
Sean masih berdiri di samping Alexa yang sedang mengigau, diam menatapnya, mendengarkan gumaman Alexa.
“Bagaimana... bagaimana jika aku tak bisa mendapatkan kembali liontin ku... bagaimana aku mencari ayah.”gumam Alexa sambil terisak.
Tanpa sadar Sean menyentuh pipi Alexa dengan lembut karena seolah merasakan kesedihan Alexa.
“greb... !”Alexa merasa ada yang menyentuh pipinya dan memegang tangan Sean.
“Ibu... kaukah itu ?”ucap Alexa sambil tersenyum dan terus memegangi tangan Sean dengan erat seolah tak mau melepaskannya lagi.
“Ibu... jangan pergi kumohon jangan tinggalkan aku... ajak aku bersamamu...”gumam Alexa kembali mengigau dan terus memegang tangan Sean dan mengiranya sebagai tangan ibunya.
“Sebenarnya apa yang diucapkan gadis ini... aku benar-benar tidak paham.”batin Sean yang diam saja membiarkan orang bisa terus memegang tangannya.
“Apa gadis ini benar-benar kehilangan ibunya... dan dia mencari ayahnya sekarang... ?”batin Sean menyimpulkan dari apa yang sudah diucapkan oleh Alexa.
Entah kenapa dia kembali merasa iba pada Alexa yang hidup sebatang kara di dunia ini dan pasti menjalani hidup dengan berat, tidak seperti dirinya hidup mewah bergelimang banyak harta dan segala kemudahan lainnya meski jauh dari orang tua dan kurang mendapatkan perhatian dari mereka.
Sean menarik tangannya namun Alexa terus memegangnya dengan erat. Saat lelaki itu berhasil menarik tangannya Alexa pun membuka matanya.
“Ibu... jangan pergi.... !!!”teriak Alexa berusaha meraih kembali tangan ibunya. Namun dia tersadar jika tidak ada ibunya di sana melainkan Sean.
Alexa yang terkejut seketika langsung duduk dan mengedarkan pandangan ke sekitar. Kepalanya masih terasa berat untuk mengingat ada di mana dia saat ini.
“Kau.... kenapa kau ada di sini ?”ucap Alexa menatap Sean dengan tajam dan berusaha melindungi dirinya untuk berjaga-jaga jaga saja lelaki itu melakukan sesuatu tindakan yang tak diinginkannya.
Sean hanya diam saja tak tahu harus berkata apa.
Alexa merasakan urat nadinya perih dan dia melihat tangannya.
“Kenapa ada jarum infus di tanganku...?”pekiknya kaget saat melihat jarum infus di tangannya.
Dia melihat ke sekitar ruangan yang nampak putih semua dan akhirnya dia mengetahui jika dirinya saat ini berada di rumah sakit entah apa sebabnya.
“Sial... aku tertangkap lagi oleh lo lagi ini dan parahnya lagi sekarang aku ada di rumah sakit. Apa yang bisa ku lakukan... aku tak mau menjadi tawanan nya.”batin Alexa menatap Sean yang tampak diam.
Dengan adanya infus yang mengalir di tubuhnya dari situ pun merasakan kekuatannya sedikit kembali.
__ADS_1
“Argh... !”Alexa mencabut jarum infus yang menancap di tangannya dan menahan rasa sakitnya.
Sean menatap Alexa dan segera mengambil tindakan sebagai antisipasi jika gadis itu akan kabur lagi.
“Gadis ini benar-benar gila apa ya sebenarnya dia inginkan ?! Sudah bagus aku membawanya ke rumah sakit emang dia malah mencabut jarum infusnya...”batin Sean merasa aneh dan baru pertama kali melihat tingkah seorang gadis yang susah dikendalikan seperti Alexa.
Sean pun segera memegang tangan Alexa dengan erat agar gadis itu tidak lepas lagi darinya.
“Hey...lepaskan aku !”ucap Alexa merasa tidak senang karena Sean kembali menahan tubuhnya memegang tangannya dengan erat.
“Haah... haah...”Alexa merasa kehabisan nafas dengan kondisinya yang belum pulih
100% saat ini.
“Baiklah... kita buat kesepakatan sekarang.”ucap Alexa yang sudah menyerah dan menemui jalan buntu.
“Kesepakatan apa yang kau maksud ?!”tanya Sean menanggapi ocehan Alexa.
