
Tak lama kemudian Alexa tiba di penginapan tempatnya menginap. Taksi itu berhenti dan Alexa segera keluar dari taksi kemudian menyerahkan beberapa lembar uang pada sang sopir.
Alexa menyeberang jalan dan tiba di depan tempat yang menginap. Dengan langkah kaki santai gadis itu berjalan masuk menuju ke kamarnya.
“klik... !”Alexa segera mengunci pintu setelah masuk ke dalam kamar.
Saking senangnya gadis itu melompat ke tempat tidur.
“Akhirnya aku mendapatkan kembali liontin ku...”ucap Alexa duduk di tempat tidur.
Gadis itu kemudian mengeluarkan gelang yang dia ambil tadi dari saku bajunya. Alexa melihat liontin nya dan menciumnya.
“Ibu... aku sudah mendapatkan kembali liontin dari mu...”ucap gadis itu tak henti-hentinya tersenyum karena senang.
Alexa masih memegang gelang Sean. dia melihat mengambil liontin itu dan memasangnya kembali ke kalung yang dikenakan saat ini.
“Tapi bahan dari gelang ini bagus dan mahal, sayang sekali jika ini dibuang begitu saja.”ucap Alexa saat melihat gelang Sean yang bahan dan desainnya khusus.
Alexa memutuskan untuk tidak membuang gelang milik Sean dan biarkan liontin nya masih terpasang di gelang itu.
“Mungkin untuk sementara waktu tak masalah jika liontin ini tetap berada di gelang ini.”gumam gadis itu lagi membatalkan melepas liontin dari gelang.
Alexa kemudian memakai gelang Sean di tangan kanannya.
“buk...”Alexa merebahkan dirinya di tempat tidur sambil terus menatap gelang di pergelangan tangan kanannya.
Sementara itu di lain tempat di perusahaan Sean.
Sean masih berada di ruang tes dan sedang melakukan tes interview dengan beberapa peserta tes.
Seorang gadis berdiri dari kursi yang ada di depan Sean. Dia keluar dari ruangan tes bisa dia menyelesaikan tes interviewnya.
“Huft....”Sean menghembuskan nafas panjang setelah peserta tes yang di interviewnya keluar.
“Masih ada berapa peserta tes lagi yang akan di interview... aku sudah merasa lelah...”batinnya.
Lelaki itu mengangkat telepon yang ada di meja dan menelepon HRD yang saat ini berada di ruang tes tulis.
__ADS_1
“Halo... di ruangan itu masih ada berapa peserta tes yang akan ikut tes interview ?”tanya Sean saat telepon tersambung.
Staf HRD yang ada di ruangan itu tak langsung menjawab Sean dan melihat data absensi yang dia pegang.
“Tuan Sean... disini masih ada seratus peserta tes yang masih menunggu.”jawab staf HRD memberikan informasi.
“Baik terima kasih...”balas Sean lalu menutup telepon.
“Aku ingin kembali ke ruangan ku.”gumam Sean sambil melihat staf HRD lainnya yang masih sibuk melakukan tes interview.
Sean berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri staf HRD yang ada di sebelahnya yang sedang menginterview seorang peserta tes.
“Aku mau kembali ke ruangan ku. Tolong kau peserta tes lainnya.”ucap Sean lirih pada staf HRD.
“Baik tuan Sean... serahkan semuanya pada kami.”jawab staf HRD menghentikan sejenak tes interview.
Sean kemudian berjalan keluar dari ruang tes dan kembali menuju ke ruangannya.
“kriek....”Sean tiba di depan ruangannya dan segera membuka pintu.
“Haah... segarnya...”ucap Sean merasa segar dengan temperatur suhu di ruangannya saat ini.
Dari luar ruangan, Judas yang tahu jika bos nya tampak gerah setelah melakukan tes mengambilkan minuman untuk Sean.
“tok... tok... tok...”Judas mengetuk pintu ruangan Sean.
“Ya masuk...” balas Sean singkat.
Judas masuk ke ruangan Sean sambil membawa beberapa minuman yang berbeda jenisnya untuk Sean.
“Tuan silakan minum...”ucap sekretaris nya sambil meletakkan satu nampan yang berisi enam gelas macam minuman ke meja Sean.
“Terima kasih Judas...”balas Sean.
Lelaki itu langsung mengambil satu gelas air es dan meminumnya.
Judas pun segera keluar dari ruangan Sean dan kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Sean yang masih haus mengambil lagi satu minuman dari meja.
“glek... glek... glek...”
Sean menghabiskan satu gelas minuman lainnya lalu menaruhnya kembali ke meja.
Setelah rasa hausnya hilang lelaki itu menyadarkan tubuhnya kapur bersih sekedar untuk meluruskan punggungnya yang terasa kaku Setelah beberapa jam berada di ruang tes.
“Rasanya ingin berbaring di tempat tidur saja...”gumam lelaki itu membayangkan tempat tidurnya yang nyaman dan empuk.
Sean memejamkan matanya sejenak sambil mengaitkan jemarinya di meja sambil menarik nafas dalam-dalam.
Lima menit kemudian dia membuka mata. Pandangannya tertuju pada pergelangan tangan kirinya. Entah Kenapa dia merasa ada yang aneh saja, dan rasanya ada yang kurang.
“Aku seperti tidak melihat gelang ku...”gumamnya.
Sean Bapak tidak yakin dan menaikkan lengan bajunya untuk melihat gelangnya.
“Apa... gelang ku hilang... bagaimana bisa... ?!”ucap Sean terkejut sekali saat menepati bilang kesayangannya sudah tak ada di tangan kirinya.
Sean tampak panik mendapati liontin berharganya hilang.
“Judas... tolong ke sini.”ucap Sean memanggil sekretarisnya.
Judas pun segera keluar dari ruangannya dan berjalan cepat menuju ke ruangan Sean.
“Tuan... ada apa ?”ucap sekretaris itu saya sudah berada di hadapan Sean.
“Kau beritahukan pada semuanya Aku telah kehilangan gelang betliontin Marie Antoinette. Atau kau periksa sendiri ke ruangan tes barangkali saja terjatuh di sana.”ucap Sean memberi perintah.
“Baik tuan....”jawab sang sekretaris.
Judas segera keluar dari ruangan Sean. Dia masuk ke ruangannya sebentar dan menelepon per bagian untuk memberitahukan kepada mereka jika gelang Sean hilang dan minta mereka untuk melapor jika menemukannya.
Setelah itu Judas segera keluar dari ruangannya dan menuju ke ruangan tes untuk mencari sendiri gelang milik bosnya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1