
Beberapa saat kemudian pesawat tinggal landas. Selama sembilan jam perjalanan dengan destinasi ke Jakarta Sean tampak duduk tenang dalam pesawat.
Ada saja kesibukan yang dilakukan oleh lelaki itu dalam pesawat. Lama dia mendengarkan lagu melalui headsetnya mendengarkan alunan musik jazz yang akhirnya membuatnya tertidur setelah tiga jam mendengarkannya.
Empat jam berikutnya dia terbangun dari tidurnya dan menatap ke samping.
“Penumpang di sampingku sudah tidur.”ucapnya saat melihat seorang lelaki yang sudah tertidur pulas. Dia kemudian melihat ke belakang dan mendapati penumpang di belakangnya tidur pulas Begitu juga dengan penumpang lainnya yang ada dalam pesawat itu.
“Jam berapa sekarang ?”gumamnya lagi kemudian menatap arloji di tangannya yang menunjukkan waktu sudah sore hari.
Dia pun melepas headsetnya dan memasukkan kembali dalam saku jaketnya. Dua jam lagi selamat akan tiba di Jakarta. Sambil menunggu pesawat tiba di tempat tujuan dia pun mengeluarkan buku saku tentang resort yang akan dikunjunginya kali ini.
“Srak...”Sean membalik halaman demi halaman membaca buku saku panduan yang dibelinya sebelum keberangkatan nya.
Tak lama kemudian dia menutup kembali buku tadi setelah selesai membacanya.
Karena masih lama dia pun mengeluarkan mainan rubik dan mulai mengotak-atiknya sampai akhirnya semua warna berhasil dia buat klop.
“Hmm... masih lama...”gumam lelaki itu kembali menatap arloji di tangannya.
Karena tak ada yang bisa dia lakukan lagi. Dia pun memakai kembali kacamata hitam yang tadi dilepasnya dan menyadarkan kepalanya di bantalan kursi menatap pemandangan awan dari jendela.
Satu jam kemudian akhirnya pesawat mendarat di bandara Jakarta. Sean turun dari pesawat berjalan keluar dari airport.
Di luar bandara dia berdiri di tepi jalan untuk menunggu taksi.
“Taxi... !”ucap Sean berteriak saat melihat taksi melintas di depannya. Namun taksi yang dipanggilnya tak berhenti.
“Mungkin sopir taksi itu tidak mendengar suaraku...”gumamnya melihat taksi yang dia panggil melintas di depannya. Dia pun mengulangi lagi dan berteriak lebih keras saat sebuah taksi melintas di depannya.
__ADS_1
“Taxi... !”panggil Sean lagi namun lagi-lagi taksi tadi tidak berhenti.
“Apa ada yang salah dengan cara ku memanggil taksi ?”batinnya lagi setelah gagal mendapatkan taksi. Namun dia tak patah semangat dan mengulanginya sampai beberapa kali. Namun tetap saja pada taksi yang berhenti.
Seorang wanita yang berdiri tak jauh dari tempat Sean berada tampak tersenyum melihat nya berulang kali gagal memanggil taksi. Wanita itu pun mendekat dan menghampiri Sean.
“Apa kau memanggil taksi ? Aku akan membantu mu ?”ucap seorang wanita paruh baya bertanya padanya.
Sean sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan wanita itu, dia hanya mengerti kata taksi saja dan selebihnya tidak tahu.
“Apa yang diucapkan wanita ini aku sama sekali tidak mengerti. Apa maksud nya dia mau membantuku atau mengajakku naik taksi dengan dia...”batin Sean menebak-nebak sendiri apa yang diucapkan oleh wanita tadi. Dan dia pun mencoba berpikiran positif padanya.
“Sorry miss I can't speak in your language. Please help me get the taxi.”jawab Sean meminta tolong pada wanita paruh baya itu.
Wanita itu juga tidak tahu apa yang diucapkan oleh Sean.
“Oke mister... semoga saja maksud mu kau meminta tolong padaku untuk mendapatkan taksi. Aku akan membantumu.”balas wanita tadi sambil tersenyum dan memandangi wajah bulenya.
“Pak... taksi.... !”panggil wanita tadi sambil mengayunkan tangannya ke depan. Seketika taksi tadi berhenti dan membukakan pintu untuk mereka.
“Thanks for helping me madam...”ucap Sean berterima kasih pada wanita tadi.
Wanita tadi tersenyum kemudian pergi meninggalkannya dan memanggil taksi lagi untuk dirinya.
Sementara di dalam taksi, sopir segera melajukan taksi setelah Sean duduk.
“Pak mau diantar ke mana ?”tanya sang sopir pada Sean.
Sean yang tidak mengerti apa yang diucapkan lelaki itu tapi bisa menebaknya apa yang dimaksud, menimpalinya.
__ADS_1
“Sir... help me please to the hotel nearby Anyer Beach.”jawab Sean pada sang sopir.
Sopir tadi juga tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Sean. Dia hanya mengerti kata hotel dan Anyer saja.
“Apa yang di maksud dia minta diantar ke hotel dekat Pantai Anyer ?”batinnya menduga-duga sendiri.
“Baik pak...”jawab sang sopir kemudian melanjutkan taksi menuju ke jalanan menuju ke Pantai Anyer.
Melihat Sean yang merupakan seorang bule dan terlihat bukan orang biasa, dia pun memutuskan untuk menurunkan Sean di depan sebuah hotel berbintang lima yang ada di sana.
“Sudah sampai pak...”ucap sang sopir menghentikan taksi di depan sebuah hotel.
“Okay tank you. This is for the payment.”ucap Sean menyadarkan sejumlah uang pada sang sopir.
Sopir taksi tadi mengembalikan sisa uang yang diberikan oleh Sean padanya.
“No... thanks sir, just take it for you as my tip.”jawab Sean menolak uang kembalian yang diberikan padanya dan meminta lelaki itu menyimpannya saja.
“Ternyata orang disini ramah... sayangnya aku tak mengerti bahasa mereka.”batin Sean menatap sang sopir yang menurutnya jujur.
Sean turun dari taksi dan melihat bangunan hotel tinggi di depannya. Dia berjalan masuk untuk memesan sebuah kamar.
“Semoga saja para staf ada di hotel ini bisa mengerti bahasa ku.”batin Sean.
Sean menghampiri resepsionis dan menyampaikan maksudnya.
“Miss... I need a single room here for three days. Could I reservoir the room ?”ucap Sean memesan kamar untuk dirinya.
Untungnya petugas resepsionis itu mengerti apa yang diucapkannya dan memberinya sebuah kunci ruangan. Dia pun rasa senang saat ada room boy yang membantunya mengangkat barang bawaannya dan menunjukkan kamarnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....