
Tidak banyak barang-barang yang saya bawa ke rumah ini. Hanya satu buah koper kecil berisi pakaian-pakaian saya, satu tas berisi kosmetik, serta satu tas berisi laptop. Mas Farid mengatakan, tidak usah membawa banyak barang, karena segala fasilitas sudah tersedia di rumahnya. Pakaian juga tidak usah dibawa semuanya. Saya bisa membelinya nanti jika stok pakaian saya habis.
Tadi pagi, Mas Farid memberikan saya amplop coklat berisi uang. Saya tidak tahu berapa nominalnya. Tapi sepertinya lumayan tebal. Dia bilang, saya bisa pakai uang itu untuk membeli segala kebutuhan saya. Mungkin ini uang nafkah pertama, eeh bukan deh. Katanya itu uang pegangan saja. Untuk nafkah mungkin lain lagi.
Mas Farid tadi mengatakan kalau dia akan menyerahkan urusan rumah tangga pada saya, mulai dari belanja kebutuhan dapur dan printilan lainnya. Duh, senangnya saya. Hmmm.. Kira-kira berapa ya, uang dalam amplop coklat itu? saya sudah berkhayal akan membeli beberapa potong atasan baru, lalu saya juga akan ke salon, dan mungkin saya akan gunakan juga untuk mentraktir beberapa teman.
...****************...
Mas Farid masih berada di ruang kerjanya. Dari tadi siang sehabis menjemput saya dari rumah orangtua saya, dia langsung masuk ruang kerja. Dia minta maaf pada saya karena tiba-tiba kliennya menelpon, dan dia harus menyelesaikan pekerjaannya. Dikejar deadline, begitu katanya. Agak aneh sih, kok kliennya seperti tidak mengerti sih, kalau dia baru saja menikah. Apa tidak bisa memberinya toleransi waktu. Masak masih harus dikejar deadline? tapi tak apalah, saya harus memahami pekerjaannya.
Saya masih menelusuri setiap sudut ruangan di rumah ini. Ruang tamu, ruang tengah, lalu kamar tidur, ruang kerja Mas Farid, ruang makan, dapur dan kamar mandi, semuanya terletak di lantai bawah. Sementara di lantai atas, ada dua kamar tidur, ruang baca, lalu di paling ujung ada tempat mencuci dan menjemur pakaian. Dan juga ada balkon cantik dengan dekorasi taman gantung dan lampion warna-warni. Di sebelah balkon itu juga ada dak ruangan yang cukup luas. Katanya sih itu nanti mau dibuatkan kolam renang. Kolam renang di lantai dua. Wow, keren banget...
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul 08.15 malam. Lelah juga menyusuri rumah ini. Perut saya mulai kukuruyuk. Saya beranikan diri untuk mengetuk ruang kerjanya. Mengajaknya makan malam. Dengan sigap, saya menghangatkan lauk-lauk yang saya bawa dari rumah tadi. Ada dendeng balado, bakwan ikan teri basah, capcay dan sambal goreng hati dan kentang. Ibu yang memasak semuanya. Ibu juga yang membungkus lauk-lauk ini untuk saya bawa pulang.
Sedih juga rasanya meninggalkan rumah orangtua. Di rumah saya sekarang hanya tinggal Ibu, Bapak dan Adik bungsu saya. Kedua adik saya yang sudah menikah, tinggal di kota lain mengikuti suami-suami mereka.
__ADS_1
...****************...
"Maaf saya ketiduran. Ayo kita makan. Makasih ya sudah bangunin saya. Tanpa basa-basi, dia langsung duduk dan mulai menyantap makanan. Sikapnya datar. Cenderung kaku malah. Hmmm. Apa dia grogi melihat saya?
Dia makan dengan serius sekali. Terus saja mengunyah tanpa diselingi obrolan. Apa dia lapar sekali ya?
"Hem... Masakan ibumu enak sekali."
Jadi dia sangat menikmati masakan Ibu. Pantesan diam saja, hibur saya dalam hati.
"Kalau masak tidak ya, karena aku biasa makan di luar. Aku gampang kalo urusan makan." Tambahnya lagi.
"Jadi nanti kamu gak usah ngapa ngapain ya. Tapi kalo kamu mau masak ya silahkan. Sekali lagi, aku orangnya simpel kok kalau untuk urusan makan."
"Apa kamu bisa masak?"
"Bisa Mas. Aku biasa masak kok di rumah. Meskipun masakanku gak seenak makanan Ibu," jawabku merendah.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu," jawabnya.
"Oh iya, kamarku ada di atas. Tapi masih belum dibereskan. Jujur aja, selama ini aku jarang banget tidur di kamar atas. Lebih sering di ruang kerja. Kamu tahu sendirilah, kerjaanku banyak dan dikejar deadline semua. Aku harus benar-benar fokus. Jadi kadang aku lebih sering ketiduran di ruang kerja."
"Untuk sementara, kamu bisa pakai kamar tidur yang ada di ruang depan."
Akhirnya dia bersuara juga. Panjang juga penjelasannya.
"Aku lanjut pekerjaanku dulu ya. Nanti kita bisa lanjut lagi!" Mas Farid pun berlalu.
Bersambung.
Mohon like, vote dan komentarnya ya Guys! Matursuwun....
Gambar visual untuk rumah Mas Farid
__ADS_1