
Raihan sudah bangun dari tadi pagi, ia juga sudah membeli bubur untuk Adisty, karena hari ini Raihan harus kesekolah jadi ia menyimpan bubur nya di meja makan, lalu ia juga menulis surat untuk Adisty.
Adisty bangun dari tidur nya, saat ia bangun ia langsung melihat ke arah sofa rupanya Raihan sudah pulang. Pagi ini ia rasa tubuhnya sudah agak membaik jadi ia memutuskan untuk pergi sekolah saja.Lagian ini belum terlalu terlambat untuk berangkat sekolah, saat Adisty akan pergi ke kamar mandi ia melihat sepucuk surat di atas kotak makanan.
Ia lalu pergi ke arah surat itu lalu membacanya, " Hay sayang, kalau kamu udah baca surat aku, berarti kamu harus makan juga bubur yang aku belikan ini, oh iya sayang hari ini kamu jangan dulu sekolah yah, soalnya aku takut kamu masih sakit, " isi surat itu.
Adisty tersenyum lalu menyimpan kembali surat itu, ia pergi ke kamar mandi untuk mandi dan mengganti pakain, setelah itu ia langsung duduk di meja itu lalu makan bubur yang Raihan berikan.Setelah semuanya selesai kini Adisty pergi ke sekolahnya, ia merasa tubuhnya sudah agak membaik saat ini.
Sesampainya di sekolah ternyata gerbang depan sudah di tutup, ia terpaksa harus lewat jalan belakang dengan menaiki gerbang belakang.Setelah berhasil turun kini ia berjalan menuju kantin, ia berniat untuk tidak masuk di pelajaran pertama namun saat sampai ke kantin ternyata di sana banyak orang, ia berpikir bukannya ini jam pelajaran? Saat sedang melamun tiba-tiba ada yang mengagetkan nya, " Woy bengong aja lu, nanti kesambet tau rasa. "
"Ah lu Li kaget tau gue, " kaget Adisty.
"Bebas? " tanya Adisty sambil melirik ke arah Lily.
"Iya para OSIS dan juga calon OSIS lagi sibuk mempersiapkan acara buat besok, oh iya, tadi si Raihan bilang katanya lu sakit gak bakalan sekolah, taunya lu sekolah juga, " ujar Lily.
"Males gue di apartemen, " balas Adisty sambil berjalan menuju kelasnya.
"Eh lu mau kemana? " tanya Lily sambil mengejar Adisty.
"Mau ke kelas, " balas Adisty.
"Oh iya Dis, bokap lu sakit? " tanya Lily sedikit ragu, ia takut kalau Adisty akan marah padanya karena mengatakan hal tentang bokapnya, orang yang ia benci.
"Iyah, " balas Adisty singkat.
Lily masih bisa bernafas lega, untungnya ia tidak marah pada dirinya, " Semalam nyokap lu juga telpon gue, katanya suruh lu nengok bokap lu, " Lily memberanikan diri bicara seperti itu pada Adisty.
"Terus, gue harus apa? " tanya Adisty sambil berdiam dan menatap ke arah Lily.
__ADS_1
"Ya itu hak lu mau ngapain juga, mau nurutin silahkan gak juga gak jadi masalah, gue cuman nyampein apa yang nyokap lu omongin aja, " balas Lily berusaha untuk tidak memperlihatkan kalau ia takut pada Adisty.
"Bagus deh, " balas Adisty ia kembali melanjutkan langkahnya.
Sementara Lily masih terdiam di tempatnya, ia barusan sangat takut dengan Adisty, ia tidak tau akan menjadi seperti apa kalau Adisty marah.
Namun rupanya Max mendengar percakapan mereka, ia berjalan menghampiri Lily yang masih mengusap dadanya.
"Hay, " sapa Max, kini ia sudah berada di hadapan Lily.
"Eh kakak, " saut Lily sambil tersenyum ramah.
"Sorry tadi gue denger pembicaraan kalian, kalau boleh tau emangnya ayahnya Adisty sakit apa? yah kalau bisa nanti saya bantu bicara deh sama Adisty, " ujar Max tanpa basa-basi.
"Kak bicaranya jangan di sini yah, kita ke kantin aja gimana? " usul Lily ia merasa tidak enak jika harus bicara di jalan.
