
Mereka saling tatap lumayan sangat lama, mungkin beberapa menit entah apa yang membuat Andra melakukan ini, Andra mulai mencium mulut Lilly, seketika Lily langsung mendapatkan kesadarannya namun ia tidak bisa menolak ajakan Andra itu.
Ia membiarkan Andra mencium dan menggigit bibir mungilnya, setelah beberapa detik Andra menggigit dan bermain dengan bibir Lily kini ia mulai turun ke arah lehernya Lily.
Andra bermain di leher Lily, Lily benar-benar tidak bisa menolak itu, rasanya tubuhnya menerima kecupan halus dari Andra, Lily tidak munafik ia benar-benar sangat menikmati nya, walau ini pertama kalinya ia melakukan hal gila seperti itu.
Setelah puas di area leher barulah Andra perlahan membuka baju Lily, dan meraba seluruhnya, hingga ia hilang kendali, setelah seluruh kenikmatannya memuncak dan selesai barulah mereka sadar dengan apa yang mereka lakukan.
Andra kembali memakai celananya, dan Lily kembali memakai semua bajunya, yang semuanya sudah terlepas dari tubuhnya itu, setelah itu Lily menangis di pojok kasur, ia merasa kalau dirinya saat ini sangatlah kotor, bahkan sangat benar-benar kotor.
Andra mendekat ke arah Lily, namun Lily menahannya ia tidak mau di sentuh oleh Andra pada saat itu. Namun pada akhirnya Lily kembali sadar kalau ini bukanlah sepenuhnya kesalahan Andra, ia juga sama-sama menikmati itu tanpa paksaan.
flashback off
Ini sudah hari kedua setelah Lily membicarakan masalah itu pada orang tuanya, dan acara pernikahan Lily akan di adakan seminggu lagi, Lily juga sudah keluar dari sekolahan nya namun tidak dengan Andra ia masih tetap bersekolah.
Dan kini Adisty, Andra, Max, Raihan dan Dilla, tengah berada di kantin mereka benar-benar sangat kehilangan dengan ketidak hadiran Lily, apalagi Adisty yang sudah berteman cukup lama dengan Lily.
"Mau pesen makanan apa yang? " tanya Raihan sambil menatap ke arah Adisty, ia merasa kalau Adisty sangat pucat hari ini.
"Aku ke kamar mandi dulu yah, " Adisty tiba-tiba pergi ke kamar mandi, saat sudah di kamar mandi Adisty langsung mimisan.
"Ah sial, " umpat Adisty, ia langsung mengambil tisu yang selalu ia sediakan di saku bajunya.
Setelah selesai membereskan darahnya ia menyenderkan dulu tubuhnya di tembok, ia rasa akhir-akhir ia selalu merasakan pusing dan juga cepat lelah. Setelah itu ia memilih untuk pulang lebih dulu tanpa bicara pada siapapun, Adisty pulang ke rumah sakit untuk kembali mengecek kesehatan nya.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan dokter tentang keterangan penyakit nya kini ia di dalam mobilnya sambil menangis. Rupanya tadi dokter bilang kalau penyakit nya sudah mulai menyebar dan menjadi stadium 2.
Sementara itu di sekolah Raihan tengah mencoba menghubungi Adisty karena sedari tadi ia sama sekali tidak menemukan Adisty, rupanya di telpon pun Adisty tidak mengangkatnya.
"Adisty lu di mana sih? angkat napa, " kesal Raihan yang juga khawatir karena Adisty tiba-tiba pergi.
Setelah beberapa jam berlalu di sekolah semua murid sudah pulang, tak lupa minggu depan akan di adakan UN dan Raihan harus belajar saat ini, untuk membuat nilainya bagus. Reihan sudah berada di rumahnya, ia masih belum mendapatkan kabar dari Adisty, membuat ia semakin panik dan khawatir.
"Angkat-angkat, ayolah, " ucap Raihan pada ponsel nya sambil berjalan ke kanan dan ke kiri.
Tak ada jawaban dari Adisty membuat ia kesal, ia membanting kan ponsel nya ke sembarang arah, lalu ia mengambil jaketnya dan pergi menuju ke rumah Adisty untuk melihat keadaannya. Setelah sampai di rumah Adisty, Raihan langsung turun dan mengetuk pintu rumahnya, pintu rumahnya terbuka dan menampakkan ibunya Adisty di sana.
"Maaf tante Adisty nya ada? " tanya Raihan sambil menunduk.