“Aku akan memberikan liontin itu padamu. Tapi lepaskan aku. Aku tak ingin terus menerus menjadi tawanan seperti ini. Aku merasakan memperlakukanku seperti seorang kriminal saja.”ucap Alexa menjelaskan kesepakatan yang dia maksud.
“Kau yakin... hanya begitu saja ?”balas Sean yang tidak percaya begitu saja pada Alexa.
“Ya... aku sudah lelah berebut liontin itu dari mu. simple bukan, cukup lepaskan aku saja dan kau akan memiliki liontin itu seumur hidupmu.”ucap Alexa lagi mengulangi dan mempertegas maksudnya agar lelaki itu jelas pada kesepakatan yang dia tawarkan.
Alexa tidak tahu kenapa Sean hanya diam saja dan terlihat ragu dengan kesepakatan yang dia tawarkan.
“Aku akan menawarkan sekali lagi sebelum aku berubah pikiran. Ambil liontin milikku dan lepaskan aku. Aku tak akan mencari ayahku lagi dengan berpindahnya liontin itu ke tanganmu.”jelas Alexa mengulangi lagi kesepakatan yang dia tawarkan.
Sean masih diam dan belum menjawab di karena dia khawatir jika itu merupakan jebakan.
“Apa yang sebenarnya dipikirkan lelaki ini... ?”batin Alexa yang merasa kesal sekali dengan Sean yang masih diam saja sedari tadi.
“Aku akan menghitung sampai sepuluh. Jika kau tidak memberikan jawaban maka kesepakatan ini batal !”ucap Alexa lagi yang mulai kehilangan kesabarannya.
Sean tidak goyah dan masih diam sambil berpikir dengan hati-hati pada rencana Alexa saat ini.
“Satu... dua... tiga...... sembilan.. sepu...”ucap Alexa mulai menghitung.
__ADS_1
“Ya baik... aku setuju dengan kesepakatan yang kau buat.”balas Sean dengan cepat sebelum sampai ke hitungan sepuluh.
Alexa tersenyum saat Sean menyetujui kesepakatan yang dia buat. Dia pun menarik tangannya saat Sean melonggarkan tangannya.
“Haah... baiklah sekarang liontin ku menjadi milikmu. Aku tidak akan meminta ganti rugi sepeser pun padamu. Maka biarkan aku pergi sekarang.”ucap gadis itu.
Sean pun melepaskan tangannya.
Alexa segera turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari rumah sakit dengan tertatih.
“Tangkap gadis itu !”ucap seorang lelaki yang berjaga di luar pintu saat melihat Alexa berjalan keluar dari ruangan.
Seorang lelaki dengan cepat dan mudah menangkap Alexa.
Sean langsung berlari saat melihat gadis itu tertangkap oleh anak buahnya.
“Lepaskan dia... !”teriak Sean di depan pintu.
“Tapi tuan bukankah tuan sebelumnya memerintahkan kami untuk terus mengawasi gadis ini?”ucap anak buah Sean yang merasa bingung dengan perubahan sikap bosnya.
“Kubilang lepaskan dia... jangan sampai aku mengulangi perintahku untuk yang kedua kalinya !”ucap Sean dengan lantang.
Lelaki tadi pun segera melepaskan Alexa tanpa bertanya lagi meskipun Sebenarnya dia bingung kenapa tiba-tiba perintah nya berubah.
Alexa menoleh dan menatap Sean untuk terakhir kalinya. Dia Halo menatap liontin di tangan Sean dengan sedih lalu kembali berjalan meninggalkan rumah sakit itu.
Alexa merasakan tubuhnya masih lemah dan terus memaksakan dirinya untuk berjalan menuju ke jalan raya untuk mencari taksi.
Sean ternyata mengingkari kesepakatannya.
“Kalian ikuti gadis itu dari kejauhan dan jangan sampai ketahuan olehnya. Laporkan pada ku info apa saja yang kalian dapat.”ucap Sean memberi perintah kepada anak buahnya.
Para lelaki yang ada di sana segera bergerak mengikuti perintah bosnya meskipun mereka sebenarnya bingung kenapa perintah kembali berubah.
Di tengah jalan sebelum sampai ke jalan raya Alexa kembali merasakan kepalanya pusing dan tubuhnya serasa berat dan dia pun kembali pingsan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1