
Sean merasa jantungnya berdebar kencang saat dia ingin mengucapkan sebuah kata. Dia sendiri sebenarnya masih ragu dengan perasaannya.
Alexa diam menatap Sean dan menunggu lelaki itu mengucapkan sepatah kata untuknya. Lama dia menunggu lelaki itu berucap dan dari tadi menatapnya dengan tatapan aneh.
“Ehem... ehem... apa yang ingin kau katakan padaku ?”ucap Alexa karena sudah tak sabar lagi menunggu lebih lama.
Sean menarik nafas panjang dan menghembuskan nya pelan-pelan. Namun jantungnya tetap berdegup kencang.
“Ya... aku belum memberikan kompensasi pada mu atas pemberian liontin mu ini pada ku.”ucap Sean dengan susah payah, mengungkapkan hal lain yang tak ada dalam pikirannya.
“Oh ku kira ada hal lain yang ingin kau sampaikan padaku ternyata masalah itu. Ya tak masalah kau tak perlu memberikan kompensasi padaku. Meskipun tanpa adanya liontin itu, semua kenangan tentang ibuku tersimpan rapi dalam hatiku.”balas Alexa tersenyum lebar dan dia benar-benar ikhlas merelakan benda kesayangannya itu.
Sean tak bisa berkata-kata mendengar jawaban Alexa. Dia merasa gadis itu benar-benar tulus memberikan liontin itu padanya tanpa mengharapkan ganti atau balasan darinya.
Sean kembali terdiam dan sedikit merasa tidak enak pada Alexa dan berpikir dirinya sedikit egois. Dia pun mencoba mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
“Alexa... lelaki seperti apa yang kau cari ?”ucap Sean tiba-tiba bertanya.
“Apa...ah...hal itu...”Alexa terhenti dengan pertanyaan senyum mendadak dan membuatnya terkejut mendapat pertanyaan seperti itu karena dirinya belum memikirkan menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Karena dia tipikal wanita yang sulit jatuh cinta pada seorang lelaki dan tidak mudah terkesan begitu saja.
“Ya simple saja yang ku cari. Tak ada kriteria apapun yang terpenting lelaki itu bisa menerima diri ku apa adanya, itu sudah lebih dari cukup bagi ku.
“Apa... tak ada kriteria apapun ? Kenapa gadis ini super simple sekali ?”batin Sean terkejut mendengar jawaban itu. Baru kali ini dia menjumpai gadis seperti Alexa.
“Apa kau tidak mencari lelaki mapan, CEO suatu perusahaan atau sejenisnya ?”ucap Sean menegaskan kembali.
“Tidak-tidak... bagi ku materi belum tentu bisa membahagiakan seseorang dan prioritas utama dalam hidupku.”jawab Alexa sambil tersenyum kecil menatap Sean.
“Ada apa kau sendiri bertanya seperti itu padaku ?”ucap Alexa menyelidik.
__ADS_1
“Tak ada... hanya ingin tahu saja.”jawab Sean singkat lalu kembali terdiam karena tak tahu apalagi yang harus dia ucapkan.
Dari atas terlihat percikan api berwarna-warni yang membuat Alexa penasaran dan berdiri.
“Apa itu...”gumam gadis itu menatap ke langit.
“Hari ini adalah peringatan hari musim semi di akhir pekan.”jawab Sean ikut berdiri dan menatapnya.
“duar... duar... duar...”bunyi kembang api berwarna-warni menghiasi udara.
“Ya indah sekali.”balas Alexa nampak senang melihat hujan kembang api malam itu.
Dari kejauhan ada seorang gadis kecil yang membawa bunga mawar merah dua keranjang. Gadis itu melihat ada seorang lelaki dan orang gadis agak jauh di depannya dan dia pun menuju ke sana.
“Tuan...tolong beli bunga ku ini.”ucap gadis kecil tadi menunjukkan bunga mawar merah nya pada Sean.
Sean diam tak menjawab dan melihat dua keranjang penuh berisi bunga mawar merasa iba melihat anak kecil seusianya bekerja di malam hari.
“Kekasih... ? Kami bukan...”balas Sean sambil menetap ke arah Alexa.
Alexa menghampiri gadis kecil itu kemudian berjongkok.
“Adik kecil... aku mau satu mawar mu.”ucap Alexa pada gadis tadi.
Gadis kecil tadi mengambil satu mawar merah dan memberikannya pada Alexa.
“Aku beli semua mawar merah mu.”ucap Sean lalu memberikan sejumlah uang pada gadis kecil tadi dan melebihinya.
“Terima kasih tuan. Semoga kau dan kekasih mu segera menikah.”jawab gadis kecil tadi mendoakan Sean dan Alexa kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Alexa dan Sean hanya saling menatap setelah mendengar ucapan sang gadis penjual bunga mawar barusan.
Sean merasa canggung dan dia pun setelah menyerahkan dua keranjang bunga mawar merah pada Alexa.
“Oh... terima kasih....”ucap Alexa saat menerima bunga itu dan sedikit memerah pipinya. Entah kenapa dia merasa senang sekali menerima bunga dari Sean Walaupun dia tahu yang lagi itu membelinya hanya karena kasihan pada gadis kecil tadi.
“Apakah dia mengira ini ungkapan dari perasaanku ?”batin Sean sedikit gugup dan jantungnya kembali berdetak.
Alexa menatap Sean dalam-dalam sambil mencium bunga mawar merah tadi.
“Seandainya aku benar-benar mendapatkan bunga seperti ini suatu saat nanti dari lelaki yang ku kasihi, pasti aku akan senang sekali.”batin Alexa sedikit merasa kecewa karena Sean tak ada hubungan seperti itu dengan dirinya.
“Apa kau sering memberikan bunga pada wanita ?”tanya Alexa tiba-tiba karena dia ingin mengetahui bagaimana Sean memperlakukan wanita.
“Memang banyak wanita yang mengelilingi diriku namun aku tak pernah memberikan satupun bunga pada mereka. Ini pertama kalinya aku memberikan bunga.”jawab Sean jujur sambil menyentuh bahu Alexa.
“Alexa ada yang ingin ku katakan padamu.”ucap Sean menatap gadis itu dalam-dalam.
“Ya....apa yang mau kau ucapkan, ucapkan saja karena kita takkan bertemu lagi setelah ini.”balas Alexa berbalik dan menatap lelaki itu.
“Alexa aku... aku merasa...”ucap Sean nanti kalau tiba-tiba dia merasa lehernya seperti tercekat.
“Kau kenapa, apa yang kau rasakan ? Apa kau baik-baik saja ?”jawab Alexa menjadi khawatir melihat lelaki itu mulai berkeringat.
“Alexa aku sebenarnya... sebenarnya ini mengajak mu ke menara Eiffel untuk terakhir kalinya.”balas Sean dengan susah payah karena laki-laki tak bisa menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.
“Baik ayo kita ke sana.”jawab Alexa bersemangat.
Sean kemudian berjalan bersama Alexa menuju ke menara Eiffel lewat jalan belakang.
__ADS_1
BERSAMBUNG....