"Ya sudah tante saya mau cari Adisty dulu yah, " Raihan kembali pergi dari rumah itu untuk mencari Adisty.
Saat ibunya berbalik ternyata Adisty berada di belakangnya, Adisty langsung memeluk ibunya sambil menangis, " Makasih ya bu, " rupanya Adisty sendiri yang menyuruh melakukan itu pada ibunya.
Ibunya membawa Adisty duduk di sofa ruang tamu, " Kenapa kamu lakukan ini? harusnya kamu bilang yang sebenarnya sama Raihan, " ucap ibunya sambil menatap wajah gadisnya yang terus menangis.
"Aku gak mau liat Raihan kehilangan aku, dulu saat ia kehilangan Bulan aja aku gak sanggup liatnya, dan kalau aku pergi lalu siapa yang akan membuat Raihan kembali hidup, jadi aku akan melepas Raihan dari sekarang, " jelas adisty sambil sesenggukan.
Ibunya menarik tubuh Adisty ke pelukannya, "Sayang jangan ngomong kayak gitu ah, mamah yakin kamu akan sembuh, percayalah. Bahkan mamah akan melakukan apapun untuk kesembuhan kamu, " balas ibunya sambil mengelus-ngelus rambut Adisty.
"Tapi jangan bawa aku keluar negeri yah? aku masih ingin melihat Raihan bahagia walau tanpa aku di samping nya, " Adisty melepas pelukan ibunya lalu menatap ibunya penuh harap.
__ADS_1
"Mamah janji, mamah gak akan biarin kamu kenapa-napa, dan Raihan akan terus bahagia bersama kamu, " janji ibunya Adisty sambil mengecup puncak rambut Adisty, setelah itu lalu ia pergi ke kamarnya.
Adisty masih berada di sofa ia menghapus air matanya, lalu menyenderkan tubuhnya ke sofa, ia bingung bagaimana cara membuat agar reihan benci padanya. Sampai ia mendapatkan sebuah ide, ia langsung menelpon Max dan pergi ke rumah Mira, Adisty kini sudah berada di sana dengan mira yang duduk di samping Adisty.
"Aku mau bicara sama kamu, tapi nanti yah nungguin Max datang, " ujar Adisty sambil memegang tangan Mira.
Mira tersenyum sambil mengangguk, tak lama kemudian Max pun datang, ia langsung duduk di samping Mira dan menyapa mereka.
"Mau bicara apa si Dis? kok gue jadi penasaran, " ucap Maxi penasaran tak biasa nya Adisty ingin bicara dengannya.
Adisty memberikan surat pemeriksaan dari dokter yang ia dapatkan tadi, Max sebelum menerima itu menatap terlebih dahulu pada Adisty, lalu ia membukanya. Mata Max membulat dengan sempurna saat ia sudah membaca isi dari kertas itu, ia langsung menatap ke arah Adistya, " Terus mau lu sekarang apa? " tanya Max pada Adisty.
Adisty memegang tangan Mira, " Max, Mira kalian bisa bantu aku buat bikin Raihan benci sama aku kan? " ucap Adisty sambil menatap mereka bergantian, ia juga menampilkan wajah memohon pada mereka.
Mira meraba wajahnya Adisty lalu mengelus rambutnya, " Adisty kenapa kamu harus buat reihan benci sama kamu? bukannya dia seharusnya tau ini, diakan pacarmu. Dia pasti bisa buat kamu melewati masa sulit mu, " balas Mira.
Adisty memegang tangan Mira yang berada di kepalanya, "Aku gak mau liat dia sedih dan terpukul kalau sampai aku gak bisa selamat, aku ingin dia benci sama aku, dan kemungkinan setelah dia benci sama aku, aku akan pergi Indonesia, " Jelas Adisty.
"Gak lu gak bisa seenaknya bilang kayak gitu, gue bakal bantuin lu asal lu harus tetap semangat hidup, Raihan masih membutuhkan lu, " Max tak Terima dengan Adisty yang mengeluh.
"Kesempatan hidup ku cuman tinggal sedikit," balas Adisty, " Aku udah gak banyak berharap," sambungnya.
"Jangan pernah bilang kayak gitu sama gue, lu harus janji dulu sama gue kalau lu akan semangat jalanin hidup, walau tanpa Raihan yang nemenin lu, setelah lu sehat lu kembali lagi ke dia, " tawar Max.
"Baiklah, " akhirnya Adisty menyetujui permintaan Max.
__ADS_1