
Setelah beberapa jam kemudian akhirnya dekorasi panggung sudah selesai di bantu oleh anak-anak lain juga, dekorasi itu bertema warna biru dan putih. Tapi yang paling dominan adalah warna putihnya di bandingkan warna birunya.
Adisty dan Raihan kini sedang menatap panggung itu dari bawah, siapa tau saja ada beberapa kekurangan di sana. Tapi seperti nya semua sudah beres, tak terasa ini sudah siang saja.
"Ah akhirnya beres juga, " ucap Adisty sambil mengelap keringat yang membasahi wajahnya.
"Iya gak nyangka bakal sebagus ini, " timpa Raihan yang juga senang dengan kerja keras mereka.
"Kan itu semua berkat gue, " balas Adisty sambil menghadap ke arah Raihan dan menaik turunkan alisnya.
"Dih kalau ngomong bisa aja luh, ini semua karena gue tau gak, " Raihan tak mau kalah dari Adisty.
"Iya deh iya karena adanya kamu, gue lagi males marah-marah nih, lapar belum makan, " balas Adisty yang malah berdebat karena kali ini dirinya sedang lapar belum makan.
"Oh iya kamu belum makan? muka kamu pucat tau gak, makan dulu sana, gue gak mau liat lu pingsan hanya karena belum makan, " khawatir Raihan.
"Iya gue makan sekarang, " balas Adisty sambil pergi dari hadapan Raihan.
Rossy berjalan mendekati Raihan dan berdiri di sampingnya, " Perhatian banget kamu sama dia, " ucap Rossy yang juga menatap kepergian Adisty.
"Perhatian? " tanya Raihan sambil menatap Rossy.
"Iya kamu kayaknya khawatir banget kalau dia gak makan, " balas Rossy.
"Oh dia punya darah rendah, kalau gak makan dan tiba-tiba pusing kan aku sendiri yang repot, " jawab Raihan tentang kenapa dirinya khawatir sekali pada Adisty.
"Kenapa harus kamu yang repot? padahal di sini bukan hanya kamu loh, " tanya Rossy dalam hatinya, tapi ia tak mau bertanya seperti itu pada Raihan.
Ia tak mau Raihan marah padanya, " Kita makan juga yuk, kamu pasti belum makan kan? " ajak Rossy.
"Iya aku juga lapar, " balas Raihan sambil tersenyum dan pergi dari sana mencari makanan.
Adisty pergi ke kamar nya entah kenapa ia malah merasa pusing dan mual, tubuhnya bahkan saat ini agak melemas, wajahnya saja sudah sangat pucat sekali.
__ADS_1
"Adisty lu kenapa? " tanya Lily yang baru saja masuk ke kamar. Lily melihat Adisty tengah terduduk di lantai.
"Gak tau nih tiba-tiba pusing, " balas Adisty sambil memegang kepalanya.
"Ah lu belum makan yah? " tanya Lily panik sambil ikut duduk di samping Adisty.
"Iya, " balas Adisty.
"Lu masih bisa berdiri gak buat ke kasur, kalau masih bisa aku bantuin kamu deh, " Lily menyimpan Liana si kasur lalu membantu Adisty untuk ke kasurnya.
Namun baru saja Adisty akan bangun tiba-tiba tubuhnya ambruk dan ternyata Adisty pingsan sebelum sampai ke kasur. Lily semakin panik kini dirinya pergi keluar untuk meminta pertolongan, sedangkan di villa tak ada orang satu pun.
Mereka pada di luar sedang bersiap-siap di tugasnya masing-masing, saat itu Lily melihat Raihan sedang makan bersama Rossy di ruang tamu, tanpa pikir panjang lagi akhirnya Lily meminta bantuan Raihan dan tidak memperdulikan Rossy ini waktu nya sudah mepet sekali.
"Raihan, " ucap Lily dengan nafas yang tak beraturan.
"Apaan sih? " tanya Raihan sambil menatap Lily dengan tatapan aneh, Raihan dan Rossy sedang makan.
