
Setelah pulang sekolah kini Adisty dan Reihan tengah berada di ruang musik sekolah, mereka akan berlatih untuk acara yang di adakan beberapa hari lagi.
Tapi mereka masih bingung dengan lagu apa yang mereka akan bawakan di acara itu, "Yang mau lagu apa sih? " tanya Adisty yang sudah pusing, mereka memilih lagu sudah hampir satu jam.
Mereka di sana tidak berdua, ada juga siswa yang lain yang juga tengah berlatih musik untuk hari minggu nanti.
"Aku tuh bingung yang, " balas Reihan sambil menatap ke arah Adisty.
"Ini aja lah yang, " Adisty memberikan teks lagu yang berada di ponsel nya.
"Boleh, " akhirnya setelah beberapa banyak pilihan lagu, mereka kini sudah memutuskan untuk membawakan lagu itu.
Mereka mulai mengetes gitar dan juga nada suara Adisty, namun menurut Raihan suara Adisty masih bisa di dengar, walau tidak sebagus penyanyi aslinya sih memang.
"Udah ah, suara ku udah mulai abis, " ujar Adisty ia sudah merasa kalau dirinya sudah capek, lagi pula ini sudah mulai sore.
"Ya udah pulang aja yuk, " ajak Raihan sambil menyimpan kembali gitarnya ke tempat semula ia mengambil nya.
"Semuanya kita pulang dulu yah, " pamit Adisty sambil membungkuk pada murid yang masih berlatih di sana.
"Iya, " balas mereka serentak, Adisty dan Raihan saling berdampingan menuju ke gerbang sekolah.
"Mau ke mall dulu? " tanya Raihan.
"Males sih, tapi kayaknya aku harus ketemu sama anak-anak udah lama gak ke sana, " balas Adisty sambil memegang tangan Raihan.
"Ya udah, ke mall dulu aja yuk, " akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke mall terlebih dahulu untuk membeli baju, karena Adisty waktu itu sudah janji mau ke sana dan membelikan mereka baju baru.
"Sjlahkan masuk tuan puteri, " Raihan membukakan pintu mobil Adisty, mereka ke mall dengan berbeda kendaraan, karena Raihan membawa motor sedangkan Adisty juga membawa mobilnya.
Jadi mereka ke sana menggunakan dua kendaraan, mereka berdampingan membawa kendaraan nya.
Hingga kini sampailah mereka di mall, dan mereka langsung pergi menuju toko pakaian anak-anak, "Yang kayaknya yang ini lucu deh, " ujar Adisty sambil menujuk baju anak perempuan yang berwarna pink.
"Berapa orang mereka? aku gak sempet hitung," tanya Raihan sambil melihat ke arah Adisty yang berada di depannya.
"Bentar, aku juga lupa yang, " balas Adisty sambil berpikir.
"Ah kamu mah gimana sih, bukannya kamu sering ke sana, " ujar Raihan tak habis pikir.
"Tapi kan aku ke sana bukan buat ngitung mereka, " balas Adisty tidak mau di salahkan.
__ADS_1
"Lalu kamu mau beli baju laki berapa perempuan berapa? " tanya Raihan.
"Aku gak tau yang, " balas Adisty sambil cengengesan, dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Dasar, terus gimana sekarang? " Raihan memukul pelan kening Adisty, sambil mengerutkan wajahnya.
"Aku gak tau, " Adisty benar-benar tidak tau harus membeli berapa baju untuk mereka.
"Ah kamu mah, " geram Raihan sambil mencubit pipi Adisty gemas.
"Bentar aku telpon mba Karina nya dulu, " ucap Adisty sambil mengambil ponsel dalam tas, setelah ia tau akan membeli berapa baju, mereka pun belanja baju untuk anak-anak.
Setelah selesai membeli baju, kini mereka sudah berada di dalam mobil mereka akan pergi ke rumah anak-anak, kini hari sudah mulai malam. Mobil Adisty tiba-tiba mogok jadi Adisty terpaksa harus menelpon bengkel dan menyimpan mobilnya di jalan. Sementara ia bersama Raihan saat ini.
"Yang, ponsel kamu bunyi deh kayaknya, " ucap Raihan.
"Bentar, " Adisty langsung membuka tas nya dan mengambil ponsel, namun bukannya mengangkat telpon Adisty malah menyimpan nya kembali.
"Siapa? kok gak di angkat? " tanya Raihan heran.
"Bokap, " mimik wajah Adisty mendadak berubah, ia masih kesal dengan makhluk yang satu itu.
"Aku gak peduli yang, emangnya apa yang penting buat dia, palingan juga dia mau marah-marahin gue, " balas Adisty kesal.
