
Para anak buah Sean tiba di rumah sakit. Mereka segera meminta petugas medis yang ada di sana untuk merawat Alexa.
“Tolong semuanya tunggu di luar dulu...”ucap petugas medis meminta para anak buah Sean untuk keluar dari ruangan dan membiarkan mereka menangani pasien dengan cepat.
Dokter dan petugas medis yang ada di dalam segera melakukan perawatan untuk Alexa, Sedangkan para anak buah Sean menunggu di luar dan berjaga di luar.
“tap... tap... tap...”suara langkah kaki seseorang turun dari limosin putih.
“Tuan Sean.... ??”ucap para lelaki bersamaan saat melihat bos mereka datang.
Sean akan masuk ke ruangan untuk melihat kondisi Alexa namun melihat para anak buahnya ada di luar ruangan dia pun jadi mengurungkan niatnya untuk masuk.
“Bagaimana kondisi gadis itu... ?”tanya Sean pada mereka.
“Kami belum mengetahui kondisi pasien, tuan. Dokter dan petugas medis masih menanganinya.”jawab salah satu lelaki mewakili mereka.
Sean mengangguk tanda mengerti kemudian duduk di kursi yang ada di depan ruangan tempat Alexa dirawat dan menunggu petugas medis keluar.
Satu jam berikutnya.
“kriek...”pintu ruangan tempat Alexa terbuka dan dokter beserta petugas medis keluar dari sana.
Sean seketika berdiri dan menghampiri dokter untuk menanyakan kondisi Alexa.
“Bagaimana kondisi pasien dokter... ?”tanya Sean menatap dokter yang telah memeriksa Alexa.
“Pasien mengalami dehidrasi akut. Apa pasien anoreksia, atau diet ?”ucap dokter memberikan penjelasan.
Sean diam saja dan berpikir untuk mencari alasan yang logis dan tidak akan mempersulit dirinya.
“Pasien sedang mengalami suatu masalah dan membuatnya tidak mau makan.”jawab Sean menjelaskan kepada dokter.
“Jika begitu pastikan selama ini pasti untuk makan secara teratur jika perlu paksa saja pasien jika susah di ajak kompromi.”ucap dokter memberikan penjelasan lagi.
“Baik dokter.... terima kasih.”jawab Sean singkat menanggapi dokter.
Dokter kembali berjalan dan menuju ke ruangan pasien lain yang membutuhkan penanganan segera. Sementara Sean berjalan masuk ke ruangan.
Lelaki itu berhenti dan berdiri tepat di samping Alexa yang masih tak sadarkan diri. Wajahnya terlihat sangat pucat sekali dan kulitnya sedikit kering.
__ADS_1
“Dasar kau gadis bodoh... sengaja tidak mau makan agar kau bisa keluar dari tempat aku menawan mu kan... ?”gumam Sean menatap Alexa dengan tersenyum kecut atas tindakan nekatnya yang rela melukai dirinya sendiri agar bisa bebas dari dirinya.
Dia menunggu selama beberapa menit di rumah untuk melihat Alexa siuman, namun gadis itu ternyata belum sadar juga.
Sean keluar dari ruangan dan berhenti sebentar di depan para anak buahnya yang masih berjaga di luar ruangan.
“Kalian semua berjaga di sini. Awasi terus gadis itu dan Jangan biarkan dia kabur dari sini.”ucap Sean memberi perintah.
“Baik tuan...” jawab para lelaki itu serempak.
Sean kemudian berjalan meninggalkan mereka.
“Laporkan padaku segera jika ada perkembangan sekecil apapun itu pada gadis itu.”ucap Sean menambahkan sambil berhenti sebentar dan berbalik.
“Siap tuan.... !”jawab para anak buah Sean.
Sean kembali berjalan dan masuk ke limosin putihnya meluncur menuju ke rumah.
Satu hari terlalu dan ternyata Alexa masih belum sadarkan diri juga.
Di sebuah ruangan Sean menerima informasi dari anak buahnya. Salah satu dari mereka menelpon Sean.
