Kisah Cinta Yang Konyol

Kisah Cinta Yang Konyol
21,Kebenaran


__ADS_3

Adisty bingung kenapa Geri mengajaknya ke rumah sakit, ini baru pukul 9 pagi, namun Adisty tidak mau banyak bertanya, ia membiarkan Geri menariknya ke tempat yang Geri ingin tunjukkan padanya.


Langkahnya terhenti saat langkah Geri terhenti di depan ruang rawat melati nomor 13, ia menatap ke arah Geri seakan mengisyaratkan apa yang ada di dalam ruangan ini?


"Liat aja sendiri, tuh dari jendela, " titah Geri sambil menunjuk kaca besar di sebelah kanan, Adisty menatap kaca besar itu, sementara Geri duduk di kursi tunggu.


Adisty mulai melangkahkan kakinya perlahan menuju kaca itu, berbagai macam pikiran mengacaukan otak nya, hingga sampailah ia di kaca itu awalnya ia menutup matanya lalu setelah sampai di sana ia mulai membuka matanya perlahan.


Perasaanya di selimuti oleh berbagai bertanyaan, namun ada sedikit rasa sakit di hatinya, "Siapa dia? adiknya? kakaknya? atau bahkan pacarnya?" gumam Adisty dalam hatinya, saat melihat Raihan di dalam tengah bersama dengan wanita lain.


Terlihat dari mata Raihan ia sangat senang orang itu bangun, bahkan matanya memancarkan sebuah rasa cinta yang begitu dalam di keduanya.


Geri yang melihat Adistya menangis di depan kaca itu langsung menghampiri nya dan merangkul Adisty, " Lu udah tau kan sekarang? " tanya Geri sambil memandang ke arah depan, yaitu ke arah Raihan, Max dan juga wanita itu.


"Dia siapa? " tanya Adisty dengan suara yang serak, sambil menunjuk ke arah wanita yang tengah tertawa bersama Raihan dan juga Max.


"Dia adik si Max, sekaligus mantan gue, wanita yang dulu gue cinta namun Raihan malah rebut dia dari pelukan dan juga hati gue, " balas Geri sambil merubah tatapannya.


Adistya melihat ke wajah geri yang terlihat kalau ia masih juga sayang dengan wanita itu, terlihat dari matanya dan juga wajahnya yang memerah karena masih kesal melihat wanita itu bersama Raihan.


"Se berharga apa sih dia? sampai kalian rebutin? " tanya Adisty sambil tersenyum kecut, ia rasa wanita itu tidak lebih baik dari dirinya.


"Dia itu polos sama kayak lu, dia emang biasa buat orang yang baru kenal dia, tapi dia bisa buat orang terus khawatir sama dia, " balas Geri.


"Apa gue perlu jadi dia agar Raihan jatuh cinta sama gue sepenuhnya? "


"Lu gak perlu jadi dia, cukup jadi diri luh sendiri, tiap orang itu memiliki ke istimewa nya masing-masing, " balas Geri sambil menatap ke arah Adisty lalu tersenyum ke arahnya, rasa ingin memiliki Adisty kini semakin dalam.


"Pulang yuk, " ajak Geri.


"Gak, gue mau nunggu Raihan keluar dan mau tanya langsung siapa dia, " ucap Adisty sambil berjalan menuju kursi tunggu tepat di samping pintu masuk.

__ADS_1


"Gue juga bakal di sini jagain lu, siapa tau lu di gerumutin nyamuk, " ucap Geri sambil mengikuti Adisty dan duduk di sampingnya.


"Bisa aja lu kalau ngomong, " balas Adisty sambil tersenyum, setelah beberapa menit menunggu Raihan yang tak kunjung keluar.


Rupanya Adisty kembali mengantuk, ia sampai ketiduran di pundak Geri, Geri langsung merangkul Adisty agar ia tidur nya nyaman.


Sudah hampir satu jam mereka menunggu Raihan keluar namun tak kunjung keluar, Geri menidurkan Adisty di kursi itu dan kakinya ia jadikan bantal untuk kepala Adisty.


Suara pintu di buka membuat Geri kembali tersadar tadinya ia sudah mulai akan terlelap dalam tidurnya, "Lu, " kaget Raihan saat melihat ada Geri dan juga Adisty di sana.


"Kenapa lu? takut kalau pacar lu tau yang sebenarnya? bahkan kekasihnya yang ia banggakan hanya seorang penghianat, " ucap Geri sambil mengganti bantal Adisty dengan tas miliknya, ia berdiri di depan Raihan.