"Jangan gitu lah, bagaimana pun dia itu ayah kamu, " ujar Raihan.
"Tapi dia sendiri kok yang bilang sama aku, kalau dia udah bukan bokap aku lagi, " balas Adisty sinis.
"Udah ah yang, jangan bicarain ini sekarang, aku lagi males berantem, " lanjut Adisty, ia malas membahas tentang ayahnya ini, sudah terlalu banyak luka yang ayahnya berikan pada dirinya.
Kini mereka telah sampai di rumah anak-anak jalanan itu, Adisty dan Raihan turun dari mobilnya sambil membawa barang belanjaannya, namun seperti nya mereka tidak akan lama berada di sana, karena ini sudah malam, dan Adisty pun sudah kelelahan.
"Permisi, " ucap Adisty sambil mengetuk pintu.
Seorang anak perempuan membuka pintu itu lalu setelah tau siapa yang membuka pintunya, ia langsung memeluk Adisty di ikuti oleh Anak-anak lainnya.
"Kak, kita kangen banget loh sama kak Adisty," ucap anak perempuan yang memeluk Adisty.
"Kakak juga kangen sama kalian, " Adisty membalas pelukan mereka, setelah beberapa detik berpelukan kini Adisty melepaskan pelukannya, sambil memberikan baju yang tadi ia beli untuk mereka.
"Kak, kita gak minta ini loh, dengan kedatangan kakak aja kita udah seneng, " ucap salah satu anak yang umurnya lebih tua dari yang lainnya.
__ADS_1
Adisty berjongkok di hadapannya, " Yang beliin ini bukan kakak, tapi kak Raihan, dia ikhlas kok beliin ini buat kalian, maaf yah kalau kakak belum bisa kasih kalian, " balas Adisty sambil memegang pundak anak itu.
"Kak makasih yah, " ucap anak itu sambil menatap Raihan.
"Sama-sama, " balas Raihan.
"Tapi kakak minta maaf yah, kakak gak bisa lama di sini soalnya kakak harus pulang, ini udah malam, " ujar Adisty sambil kembali berdiri.
"Gak papa kok kak, kita cuman mau mastiin kakak baik-baik aja, lain kali main lagi ke sini ya kak? " balas anak tadi sambil tersenyum manis.
"Ya sudah kakak sama kak Raihan pamit pulang dulu yah, " pamit Adisty, kini Raihan dan Adisty pun langsung naik ke mobilnya, dan kembali meneruskan perjalanan nya.
"Mereka sayang banget yah sama kamu, " ujar Raihan.
"Aku juga sayang mereka, " balas Adisty.
"Aku udah anggap mereka adik ku lagi, " sambung Adisty, Tiba-tiba ponsel Adisty kembali berbunyi, kali ini mamahnya yang menelpon, namun lagi-lagi ia tidak mau mengangkat nya.
"Angkat aja kenapa sih? " titah Raihan ia takut ada sesuatu yang terjadi pada mereka, atau ada hal yang penting.
Adisty menatap ke arah Raihan sekilas, lalu kini ia mengangkat telpon ibunya, " Halo sayang, akhirnya kamu mau angkat telpon nya, " ucap ibunya Adisty.
"Sayang papah sakit, " ucap ibunya panik.
"Terus, " balas Adisty datar sambil tersenyum kecut.
"Sayang papah mau ketemu kamu, dia mau minta maaf sama kamu sayang," ujar ibunya, sambil menangis.
"Minta maaf? kenapa baru sadar sekarang, apa harus Tuhan buat dia sakit dulu agar mau minta maaf sama aku, kemana aja dia selama ini? " balas Adisty sedikit nyolot.
"Sayang, papah sakit parah yang, kamu harus liat dia, dia mau ketemu sama kamu, " mohon Ibu nya.
"Dulu waktu aku sakit kalian juga gak pernah ada di samping aku, terus kenapa sekarang dia sakit aku harus ada di samping dia, yang benar saja, " ucap Adisty tak habis pikir.
"Ini beda sayang. "
"Apa bedanya, dia sakit, aku juga sakit, dari mana perbedaan nya, " balas Adisty.
"Dia ayah kamu. "
"Oh jadi kalau ayah kita sakit kita harus rawat dia, jagain dia, setelah apa yang dia lakukan pada anaknya sendiri, sedangkan anaknya kalau sakit gak perlu di urusin, oh iya, dia sendiri loh yang bilang kalau aku udah bukan lagi anaknya, mungkin yang dia maksud anak itu bukan aku. Anak selingkuhannya kali," balas Adisty sambil mematikan telponnya, ia juga mematika ponsel nya, yang langsung ia masukan kembali ke tasnya.
__ADS_1