“Tuan... gadis ini masih belum sadarkan diri... apa kami perlu memborgolnya selagi kondisinya belum sadar ?”tanya salah satu anak buah yang memberikan kabar.
“Baik tuan...”jawab mana lagi itu kemudian mengakhiri panggilan dan menutup telepon.
Sean menaruh ponselnya begitu saja ke tempat tidur. Dia kemudian berdiri dan menatap ke arah luar dengan tatapan menerawang jauh.
“Kenapa dia belum sadar harusnya dalam sehari dia sudah sadar. Apa separah itu hingga dia belum sadarkan diri...”gumam Sean sambil menyentuh dagunya.
Malam berlalu dan berganti pagi. Di rumah sakit Alexa masih belum sadarkan diri juga. Namun gadis itu mengigau.
“Apa kau mendengar seseorang berbicara...?”tanya salah seorang anak buah Sean yang berjaga di depan ruangan tempat Alexa dirawat.
“Ya....aku mendengar suara itu. Apa gadis itu sudah sadarkan diri sekarang...”jawab lelaki lain yang juga merupakan anak buah Sean.
Tanpa banyak bicara lagi mereka berdua pun masuk ke ruangan untuk memastikan sendiri kondisi Alexa.
“Ternyata dari sini belum sudah ganti di jadi hanya mengigau saja.”ucap salah seorang lelaki yang memeriksa kondisi Alexa.
__ADS_1
Dua orang lelaki tadi kemudian keluar dari ruangan dan kembali berjaga di depan bersama yang lainnya. Dia kembali menelepon Sean untuk memberikan informasi perkembangan terbaru Alexa.
“kring... kring... kring...”
Sean membuka mata saat mendengar ponselnya berdering. Dia kemudian duduk dan mengambil ponselnya.
“Ya halo ada apa... ?”ucapnya ditelepon sambil menyalurkan tubuhnya yang belum stabil ke dinding.
“Tuan... gadis itu masih belum sadarkan diri tapi saat ini dia sedang mengigau. Mungkin saja dalam waktu dekat dia akan sadar.”ucap anak buah Sean ditelepon.
“Ya... tunggu perintah selanjutnya dari ku.”balas Sean kemudian mengakhiri panggilan.
Lelaki itu kemudian mengambil laptop yang ada di meja di dekat tempat tidurnya dan mulai menyalakan laptopnya.
Dia melihat tayangan CCTV tempat Alexa di rawat sekarang.
Sean melihat Alexa masih memejamkan matanya dan bibirnya terus berucap mengatakan sesuatu.
“Ibu... ibu... jangan pergi...”ucap Alexa sambil mengeluarkan tangannya seolah menarik seseorang dengan mata masih terpejam.
“Kenapa gadis itu terus memanggil ibunya... ?”gumam Sean mendengarkan apa yang diucapkan Alexa dari laptopnya.
“Ibu... maafkan aku... aku tidak bisa menjaga liontin pemberianmu dengan baik.”gumam Alexa lagi sambil terisak dan masih terpejam matanya.
“Gadis itu... kenapa dia seolah menangis kehilangan liontin nya ?”ucap Sean sambil mengurutkan dari saat melihat tayangan CCTV.
“Ibu....tanpa liontin itu aku tak akan bisa menemukan ayah...”ucap Alexa lagi meracau.
Sean yang melihat ayah itu semakin tidak jelas dan mengerti saja apa yang diucapkan oleh Alexa.
“Liontin... ayah... apa hubungan liontin itu dengan ayahnya ?”gumam Sean Mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Alexa.
Sean mematikan laptopnya dan memutuskan untuk melihatnya secara langsung di lokasi.
Sean keluar dari rumah dan sudah ada limosin putih yang menunggunya di luar rumah dan siap mengantarnya ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Sean segera bergegas masuk ke ruangan tempat Alexa dirawat.
Di sana dia melihat gadis itu belum sadarkan diri juga dan masih bergumam, menggumam kan hal yang sama dengan sebelumnya.
__ADS_1
Lelaki itu menatap Alexa dengan iba dan prihatin saat melihat gadis itu meneteskan air mata dalam kondisi belum sadarkan diri.
BERSAMBUNG....