
Sean sedikit merasa bersalah dengan kebaikan hati Alexa. Ia membiarkan gadis itu sejenak untuk memegang tangannya saat melihat liontin di tangannya.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Sean membuka obrolan untuk memecah kesunyian yang ada di antara mereka berdua.
“Ehem... kenapa tidak tinggal di sini lebih lama ? Aku akan membantumu mencari ayah kandung mu sampai ketemu.”ucap Sean menatap Alexa yang terus Sebenarnya berat melepaskan liontin itu padanya.
Alexa melepaskan tangannya dari tangan Sean setelah mendengar lelaki itu bedehem.
“Oh....itu karena visa dan pasporku berlaku sampai tiga hari ke depan.”balas Alexa menolak tawaran Sean.
“Jika mau Aku akan membantu memperpanjang masa aktif paspor dan visa mu.”ucap Sean mencoba menawarkan bantuan lain sebagai rasa terima kasihnya.
“Oh... tidak... Tidak...aku harus kembali bekerja. Aku sudah lama cuti.”jawab Alexa beralasan sambil menatap mata Sean yang terlihat gelisah, entah apa sebabnya.
“Oh... atau kau ingin bekerja di sini aku bisa mempekerjakan mu di perusahaan ku.”ucap Sean memberikan option lain karena ia masih ingin gadis itu berada di sana.
“Maaf terimakasih atas tawarannya. Tapi aku ingin kembali ke tanah airku.”jawab Alexa kembali menolak karena dia merasa lelaki itu ingin menahan dirinya kembali. Sedangkan liontin yang Sean cari, sudah ia berikan padanya. Lantas apa lagi yang membuat lelaki itu menahan dirinya.
“Nona apa kau tak ingin mengungkap siapa jati diri ayahmu ?”ucap Sean lagi bersikeras menahan gadis itu agar tetap tinggal di sisinya, mengikuti nalurinya tanpa tahu sebabnya.
Alexa tersenyum kecut mendengar apa yang barusan diucapkan oleh Sean.
“Aku sudah tidak berminat lagi mencari keberadaan ayah biologis ku. Aku tak peduli siapapun dia. Tanpanya aku tetap bisa menjalani kehidupan dengan baik.”balas Alexa menjelaskan panjang lebar alasan kenapa dia menyerah mencari keberadaan ayahnya yang baginya sudah tidak penting lagi dan bukan prioritas utama dalam hidupnya.
Mereka berapa kembali dan masuk ke kamar masing-masing setelah ada yang perlu mereka bicarakan lagi.
Di dalam kamar Alexa menata dan mengemas barang-barang bawaannya.
__ADS_1
Di dalam kamar, Sean duduk bersandar di kursi. Ia melepas dasi dan kembali menatap liontin pemberian Alexa di tangannya.
“Apa harus kuberikan padanya sebagai gantinya ?”gumam Sean berpikir karena dia tak ingin merasa berhutang budi atau sejenisnya pada orang lain.
“Aku sudah mencoba menahannya untuk tetap di sini agar aku bisa membuat hatinya senang namun dia menolaknya. Aku tidak tahu lagi apa yang harus ku perbuat.”gumam Sean Ya sudah kehabisan akal dan tak mempunyai ide lagi.
Malam hari di kamar setelah makan malam, lelaki itu duduk merenung menatap ke luar jendela. Entah kenapa dia teringat pada Alexa. Baginya dia sudah mengenal gadis itu hampir satu bulan lamanya. Dan begitu banyak kejadian ia alami bersama gadis itu.
“Ooh...”Sean teringat pada ciuman mereka dan masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya. Seketika jantung nya berdetak lebih keras dari biasanya.
“Apa yang barusan ku pikirkan ? Kenapa bisa aku memikirkan hal seperti itu ?”batin Sean Menghentikan pikiran itu dan mengalihkan pikirannya ke hal lain.
Hingga malam Sean masih terjaga di atas tempat tidurnya. Entah kenapa rasanya sosok Alexa tak bisa hilang dari pikirannya. Bahkan hatinya sedikit tersayat mengetahui dua hari lagi gadis itu akan pergi dari sana.
Di kamar Alexa, gadis itu tak bisa memejamkan mata meski merasa ngantuk. Dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Harusnya dia senang akan kembali ke tanah kelahirannya, tapi entah kenapa dia terlihat sedih tanpa sebab dan enggan meninggalkan kota ini.
“Kenapa aku teringat pada dia ?”batin Alexa teringat pada momen kebersamaan mereka saat dalam pelarian dari kejaran Austin.
Baginya Sean yang biasanya angkuh, dingin dan sombong terlihat lembut dan perhatian selama beberapa hari terakhir ini.
“duk... duk...”bunyi detak jantung Alexa yang tak berirama saat teringat mereka berdua berpelukan.
Gadis itu kembali lagi teringat aroma khas parfum Sean dan bau keringat tubuhnya.
“Apa yang ku pikirkan ini ? Tidak-tidak... aku harus tidur sekarang.”gumam Alexa menghentikan pikiran kacaunya dan memukul kan bantal ke mukanya dan memaksa dirinya untuk tidur.
Pagi hari berikutnya. Di tempat Austin. Lelaki itu tak pernah lupa dengan apa yang sudah dilakukannya. Hari ini adalah hari ini hasil tes DNA akan keluar. Dan dia pun tak sabar ingin segera mengetahui hasilnya.
__ADS_1
Austin memanggil anak buahnya untuk segera pergi ke rumah sakit dan mengambil hasil tesnya.
“Baik tuan aku akan segera pergi ke rumah sakit sekarang.”ucap anak buah Austin yang berada di ruangan pribadi Austin lalu segera keluar dari sana dan pergi ke rumah sakit.
Tak beberapa lama kemudian anak buah Austin tiba di rumah sakit.
“tap... tap... tap...”anak buah Austin menemui dokter yang bertugas melakukan tes.
Karena masih terlalu pagi maka dia pun harus menunggu hingga sang dokter datang.
Tiga jam kemudian dokter datang dan masuk ke ruangan. Dokter itu segera mengambil hasil tes setelah melihat anak buah Austin.
“Tuan ini hasil tes kemarin, silahkan di lihat.”ucap dokter memberikan hasil tes pada pada anak buah Austin.
“Terimakasih dokter.”jawab lelaki itu menerima hasil tes dan membawanya tanpa membukanya. Ia pun segera kembali ke rumah Austin.
“Tuan... ini hasil tesnya.”ucap Apalagi itu menyerahkan hasil tes DNA pada Austin.
Austin menerima hasil tes tadi dan anak buahnya segera pergi dari ruangan pribadinya.
“sraak...”Austin membuka amplop dengan tidak sabar. Ia kemudian membacanya.
Tangannya bergetar hebat dan hasil tes yang dipegangnya jatuh ke lantai setelah melihat hasilnya.
“Apa... gadis-gadis itu adalah anak kandung ku ?!”ucap Austin terkejut dan syok berat pada hasil tes.
Dia pun duduk lemas dan memegang kepalanya yang terasa berat teringat pada apa yang sudah dia lakukan pada Alexa.
__ADS_1
BERSAMBUNG....