Kisah Cinta Yang Konyol

Kisah Cinta Yang Konyol
30,Malam yang kelabu


__ADS_3

Raihan menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu ia menatap ke arah Adisty yang sedang kesal.


"Kamu gak boleh gitu, kita ke rumah sakit yah," ujar Raihan, ia merasa Adisty terlalu berlebihan pada ayahnya sendiri, bagaimana pun dia tetap ayahnya Adisty.


"Apaan sih yang, aku gak mau, " balas Adisty kesal, kenapa Raihan harus sama saja seperti mereka, ia tidak mau mengerti posisi Adisty.


"Yang, gak boleh gitu, nanti nyesel loh, " Raihan hanya tidak mau Adisty menyesal suatu saat nanti, jika ada sesuatu hal buruk terjadi pada ayahnya sendiri.


"Kamu tuh gimana sih? gak mau ngertiin aku? aku udah sering loh ngertiin kamu selama ini, terus balesannya ini? " Adisty benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Raihan, ia sudah sering mengerti tentang apa yang Raihan rasakan, namun kenapa Raihan tidak mau mengerti dia sedikitpun.


"Ini bukan soal mengerti atau apa, tapi kamu harus inget, bagaimana pun dia adalah ayah kamu, kalau ayahmu tidak ada kamu juga gak akan ada di dunia ini, " ujar Raihan tegas, sekali lagi ia hanya tidak mau Adisty menyesal di akhir nya.


"Aku gak percaya yah sama kamu, ternyata semua orang sama aja, aku ingetin kamu sekali lagi yah, dia sendiri yang bilang sama aku, kalau dia bukan lagi ayah ku, " ujar Adisty tegas sambil membuka pintu mobil dan pergi dari mobil Raihan.


"Adisty, kamu mau kemana? " Raihan ikut turun dan mengejar Adisty, namun ia tidak menemukan kekasihnya itu, dan membuat ia kembali ke mobilnya.


Adisty bersembunyi di mobil yang jaraknya tidak jauh dari tempat Raihan, namun rupanya Raihan tidak menemukannya, setelah ia rasa Raihan tidak berada di sana, barulah ia keluar dari sana.


Ia berjalan menuju apartemen nya yang hanya tinggal beberapa meter lagi, di perjalan menuju ke apartemen turun lah hujan membuat suasana malam ini semakin sedih, Adisty menangis di derasnya hujan.


Ia masih tidak habis pikir, kenapa mereka gak mau mengerti dirinya, bahkan Raihan orang yang ia percaya saat ini malah sama saja dengan mereka, saat ini ia hanya ingin di mengerti bukan di ceramahi.


"Semua orang sama saja, " gumam Adisty sambil terus berjalan goyah, dan menundukkan pandangannya.


Setelah ia sampai di depan gedung apartemen nya, ia langsung masuk dengan keadaan yang sangat memprihatinkan, ia masuk ke apartemen nya, namun saat ia masuk ia sudah melihat Raihan berada di sana, Raihan tengah menunggu kehadiran Adisty, ia khawatir dengan Adisty.


"Sayang, kamu gak papa? " tanya Raihan cemas sambil merangkul Adisty.


"Lepasin, gak usah sok peduli sama aku, " balas Adisty sambil melepaskan rangkulan Raihan di pundaknya.

__ADS_1


"Yang jangan kayak gitu dong, " ucap Raihan.


Adisty pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya yang basah, setelah selesai mengganti baju ia kembali keluar dari kamar mandi, dan rupanya Raihan masih berada di sana.


"Kamu pulang aja! aku gak papah, " titah Adisty sinis, tanpa menatap ke arah Raihan.


Namun tiba-tiba Adisty merasakan tubuhnya sangat lemah, kepalanya pusing dan juga pandangan nya mulai menghitam membuat tubuhnya rubuh, ia kini sudah tidak sadarkan diri.


Dengan sigap Raihan langsung memangku Adisty, ia langsung menidurkan Adisty di kasur, ia mengecek suhu tubuhnya ternyata benar saja suhu tubuhnya naik, seperti nya anak ini terkena demam.


