
Alexa menghembuskan nafas dalam-dalam saat melihat Sean kembali memegang tangannya dengan erat. Dia pun berusaha membebaskan diri dan menarik tangannya dengan kuat, namun tenaga lelaki itu lebih besar daripada tenaganya.
“Sial... kenapa aku tertangkap lagi olehnya... bagaimana dia bisa tahu aku kabur... aku terlalu meremehkan dirinya.”batin Alexa menatap Sean dan menarik tubuhnya mundur.
“Kau mau kabur ke mana lagi... nona...aku tidak menyangka ternyata kau mengetahui kamarku... ”ucap Sean pada Alexa dan menyangka gadis itu akan mengambil liontin itu dari kamarnya.
“Kamar apa maksudmu... aku tidak tahu apa yang kau ucapkan !”jawab Alexa dengan kesal.
Tanpa menjawab Sean segera membawa pagi Alexa dari sana dan membawanya ke tempat lain di sebuah ruangan yang lebih tertutup dari ruangan tempat menahan Alexa sebelumnya.
“kriek...”
Sean membuka pintu sebuah ruangan lalu masuk ke sana bersama Alexa. Ruangan itu terletak terpencil dari ruangan lainnya dan terisolasi.
“Tinggallah di sini...aku tidak mau kamu lakukan tindakan lebih nekat lagi nantinya dan aku akan kehilangan liontin ini.”ucap Sean sambil melihat gelang di tangannya.
Lelaki itu kemudian melepaskan Alexa di ruangan dan meninggalkan gadis itu sendiri di sana.
Alexa yang tak terima menarik Sean sebelum lelaki itu keluar dari ruang.
“Kau... beraninya kau mengurungku di sini ! Kembalikan liontin ku !”ucap Alexa memegang tangan Sean namun lebih waspada daripada sebelumnya dan dengan sigap dia memegang tangan Alexa.
Sean melihat Alexa yang tak berdaya. Dia pun melepaskannya dan segera keluar dari ruangan itu kemudian mengunci nya.
“Brak... brak...”Alexa menendang pintu itu dengan keras. Namun sayang sekali pintu yang terbuat dari bahan besi itu sama sekali tak berpengaruh dengan tendangan yang kuat.
“Haah.... haah...”Alexa dan merasa kelelahan setelah berulang kali menendang pintu besi itu.
Dia pun kemudian duduk di lantai dan bersandar pada pintu besi itu sambil peraturan nafasnya yang belum teratur.
“Sial kenapa aku terperangkap di sini...”gumam Alexa kesal dan sejenak meratapi nasibnya.
Satu hari berlalu dan seharian Alexa belum memasukan sesuap nasi pada mulutnya.
“krucuk...”suara perut Alexa yang terus berbunyi sedari tadi dan dia merasa sangat lapar sekali.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian seorang pelayan datang membawakan makanan atas perintah dari Sean.
“klak...” seorang pelayan lelaki membuka pintu.
Alexa yang duduk di sebuah kursi di sudut ruangan menoleh ke arah pintu saat pintu terbuka. Dia melihat seorang pelayan lelaki membawa hidangan makanan untuk nya dan menaruhnya kemeja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
“tap... tap... tap...” pemicu Kembali keluar dari rumah dan mengunci kembali pintunya.
Alexa hanya diam saja dan tetap duduk di tempatnya sambil melihat hidangan yang tersaji di depannya.
“Baunya harum pasti makanan ini lezat...”batin Alexa merasa semakin lapar melihat makanan di depannya.
Gadis itu semakin tidak tahan ingin memakannya namun dia hanya diam dan melihatnya saja.
“Jika aku memakannya maka aku sama saja mengakui jika diriku adalah tawanan nya.”ucap Alexa yang masih teringat pada harga dirinya.
Dia pun memutuskan untuk tidak menyentuh hidangan itu sama sekali dan lebih memilih untuk menahan lapar.
Keesokan paginya seorang pelayan lelaki kembali masuk ke ruangan itu dan membawakan makanan untuk Alexa atas perintah Sean. Dia membawa kembali makanan yang semalam tidak dimakan Alexa.
Keesokan harinya Alexa bangun dan merasa tubuhnya lemah. Dia merasa sangat lapar dan haus sekali.
“Lebih baik aku membasahi tenggorokanku yang kering saja...”gumam Alexa.
Dia berdiri di depan meja di mana Di sana tersaji dengan dan minuman untuk dirinya.
“Glek...glek...glek...”Alexa pengambilan satu botol besar berisi air mineral dan menghabiskannya.
Di lain tempat seorang pelayan menemui Sean yang sedang berada di ruang makan.
“Tuan... gadis itu hingga hari ini sama sekali tak menyentuh makanannya.”ucap seorang pelayan menjelaskan.
Sean menara sendok yang dipegangnya dan menatap pelayan itu.
“Kirim saja makanan sehari tiga kali. Nanti pasti dia akan memakannya jika lapar.”ucap Sean memberi perintah.
__ADS_1
Pelayan itu mengangguk dan mengerti dan segera keluar dari ruangan itu.
Malam hari di ruangan, Alexa masih merasa lemas kan sudah meminum banyak air. Dia pun merebahkan dirinya di tempat tidur.
Tiba-tiba dia merasa kepalanya berat dan pandangan matanya kabur. Dia pun mencoba menenangkan diri sambil memejamkan matanya.
Dia teringat pada ibunya dan melihat sosok ibunya memanggil dirinya dan mengajaknya pergi ke suatu tempat.
Keesokan paginya seorang pelayan kembali masuk ke ruangan tempat Alexa ditahan untuk mengantarkan makanan.
Pelayan itu menara sarapan pagi di meja dan mengambil hidangan makan malam yang sama sekali tidak disentuh oleh Alexa.
“Kenapa gadis itu sama sekali tidak bergerak...”gumam pelayan tadi merasa ada yang salah dengan Alexa.
Dia pun kemudian menghampiri Alexa dan memeriksanya.
“Wajahnya pucat sekali... dan sepertinya dia pingsan.”gumam pelayan itu selama memeriksa kondisi Alexa.
“Aku harus melaporkan hal ini pada tuan...”
Pelayan itu kemudian menuju ke pintu dan menekan tombol merah yang ada di sana. Tombol itu menghubungkannya langsung pada Sean. Dia pun memberitahukan keadaan tahanan yang saat ini sedang pingsan.
Tak lama kemudian mesin datang ke ruangan itu untuk memeriksanya sendiri. Dia melihat wajah Alexa yang pucat dan menyentuh tangannya yang terasa sedingin es.
“Gadis ini keras kepala sekali...ku rasa dia sama sekali tidak mau makan dan membuatnya jadi seperti ini.”gumam Sean tampak mengkhawatirkan kondisi Alexa yang terlihat memprihatinkan.
Lelaki itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelepon anak buahnya.
Tak beberapa lama kemudian datang beberapa orang lelaki beras hitam masuk ke ruangan itu.
“Bos...ada apa bos memanggil kami kemari ?”tanya salah seorang lelaki.
“Bawa gadis ini keluar dari sini dan antar ke rumah sakit terdekat.”balas Sean memberi perintah.
Para anak buah Sean itu kemudian segera membawa keluar tubuh Alexa dan melarikan gadis itu ke rumah sakit.
__ADS_1
BERSAMBUNG....