
Sampailah mereka di tempat makan itu, mereka memilih tempat yang berada di pojok kanan, Raihan duduk di samping Adisty, lalu Adisty di samping Raihan dan Lily.
Sementara Andra dan Max di depan Raihan dan Adisty, mereka juga tadi sudah memesan makanannya dan saat ini makanan itu sudah sampai di meja mereka.
"Biasa aja kali liatin makanannya, " ledek Andra.
"Ngomong sama siapa lu? " tanya Max.
"Sama hantu, " balasnya sedikit kesal.
"Emang lu bisa lihat hantu? " Max memang kadang-kadang otaknya agak gesrek.
"Gila lu yah?" lanjut Max. Sambil kembali menatap makanan yang baru saja ia pesan.
Mereka memakan makanan itu lalu sesekali mereka berbincang-bincang, " Ly, dari tadi diem mulu, gak punya mulut luh? " ucap Max, saat memperhatikan Lily sedari tadi tidak mengeluarkan suaranya, Lily yang sedari tadi malah fokus pada ponsel nya.
"Ya punya lah, makannya gue bisa makan, " balas Lily sinis, sambil menyuapkan makanan ke mulutnya dengan agak kasar.
"Si Lily mah lagi ngantuk, makannya emosian, dia juga kalau ngantuk bakal gak banyak bicara, " ucap Adisty membantu menjelaskan pertanyaan Max, sambil terus melahap makanannya.
"Ya kalau ngantuk tidur dong! " balas Max.
"Eh gila, ya iya lah siapa bilang kalau ngantuk harus mandi coba, " ucap Andra sambil menoyor kepala Max.
"Ya kan dia buktinya malah makan, bukan tidur, " ucap Max tak mau kalah.
"Ya masa gue harus tidur di sini, " ucap Lily tiba-tiba, membuat Max dan Andra yang tengah saling menatap, jadi menatap ke arah Lily.
Sementara Adisty dan Raihan benar-benar tidak peduli dengan mereka, lebih baik makan dari pada memperdebatkan masalah tidur.
"Tuh dengar, makannya kalau udah gila jangan di tambah ****, " ucap Andra sambil tersenyum kemenangan.
"Eh ****, di mana-mana kalau orang gila ya ****, " bantah Max.
"Enggak siapa bilang orang gila semua ****?" Adisty tiba-tiba nyangut.
"Emang ada orang gila yang pinter? " tanya Andra sambil tersenyum meremehkan.
"Psikopat, dia kan juga gila punya gangguan jiwa, tapi pinter, buktinya kalau bunuh orang dia gak gampang di tangkep Polisi, karena dia pintar nyembunyiin buktinya, " ucap Adisty santai, sambil menatap ke arah Andra dan Max.
"Ya itu beda lah, " bantah Andra, ia merasa dirinya harus menang.
__ADS_1
"Ya sama, Sama-sama gila kan? " ucap Adisty skakmat.
"Ya udah lah, iya in aja deh, " pasrah Andra sambil kembali makan.
"Tumben lu kalah?" ledek Max sambil tertawa kecil.
"Berisik loh, " kesal Andra.
Kini mereka kembali melanjutkan makannya, sebelum akhirnya mereka selesai makan dan memutuskan untuk berdiam dulu di sana, kini matahari sudah mulai pergi meninggalkan langit.
Dan berganti tugas dengan bulan, " Indah yah langit senja, " ucap Adisty saat melihat cahaya langit dari jendelanya.
"Lu suka senja? " tanya Raihan, yang juga memandangi langit.
"Suka, ia berusaha keras mempertahankan siang walau pun ia tau itu adalah hal yang mustahil untuk ia lakukan, " balas Adisty sambil tersenyum.
"Kalau aku malah gak suka senja, " ucap Raihan.
Adisty langsung berbalik ke arah Raihan, " Kenapa gak suka senja? diakan indah," tanya Adisty.
"Karena senja hanya datang sesaat, walaupun ia berusaha keras mempertahankan siang, ia akan tetap selalu gagal tiap harinya dan itu gue gak suka, " jawab Raihan.
"Ya ampun mimpi apa gue semalam?" ucap Andra sedikit keras.
"Sejak kapan lu jadi puitis Rey? " tanya Andra sambil menahan senyumnya.
"Apaan si luh? " terlihat jelas di wajah Raihan ia sangat malu, seperti nya ia tidak sadar saat mengatakan kalimat itu. Ia mungkin merasa kalau dirinya sedang berdua saja dengan Adisty,
"Alah ke bajay aja ngeles, " timpa Max, sambil ikut tertawa bersama Andra, pasalnya setelah kejadian tahun itu Raihan tidak pernah lagi berkata lembut, biasanya ia berkata dengan nada suara yang datar, namun kali ini sahabatnya mendengar sebuah kalimat manis yang di sampaikan Raihan.
