
Dada saya makin sesak menahan emosi yang terus memuncak. Rasa sakit dan terhina, membuat saya jadi seperti ini. Saya tidak peduli lagi sekarang. Ini saat yang tepat untuk menunjukkan betapa batin saya tersiksa selama ini.
Saya abaikan panggilan dari Si Botak yang berulang kali menelpon saya. Biar saja. Biar dia mikir. Dia pasti heran sekaligus terkejut dengan sikap saya. Aah, bodo amat. Yang jelas, saya ingin menenangkan diri dulu di sini.
Lagi-lagi saya berpikir, apa tindakan saya ini sudah tepat? apakah tindakan saya ini pantas dilakukan? berbagai pikiran muncul satu persatu di benak saya. Saya juga heran, mengapa saya bisa seberani itu ya? pasti karena efek mood swing ketika menjelang haid. Dan benar saja, dua jam yang lalu saya menstruasi.
Udara sejuk dari jendela membuat saya sedikit lebih tenang sekarang. Pikiran saya mulai rileks, terbayang lagi apa yang terjadi lima belas jam yang lalu.
Saya berjalan dengan tenang menuju kamarnya. Dia masih duduk di tempat tidur dengan pandangan kosong. Bahkan sarapannya pun masih tersisa banyak. Itu berarti, dia hanya makan sedikit pagi ini. Entah, obatnya apa sudah diminum atau belum ya?
"Mas, maaf ganggu. Boleh aku bicara?" tanya saya pelan.
Dia mengangguk lalu menatap saya sekilas.
"Duduklah." Jawabnya
"Begini, Mas... Aku tahu ini bukan saat yang tepat. Aku mohon maaf, bukannya aku tidak mengerti kondisi kamu saat ini, tapi aku hanya ingin kejelasan tentang statusku di rumah ini juga tentang surat perjanjian itu."
"To the point saja Mas, bagaimana dengan kelanjutan nasibku di sini? Mas tidak jadi rujuk dengan Meylan, kan? aku hanya ingin kamu dan Meylan konsekuen terhadap permainan yang sudah kalian ciptakan.
"Aku bukan barang mainan. Aku hanya ingin ada realisasi dari isi surat perjanjian itu." Entah mengapa, kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir saya.
Si Botak mungkin tidak menyangka kalau saya berani menyampaikan semua ini. Dia menatap saya lalu menunduk. Tangannya mengepal. Apakah dia marah? masa bodoh. Dia harus tahu, siapa Ninis yang sebenarnya. Saya memang mencintai dia, tapi saya harus pakai logika.
__ADS_1
"Aku yakin, kondisi Mas sebentar lagi akan membaik. Tidak lama lagi pasti Mas bisa berjalan dengan normal. Dan Mas sudah tidak membutuhkan aku lagi. Dan menurut isi surat perjanjian itu, jika Mas dan Meylan jadi rujuk, aku akan mendapatkan sejumlah uang, tanah, dan juga mobil."
"Tapi, berhubung, kalian batal rujuk, kira-kira berapa bagian yang akan aku dapat? maaf jika aku terlalu tergesa untuk menanyakannya.Sekali lagi, aku hanya butuh kepastian. Kita tidak mungkin melanjutkan pernikahan pura-pura ini kan?" saya mencoba memancing reaksinya.
Saya ingin tahu bagaimana isi hati dia terhadap saya. Melihat pengorbanan saya yang selama ini mengurus dan merawatnya, apakah hatinya sudah mulai meleleh untuk saya?
Dia masih diam, beberapa menit kemudian menggigit bibirnya. Nampak seperti sedang berpikir keras.
"Beri aku waktu, Nis. Aku pasti akan konsekuen terhadap janjiku." Jawabnya.
"Kira-kira kapan ya Mas? sebentar lagi kamu akan sembuh dan bisa jalan, dan hubungan kita sebagai mitra bisnis akan selesai. Berhasil atau tidaknya, proyek yang kita jalani, aku tetap harus terima bayaran kan! "
"Kira-kira adakah perubahan dari nominal yang seharusnya kuterima? kalau kamu dan Meylan jadi rujuk, aku akan mendapatkan satu mobil, uang 850 juta, juga tanah sekian hektar. Berhubung kalian tidak jadi rujuk, kira-kira apa yang akan dikurangi dari jumlah seharusnya aku terima?"
