Ku Kejar Kau Ke Paris

Ku Kejar Kau Ke Paris
Eps. 9 Hidup Seperti Raja


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Sean yang penasaran dengan liontin Ratu Louis IV kembali mencari literatur terkait dengan hal itu.


Suatu pagi Sean yang biasanya jogging di pagi hari kali ini dia tidak jogging dan lebih memilih untuk masuk ke perpustakaan.


“tap... tap... tap...”Sean berjalan melangkah masuk menuju ke perpustakaan pribadinya yang mempunyai koleksi lengkap seperti perpustakaan universitas.


“Dimana buku mengenai pemerintahan Raja Louis IV...”batin lelaki itu saat berdiri di tengah rak buku mengelilinginya.


“Mungkin di sana...”gumam Sean menatap sebuah rak buku setelah mencoba mengingatnya.


Sean berjalan menuju ke sebuah rak buku yang berada di dekat jendela di bagian pojok. Dia kemudian membaca tulisan yang terpampang di setiap rak yang menyebutkan jenis buku yang ada pada rak tersebut untuk memudahkan pencarian.


“Ini dia...”ucapnya setelah menemukan rak berlabel sejarah kerajaan.


Sean membaca judul buku yang terlihat dari samping dan mengambil beberapa lalu membawanya kemeja.


“Srak... srak... srak...”Sean membalik satu per satu halaman dari buku tebal itu.


Lelaki itu tampak menutup satu buku dan menaruhnya kemeja lalu mengambil buku lain dan membukanya lalu menumpuknya lagi dan mengambil buku lainnya hingga pada buku terakhir dia membacanya agak lama.


Dia terus membuka halaman hingga akhirnya menemukan gambar liontin yang di carinya. Dia membaca sejarah liontin tadi dan membuatnya semakin tertarik setelah selesai membacanya.


“Oh jadi begitu kisah di balik liontin ini.”gumamnya setelah mengetahui liontin tadi merupakan lambang cinta abadi dari Raja Louis IV pada istrinya.


“Cinta abadi ya... apa ada cinta yang seperti itu di kehidupan nyata...”gumamnya karena merasa selama ini tak ada kata cinta abadi dalam kamusnya dan yang ada hanyalah cinta karena sebuah nafsu baik itu obsesi atau hanya sebuah kesemuan belaka.

__ADS_1


Selesai membaca buku dia pun menaruhnya kembali ke rak buku tempat dia mengambilnya kemudian keluar dari perpustakaan pribadinya.


Meskipun dia penasaran sekali dan ingin segera memegang liontin itu namun dia tidak terburu-buru pergi ke tempat liontin itu berada. Karena baginya semua harus jelas, detail dan terperinci.


Sean berjalan menuju ke rumahnya yang berada dua ratus meter dari perpustakaan pribadinya. Begitu masuk rumah dia langsung disambut oleh banyak pelayan.


“Tuan... air hangat nya sudah siap...”ucap seorang pelayan wanita berjalan menghampirinya. Dan Sean hanya mengangguk saja sambil mengangkat tangannya dan memintanya untuk segera pergi.


“Tuan... ini handuk tuan...”ucap seorang pelayan lagi menghampirinya dengan membawakan sebuah handuk dan Sean hanya mengangkat tangannya yang membuat pelayan itu mengerti maksudnya dan pergi dari sana.


“Tuan.... ini baju dan sepatu tuan hari ini...”ucap seorang pelayan lagi yang datang dengan membawakan pakaian kerja dan juga sepatu yang akan dipakainya hari ini sesuai dengan tema yang Sean sampaikan pada pelayannya sebelumnya.


Dia pun kembali melambaikan tangannya dan pelayanan tadi mengerti maksudnya, kemudian segera pergi dari sana setelah menaruh pakaian tadi ke kamar Sean.


Sean selesai berpakaian dan menyemprotkan parfum istimewa yang aromanya lembut dan tahan lama. Parfum itu bukan sembarang parfum. Parfum itu di desain khusus untuk dirinya dan hanya di produksi dalam jumlah kecil untuk dirinya saja, tak ada yang menyamai parfumnya.


“Sudah waktunya berangkat...”gumam Sean setelah siap. Dia pun berjalan keluar dari rumahnya untuk menuju ke kantor.


Begitu lelaki itu menapakkan kakinya di luar rumah sebuah mobil mewah meluncur ke arahnya.


Seorang lelaki keluar dan membukakan pintu untuknya.


“Silahkan tuan...”ucap sopir pribadinya menyambut Sean.


Sean mengangguk dan dia pun segera duduk di belakang lalu menyadarkan kepalanya ke bantalan kursi empuk.

__ADS_1


“Ayo jalan sekarang....”ucap Sean memberi perintah pada sopirnya.


Beberapa saat kemudian setelah pintu tertutup mobil mewah milik Sean meluncur menuju ke kantornya.


Begitulah lelaki itu menjalani kehidupan sehari-harinya dengan fasilitas dan pelayanan tingkat atas.


Di kantor Sean segera masuk ke ruangannya setelah sampai di sana dan turun dari mobil.


“Selamat pagi tuan Sean...”ucap para staf di sana menyambutnya dan memberinya hormat saat lelaki itu saat datang di kantor.


Lagi-lagi Sean yang pelit bicara hanya mengangguk dan menatap mereka saja kemudian berlalu meninggalkan mereka masuk ke ruangannya. Dan hal itu sudah merupakan pemandangan biasa bagi para staf yang bekerja di sana.


Begitu lelaki itu masuk ke ruang kerjanya, seorang pelayan langsung membuatkan kopi untuknya dan membawanya masuk ke ruangan.


Para pelayan di sana takut jika Sean marah. Hal sekecil apa pun yang tidak pas bisa membuat lelaki itu marah.


Semua staf di sana tertib, tak ada yang datang terlambat dan lambat dalam mengerjakan suatu tugas karena Sean selalu memberikan batasan waktu pada mereka semua dalam bekerja.


“Tuan Sean... ini kopi tuan...”ucap pelayan wanita tadi mengantarkan kopi dengan kadar manis 40% dan menaruhnya ke meja.


“Ya... terimakasih...”jawabnya menatap pelayan tadi lalu menyalakan laptopnya.


Pelayan tadi segera keluar dari ruangan Sean. Di luar pelayan tadi tersenyum kecil dan merasa senang karena Sean membalas ucapannya meskipun hanya singkat dan itu berarti pekerjaan yang benar.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2