"Apaan sih? kalau ngomong tuh yang jelas napa, kita tuh sengaja makan di dalem biar gak ada yang ganggu, eh elu malah datang dan bicara gak jelas, " balas Raihan yang ternyata sengaja makan di sini agar tidak ada yang menggangu nya.
"Adisty, itu Adisty, " Lily masih sangat susah sekali untuk bicara apa yang terjadi pada Adisty.
"Adisty kenapa? " Raihan tiba-tiba berdiri dan memberikan piring makanannya pada Rossy sambil menatap Lily dengan tatapan tajam.
"Adisty pingsan, " balas Lily yang akhirnya mengucapkan apa yang terjadi pada Raihan.
Saat Lily akan bicara lagi pada Raihan apa yang harus Raihan lakukan dan apa maksud dirinya panggil Raihan, pria itu malah telah berlari ke kamarnya Adisty tanpa mendengarkan lagi ucapannya Lily.
"Ih aku belum selesai bicara, " kesal Lily sambil ikut berjalan mengikuti Raihan.
Rossy menatap itu sambil mengelus dadanya, sebenarnya rasanya amat sangat teramat sakit. Tapi pada nyatanya ia tak bisa melakukan apapun atau bahkan melarang Raihan melakukan hal itu, ia sadar kalau status hubungannya bersama Raihan baru sebatas pacaran.
Dan kalau masih pacaran tak seharusnya melarang apapun yang pasangan kita lakukan, apalagi itu adalah kebaikan. Jadi kali ini Rossy berpikir positif saja, mungkin Raihan panik sekali karena Adisty adalah sahabat nya saja.
__ADS_1
Rossy menyimpan kedua piring makan yang saat ini berada di tangannya ke meja makan, lalu Rossy pergi mengikuti mereka masuk ke kamar yang katanya Adisty sedang pingsan di sana.
Di kamar Raihan sudah memindahkan Adisty ke kasur lalu menyelimuti Adisty dan dirinya duduk di samping Adisty dengan raut wajah yang khawatir dan panik.
"Adisty bangun dong, " pintar Raihan sambil memegang tangannya Adisty dengan erat.
"Gue ambilkan minyak angin yah, " Lily pergi menuju kamarnya April untuk mengambil minyak Angin.
Kebetulan di kamar itu April ada di sana jadi Lily hanya tinggal mengambilnya saja, setelah itu Lily kembali ke kamarnya, saat Lily sudah kembali ia melihat Rossy juga ada di sana tengah duduk di sofa melihat Raihan yang sedang memegang tangannya Adisty.
Lily tau apa yang dirasakan Rossy saat ini pasti sangat sakit, tapi tak bisa melakukan apapun. Lily berjalan mendekati Raihan lalu memberikan minyak angin itu pada Raihan, Raihan langsung mengoleskannya ke hidung dan kaki Adisty.
Setelah beberapa menit kemudian Adisty pun mulai membuka matanya perlahan dan menatap Raihan, " Rey, " ucap Adisty lemah.
"Kamu udah bangun? kamu makan yah, " titah Raihan sambil membantu Adisty untuk bangun dan memintanya untuk makan.
Tadi Lily sudah mengambilkan makanan untuk Adisty.
Adisty setelah duduk malah tak mau membuka mulutnya ia saat ini tak mau makan apapun sama sekali.
"Makan Adisty! " titah Raihan yang sudah menyuapi Adisty.
"Aku gak mau, " balas Adisty yang tak mau makan.
"Kamu mau makin sakit? ini juga gara-gara kamu belum makan tau gak, " ucap Raihan yang memaksa Adisty untuk makan.
Adisty hanya menatap wajahnya Raihan tanpa mau menjawab ucapan Raihan, ia tau itu hanya buang-buang tenaga saja.
"Beberapa suap aja, " kekeh Raihan.
Adisty pun mengangguk menyerah, karena Raihan akan selalu memaksa dirinya jika sampai tidak dituruti keinginan nya apapun itu.
Lily kembali menatap ke arah Rossy dan merasa sedikit bersalah karena memanggil Raihan untuk membantu dirinya, tapikan tadi Lily tak punya pilihan lain selain memanggil Raihan.
__ADS_1