
Adisty sudah sampai di apartemen nya, ia tengah membaringkan tubuhnya yang sudah sangat lelah di tambah dengan rasa kantuk yang sudah menyerang matanya.
Setelah beberapa jam tidur, alarm di ponsel nya berbunyi membuat sang pemilik dari ponsel itu bangun, dan mematikan ponsel itu lalu melemparkannya ke sembarang arah.
"Ah ngantuk, " gumamnya, namun ia harus tetap sekolah hari ini, pada dasarnya di sekolah ia akan lebih senang daripada di rumah ia hanya akan tidur seharian.
Setelah selesai beres-beres kini Adisty turun dari apartemen nya menggunakan baju seragam sekolah.
Sampailah Adisty di sekolah ia turun dari mobil seperti biasa, namun kali ini dia yang bawa mobil ke sekolah biasanya kan suka sama supirnya.
Saat ia turun ia langsung di hampiri Geri, " Di, darimana gue tadi ke rumah lu, tapi orang tua lu bilang gak tau katanya? " tanya Geri yang melihat Adisty turun dari mobilnya.
"Jangan cari gue ke rumah, gak bakalan ada di rumah. Carinya ke apartemen gue aja, nanti gue kirimin alamat nya, " balas Adisty sambil terus melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Geri tersenyum dan pergi juga ke kelasnya. Saat Adisty sampai di kelas, ia langsung duduk dan tidur di mejanya, benar-benar tidak bisa ia tahan kantuknya saat ini.
Namun tiba-tiba sebuah tangan menariknya untuk ikut dengannya, Adisty yang tangannya secara tiba-tiba sangat kaget. Orang yang menarik Adisty membawanya ke rooftop, namun saat di perjalan Geri melihat kalau Adisty di tarik oleh Raihan jadi ia memutuskan untuk mengikuti mereka.
Sampailah mereka di rooftop, Adisty melepas tangannya dengan kasar, sambil menatap ke arah Raihan.
"Apaan sih? gak bisa halus yah sama perempuan? " kesal Adisty sambil memegang tangannya yang memerah karena di tarik oleh Raihan.
"Ya gak bisa lah, gue kan makhluk kasar bukan makhluk halus, " balas Raihan sambil memasukan tangannya pada saku celana.
"Takut dong kalau gue makhluk halus mah, " lanjutnya.
"Bisa gak gak usah ngelucu, gak ada uang receh soalnya, " ketus Adisty, ia rasa lelucun Raihan kali ini sangat lah receh.
"Jangan deketin Geri! "pinta Raihan.
"Hello lo siapa? ngapain lu ngelarang gue, " heran Adisty sambil tersenyum kecut.
"Plis jangan deketin dia! dia gak baik buat lu, dia jahat sama lu, " pinta Raihan.
"Lalu bedanya sama lu apa? lu juga jahat gak pernah beri gue kepastian, " gumam Adisty dalam hati.
__ADS_1
"Dis, dengerin gue! " ucap Raihan.
"Dari tadi gue ngapain makan? kan dari tadi juga gue dengerin lu, bambank," kesal Adisty. Sedari tadi saja Adisty sudah mendengarkan obrolan membosankan ini.
Saat mendengar ucapan mereka Geri tersenyum licik, kini ia tau kalau Raihan benar-benar suka pada Adisty, namun harus Raihan tau kalau saat ini Geri juga sudah mulai suka pada Adisty.
"Dasar egois, bagaimana bisa lu jatuh cinta pada dua orang dengan satu hati, " gumam Geri sambil berjalan meninggalkan mereka di rooftop.
"Dis, dengerin gue, gue cuman gak mau lu kenapa-napa, " manis Raihan sambil menatap ke arah Adisty dengan tatapan yang sangat serius.
"Gini yah, lu tuh pernah mikir gak sih, atau lu pas Tuhan bagi-bagi otak lu hadir gak? atau pas Tuhan bagi-bagi telinga lu ada gak? kan gue udah bilang tadi, itu semua bukan urusan lu, " ketus Adisty sambil tersenyum kecut. Bagaimana seorang Raihan sang ketua OSIS yang terkenal akan kepintaran dan kejutekannya bisa bertingkah bagaikan orang bodoh saat ini.
Adisty berbalik bermaksud untuk pergi dari sana namun tangannya di tarik oleh Raihan, membuat Adisty jatuh ke pelukannya, Adisty mematung, jantungnya terasa tidak normal.
Wajahnya memerah, ia tidak tau kali ini ia harus bahagia atau sedih, "Dis, gue sayang sama lu, " ucap Raihan sambil mengelus rambut Adisty.
