih? tumben lu ke sini?" Adisty merasa kalau Lily akan membicarakan hal yang serius pada nya.


"Tapi kalau lu tau, lu gak bakalan jauhin gue kan? " rupanya Lily masih takut kalau Adisty akan menjauhi nya, setelah ia berkata jujur pada Adisty.


Adisty merasa ini memang pembicaraan yang serius ia bangun dari tidur nya, lalu menghadap ke arah Lily, " Lu ngomong aja sama gue ada apa? gue janji gak akan jauhin lu, apapun yang terjadi, " balas Adisty.

__ADS_1


Lily mulai memalingkan wajah nya, ia juga menarik nafasnya dalam-dalam, " Gue hamil, " ucapnya sedikit takut.


Kaget? jelas Adisty saat ini sangat kaget bagaimana bisa temannya melakukan itu, ingin sekali Adisty saat ini memarahinya tapi itu bukan cara yang tepat, sahabat nya ini kini sedang membutuhkan bantuan bukan ceramahan.


Adisty menarik tubuh Lily ke pangkuannya, ia memeluk Lily sambil mengelus rambutnya, Lily menangis di tubuh Adisty, ia sudah tidak bisa menahan tangisannya.


"Kalau gue boleh tau, anak siapa dia? " tanya Adisty dengan hati-hati.


Lily mulai melepas pelukan Adisty lalu menatapnya kembali, " Dia anak Andra, " balas Lily.


Sungguh tidak bisa di percaya, apa yang sebenarnya mereka lakukan sampai seperti ini.


"Sejak kapan? kamu si paksa sama dia? aku akan habisi dia sekarang juga, " marah Adisty, jelaslah ia sangat marah, jika benar Andra memaksa Lily melakukan itu maka Andra tidak akan bisa hidup sampai besok.


Adisty sangat menyayangi Lily, dia adalah sahabat yang selalu ada di samping nya apapun yang terjadi walau saat Adisty terpuruk Lily akan selalu setia berada di sampingnya, maka dengan itu ia tidak akan membiarkan ini. Lily memeluk erat Adisty, "Kita berdua salah, bukan cuma Andra, aku juga salah, jadi aku Mohon jangan salahkan dia, malam itu kita habis minum alkohol, " ujar Lily sambil Menangis.


Adisty mengacak rambutnya frustasi tadinya ia akan menceritakan penyakit nya pada Lily, namun kayaknya ini bukan waktu yang tepat untuk itu.


"Tidak walau bagaimana pun, ini anak ku aku tidak sejahat itu, " balas Lily ia tidak akan membunuh anaknya itu, tapi ia juga bingung bagaimana ia bicara pada keluarga nya.


"Andra mau bertanggung jawab? " tanya Adisty.


"Dia bilang mau, tapi aku masih belum siap bicara pada orang tua ku. "


"Aku akan membantu mu, besok pulang sekolah kita langsung ke rumah mu, bersama Andra, " Adisty ingin menyelesaikan ini secepatnya, karena orang tuanya Lily akan sangat marah jika tidak di beritau secepatnya.


"Secepat itu? " Lily rupanya masih takut.


"Lily kau tatap mataku, aku akan selalu ada di samping kamu apapun itu, jangan khawatir kau tetaplah teman ku, seburuk apapun kamu," Adisty berusaha menyakinkan Lily kalau ia akan selalu bersama Lily apapun yang terjadi, walau orang tua Lily tak bisa menerima Lily jika ia tau kenyataan anaknya.


Maka Adisty akan tetap berada di samping Lily, itulah janji Adisty padanya.


"Kau tidur saja, " ujar Adisty sambil menidurkan Lily.

__ADS_1


"Makasih, " Lily merasa hari ini ia memang butuh istirahat sudah banyak air mata yang ia keluarkan akhir-akhir ini.


Di tempat lain Andra juga tengah berada di beskem di sana juga ada Max dan Raihan, sedangkan anak-anak yang lainnya tidak ada di sana.


"Gue mau ngomong sama kalian, " ucap Andra memecah keheningan, karena sedari tadi mereka fokus melihat ponsel nya.


Max dan Raihan menaruh ponsel mereka di meja, lalu mulai memperhatikan Andra, rupanya Max dan Raihan merasa ada hal aneh di diri Andra.


"Mau bicara apa? " tanya Max yang sudah penasaran.


"Gue ngehamilin anak orang, " ujar Andra.


Namun bukannya kaget Max dan Raihan malah tertawa mereka pikir Andra tengah bercanda, "Ayolah yang benar saja, " balas Max sambil tertawa.


"Aku bicara jujur, kenapa kalian malah tertawa? " Andra berusaha meyakinkan mereka kalau ia berkata jujur dan tidak sedang bercanda.


Seketika Max dan Raihan saling tatap dan berhenti tertawa, " Kau tidak sedang serius kan? " rupanya Max dan Raihan masih tidak percaya.


"Aku serius, " balas Andra datar.


"Siapa perempuan nya? " tanya Raihan mulai serius.


"Lily, " jawab Andra sedikit ragu dan takut.


"Kau gila? " umpat Max tak habis pikir.


"Aku tidak tau apa yang terjadi malam itu, pikiran ku kacau, " balas Andra.


"Terus lu sekarang mau gimana? " tanya Max sambil menatap tajam Andra.


"Aku akan tanggung jawab, dan mungkin besok pulang sekolah aku akan bicarakan ini dengan keluarga nya, dan aku mungkin akan menikahi Lily secepatnya, " jawab Andra sambil menunduk.


"Jangan mungkin, tapi harus, " timpa raihan dingin.

__ADS_1


__ADS_2