
Farid
Mengapa Ninis agak aneh ya? aku merasakan perubahan pada sikapnya. Dia agak terlihat jutek dan sinis padaku. Seperti kemarin saat aku ketahuan masih menyimpan foto Meylan di balik bantal, dia kelihatannya tidak suka dan menyindirku.
Bahkan bukan cuma itu, langkah kakinya seperti orang sedang marah-marah. Menghentak. Dia juga mulai cuek padaku. Bernyanyi keras-keras sampai suaranya yang cempreng itu terdengar jelas dan menganggu tidurku.
Apa mungkin dia lelah mengurusku? Bisa saja itu terjadi. Aku sadar kok, dengan kondisiku yang seperti ini, aku memang belum mampu melakukan apa-apa sendiri. Aku membutuhkan bantuannya.
Saat aku dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lumayan lama, Ninis dengan sigap menjagaku. Tapi entahlah, apakah dia tulus melakukannya dari dalam hati atau karena tidak enak pada mama?
Aah, bisa saja dia memang lelah dan bosan mengurusku. Atau bisa jadi dia juga marah dan kecewa padaku, mengingat aku belum juga memberikan kepastian tentang surat perjanjian dan kompensasi yang pernah kami bicarakan.
__ADS_1
Sebelum musibah kecelakaan itu terjadi, Ninis sempat menanyakan tentang kejelasan statusnya di rumahku jika aku dan Meylan batal untuk rujuk. Dia mengatakan kalau dia tidak mungkin tinggal di sini dengan laki-laki yang tidak mencintainya.
Dia juga menanyakan perihal kompensasi yang harus dia terima. Jadi atau tidaknya aku rujuk dengan Meylan, dia tetap harus mendapatkan kompensasi itu. Jika tidak, dia bisa saja membongkar semua rahasia pernikahan pura-pura ini kepada Bu Endang atau Mama..
Kepalaku mendadak sakit memikirkan semua itu. Kenapa aku harus berada dalam posisi sulit seperti ini? terlebih, hatiku masih selalu dipenuhi sosok Meylan.
Ninis memang baik. Aku akui ketelatenannya mengurusku di rumah sakit. Dia tidak sungkan untuk membantuku memakai pampers hingga membimbing saat akan ke toilet. Dia juga tidak jijik saat mencucikan pakaian kotorku.
Kalau saja, semua ini tidak pernah terjadi. Kalau saja, aku tidak menuruti ide gilanya. Dan kini, semudah itu dia membatalkan semua yang telah kami rencanakan dan meninggalkan aku. Brengsek....
Sekarang aku benar-benar terjebak oleh permainanku sendiri. Aku bingung, benar-benar bingung. Haruskah aku menceraikan Ninis dan menyatakan semuanya kepada mama. Atau haruskah aku mempertahankan wanita seperti Ninis untuk tetap tinggal di rumah ini?
__ADS_1
Tapi bagaimana dengan hatiku? aku belum sanggup untuk mencintai sebagaimana cintaku pada Meylan. Dan apakah Ninis juga mau denganku? dia juga tidak memiliki perasaan apa-apa denganku. Bagi dia, hubungan kami tidak lebih seperti hubungan bisnis.
Tuhan, inikah pelajaran mahal yang harus kubayar? aku dihadapkan pada pilihan yang berat dan sulit. Kalau aku menceraikan Ninis, bagaimana dengan Mama? apa yang harus aku jelaskan pada Mama?
Jika aku mempertahankan Ninis untuk tetap menjadi istriku, apakah aku bisa memberikan hatiku padanya? hati yang sudah sekian lama mati dan terkunci, karena Sang Pemiliknya (Meylan) telah berlalu dan pergi. Dan aku juga tidak tahu bagaimana perasaan Ninis terhadapku? apakah kami akan tetap bersama dengan kondisi yang seperti ini? menjalani kehidupan bersama tanpa rasa?
Lalu akankah kami sanggup untuk bertahan? sampai kapan dan sampai berapa lama? bagaimana jika orangtua kami curiga dengan rumah tangga palsu yang kami jalani?
Kepalaku makin sakit. Aku tidak sanggup lagi. Rasanya ingin teriak kencang-kencang melepaskan sesak ini. Semua memang gara-gara Meylan. Brengsek, sialan.
Mengapa aku bisa begitu bodoh mengikuti keinginannya. Aku sudah lakukan semua itu semua dia mau kembali padaku. Ternyata, seperti inilah balasannya? dammmmn..... Cintaku yang begitu besar hanya dianggap mentah.
__ADS_1
Bersambung.