Dan nada suara yang baru kali ini lagi mereka dengar, dari sosok Raihan, Max tersenyum ia berharap Raihan akan kembali seperti dulu, lelaki yang lembut pada perempuan.
Max dan Andra menatap ke arah Raihan sambil tersenyum. Sementara Raihan terlihat sangat risih di tatap seperti itu oleh nya.
"Biasa aja kali liatinnya, " sindir Raihan sambil memutar bola matanya malas.
"Pulang yuk, " ajak Raihan ia sudah tidak kuat di tatap aneh oleh kedua sahabat nya.
"Yuk, " ucap yang lainnya.
Setelah membayar semua makanan itu, kini mereka langsung pergi ke markas tadi lagi, tadi ada anggota Abstrak yang menghubungi Raihan untuk segera pulang.
__ADS_1
Setelah sampai di sana Raihan menyuruh Lily dan Adisty masuk ke kamar yang tadi dan menutup pintunya, Adisty seperti nya tidak mau mengambil resiko dan lebih baik menuruti permintaan nya.
Sementara kini Raihan dan anggota yang lainseperti nya tengah membicarakan hal yang serius.
"Gini Rey, tadi anggota kita melaporkan bahkan ketua darkness dia sudah pulang ke Indonesia, dan bergabung lagi dengan geng nya, " jelas salah satu anggota nya.
Raihan mengangguk dan mengerti kekhawatiran mereka sekarang, setelah kejadian di tahun itu mungkin saja ketua geng darkness akan balas dendam padanya.
"Begini saja, kalian semua jangan dulu mengambil keputusan yang gegabah, kita pantau mereka dari jauh, kalau mereka mengibarkan bendera perang kita harus siap, kita juga sekarang harus siap-siap, " ucap Raihan terlihat begitu berkharisma.
Semua pun menyetujui ke putusan Raihan, "Namun ada satu hal yang di khawatir kan sekarang, mungkin saja mereka akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kita lakukan pada mereka dulu, " ucap Max.
Raihan menatapnya, ia tidak mengerti dengan ucapannya, bukannya gadisnya itu bahkan sekarang tengah bertarung mempertahankan hidupnya, bagaimana bisa ia kembali seperti dulu.
"Bukan dia Rey, tapi Adisty, " seakan-akan tau apa yang ada di pikiran Raihan, Max menjawab pertanyaan yang Raihan pikirkan.
"Lo gila? ngapain mereka ngelakuin itu sama Adisty, dia kan buka siapa-siapa gue, " balas Raihan sambil tersenyum.
"Ya mungkin itu menurut lo sekarang, lu taukan mereka licik, mungkin aja sebelum ketuanya datang, mereka sudah mengawasi lu dan mereka tau kalau lu deket sama Adisty," ucap Max.
"Yang di katakan sama Max, ada benarnya juga sih, mereka mungkin ingin lu ngerasain apa yang udah mereka rasain, ya terutama ketuanya, " setuju Andra.
"Terus gue harus apa? jauhin dia? " Raihan benar-benar tidak tau harus apa.
"Lu gak usah nanya sama kita, gini aja deh kalau lu emang gak suka sama dia, lu pikirin dia juga punya keluarga, kalau dia dalam bahaya keluarga nya akan sedih, sama seperti gue dulu, " ucap Max, sambil menepuk pundak Raihan.
"Gue yakin si Geri akan melukai dia, karena dia menganggap Adisty adalah kekasih lu yang baru, " sambungnya.
"Ya udah masalah itu biar gue yang pikirin, tugas kalian hanya berjaga-jaga, " ucapan terakhir dari Raihan sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka, dan masuk ke kamar Adisty.
Untuk mengajaknya pulang.
"Max, lu yakin dia gak suka sama Adisty? " tanya Andra sambil menatap punggung Raihan yang sudah mulai menjauh.
"Gue gak yakin, gue tau dia suka, tapi dia berusaha melupakan perasaanya, " balas Max.
"Lu yakin dia bisa jauhin Adisty? "
"Di awal dia pasti bisa, tapi dia akan merasa kerinduan yang amat sangat dan terpaksa ia akan tetap berada di samping Adisty, dulu juga gitu kan? " balas Max.
"Apa ini akan terjadi lagi? " khawatir Andra.
__ADS_1
"Gue yakin Raihan kali ini lebih kuat dari Raihan yang dulu dan gue juga yakin wanita yang ini akan lebih kuat dari adik gue, " jawab Max, sambil tersenyum.