
Sean merasa ada yang aneh dengan Alexa. Dia merasa gadis itu menyentuh saku celana nya tempat di mana dia menaruh gelang liontin Marie Antoinette.
“Kenapa gadis ini seperti mau mengambil liontin dari saku ku... atau hanya perasaanku saja... ?”batin Sean yang merasa tangan Alexa menyentuh bagian saku celananya.
Alexa menyelipkan pen yang dibawanya ke saku baju Sean. Dan tangan lainnya bersiap masuk ke saku celana untuk mengambil isinya.
“Apa pun itu entah dia berniat mengambil atau tidak lebih baik aku segera menghindar.”batin Sean waspada.
Sean dengan cepat mundur ke belakang.
“Ah sial... hampir saja aku mendapatkannya tapi dia mundur.”batin Alexa kesal dan sangat menyayangkan sekali.
Sean memegang pen di saku bajunya dan menjaga jarak dari Alexa.
“Terima kasih nona Alexa...”ucap Sean kemudian kembali berjalan keluar dari ruang tamu.
Alexa baru keluar setelah Sean sudah tidak kelihatan lagi.
“Ternyata Sean orangnya waspada sekali dan cepat tanggap. Jadi aku harus lebih cepat lagi dari dia lain kali.”gumam Alexa menutup pintu ruang tamu.
Gadis itu kemudian kembali ke meja resepsionis.
“Ya ada yang bisa kami bantu nona ?” tanya petugas resepsionis.
Alexa mengeluarkan berkas lamaran kerja dari dalam tas.
“Maaf... aku mau menitip berkas lamaran kerja di perusahaan ini.”ucap Alexa sambil menyerahkan berkas lamaran pada petugas resepsionis.
Petugas resepsionis itu saling pandang kemudian menerima berkas lamaran yang disodorkan oleh Alexa.
“Kenapa tadi tidak menyerahkannya sekalian ke tuan Sean...”batin petugas resepsionis itu merasa aneh dengan sikap Alexa.
“Kami akan menyampaikan berkas lamaran ini pada bagian yang bersangkutan. jika memang ada perekrutan dan memenuhi kualifikasi anda pasti akan dihubungi.”ucap petugas resepsionis menjawab dan menjelaskan pada Alexa.
__ADS_1
“Terima kasih...”jawab Alexa sambil tersenyum kecil kemudian berjalan keluar dari kantor Sean.
Sesampainya di luar kantor Sean, Alexa kembali menunggu taksi untuk kembali ke penginapan.
“Taksi... !”Alexa memanggil taksi yang melintas di depannya.
Gadis itu segera masuk dalam taksi dan meminta sopir mengantarnya ke Auberge de la lune.
Sementara itu Sean berada di depan lift.
“Ding...”pintu lift terbuka dan dia langsung masuk lalu menekan angka tujuh.
Dalam hitungan detik pintu lift terbuka kembali dan lelaki itu masuk ke ruangan kerjanya.
Sean jalan cepat dan duduk di kursinya sambil menghela nafas panjang.
“Hampir saja itu tadi... aku kehilangan liontin ku jika aku tidak bergerak cepat.”gumam Sean.
Lelaki itu masih memikirkan Alexa. Sebenarnya apa motif gadis itu ke sini dan menemuinya. Dia curiga jika Alexa sudah mengetahui jika dirinya mengambil liontin miliknya, namun dia menepi semua keraguannya itu.
Sean mengeluarkan gelang dari sagu celananya lalu memakainya kembali.
Petugas resepsionis kemudian menyerahkan berkas lamaran Alexa pada bagian HRD di perusahaan itu.
“Taruh saja berkasnya di meja nanti aku akan memeriksanya.”ucap salah satu HRD pada petugas resepsionis.
“Baik pak...”jawab petugas resepsionis kemudian menaruh berkas lamaran milik Alexa kemeja kemudian meninggalkannya dan kembali ke meja kerjanya.
Kebetulan sekali di departemen HRD saat ini sedang sibuk. Para staf di bagian itu sedang mempersiapkan perekrutan staf baru untuk kantor baru yang akan di buka beberapa saat lagi. Mereka memeriksa lamaran pekerjaan yang setiap harinya masuk ke kantor dan cari yang berkualifikasi.
Roy kembali ke meja kerjanya dan duduk. Dia kembali membuka satu persatu lamaran pekerjaan yang ada di mejanya.
Dia kemudian membuka lamaran Alexa dan membacanya. Lelaki itu tampak terkejut saat membacanya.
__ADS_1
“Gadis ini bukan orang sini rupanya... dia berasal dari negara lain...”gumamnya bisa membaca CV Alexa.
Roy membaca lagi lamaran Alexa dan menurutnya gadis itu berkualifikasi untuk memenuhi panggilan tes.
“Apa sebaiknya aku coba saja beri dia kesempatan...”gumamnya.
Roy menaruh lamaran Alexa dan menumpuknya bersama beberapa berkas lamaran lain yang lolos kualifikasi masuk panggilan tes dan menyerahkan pada staf lainnya yang bertugas untuk memanggil para peserta tes.
Malam hari di penginapan Alexa duduk di dekat jendela dan menatap keluar jendela sambil melihat salju yang turun.
“Semoga saja aku mendapatkan panggilan kerja di perusahaan Sean...”gumam Alexa sekaligus memanjatkan doa karena hanya itulah kesempatannya untuk bertemu kembali dengan Sean.
“Cuaca semakin dingin...”gumamnya.
Alexa berjalan ke dekat pintu dan mengambil jaket bulu yang dia gantung di sana kemudian memakainya.
“tok... tok... tok...”suara seseorang mengetuk pintu kamar Alexa.
Gadis itu segera membuka pintu dan melihat seorang waiters mengantarkan satu teko teh panas yang mereka sediakan untuk setiap orang yang menginap di sana.
“Terima kasih...”ucap Alexa menerima satu teko teh kemudian meletakkannya ke meja.
“Kebetulan sekali... minuman ini bisa menghangatkan tubuhku...”ucapnya sambil tersenyum dan menyeduh teh ke cangkir.
“Glek... glek...”Alexa meminum sedikit demi sedikit teh oloong yang menghangatkan tenggorokan dan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian Alexa mengambil laptop dan membawanya ke meja dekat tempat dia menaruh teh lalu menyalakannya.
“Klik... klik...” Alexa mulai menggerakkan jemarinya, gadis itu membuka akun jejaring sosialnya.
“Aku terus memikirkan cara lain untuk menemui Sean jika rencana ku yang ini gagal dan ternyata aku tidak ada panggilan kerja untukku.”gumam Alexa kembali berpikir
Tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam pikirannya. Gadis itu tampak tersenyum lebar. Dia pun masuk ke beranda dan mencari akun media sosial bernama Dyana.
__ADS_1
BERSAMBUNG...