"Lu gak usah ikut campur, " bentak Raihan, Tiba-tiba Max datang dan melerai mereka.


"Udah gak usah ribut di sini, gak baik, ini rumah sakit, " lerai Max.


"Ya siapa juga yang bilang ini rumah hantu" ketus Geri sambil tersenyum kecut sambil memalingkan tatapannya.


Awalnya Raihan ingin melarangnya namun Max, meminta Raihan untuk membiarkan Geri melihatnya dia tidak akan melukai Bulan.


Geri masuk dan berjalan perlahan menuju ranjang yang di sana ada seorang gadis tengah tertidur, "Wajah yang tetap sama seperti dulu, " gumam Geri, ia duduk di samping tempat tidur Bulan.


Bulan membuka matanya dan ia melihat Geri, lelaki yang pernah ia hianati beberapa waktu yang lalu, ia meneteskan airmata nya merasa bersalah atas apa yang pernah ia lakukan pada lelaki yang berada di depannya.


"Jangan nangis nanti kamu gak cantik lagi, " ucap Geri sambil menghapus air mata yang berada di pipi mulus Bulan.


Bulan memegang tangan Geri, sambil terus berkata maaf pada nya, " Gak usah bilang maaf, gue tau kalau hati itu gak bisa di kontrol oleh pemiliknya, " balas Geri.


"Tapi gue udah bikin lu sakit Geri, gue minta maaf atas waktu itu, " ucap Bulan sambil menangis dan terus memegang tangan Geri.


"Gue juga minta maaf, udah bikin lu kayak gini, dulu yang harusnya kayak gini itu si Raihan bukan lu, " ucap Geri, terlihat ia sangat marah ketika mengingat kejadian saat itu.

__ADS_1


"Udah ini takdir gue Geri, lu jangan merasa bersalah apalagi sakitin Raihan, " mohon Bulan.


"Untuk yang kali ini, gue gak bisa janji sama lu, gue udah sangat marah sama dia, dia kali ini juga udah rebut orang yang gue sayang, kenapa sih tu anak suka ngerebut orang yang gue sayang, " ucap Geri tak habis pikir.


"Plis Geri, jangan sakitin dia Geri, gue mohon, " pinta Bulan namun Geri tidak menghiraukan ucapan Bulan, ia malah keluar dan menghadap ke arah Raihan.


"Gue tunggu lu di tempat waktu itu, kita selesai apa yang harusnya kita selesaikan dulu, nanti malam pukul 10, kalau lu gak datang gue bakal buat lu menyesal, dan inget jadi orang itu jangan egois, kalau udah satu yah udah dong, " tegas Geri sambil berjalan keluar dari rumah sakit itu.


"Lu bakalan dateng? " tanya Max, sambil menatap kepergian Geri.


"Gue harus dateng, dia bener gue harus menyelesaikan apa yang harusnya gue selesaikan dulu, " ucap Raihan dingin, ia menatap ke arah Adisty yang tengah tertidur di sana.


"Dis, bangun pulang yuk, " Raihan membangunkan Adisty dan mengajaknya pulang.


Adisty membuka matanya perlahan dan melihat ada kekasihnya tepat di depan mata nya.


"Pulang yuk, " ajak Raihan.


Adisty malah menatapn Raihan seakan meminta penjelasan pada Raihan saat ini juga, " Panjang ceritanya, gue gak bisa ceritain ini sekarang, " ucap Raihan seakan-akan ia tau apa yang ada di pikiran Adisty saan ini.


"Terus kapan?" tanya Adisty sedikit nyolot.


"Nanti yah, " balas Raihan datar sambil menghindari tatapan dari Adisty.


"Kenapa? gak akan berubah kan ceritanya, apa lu mau ngarang cerita dulu hah, " ketus Adisty sambil tersenyum kecut. memang seberat apa cerita itu untuk Raihan sampai ia tidak mau menceritakan nya.


"Bisa gak, gak usah bahas ini dulu, yuk kita pulang, " Raihan menarik kasar tangan Adisty.


Adisty melepaskan tangannya kasar, dan menarik Raihan agar menatapnya, "Kenapa ajak gue pulang, mau kangen-kangenan sama dia? " ucap Adisty.


"Silahkan gue gak bakal larang lu kok, gue kan baru pacar lu bukan isteri lu, jadi lu masih bebas mainin perasaan gue, gue bisa pulang sendiri naik Grab, " lanjut Adisty sambil berjalan dan mengambil tas Geri, lalu pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2