LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Kesempatan Itu Datang


__ADS_3

Si Botak nampak sangat terburu-buru. Wajahnya terlihat tegang. Sepertinya ada masalah serius. Dia meletakkan ponselnya di meja, persis di sebelah tangan kirinya. Pandangan matanya nampak berputar-putar, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku berangkat Nis. Maaf ya gak bisa sekalian ngedrop kamu ke sekolah."


"Gak papa Mas. Santai aja. Dihabiskan dulu sarapannya!"


Dia pun mengelap bibirnya dengan tisu dan kemudian berdiri.


"Duh, lagi buru-buru begini pake acara kebelet lagi!" ujarnya


Dengan sigap dia meluncur ke toilet belakang dekat dapur. Hmmmm, kesempatan ini tidak boleh dibiarkan. Saya hafal betul kebiasaannya. Dia agak mudah lupa jika sudah meletakkan sesuatu. Saya ambil serbet dan mulai menutupi ponselnya dengan serbet. Hahahaha Maafkan aku Mas... Terpaksa harus kulakukan cara ini.

__ADS_1


Dia keluar dari toilet dan menyambar tas kerjanya lalu berpamitan lagi pada saya. Dia benar-benar terburu-buru. Dia masuk ke dalam mobilnya dan berlalu begitu cepat. Lupa akan ponselnya. Hahahaha.


Yess.. Saatnya memainkan kesempatan ini. Semoga dia baru ingat akan ponselnya begitu sampai di kantor nanti. Saya ambil ponselnya dan mulai beraksi. Oh iya, saya akan izin untuk datang telat ke sekolah. Tak apalah, sekali ini saja. Lagi pula, selama ini saya tidak pernah absen.


Sekarang saya harus membuka password ponselnya. Seperti apa ya polanya? Saya mulai mencoba. Hmmm, sepertinya begini deh. Saya pernah melihat dia membuat garis pola seperti


ini. Eeh, tapi bukan ya? ah, mungkin seperti ini. Yah, ternyata bukan juga. Coba lagi dengan pola membentuk huruf F seperti inisial namanya. Yaaah, bukan juga. Bagaimana dengan huruf M? inisial nama Meylan. Baiklah, saya mulai membentuk pola huruf M. Dan ternyata berhasil.... Yessss!


Akhirnya, berhasil juga. Sekarang saya bisa mengetahui semua tentang dia dengan mudah. Apa yang dia lakukan, dia sedang sama siapa, dia lagi di mana dan ngapain aja. Tidak tanggung-tanggung. Hati saya berdegub kencang. Saya harus siap, jika nanti ada sesuatu yang pasti akan membuat saya lebih terluka. Aah, masa bodoh.


Saya harus ke sekolah sekarang. Ponsel Si Botak saya letakkan lagi di atas meja makan. Ternyata dia benar-benar tidak sadar ponselnya tertinggal. Dari tadi dia tidak menelpon ke rumah dan tidak ada panggilan ke ponselnya.

__ADS_1


Ponsel saya berbunyi. Panggilan dari nomer yang tidak saya kenal. Huh, mengganggu saja. Saya abaikan dan lanjut mengajar lagi. Tapi terus saja berdering. Benar saja, ternyata Si Botak yang menelpon saya


"Halo, Nis kamu di mana?" suaranya terdengar sangat panik. Pasti dia menanyakan ponselnya.


"Di sekolah, Mas. Ada apa?" tanya saya pura-pura tidak tahu.


"Apa tadi kamu lihat ponselku. Dimana ya? apa ketinggalan di rumah?"


"Wah, aku kurang tahu, Mas. Aku lagi ngajar nih. Tidak lama setelah Mas berangkat, aku langsung meluncur ke sekolah. Nanti kalau aku sudah di rumah, aku langsung cari, Mas!" jawab saya.


Kenapa dia tidak menelpon ke rumah ya? eh iya, di rumah kan sedang tidak ada orang. Bu Atin izin tidak masuk hari ini karena mau antar suaminya berobat. Saya melirik jam. Tidak sabar rasanya ingin segera membuka ponsel dan mengetahui semua isi whatsapp Si Botak yang sudah saya retas tadi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2