
Di kantor Sean duduk di ruang kerjanya. Lelaki itu diam menatap liontin yang ada di pergelangan tangannya.
“Kenapa gadis itu ingin kembali ke negaranya ? Sedangkan dia masih belum menemukan siapa ayah kandungnya. Lalu apakah liontin ini akan kembali lagi padanya sesuai dengan kesepakatan ?”gumam Sean tak rela harus kehilangan liontin kesukaannya.
Lelaki itu kembali diam dan merenung mencari alternatif lain agar dia bisa memiliki liontin itu sepenuhnya.
“Ouf... apa aku melakukan tes DNA saja antara Alexa dan Austin itu...”batinnya terlintas sebuah ide secara mendadak.
Lelaki itu kemudian kembali menelepon fantôme dan memberi perintah pada mereka untuk mengambil sesuatu dari Austin yang bisa dijadikan bahan untuk tes.
“Baik bos... perintah akan selesai kami hari ini juga.”ucap salah satu anggota Fantôme di telepon.
Sean mengakhiri panggilan lalu duduk kembali. Ia pun ingat pada pesan pengawalnya yang ada di rumah.
“Benar aku harus memesankan gadis itu tiket kembali ke tanah airnya.”gumam Sean. Entah kenapa dia merasa enggan dan ingin gadis itu tetap berada di rumahnya untuk sementara waktu tanpa ada alasan yang jelas. Tapi tak mungkin juga dia menahan Alexa untuk waktu yang lebih lama lagi.
“klik... klik... klik...”Sean menggerakkan jemarinya di atas keyboard dan memesankan sendiri tiket pesawat untuk Alexa secara online meskipun dia merasa sangat berat hati.
Di rumah Sean terlihat Alexa duduk di luar kamar. Dia kembali diserang rasa bosan jika berada di kamar terus menerus, Selain itu hal itu mengingatkan jika dirinya pernah disekap di tempat ini sebelumnya oleh Sean.
Dia menetap ke langit dan tersenyum lebar saat angin berhembus menerpa rambut panjangnya.
“Bagaimana kabar Rey... aku rindu sekali padanya.”batin Alexa tiba-tiba teringat pada sosok Rey.
Gadis itu kemudian mengeluarkan ponsel dan mulai melakukan panggilan.
“kring...kring...kring...”suara ponsel berdering.
Saat ini di Jakarta waktu menunjukkan masih dini hari dan Rey masih terlelap dalam tidurnya dengan ponsel yang tergeletak di meja.
“kring... kring...kring...”Alexa kembali mengulangi panggilan karena tak ada jawaban.
__ADS_1
“Siapa yang menelepon jam seperti ini ?”gumam Rey malas membuka mata namun dia segera duduk karena biasanya dan jam seperti ini Alexa telepon.
Rey segera mengambil ponselnya. Ia melihat sebuah nomor asing yang memanggilnya dan bukan nomor Alexa.
“Halo...”ucap Rey segera mengangkat meskipun tidak mengetahui nomor siapa itu.
“Rey... maaf aku mengganggu tidur mu.” ucap Alexa sambil membayangkan temannya itu bangun dari tidurnya karena mendengarkan panggilan telepon darinya.
“Alexa... ?! Apa benar ini adalah kau ?”balas Rey setelah mendengar suara yang menelepon ternyata adalah Alexa dan dia sama sekali tidak menyangkanya gadis itu akan menelepon dirinya.
“Bagaimana kabar mu ? kuharap kau baik-baik saja. Aku mau memberitahukan padamu tiga hari lagi aku akan kembali ke Jakarta.”ucap gadis itu menjelaskan jadwal kepulangannya.
“Oh benarkah ? Kau akan kembali dalam tiga hari lagi ? Aku akan menjemput mu nanti di bandara.”balas Rey tersenyum kecil.
Mereka berdua mengobrol sebentar. Terlihat Alexa yang tersenyum lebar saat berbicara pada Rey.
Limat menit yang lalu Sean kembali dari kantor dan masuk ke rumah. Dia tidak langsung masuk ke kamarnya namun mencari Alexa terlebih lebih dulu.
“Siapa yang Alexa telepon ? Kenapa dia bisa senyum lebar dan lepas seperti itu ? Baru kali ini aku melihatnya tersenyum seperti itu.”batin Sean memperhatikan Alexa dan melihat senyuman tanpa beban yang melihat gadis itu terlihat lebih cantik dari biasanya.
Sean sengaja diam dan menunggu percakapan Alexa di telepon selesai.
“Rey... ? Nama seorang lelaki ? Siapa lelaki yang dia telepon ?”batin Sean saat mendengar nama lelaki itu disebut. Entah kenapa dia jadi tak suka bila gadis itu berbicara dengan lelaki lain.
“Ehem...”Sean berdehem kecil.
Alexa segera menoleh ke belakang dan ternyata ada Sean berdiri di sana.
“Sudah berapa lama kau berdiri di sana ?”ucap Alexa berbalik menatap Sean dan terlihat terkejut.
“Sudah sepuluh menitan.”jawab Sean singkat dan terlihat dingin.
__ADS_1
Alexa merasa tak enak karena lelaki itu sudah berada di sana lama dan menunggu dirinya.
“Rey... maaf aku ada urusan lain, jadi nanti kita sambung lagi teleponnya.”ucap Alexa menyudahi percakapan mereka dan segera menutup ponselnya.
“Ohh... jadi kau menelepon Rey...dia pasti kekasih mu.”ucap Sean memberikan penilaian setelah melihat ekspresi dari Alexa saat menelepon lelaki itu dan terlihat tidak senang.
Alexa merasa ada yang aneh dengan Sean yang terlihat menatapnya dengan sedikit marah tanpa tahu sebabnya.
“Tidak-tidak...Rey bukan kekasih ku. Apa ada yang mau kau sampaikan padaku ?”ucap Alexa menjelaskan dan segera mengganti topik pembicaraan.
Sean mengeluarkan selembar tiket pesawat dari dalam tasnya.
“Terimalah ini...”ucap Sean menyerahkan tiket pesawat pada Alexa.
“Terimakasih.”balas Alexa saat menerima tiket dari tangan Sean.
“Ada satu hal ya ingin ku tanyakan padamu. Apakah perjanjian kita di awal masih berlaku ?”tanya Sean menatap Alexa.
“Ya tentu saja aku tidak pernah menarik kata-kataku dan mengingkari janjiku.”jawab Alexa singkat.
“Kau belum menemukan ayahmu itu artinya aku gagal membantumu. Akan kah liontin ini kembali pada mu ?”ucap Sean sambil menunjukkan liontin di tangannya dan terlihat berat sekali mengembalikan liontin itu.
Alexa tahu sedari awal jika Sean sangat menyukai liontin miliknya dan tak mungkin baginya memintanya kembali setelah Apa yang dia lakukan selama ini.
“Tidak... liontin itu untuk mu. Meskipun aku belum berhasil menemukan ayahku namun kau sudah membantu sampai sejauh ini.”balas Alexa sambil tersenyum lebar.
Seketika raut muka Sean terlihat berseri-seri dan dia pun tersenyum kecil menatap Alexa.
“Terima kasih sudah mempercayakan liontin berharga ini padaku.”jawab Sean menatap Alexa.
“Aku juga berterima kasih padamu karena sudah membantuku selama ini. Aku titip liontin ibuku pada mu, jaga itu baik-baik.”balas Alexa menyentuh liontin di tangan Sean sambil menatapnya lama dan tersenyum kecil.
__ADS_1
BERSAMBUNG...