
Di lain tempat terlihat Amndine sedang berada di sebuah Swalayan bersama Ben. Dia belanja kebutuhan sehari-hari.
“Tunggu... apa lagi yang kurang ?” ucap Amndine menghampiri Ben yang sedang mendorong troli berisikan barang belanjaan Amndine.
Wanita itu memeriksa catatan dan mencocokkannya dengan barang yang sudah dia masukkan ke troli.
“Selai raspberry... oat pisang kesukaan mu belum.”gumam wanita itu menemukan apa yang kurang.
Amndine kembali berjalan menuju ke outlet selai dan oat. Dia kemudian mengambil beberapa pack selai dan oat pisang untuk suaminya.
“Ayo kita ke kasir sekarang.”ucap Amndine pada Ben saat memasukkan beberapa pack selai dan oat yang diambil ke troli.
Ben kembali mendorong troli sedangkan Amndine berjalan di depannya dan berhenti di meja sebuah kasir.
“Nyonya total belanjaan nya xxx $.”ucap petugaskasen menyebutkan sejumlah nominal setelah menghitung semua belanjaan.
Amndine mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayar.
“Maaf nyonya kartu anda tidak bisa digunakan.”ucap petugas kasar menyerahkan kembali kartu kredit pada Amndine.
Amndine kemudian mengeluarkan tiga kartu kredit lainnya dan menyerahkannya pada petugas kasir.
“Maaf nyonya kartu yang barusan anda serahkan juga tidak bisa dipakai.”ucap petugas kasir menyerahkan tiga kartu kredit kembali pada Amndine.
Wanita itu terkejut Kenapa bisa semua kartunya tak bisa digunakan padahal sehari sebelumnya tak ada masalah dengan kartu kreditnya.
Amndine kemudian meminta waktu sebentar pada petugas kasir. Dan dia segera menelepon pihak bank yang bersangkutan. Betapa terkejutnya dia saat mendapatkan konfirmasi jika semua kartu kreditnya sudah diblokir.
__ADS_1
“Ben ada sedikit masalah... tolong bayar dulu dengan kartu kredit mu.”ucap Amndine berbisik lirih pada Ben.
Ben segera mengeluarkan kartu kreditnya dan menyerahkan pada petugas kasir. Tak sama kemudian mereka keluar dari swalayan dengan menenteng banyak barang belanjaan.
Amndine duduk di mobil dan dia mencoba menghubungi nomor Austin untuk meminta keterangan lebih lanjut.
“tuut... tuut... tuut... !”
“Sialan ! Si tua itu sudah memblokir semua kartu kredit ku. Dan parahnya lagi dia juga memblokir nomor ku !”ucap Amndine tampak kesal setelah berulang kali mencoba menghubungi nomor Austin dan gagal.
Di lain tempat di Dublin, seorang wanita sedang duduk di sebuah ruangan tempatnya bekerja dengan membawa beberapa foto gadis cantik dan menjajarnya di meja.
“Gadis keturunan Jerman memang memukau. Tak hanya fisiknya yang sempurna tapi juga behaviour-nya oke.”ucap wanita itu menata foto cantik gadis keturunan Jerman satu per satu.
“klak...”seorang lelaki membuka pintu dan masuk ke ruangan.
“Apa yang kau lihat sayang ?”ucap lelaki itu berdiri di samping sang wanita dan melihat deretan foto beberapa gadis ada di meja.
“Untuk apa kau mencari seorang gadis ?”jawab lelaki tadi sambil menatap deretan foto di meja sambil menunjuk satu foto seorang gadis yang menurutnya cantik.
“Putra kita sudah cukup umur dan saatnya menikah. Dia membutuhkan seorang wanita yang akan membantunya mengurus perusahaan besar kita.”jawab wanita itu sambil tersenyum lebar mengambil foto yang ditunjuk oleh lelaki tadi dan melihatnya.
“Hmm.... apa kau tidak sikap keras kepala putramu ? Apa mungkin dia mau menerima perjodohanmu ? Sedangkan di sana dia punya banyak wanita yang selalu mengelilinginya.”jawab lelaki tadi duduk dan mengapa kembali foto yang diambil oleh sang wanita.
“Aku tidak tahu. Aku hanya ingin memberikan hadiah untuk nya saja. Siapa tahu dia menyukai hadiahku dan aku akan memberikan padanya besok saat kita kembali ke Perancis.”jawab wanita tadi sambil tersenyum lebar dan kembali memilih satu foto gadis cantik lainnya.
Di rumah Austin. Terlihat lelaki itu duduk termenung dan sedang berpikir mendalam.
__ADS_1
“Bagaimana agar semua asetku bisa berpindah tangan pada Alexa ?”gumam lelaki itu mencari cara untuk mengalihkan asetnya pada satu-satunya putri kandungnya yang masih berstatus sebagai anak tunggal dari Helena tanpa seorang ayah.
“klik...”Austin menekan tombol Hitam yang ada di meja.
“tap... tap... tap...” Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki menuju ke ruangannya.
“klak... ada apa tuan Austin memanggilku ?”ucap seorang lelaki berdiri menghadap.
Austin menyerahkan kartu keluarga nya dan menyerahkan pada anak buahnya.
“Bawa ini dan rubah status kekeluargaan ku. Ganti nama Bryan dengan Alexa.”ucap Austin menjelaskan pada anak buahnya.
Anak buah Austin diam dan bertanya-tanya kenapa tiba-tiba tuannya mencoret nama tuan Bryan dari catatan kekeluargaan dan tiba-tiba menggantikan nama itu dengan Alexa, gadis yang sebelumnya diburu oleh tuannya itu.
“Maaf tuan tapi... apa tuan yakin mau merubahnya ?”ucap anak buah Austin bertanya daripada dia salah menjalankan tugas dan dirinya tetap disalahkan.
“Tentu saja aku yakin pada semua keputusan yang ku ambil. Bryan bukan anak kandungku.”balas Austin lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruangan.
Anak buah Austin tadi segera berjalan mengikuti Austin keluar dari ruangan dan segera menjalankan perintah tuannya.
“Jadi... gadis selama ini diburu oleh tuan Austin adalah putri kandungnya ? Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi ?”batin anak buah asem menetap kartu keanggotaan keluarga milik tuannya masih tak percaya dengan fakta yang barusan terungkap.
Sementara Austin kembali masuk ke ruangan pribadinya tempat di mana dia menyimpan semua barang berharganya di sana.
Austin menatap foto seorang wanita di dinding dan mengambilnya.
“klak... klak...” sebuah pintu terbuka setelah foto tadi diambil. Dan di sana terdapat banyak brankas besi dengan kode kunci tanggal lahir wanita yang dia sayangi.
__ADS_1
“Helena meskipun aku tak sempat membuat bahagia, tapi ku harap aku bisa memberikan sesuatu yang harusnya aku berikan padamu pada putri kita.”gumam Sean menatap foto yang masih dia pegang dan menunjukkan pada foto itu puluhan brankas besi yang ada di sana.
BERSAMBUNG....