
Ini adalah hari di mana Mira akan buka perban Adisty sudah berada di rumah sakit bersama dengan Max dan ibunya Mira, sedangkan Raihan dia di kantor nya sedang melakukan tes tulis.
Sementara Lily dan Angga katanya tidak bisa datang mereka akan datang nanti saja malam ke restoran yang akan mereka datangi untuk acara makan malamnya.
"Ah aku kok jadi deg-degan, " ucap Adisty sambil memegang dadanya.
"Kok jadi lu yang kek gitu sih? " tanya Max yang berada di samping Adisty saat ini.
Sedangkan Mira sedang bersama dokter dan ibunya, Ibunya Mira memegangi tangan Mira dan berharap semuanya berjalan dengan lancar.
"Tau ah kok gue jadi deg-degan sih ahhhh, " Adisty kembali histeris.
"Mending lu duduk di sini terus lu minum nih, gue kok jadi takut lu pingsan yah, " ledek Max sambil menyuruh Adisty untuk duduk di sofa.
"Lu mau gue pingsan? " tanya Adisty sambil menatap Max.
"Ah udah ah kok gue jadi ngurusin elu sih, " balas Max yang langsung memperhatikan Mira.
"Baik Mira tolong buka matamu dengan perlahan, " titah dokter itu.
Mira langsung membuka matanya dengan sangat perlahan, pandangannya saat ini masih kabur tidak jelas. Namun lama kelamaan pandangannya mulai jelas, ia dapat melihat ibunya lalu Mira memeluk ibunya.
"Mah aku bisa lihat mamah, " ucap Mira senang.
"Ah akhirnya gue gak deg-degan lagi, " ujar Adisty yang ikut bahagia sambil menarik-narik tangannya Max.
"Ih lepasin nanti baju gue robek, " balas Max.
"Iya, iya maaf deh. Aku kan terlalu bahagia hari ini, " ucap Adisty meminta maaf.
"Harusnya gue yang bahagia karena sekarang pacar gue udah bisa liat lagi, kenapa lu yang malah histeris sih? " balas Max yang heran kenapa Adisty bisa bahagia sekali.
"Biarin napa, lu mah protes mulu kerjaannya, " kesal Adisty.
Saat Mira menatap ke arah Adisty dan Max yang sedang bertengkar ia malah menangis, tapi ini bukanlah tangisan kesedihannya melainkan tangisan bahagia karena akhirnya ia bisa melihat mereka berdua.
__ADS_1
"Max, liat tuh pacar lu kok natap kita sambil nangis, " Adisty merasakan bersalah, walaupun ia tidak tau salahnya di mana. Ia merasa bersalah karena melihat Mira yang menangis ketika menatapnya.
Max langsung berjalan menghampiri Mira lalu memeluknya, Mira meraba wajahnya Max dengan penuh kasih sayang, " Max ternyata kamu ganteng, " ucap Mira yang sudah melepaskan pelukannya.
Adisty tiba-tiba tertawa membuat mereka yang berada di sana menatap aneh pada Adisty, Adisty yang di tatap aneh oleh mereka langsung menatap kikuk pada mereka.
"Maaf, " ucap Adisty sambil membungkukkan tubuhnya.
Adisty ikut menghampiri Mira dan berdiri di samping Max, " Mir, lu jangan nangis dong kalau liat wajah ku. Aku tau kok aku jelek tapi kebangetan aja kalau kamu nangis karena liat wajah ku, " bisik Adisty di telinganya Mira.
Mira tersenyum mendengar ucapan Adisty barusan, " Kamu apa-apaan sih, masa aku nangis gara-gara liat wajah kamu jelek sih? aku nangis bahagia akhirnya aku bisa liat kamu, " balas Mira.
"Beneran? ah aku seneng deh kalau gitu, " ucap Adisty sambil tersenyum bahagia.
"Dok-dokter Mira hari ini bisa pulang kan? " tanya Adisty yang tidak tau malu itu, padahal di sana masih ada ibunya Mira.
