
Laptop Sean bukanlah sembarang laptop. Laptop jenis keluaran terbaru yang mempunyai teknologi paling mutakhir, dilengkapi dengan peralatan canggih yang bisa mendeteksi sepuluh kali lebih cepat dari laptop biasa. Selain itu Sean mendapatkan akses khusus mencari berbagai informasi rahasia dengan mudah karena statusnya.
Sean melihat di monitor ada banyak sekali, ada ribuan daftar nama lelaki dengan nama Austin.
“Merde....”batin Sean mengobati saat melihat deretan nama yang membuatnya sedikit pusing.
“Jika seperti ini maka akan susah mencarinya. Selain perlu waktu lama juga kurang akurat.”batin Sean seperti melakukan pekerjaan mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Alexa hanya diam sembari duduk menatap Sean yang saat ini terlihat serius.
“Aku ingin lihat apa yang bisa dilakukan lelaki ini. Apa dia benar-benar bisa membantuku ?”gumam Alexa yang tak sabar menunggu hasilnya.
Sean menggerakkan jemarinya di laptop. Dia pun mengirimkan pesan pada Judas dan juga Sivan agar membantunya melacak nama Austin.
“Aku beri kalian waktu satu jam dari sekarang dan berikan daftar nama Austin yang benefit pada ku.”tulis Sean kemudian mengirimkan pesannya pada mereka.
“tiit...”dalam hitungan detik Sean menerima balasan dari Judas dan Sivan.
Sean kembali duduk tegak dan beralih menatap Alexa yang ternyata duduk dengan tenang sama sekali tidak gelisah.
“Bagaimana tuan Sean apa kau sudah mendapatkan petunjuk ?”tanya Alexa sambil tersenyum tipis.
Sean mengartikan senyuman Alexa adalah sebuah senyuman yang seolah meremehkan kemampuannya.
“Sialan... gadis ini memandang rendah diriku.”gumam Sean tidak membalas senyuman Alexa.
“Aku masih belum menemukannya, butuh waktu untuk mencarinya. Ku harap kau bisa lebih sedikit bersabar.”balas Sean dengan tenang.
“Aku sangat mengandalkan mu tuan Sean.”jawab Alexa kembali tersenyum karena mengira Sean kesulitan menemukan petunjuk untuknya.
Sambil menunggu informasi dari Judas dan Sivan, Sean pun mengajak Alexa mengobrol.
__ADS_1
“Jadi Nona Alexa sambil menunggu informasi bagaimana jika kau minum dulu.”ucap Sean sambil melirik jam tangannya dan menentukan waktu berakhir tugas yang diberikan.
“prak... prak...”Sean bertepuk tangan dan seorang pelayan segera keluar dan menghampiri mereka berdua.
“Apa yang bisa ku bantu, tuan ?”tanya langsung sang pelayan wanita paruh baya.
“Layani nona ini.”balas Sean sambil menatap ke Alexa.
Pelayan itu menghadap Alexa dan menanyakan apa yang bisa dia bantu.
“Aku minum apa saja, samakan saja dengan tuan Sean.”jawab Alexa sekedarnya karena sebenarnya dia sama sekali tidak harus.
“Apa nona yakin tidak ingin minum teh atau lainnya ?”tanya pelayan wanita itu menegaskan kembali dan Alexa mengangguk.
“Bikinkan saja apa yang dia pesan bi.”jawab Sean sambil tersenyum kecil menatap Alexa karena gadis itu tidak tahu apa minuman favoritnya.
“Baik tuan...”jawab perayaan wanita tadi kemudian segera pergi dari sana dan membuatkan minuman untuk mereka berdua.
“Tac... tac...”Judas mengetikkan sebuah formula dan seketika muncul semua daftar nama orang yang bernama Austin dan secara otomatis nama itu terfilter sendiri dan menyisakan data orang bernama Austin yang masih survive dari daftar ribuan daftar nama Austin yang sudah meninggal atau sudah tidak survive lagi.
Sedangkan Sivan melakukan pencarian dengan lebih cepat dan lebih canggih lagi. Entah dengan cara apa dia berhasil menemukan tiga daftar nama Austin yang bonafid saat ini.
Kembali ke Sean dan Alexa yang saat ini sedang mengobrol ringan.
“Lelaki ini bilang mau membantuku tapi yang dia aku kan hanya mengajak ku mengobrol sedari tadi.”batin Alexa semakin meremehkan kemampuan Sean.
“tap... tap... tap...”pelayan wanita datang membawakan minuman.
“Silahkan tuan, nona...”ucap pelayan itu menaruh gelas di meja kemudian pergi.
“Terima kasih bi.”ucap Sean.
__ADS_1
Dia pun mengambil secangkir Kopi dari meja dan segera meminumnya di tengah cuaca yang dingin.
“Nona ayo minumlah selagi hangat.”ucap Sean setelah menyesap sedikit kopi tawarnya.
Alexa mengambil cangkir di depannya dan segera meminumnya.
“Huft... minuman apa ini ? Secangkir kopi yang sangat pahit sekali.”batin Alexa mengumpat saat menyesap sedikit kopinya dan menaruhnya kembali ke meja karena pahit luar biasa.
Sean hanya diam menatap Alexa dan tersenyum dalam hati melihat Alexa yang tidak menikmati minuman favoritnya.
Belum ada satu jam Sean mendengar pesan masuk. Dan dia pun segera memeriksanya.
“Nona tunggu sebentar.”ucap Sean sambil membaca data yang dikirimkan oleh Judas dan Sivan padanya.
“Nona ada dua puluh daftar orang bernama Austin yang masih survive di sini.”ucap Sean sambil menunjukkan data di laptop yang sudah dia edit dan dia percantik tampilannya pada Alexa.
“Oh ya....”jawab Alexa singkat dan melihat data yang ditunjukkan oleh Sean.
Gadis itu terkejut melihat hasil yang ditunjukkan oleh Sean padanya. Karena sebelumnya dia meremehkan lelaki itu. Dan ternyata dalam hitungan jam Sean berhasil menemukan data yang akurat.
“Kau mau aku menyelidikinya sekarang atau kapan ?”tanya Sean membalik kembali laptop ke hadapannya.
“Apa benar lelaki ini bisa dipercaya dan informasinya akurat ?”batin Alexa yang masih belum menjawab dan terlihat berpikir.
“Aku tidak bisa tinggal terlalu lama di sini. Jadi aku minta kau untuk mencarinya secepatnya, tuan Sean.”balas Alexa.
“Baiklah jika begitu kita mulai penyelidikan hari ini juga dengan lima daftar nama orang teratas yang ada dalam list.”balas Sean menanggapi Alexa.
Lelaki itu kemudian berdiri dan baru bangun mikrofon yang terpasang di telinganya ke depan bibirnya dan mulai berbicara dengan seseorang.
Sedangkan Alexa terlihat sedikit terkesan pada cara kerja Sean yang terbilang cepat.
__ADS_1
BERSAMBUNG....