"Ok, " kini mereka jalan berdua menuju kantin, setelah di kantin mereka langsung duduk di meja paling pojok mereka juga sudah membeli dua jus untuk menyegarkan tenggorokan nya.
"Raihan udah tau soal ini? apa dia udah ngomong sama Adisty atau bujuk dia? " tanya Max, karena ia percaya kalau Raihan pasti akan bisa meluluhkan hatinya Adisty.
"Aku sih semalam udah kasih nomor HP nya Raihan sama nyokap nya Adisty, tapi aku gak tau deh kalau Raihan udah di hubungin atau belum, tapi kalau aku belum yakin kalau Raihan bisa meluluhkan perasaan Adisty kalau sudah menyangkut keluarga, " ragu Lily, ia ragu pasalnya Adisty orang yang sangat keras kepala.
"Ya udah nanti gue coba ngomong deh sama dia, " Max akan mencoba berbicara pada Adisty mungkin saja ia bisa membantu mereka.
"Aku juga ingin sih nasehati Adisty, namun aku gak berani dan gak mau liat Adisty murka," balas Lily membayangkan nya saja Lily tidak mau apalagi kenyataan nya.
"Ya sudah aku amu pergi dulu, " pamit Max ia kini kembali pergi entah mau kemana, sementara Lilly kembali ke kelasnya untuk menemui Adisty.
Sementara itu di tempat Adisty ia kebingungan Lily lama sekali tidak datang-datang, " ya ampun Lily dari mana aja sih? " tanya Adisty saat melihat Lily baru saja datang.
__ADS_1
"Barusan abis di panggil sama kak Max dulu, " balas Lily gugup.
"Oh, " balas Adisty singkat, Lily dapat bernafas lega dan duduk di samping Adisty yang tengah mengotak atik ponselnya.
Di tempat lain Raihan tengah mengurus dekorasi panggung namun tiba-tiba telponnya berdering, " Gue angkat telpon dulu yah, " pamit Raihan pada teman-teman nya.
Reihan pergi ke tempat yang agak sepi, kini ia mengangkat orang yang menelpon nya, "hallo dengan siapa yah? " tanya Raihan pasalnya itu nomor asing.
"Hallo ini dengan ibunya Adisty, kamu Raihan kan? " balas sangat penelepon.
"Iya saya Raihan maaf ada apa yah? " tanya Raihan, sebenarnya ia tau maksud dari ibunya Adisty menelpon dia untuk apa.
"Ada waktu tidak? saya mau bicara dengan kamu di kafe, sekalian mau minta tolong, kalau di telpon rasanya kurang sopan, " balas mamahnya Adisty.
"Baik tante, mau ketemu di mana? saya ke sana sekarang" ujar Raihan.
"Nanti saya serlok yah, " balas ibunya Adisty, kini Raihan mematika telpon nya lalu kembali pada yang lainnya.
"Kayaknya gue ada urusan mendadak deh, ini antara hidup dan mati soalnya, nanti kalau urusan gue selesai gue ke sini lagi, " pamit Raihan lebay, ia berpamitan untuk pergi dari sana.
Dan yang lainnya pun mengizinkan Raihan untuk pergi, setelah beberapa menit di perjalanan kini Raihan sudah sampai di kafe yang di kirimkan oleh ibunya Adisty.Ia masuk lalu mencari mamahnya Adisty sampai ia menemukan wanita paruh baya tengah berada di maja dekat kaca ia langsung berjalan menghampiri ibunya Adisty.
"Hallo tante, " sapa Raihan di depan ibunya Adisty sambil menunduk memberi hormat.
"Oh kamu yang namanya Raihan yah? " tanya ibunya Adisty sambil mempersilahkan dia duduk.
Kini Raihan duduk di depan ibunya, tanpa basa-basi ibunya langsung menceritakan apa maksud ia meminta Raihan untuk menemuinya. Ia juga bercerita tentang apa yang mereka lakukan pada Adisty, yang pantas membuat Adisty benci pada mereka ibunya menceritakan itu sambil menangis, ia merasa bersalah selama ini telah mengacuhkan anaknya ini.
"Tante, saya akan berusaha untuk bujuk dia saya janji akan bawa Adisty ke depan ayahnya, " janji Raihan sambil memegang tangan ibunya Adisty.
__ADS_1
"Makasih yah sayang, " balas ibunya sambil menghapus air mata menggunakan punggung tangannya.