"Boleh kok, cuman Mira harus tetap ke sini lagi hari Minggu untuk cek-up, " balas dokter itu.
"Tante-tante, nanti aku boleh gak ajak Mira untuk makan-makan di restoran. Ngerayain kesembuhan Mira sama keterima nya Raihan kerja? " tanya Adisty.
"Boleh kok, tapi itu tergantung Mira nya juga kalau dia mau boleh tapi kalau enggak mau tante gak bisa paksa, " balas Ibunya Mira yang menyetujui ajakan Adisty.
"Mir lu mau yah, " mohon Adisty yang saat ini menatap Mira dengan tatapan melas.
"Aku mau kok, lagian udah lama aku gak ke mana-mana, " balas Mira yang akhirnya menyetujui ajakan Adisty.
"Baiklah nanti aku akan ke rumah kamu yah, " ucap Adisty kegirangan.
"Max, kok lu malah bengong sih? " tanya Adisty sambil memukul lengannya Max.
"Lu malu-maluin aja sih, " balas Max sambil menatap kesal Adisty.
"Gue cuman minta izin, " ucap Adisty yang merasa apa yang ia lakukan bukanlah hal yang memalukan.
"Tau ah gelap, " balas Max malas.
__ADS_1
"Ini masih siang belum malam jadi gak gelap, " ucap Adisty.
"Ya udah semuanya aku mau pulang dulu yah, " pamit Adisty dari sana.
Setelah berasa di luar ruangan itu Adisty langsung pergi ke parkiran dan berencana menemui Raihan di kantornya, ia tau kalau hari ini Raihan belum bekerja walaupun sampai Raihan di Terima.
Setelah beberapa menit berlalu Akhirnya ia sampai di kantor tempat Raihan akan bekerja, tadi Raihan sudah memberitahu Adisty kalau dirinya berhasil di Terima di kantor tersebut.
Adisty mencari letak Raihan sampai akhirnya ia menemukan Raihan yang sedang bersama dengan seorang wanita, namun Adisty dapat melihat kalau misalkan Raihan tidak suka dengan hal itu.
Adisty turun dari mobilnya lalu berjalan mendekati Raihan, " Hay sayang, " sapa Adisty sambil bergelayut manja di lengan Raihan dan menatap sinis pada perempuan yang berada di samping Raihan.
"Hay, aku pikir kamu gak bakalan ke sini, " balas Raihan sambil mengelus rambutnya Adisty.
"Pulang yuk, " ajak Adisty sambil menatap sekilas wanita itu.
"Tapi aku juga bawa mobil, " balas Raihan.
"Ya gak papa, kamu di mobil kamu aku di mobil aku, " ucap Adisty.
"Oh iya, mamah katanya mau ketemu kamu, sekarang ke rumah aku aja yah, " balas Raihan sambil berjalan meninggalkan wanita itu di sana sendirian.
Adisty tersenyum kemenangan ternyata Raihan nya masih sama seperti dulu, tidak ada yang perlu di khawatirkan jika memang begitu.
"Kenapa Raihan bisa semanis itu kalau sama wanita gak jelas itu, " gumam wanita itu sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
"Kalau sama aku Raihan paling cuman jawab iya, enggak, gitu doang ahhhhhh, " kesal wanita itu.
Di tempat lain Lily dan Andra tengah membereskan rumahnya, Andra hari ini sedang bersikap baik pada Lily. Memang yah pria yang satu ini sifatnya udah kayak bunglon saja kadang baik kadang juga gak baik.
"Sayang nanti malam Adisty sama yang lainnya ngajak kita ke restoran, kamu ikut yah. Aku gak mau mereka berpikiran negatif sama hubungan kita, " Lily memberitahu kan yang Adisty ucapkan tadi di telpon.
"Baiklah aku akan ikut, " balas Andra yang menyetujui ajakan Lily.
Lily tersenyum, ia awalnya takut Andra akan marah padanya, tapi ternyata andra tidak marah pada dirinya.
__ADS_1