"Adisty, dulu kamu yang buat aku tegar menghadapi semua cobaan dalam hidup ku, maka sekarang biarkan aku berada di samping mu, " gumam Raihan sambil mengelus kening Adisty, dan tersenyum, ia juga mengecup kening Adisty.


Ia menyelimuti tubuh Adisty, ia awalnya ingin pulang namun ia khawatir dengan kondisi Adisty saat ini yang tak mungkin untuk ia tinggalkan saat ini.


Ka pergi ke sebuah sofa, lalu tidur di sana, ia juga sudah merasakan letih sekali, tadi juga di sekolah ia banyak kegiatan.


Setelah beberapa jam mereka tertidur kini Adisty bangun ia mulai membuka matanya perlahan, saat ia sudah membuka matanya ia melihat ke arah sofa di sana Raihan tengah tertidur tanpa selimut, dan terlihat Raihan saat ini sedang kedinginan.


Setelah itu ia selimuti tubuh Raihan, "Kenapa sih sukanya bikin aku khawatir aja? kenapa gak pulang aja sih? dasar bocah, " gumam Adisty sambil mencubit hidung Raihan, namun karena Raihan tidurnya seperti kebo, jadi ia tidak bangun walau di cubit Adisty.


"Ternyata kalau lagi tidur ganteng juga yah pacar ku, " ucap Adisty sambil cengengesan.


"Ih apaan sih? aku kan lagi marahan sama dia, ah dia jelek, aku gak suka, " ralat Adisty sambil berdiri dan kembali ke kasurnya.


"Bagaimana aku bisa lupa? kalau aku lagi marahan sama tu anak, aku gak akan maafin dia pokoknya, tapi itu juga kalau aku kuat sih," ujar Adisty sambil kembali tidur, dan menutup wajahnya dengan selimut.


Sementara itu di rumah sakit ibunya Adisty sedang menghapkan Adisty datang menjenguk suaminya, ia juga sudah mencari keberadaan Adisty namun ia tidak menemukannya.


"Sayang kamu yang kuat yah, aku akan berusaha untuk mencari Adisty, " ujar ibunya Adisty memberi semangat pada suaminya.

__ADS_1


Akhirnya ibunya mendapat ide, ia menelpon Lily kebetulan ia tau nomor telpon sahabat anaknya itu, ia langsung mengambil tasnya dan menghubungi Lily.


"Hallo, " sapa ibunya Adisty.


"Iya tante ada apa yah? " tanya Lily pasalnya tidak biasanya ibunya Adistya menelpon dirinya, apalagi di malam-malam kayak gini.


"Sayang, kamu bisa gak tolongin tante, " pinta ibunya Adisty sambil menggunakan nada memohon.


"Mau minta tolong apa yah? " tanya Lily ragu.


"Tolong bujuk Adisty untuk menjenguk ayahnya di rumah sakit, ayahnya sedang kritis dan ingin bertemu dengan Adisty, " jelas ibunya Adisty.


"Apa tante ayahnya Adisty sakit? " kaget Lily.


"Iya sayang, dan ia ingin minta maaf pada Adisty, " ujar mamahnya.


"Tapi tante aku gak bisa janji, karena tante tau sendiri Adistya m bagaimana? " Lily berniat membantu mereka, namun ia tidak bisa berjanji karena Adisty salah satu anak yang sulit untuk di bujuk.


"Baiklah, tapi ada gak orang yang lagi dekat sama Adisty, siapa tu dia bisa membantu tante? "


"Ada sih tante, dia pacarnya Adisty."


"Tante boleh minta nomor HPnya? " tanya ibunya Adisty.


"aboleh tante nanti saya kirimkan lewat SMS, " balas Lily.


Ibunya Adisty mematikan telpon, saat ini ia berniat untuk menemui pacar nya Adisty, dan menanyakan di mana ia tinggal dan meminta ia untuk membujuk Adisty.


Sejahat apapun suaminya pada dirinya atau pada anaknya, ia tetap lah suaminya, dan juga ayahnya Adisty, ia tidak tega meninggalkan suaminya di saat suaminya tengah butuh dirinya dan juga Adisty.

__ADS_1


Namun rupanya Adisty masih terlalu kecil untuk mengerti dan mengiklaskan apa yang telah terjadi pada saat itu.


__ADS_2