
Austin memutar kursinya ke belakang melirik berkas yang barusan di bawa anak buahnya.
Karena penasaran dia pun berdiri dan mengambilnya. Austin duduk kembali dan membaca file tadi.
“Jadi Helena selama hidupnya tidak menikah dengan seorang lelaki ? Bukankah dia menikah dengan Darrel Sanjaya itu ?”gumam Austin terkejut membaca file di tangannya.
Dia tak percaya dan membacanya ulang. Dari file di sebutkan jika Alexa tidak mempunyai ayah sejak kecil dan hanya tinggal berdua saja bersama ibunya dan berprofesi sebagai tour guide.
“Tapi gadis itu memanggil Darrel sebagai ayahnya.”gumam Austin mengingat kembali semua yang diucapkan oleh Alexa.
Austin menaruh kembali file yang dia baca ke meja. Saat ini dia terlihat bingung. Banyak pikiran terlintas dalam benaknya. Satu hal besar yang menjadi pertanyaannya lalu siapa sebenarnya ayah dari Alexa ?
“Apakah... apa mungkin gadis itu adalah anak kandungku ?”batin Austin mengira-ngira.
Dia tampak gelisah bagaimana jika dia benar adalah ayahnya, sementara dia sudah menorehkan kebencian di hati gadis itu. Selain itu jika memang Helena mengandung anaknya, kenapa dia tidak mencarinya lalu menikah dengannya dan memilih hidup menjadi single parent. Berbagai pikiran terbersit jika kasihnya dulu mencintai pria lain lagi selain dirinya hingga sampai hamil namun dia ditinggalkan oleh kekasihnya.
“Apa sebaiknya aku melakukan tes DNA saja untuk membuktikan keraguanku ?”batin Austin menemukan sebuah solusi untuk kebimbangannya.
Lelaki itu kemudian keluar dari ruangannya dan memanggil salah satu anak buahnya.
“Lucas aku memberimu tugas baru saat ini.”ucap Austin di luar rumah menghampiri seorang lelaki.
“Ya tuan apa yang bisa kulakukan untuk tuan sekarang ?”jawab lelaki itu dengan sikap siaga.
“Aku ingin kau melakukan tes DNA. Pergi ke tempat terakhir kalian menawan gadis itu lalu temukan sesuatu di sana yang bisa di gunakan sebagai bahan tes.”jawab Austin menjelaskan panjang lebar.
“Baik tuan Austin.”jawabnya singkat. Lelaki itu segala keluar dari rumah mewah tuannya dan berangkat menuju ke lokasi tempat terakhir mereka menyekap Alexa dan Sean.
Lima belas menit kemudian anak buah Austin tiba di lokasi.
__ADS_1
“Semoga saja aku bisa menemukan sesuatu di sini.”gumam lelaki itu saat masuk ke ruangan penyekapan.
Dia tak sana seorang diri melainkan membawa dua orang lain untuk melakukan tugas ini.
Ketiga anak buah Sean segera bergerak karena misi mereka selalu dibatasi oleh waktu. Mereka mengeluarkan alat sensor yang berbentuk mirip dengan pistol laras panjang.
“biip... biip... biip...”
Anak buah Austin menyalakan alat sensor yang bisa mendeteksi benda sehalus mungkin untuk menemukan bahan tes DNA.
“buzz... aku menemukan sesuatu di sini.”ucap seorang anak buah Austin pada rekannya. Ia menemukan dua helai rambut tipis di sana. Satu helai rambut panjang dan Satu helai lainnya rambut pendek.
Dua rekannya menghampiri lelaki tadi dan melihat rambut yang ditemukan tadi.
“Rambut pendek ini pasti milik tuan Sean dan rambut panjang ini pasti milik gadis itu.”ucapnya setelah melihat dua helai rambut.
“Kau benar.”jawab lelaki yang menemukan rambut Alexa. Ia pun lalu memasukkan satu helai rambut tadi ke kantung plastik yang teruji klinis keamanan dan higienis.
“Tuan Austin... ini yang anda minta.”ucap salah satu anak buah menghadap Austin sambil memberikan selai rambut Alexa padanya.
Austin menerima rambut itu dan melihatnya sebentar. Dia lalu menyerahkan kembali rambut itu pada anak buahnya.
“Bawa rambut itu ke rumah sakit untuk tes DNA dengan ku.”ucap Austin kembali memberi perintah anak buahnya.
Anak buah Austin menerima kembali rambut Alexa dan segera membawanya ke rumah sakit untuk dilakukan tes DNA.
Terlihat anak buah Austin saat ini dengan berada di sebuah rumah sakit dan berada di sebuah ruangan bersama seorang dokter.
“Dokter ini bahan untuk tes DNA nya.”ucap anak buah Austin menyerahkan dua helai rambut pada sang dokter.
__ADS_1
“Ya baiklah kami akan segera melakukan tes dan hasilnya akan keluar besok.”balas sang dokter.
Anak buah Austin keluar dari rumah sakit dan kembali ke tempat yang bertugas.
Sementara di lain tempat terlihat Alexa berada di rumah Sean, di sebuah kamar.
Gadis itu duduk bersandar ke dinding. Dia melihat kalender yang ada di dinding.
“Sudah berapa lama aku berada di sini ?”gumam gadis itu.
Alexa kemudian berdiri dan melihat tanggal saat ini. Dia menghitung hari dan ternyata waktunya di sana tinggal tiga hari lagi.
“Tiga hari lagi aku akan kembali ke Jakarta. Berarti aku harus memesan tiket kembali sekarang.”gumamnya sambil tersenyum kecil dan teringat pada tempat kelahirannya. Dia juga teringat ada teman-teman di tempat kerjanya. Dia juga rindu pada pekerjaannya dan ingin bekerja kembali.
Alexa tak mau membuang waktu dia keluar dari kamar dan berniat pergi ke airport.
“tap... tap... tap...”Alexa berjalan melewati pintu gerbang rumah Sean.
“Maaf nona Alexa mau kemana ?” ucap seorang penjaga rumah Sean bertanya dan menghentikan langkah gadis itu.
“Ya... aku mau ke airport untuk memesan tiket pesawat kembali Jakarta.”jawab Alexa menjelaskan.
“Nona tolong tunggu sebentar. Karena tuan Sean memberi perintah padaku untuk tidak mengizinkan anda keluar karena situasi aman di luar sana.”balas penjaga tadi melarang Alexa keluar dari rumah.
Penjaga tadi segera menghubungi Sean dan memberitahukan padanya jika Alexa akan pergi ke airport.
“Nona tuan Sean bilang anda tetap tidak boleh keluar selangkah pun dari rumah. Dan mengenai tiket pesawat nanti tuan yang akan memesankan untuk anda.”ucap penjaga tadi menyampaikan perintah Sean.
Alexa pun kembali berjalan masuk ke rumah Sean setelah mendengarkan penjelasan dari penjaga tadi.
__ADS_1
Gadis itu hanya menghela nafas panjang dan kembali masuk ke kamar. Dia menunggu Sean pulang dan ingin bicara padanya.
BERSAMBUNG...