
Austin memegang mikrofon dan berbicara dengan seseorang, setelah itu dia duduk di sana menunggu kedatangan seseorang.
Sementara Sean mengemudikan mobil Austin keluar dari lokasi tempat penahanan mereka. Dia melihat jalanan.
“Aku tidak pernah melihat jalanan ini sebelumnya.”ucapnya lirih sambil memperhatikan jalan dan mencari jalan keluar.
“Jadi kau tidak tahu di mana kita berada ?”ucap Alexa menanggapi Sean.
Lelaki itu mengangguk dan menentukan arah tujuan yang dia ambil.
“Tenang saja meskipun aku tidak tahu tempat ini, kita pasti menemukan jalan keluarnya. Tidak ada yang tidak bisa dicari atau dipelajari di dunia ini.”ucap Sean lagi saat melihat Alexa yang nampak cemas.
Sean terus melajukan mobilnya menuju ke jalanan yang menurutnya adalah jalan keluar. mereka kembali melewati hutan lebat dengan banyak pohon berjajar di sepanjang jalan.
Di lain tempat beberapa saat kemudian bodyguard Austin datang ke tempat penahanan. Dua orang masuk ke ruangan dan melihat Austin yang duduk bersandar ke dinding.
“Tuan Austin anda baik-baik saja ?”ucap salah satu body guard saat melihat darah di dekat tubuh bosnya.
“Seperti yang kau lihat. Panggilkan aku dokter segera setelah tiba di rumah !”balas Austin menatap dua body guard nya.
“Baik tuan.”
Seorang lelaki sehingga membawa tubuhnya masuk ke sebuah mobil dan satu body guard lainnya nampak menelepon seseorang.
Di tengah jalan tiba-tiba terdengar suara tembakan beruntun dari luar.
“Dor...dor...dor...”
“Apa itu ?”pekik Alexa sambil melihat ke arah belakang dan mendapati mobil yang mereka naik di tembaki.
“Celaka lelaki itu mengirim anak buahnya untuk menyerang kita.”ucap Alexa terlihat panik menatap Sean.
Sean menatap dari kaca spion mobil dan melihat masih banyak tembakan mengarah pada mereka.
“Alexa bantu aku mengirimkan lokasi keberadaan kita !”ucap Sean fokus mengemudi dan menghindari tembakan anak buah Austin.
__ADS_1
Ia mengulurkan tangan kirinya pada Alexa dan Minta gadis itu untuk memenangkan tombol hijau berulang kali.
“Klik... klik...”Alexa menekan tombol injak berulang kali untuk mengirimkan sinyal pada Fantôme.
“Oh... merde ! Baterai jam tangan mu habis dan kita tak bisa mengirim sinyal.”ucap Alexa mengumpat kesal.
Gadis itu tidak kehabisan ide. Dia melihat jam tangannya yang masih berfungsi dengan baik. Ia pun segera melepas jam tangannya dan mengambil baterainya lalu mengganti baterai jam Sean.
“dor...dor...dor...cuzz...!”
“Celaka ban mobil ini terkena tembakan mereka.”ucap Sean yang saat ini terlihat panik dan mobil seketika berhenti karena bannya kempes.
Sean melihat sudah tak aman bagi mereka terus berada di dalam mobil.
“Alexa bagaimana ?”Tanya Sean menatap Alexa yang masih memegang jam tangannya.
“Ya aku sudah berhasil mengirimkan sinyal sekarang.”balasnya singkat.
“klak... !” sebuah tembakan mengenai mesin mobil.
“Alexa cepat keluar dari sini sekarang !”teriak Sean sambil membuka pintu mobil.
“boom... !”mobil meledak.
Sementara Alexa dan Sean berguling di tanah dan tanpa sengaja mereka berpelukan.
“deg...deg...deg...”Alexa bisa mendengar bunyi detak jantung Sean saat dia menyadarkan kepalanya ke dada bidang lelaki itu.
Mereka berhenti di sebuah pohon yang menahan tubuh mereka.
“Apa kita sudah aman ? Maaf aku tidak sengaja melakukannya.”ucap Alexa melepas pelukannya lalu turun dari atas tubuh Sean.
“huft... kita harus terus berjalan sebelum mereka mengejar kita lagi.”jawab Sean ikut duduk lalu berdiri.
“Srak...”tak jauh dari mereka berada saat ini ternyata beberapa orang berhasil mengejar mereka.
__ADS_1
“dor... dor... !” kembali terdengar tembakan yang mengarah ke arah mereka.
“Lari !”teriak Sean pada Alexa.
Ia pun memegang tangan Alexa dan mengajaknya berlari secepat mungkin dari sana untuk menghindari tembakan musuh.
Di ujung jalan Sean tergelincir dari pijakannya dan jatuh ke bawah, ke sebuah jurang. Secara otomatis Alexa pun ikut jatuh bersamanya.
“Kemana mereka ?!”ucap seorang penembak saat melihat target mereka tak ada di tempat.
Penembak lain menyisir lokasi untuk mencari mereka dan menepati sebuah jurang di ujung jalan.
“Sepertinya mereka jatuh ke bawah sana dan mungkin saja mereka sudah mati.”ucap penembak tadi melihat jurang yang dalam di depannya lalu kembali bersama rekannya keluar dari area itu.
“Apa kau tidak apa ?”ucap Sean menatap Alexa dan melihat tubuhnya yang memar setelah jatuh dari ketinggian menopang tubuhnya membentur bebatuan di sana.
“Aku tak apa...”balas Alexa meskipun dia merasakan tubuhnya terasa remuk dan nyeri di sekujur tubuhnya.
Tiga puluh menit kemudian Sean yang berada di dalam gua di dasar jurang keluar dari sana untuk memantau keadaan.
Ia menetap ke atas dan terlihat ada pergerakan sama sekali di sana.
“Sepertinya sudah aman dan mereka semua sudah pergi. Lebih baik kita Istirahat di sini sebentar sambil mencari jalan keluar dan menunggu Sivan menjemput kita.”ucap Sean menjelaskan pada Alexa setelah masuk kembali ke dalam goa.
Alexa dan Sean pun untuk sejenak bisa menghirup nafas lega sudah aman dari kejaran anak buah Austin.
Merasakan tubuhnya yang sakit semua, Alexa tak bisa tidur meski dia mencoba memejamkan matanya berulang kali.
Sean duduk di samping Alexa dan lelaki itu tertidur sejenak karena merasa lelah.
“sssh.... sssh...”dari dalam goa terlihat seekor ular keluar dari sebuah batu menuju ke arah Sean dan Alexa berada.
Ular itu bergerak dengan cepat dan saat ini sudah berada di belakang tubuh Sean dan merayap ke tubuhnya di saat Alexa baru tertidur.
“clep.. !”ular menggigit leher Sean.
__ADS_1
“Argh.... !”Sean seketika terbangun karena merasakan sakit di leher dan mendapati ada seekor ular yang menggigit nya.
BERSAMBUNG.....