Dia tersentak, seolah tidak menyangka saya akan berani mengungkapkannya lagi.
"Aku tahu Nis. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sadar waktu itu."
"Apakah kekhilafanmu waktu itu bisa diperhitungkan sebagai bagian dari kompensasi yang akan aku dapatkan? Mas mengerti kan maksudku? karena sekali lagi, hubungan kita kan tidak lebih dari hubungan bisnis."
"Tapi tenang saja, untuk mengurus dan merawat kamu selama sakit, aku ikhlas kok. Aku tidak minta tambahan kompensasi. Apalagi, aku sama sekali tidak merasa dirugikan untuk mengurus dan merawat kamu, beda dengan kejadian waktu malam itu. Akibat kekhilafanmu waktu malam itu, aku sudah kehilangan mahkotaku." Kali ini suara saya mulai lantang.
"Baiklah, aku akan berikan ganti rugi atas kejadian malam itu. Aku mohon, tolong berikan aku waktu. Aku butuh waktu untuk memulihkan luka di hatiku."
__ADS_1
"Kamu tahu, aku begitu bersemangat membuat surat perjanjian itu dengan harapan kami bisa bersatu lagi. Dan kini, semua hanya tinggal rencana. Dia pergi dan membatalkan begitu saja semua rencana kami." Si Botak tertunduk lagi dan nampak menahan isaknya,"
Sungguh dalam hati saya jadi geli. Melihat seorang laki-laki terisak-isak menahan tangis karena diputuskan oleh pujaan hatinya. Apa saya harus mengambilkan tissu untuk dia, hahahahaha.. "
"Saya sangat mencintai dia. Saya rela melakukan apapun untuk dia, termasuk melakukan pernikahan dengan kamu."
"Hebat ya Meylan, harusnya dia beruntung dicintai oleh kamu. Kamu yang rela melakukan apapun untuk dia, kadang saya berpikir, seandainya saya di posisi Meylan, saya pasti akan sangat beruntung bisa dicintai laki-laki seperti kamu."
"Jujur saja, aku sangat shock dan terpukul saat kamu mengakui semuanya. Tentang niat dan tujuanmu yang sebenarnya menikahi saya. Wanita manapun tidak akan rela dan sudi jika ada di posisi saya. Terjebak dalam pernikahan palsu." Saya pura-pura menahan isak.
"Dan saya rela melakukan semua ini, mengikuti semua kegilaan kalian, semata-mata hanya demi uang. Saya butuh uang untuk memperbaiki kehidupan keluarga saya. Beginilah nasib orang susah, tidak pantas untuk mendapatkan ketulusan." Saya pun menangis di hadapannya. Biar saja.
" Maafkan aku, Nis. Aku tahu aku salah. Aku memang jahat." Dia terlihat panik dengan suara tangisan saya yang makin kencang.
"Demi cinta, kamu rela membohongi saya. Seandainya Bu Endang tahu tentang semua ini, beliau pasti akan sangat terkejut dan marah sekali."
"Jujur, dari awal saya sudah curiga dengan sikapmu yang kaku dan aneh saat pertama kali kamu mendekati saya. Saya pikir kamu benar-benar serius ingin menikahi saya." Saya terus saja menahan isak.
"Kadang saya berpikir, apa karena saya jelek dan miskin, maka saya tidak berhak untuk bisa dicintai dengan tulus?"
"Apa karena saya jelek dan miskin, maka saya pantas untuk menjadi sasaran yang tepat dalam melancarkan proses rujuk kamu dengan Meylan?"
"Bukan begitu, Nis..." Jawabnya gelagapan. Dalam hati saya ingin tertawa keras-keras melihat ekspresinya yang seperti orang ketakutan seperti itu.
__ADS_1
Bersambung.