Jleb hati Adisty bagaikan di terbangkan melesat ke luar angkasa, senang sangking senangnya ia bahkan tidak dapat berkata apapun. Rasanya bibir dan tenggorokan nya mematung tidak bisa di gerakan.
Raihan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Adisty, wajah Adisty yang sudah memerah, "Aku sayang sama kamu, aku cinta makannya aku gak mau kamu bareng sama Geri terus, aku tau dia orang yang jahat, " jelas Raihan.
"Aku sayang sama kamu, plis turutin permintaan aku, aku mau kamu jangan deketin dia, oh iya kamu mau kan jadi pacar ku? " tanya Raihan.
Hati Adisty kini sudah benar-benar melayang tinggi bahkan hidungnya pun ikut terbang entah kemana sangking bahagianya. Adisty hanya mengangguk pada Raihan, dan tersenyum canggung, ia benar-benar canggung pada Raihan kali ini tidak seperti biasanya yang sering petakilan di depan Raihan.
"Ya udah turun yuk? ke kantin, " ajak Raihan, tadinya mereka mau masuk kelas, namun seperti nya kelas nya sudah masuk jadi mereka memutuskan untuk makan saja di kantin sekolah.
Mereka turun dan duduk di meja yang berada di dekat penjaga kantin nya.
"Mau pesen apa? " tanya Raihan.
"Apa aja lah, terserah kamu, " balas Adisty.
Raihan pergi memesankan makanan lalu setelah selesai ia langsung menaruhnya di depan dirinya dan juga di depan Adisty.
"Makasih yah, gue gak papa kan panggil sayang, kan udah pacaran sekarang, " pertanyaan bodoh dari Adisty, bagaimana ia bertanya hal yang sangat konyol seperti itu pada Raihan.
__ADS_1
"Ya ia lah, terserah lu ajalah mau panggil apa itu kan gak penting, " balas Raihan sambil menakan mie goreng pedas miliknya.
Adisty pun tersenyum mendengar ucapan Raihan barusan, namun tiba-tiba Max datang menghampiri mereka dengan nafas yang tidak beraturan.
"Rey, dia sadar, " ucap Max, sambil tersenyum bahagia.
Raihan yang sedang makan pun langsung tersendat, Adisty langsung memberikan minum pada, " Siapa yang sadar sih? " tanya Adisty sambil menatap ke arah Max dan juga Raihan bergantian.
Max menatap ke arah Adisty dengan tatapan bingung, "Gue pulang dulu yah, nanti gue ceritain, Hati-hati nanti kalau pulang, " pamit Raihan, namun sebelum pamit ia memgecup singkat puncak rambut Adisty terlebih dahulu.
Kini Max dan Raihan berlarian ke parkiran mobil, Adisty hanya bisa menatap kepergian mereka, " Siapa yang baru sadar? sampai membuat Raihan dan max begitu bahagia, apakah dia adalah orang yang mereka ributkan dengan Geri? " gumam Adisty di dalam hatinya.
Ia tidak lagi nafsu makan, rasanya selera makannya sudah pergi bersama dengan Raihan yang meninggalkan nya sendiri di sana.
Ia menggeser piringnya untuk menjauh dari hadapannya, ia menundukkan kepalanya ke atas meja, ia merasa kantuk tadi datang lagi, namun ia merasa ada orang yang duduk di depannya. Saat ia mengangkat kepalanya ternyata benar Geri duduk di depannya.
"Lu udah jadian sama reihan? " tanya geri santai.
"HM, " balas Adisty singkat.
"Lu tau gak sebenarnya di sini siapa yang jadi peran antagonis nya? " tanya Geri.
"Maksud lu? " Adisty tidak mengerti dengan ucapan Geri kali ini.
"Iya lu mau tau gak, yang jahat di sini itu siapa gue atau pacar lu? " tanya Geri sekali lagi.
"Emangnya apa yang lu tau?"
"Banyak, " balas Geri sambil meminum minuman milik Adisty sampai tandas.
"Kalau lu mau tau, ikut gue yuk, " ajak Geri sambil menyodorkan tangannya ke depan Adisty.
Awalnya ia tidak mau menerima tawaran Geri ia percaya pada kekasihnya itu namun, otaknya meminta ia agar ikut dan mengetahui apa yang terjadi sebenarnya di masa lalu Raihan.
"Tenang, gue gak bakalan gigit kok, gue mah gak suka daging perawan, " canda Geri sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
Adisty menyetujui ajakan Geri walau pun berat, namun ia harus tau kebenarannya saat ini juga agar hatinya tidak terlalu sakit jika ia tau nanti.